Aurora menyebutnya "proyek panjang pertama" dengan nada sengaja datar, seolah kalau ia mengucapkannya biasa-biasa saja, kegagalan tidak akan terlalu sakit nanti.
Film itu bercerita tentang seorang perempuan muda yang salah memahami pernikahannya sendiri gara-gara sebuah foto tanpa konteks. Satu gambar, diambil dari sudut yang keliru, di detik yang keliru. Dari situ perempuan itu membangun seluruh kesimpulan tentang suaminya, dan menghabiskan dua tahun membalas sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Ceritanya fiksi. Nama-namanya asing, kotanya bukan kota mereka, pekerjaan tokohnya pun dibuat berbeda.
Tetapi Iris mengenali bayangannya sendiri di halaman kelima.
Aurora memberikan naskah itu kepada kedua orang tuanya sebelum produksi dimulai. Ia datang ke rumah membawa map tebal, meletakkannya di meja makan, lalu duduk dengan punggung terlalu tegak.
"Baca dulu semuanya," katanya. "Jangan jawab hari ini."
"Kenapa tidak hari ini?" tanya Gavin.
"Karena Papa selalu bilang iya kalau aku yang minta, dan itu bukan jawaban." Aurora menatap mereka bergantian. "Aku tidak akan membuatnya kalau kalian tidak nyaman."
Iris membaca naskah itu dua kali. Yang pertama di ruang kerja, dengan pensil di tangan, mencoba bersikap seperti pembaca biasa. Yang kedua di kamar, tengah malam, tanpa pensil, dan tanpa keberhasilan sama sekali menjadi pembaca biasa.
Ada adegan perempuan itu berdiri di depan pintu kamar yang terkunci. Ada adegan ia menghitung jam pulang suaminya dengan pensil di balik kalender. Ada adegan ia tersenyum di meja makan sambil merencanakan kehancuran orang yang duduk di seberangnya.
Iris menutup map itu dan memandang langit-langit lama sekali.
"Kamu sudah sampai halaman berapa?" tanyanya kepada Gavin yang berbaring di sampingnya.
"Selesai. Tadi siang."
"Lalu?"
"Aku marah," kata Gavin jujur. "Bukan pada Aurora. Pada laki-laki di naskah itu, yang mengira diam adalah cara melindungi." Ia menarik napas. "Butuh dua jam sebelum aku sadar aku sedang marah pada diriku sendiri."
Iris memiringkan tubuh menghadapnya. "Kita bisa bilang tidak, Gavin. Dia sudah menawarkan."
"Bisa." Gavin menatap langit-langit yang sama. "Tapi selama dua puluh tahun kita minta orang berhenti menyembunyikan apa pun dari kita. Aneh sekali kalau sekarang kita yang minta disembunyikan."
Tiga hari kemudian mereka duduk bertiga di teras belakang. Sore, angin sedang bagus, dan Aurora memutar-mutar cincin di jarinya seperti anak kecil menunggu nilai ulangan.
"Ada beberapa rincian yang ingin Mama ubah," kata Iris.
"Yang mana?"
"Adegan di rumah sakit. Bukan karena tidak benar, tapi karena ada orang lain di dalamnya yang tidak pernah minta ceritanya dipakai." Iris menyerahkan catatannya. "Lalu dua nama tempat. Dan satu kalimat di halaman delapan puluh, yang membuat ibu tokoh utama kelihatan jahat padahal dia cuma ketakutan."
Aurora mencatat semuanya tanpa membantah satu pun.
"Papa?" tanyanya kemudian.
Gavin menegakkan badan, berdeham, dan mengeluarkan wajah serius yang biasanya ia simpan untuk ruang rapat.
"Aku keberatan satu hal."
Iris menoleh cepat. Aurora menahan napas.
"Tokoh suaminya digambarkan terlalu tampan," kata Gavin. "Tidak realistis. Orang akan berpikir cerita ini karangan."
Hening sebentar.
Lalu Aurora meledak tertawa, menutupi wajahnya dengan map naskah, sementara Iris melempar bantal kursi ke arah suaminya.
"Papa cuma keberatan itu?"
"Aku sudah membacanya tiga kali." Gavin mengangkat bahu, dan kali ini suaranya berubah. "Sayang, perempuan di naskahmu itu salah paham karena tidak ada yang mau menjelaskan apa pun padanya. Kalau kamu tidak menceritakan itu, siapa yang akan?"
Aurora tidak menjawab. Ia hanya menyeberangi teras dan memeluk ayahnya cukup lama.
Yang paling sulit justru datang sesudahnya.
Film itu tidak memakai nama keluarga mereka sebagai promosi. Tidak ada satu pun siaran pers yang menyebut Mikhail atau After Storm. Aurora melarangnya sejak awal, dan ketika Gavin menawarkan satu panggilan telepon saja kepada seorang kenalan di industri, putrinya menolak dengan halus tapi tidak bisa ditawar.
"Kalau filmnya jelek, aku mau orang bilang filmnya jelek. Bukan bilang aku dibantu."
Maka Aurora mencari pendanaan sendiri.
Ia menerima banyak penolakan. Ada yang menolak setelah membaca sepuluh halaman. Ada yang menolak karena "penonton tidak suka cerita perempuan yang marah". Ada satu yang bersedia mendanai penuh asal ada adegan balas dendam yang memuaskan di akhir, dan Aurora keluar dari ruangan itu dalam sebelas menit.
Malam-malam seperti itu ia menelepon ibunya, kadang hanya untuk diam sambil mengunyah sesuatu di seberang telepon.
"Mama pernah ditolak berapa kali waktu membangun After Storm?"
"Dua puluh tiga kali sebelum ada yang menandatangani."
"Mama hitung?"
"Mama simpan surat-suratnya." Iris tersenyum di gelap. "Tapi jangan ditiru. Itu kebiasaan orang yang butuh bukti untuk merasa berharga. Kamu tidak perlu."
Studio kecil yang akhirnya menyetujuinya bermarkas di ruko dua lantai, dengan pendingin ruangan yang berisik dan produser yang membaca naskah itu dalam semalam.
"Saya tidak punya uang banyak," kata produser itu terus terang. "Tapi saya punya anak perempuan seusia kamu, dan semalam saya tidak bisa tidur karena naskah kamu. Itu saja alasan saya."
Anggarannya pas-pasan. Syutingnya dua puluh enam hari. Aurora pulang dengan kulit terbakar matahari dan suara habis, dan tidak sekali pun mengeluh.
Pemutaran perdananya diadakan di bioskop kecil yang penuh. Iris duduk di deretan tengah, di antara Gavin dan Raka, memegang tas di pangkuannya dengan kedua tangan.
Ia bertahan sampai menit keenam puluh sekian.
Di layar, perempuan itu berdiri di depan orang yang selama dua tahun ia rencanakan untuk dihancurkan. Kertas bukti ada di tangannya. Semua alasan untuk membalas ada di sana. Dan perempuan itu membuka mulut, lalu bertanya.
Hanya bertanya.
Iris menangis di kegelapan, tanpa suara, sambil mencengkeram tangan Gavin yang menggenggamnya balik.
Film itu berakhir dengan tangan dua tokoh yang saling terbuka, bukan saling menggenggam kuat. Layar menggelap sebelum penonton sempat tahu apakah tangan-tangan itu akhirnya bertemu.
Lampu menyala. Orang bertepuk tangan. Aurora dipanggil ke depan, menjawab pertanyaan dengan gugup yang manis, lalu turun mencari orang tuanya.
Ia duduk di kursi kosong di samping Iris.
"Apakah Mama menyesal pernah salah paham?" tanya Aurora.
Iris mengusap pipinya sendiri dulu sebelum menjawab, supaya suaranya tidak pecah.
"Aku menyesali orang yang kulukai," katanya. "Tapi aku juga belajar menjadi seseorang yang berani mencari kebenaran."
Aurora mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lagi, dan Iris tahu itu jawaban yang cukup.
Di belakang mereka, orang-orang mulai berdiri. Seseorang di barisan depan masih mengelap mata dengan ujung lengan bajunya.
Gavin mencondongkan badan ke telinga istrinya.
"Dia mengambil kisah kita," bisiknya.
Iris menggeleng, memandang putrinya yang sedang dikerubungi teman-temannya di bawah layar yang sudah kosong.
"Dia mengubahnya menjadi kisahnya sendiri."