Namanya Leo. Enam tahun, rambutnya selalu berdiri di satu sisi, dan ia tidak pernah melepaskan ransel kecilnya bahkan ketika duduk makan.
Daniel dan Tiffany mengurus adopsinya hampir dua tahun. Prosesnya panjang karena riwayat kesehatan mental Tiffany diperiksa secara menyeluruh: rekam medis, surat dari terapisnya, wawancara yang diulang, kunjungan rumah yang datang tanpa pemberitahuan.
Ada satu sore ketika Tiffany menelepon Iris hanya untuk menangis di telepon selama sepuluh menit tanpa menjelaskan apa-apa. Setelah tenang, ia berkata, "Mereka bertanya apakah aku pernah membahayakan orang lain."
"Kamu jawab apa?"
"Aku jawab pernah." Suaranya serak. "Aku ceritakan semuanya. Termasuk bagian tentang kamu."
Iris memejamkan mata. "Kamu tidak harus."
"Aku harus. Kalau aku berbohong untuk mendapatkan anak, anak itu tumbuh di rumah yang dibangun dari kebohongan. Aku sudah pernah tinggal di rumah seperti itu."
Gavin menawarkan bantuan dua kali. Dua kali pula Tiffany menolak.
"Satu telepon saja, Tiff," kata kakaknya. "Bukan menyogok. Cuma supaya berkasmu tidak tertahan enam bulan di meja orang."
"Justru itu, Mas." Tiffany menggeleng. "Kalau aku pakai namamu, aku tidak akan pernah tahu apakah mereka menilai aku layak atau cuma takut padamu. Aku butuh tahu."
Maka ia mengikuti asesmen sampai selesai, satu per satu, dan menerima kemungkinan bahwa jawabannya bisa saja tidak.
Ada kunjungan rumah yang datang pukul tujuh pagi, ketika Daniel masih memakai kaus tidur dan dapur mereka berantakan. Tiffany membuka pintu apa adanya, tidak sempat menyembunyikan piring kotor, dan petugas itu justru mencatat sambil tersenyum kecil.
Ada wawancara yang berlangsung tiga jam dan berakhir dengan satu pertanyaan yang membuat Tiffany terdiam paling lama: "Kalau anak ini nanti tidak menyayangi Anda, Anda akan bagaimana?"
"Saya akan tetap mengantarnya sekolah," jawab Tiffany akhirnya. "Sayangnya hak dia. Mengurusnya kewajiban saya."
Jawabannya ternyata ya.
Ketika adopsi disahkan, Tiffany tidak langsung mengabari siapa-siapa. Ia menunggu tiga hari sampai Leo mulai terbiasa dengan kamarnya sendiri, baru kemudian membawa anak itu menemui Iris serta Aurora.
Mereka bertemu di rumah, di ruang tengah yang kena matahari sore. Leo bersembunyi di balik kaki Daniel selama sepuluh menit pertama, lalu keluar perlahan setelah Aurora duduk di lantai dan pura-pura sibuk menyusun balok tanpa mengajaknya sama sekali.
Sepuluh menit berikutnya Leo sudah ikut menyusun, dan sepuluh menit setelahnya ia sudah berani membongkar susunan Aurora sambil tertawa.
"Dia begitu di rumah?" tanya Iris.
"Baru tiga hari terakhir," jawab Daniel. "Minggu pertama dia minta maaf setiap menjatuhkan sendok."
Tiffany memperhatikan anak itu dari kursinya, dan tangannya gemetar sedikit saat memegang cangkir.
"Aku takut menjadi ibu yang mengendalikan," akunya.
Iris tidak buru-buru menjawab. Ia menuang teh, mendorong cangkir itu ke arah Tiffany, lalu duduk di sebelahnya supaya mereka sama-sama menghadap ke anak-anak, bukan saling berhadapan.
"Kenapa takut?"
"Karena aku dibesarkan begitu. Mama mengatur semua yang kumakan, kupakai, kupilih. Dan aku ingat betul rasanya." Tiffany menelan ludah. "Yang paling menakutkan, aku ingat rasanya dan tetap saja tanganku ingin melakukannya. Tadi pagi aku hampir memilihkan dia baju, padahal dia sudah pegang bajunya sendiri."
"Lalu?"
"Aku taruh lagi bajunya. Tapi butuh tenaga, Iris. Aku tidak tahu apakah tenagaku cukup untuk delapan belas tahun."
Iris memandang Leo yang sekarang sudah duduk di seberang Aurora, menyerahkan sebuah balok merah dengan hati-hati.
"Takut dapat menjadi pengingat," kata Iris, "selama kau tidak membiarkannya mengambil keputusan."
Tiffany menoleh. "Apa bedanya?"
"Takut yang jadi pengingat itu yang membuatmu berhenti sebentar sebelum bertindak. Takut yang mengambil keputusan itu yang membuatmu merebut baju dari tangan anakmu supaya kamu sendiri merasa aman." Iris mengangkat bahu. "Kamu tadi pagi sudah memilih yang pertama. Itu bukan hal kecil."
Tiffany tidak menjawab. Ia hanya minum tehnya, dan Iris melihat bahunya turun sedikit.
Kabar itu sampai ke Regina dalam dua hari, dan Regina langsung punya rencana.
"Kita adakan syukuran di ballroom," katanya lewat telepon, sudah dengan daftar di tangan. "Dua ratus orang. Anak itu harus diperkenalkan dengan layak sebagai cucu Mikhail. Mama sudah menghubungi—"
"Tidak, Ma."
Hening beberapa detik. Dulu, hening seperti itu berarti badai.
"Apa maksudmu tidak?"
"Leo baru dua minggu tinggal di rumah kami. Dia masih bangun tengah malam mencari pintu. Dua ratus orang asing akan membuatnya ketakutan." Tiffany menarik napas. "Kita buat yang kecil saja. Di rumah. Keluarga inti. Kalau nanti dia sudah siap, kita rayakan sebesar apa pun yang Mama mau."
Hening lagi, lebih panjang.
"Mama boleh bawa kue?" tanya Regina akhirnya.
Tiffany tertawa dan menangis dalam satu tarikan napas. "Mama boleh bawa dua."
Perayaan kecil itu dilangsungkan di halaman belakang. Ada belasan orang, satu meja panjang, dan lampu-lampu kuning yang digantung Daniel dengan tangga pinjaman.
Regina datang membawa dua kue, persis seperti janjinya, dan menghabiskan setengah malam duduk di kursi rendah supaya tingginya sejajar dengan Leo. Anak itu tidak mau menyalaminya selama satu jam pertama. Regina menunggu tanpa memaksa, sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan untuk anak-anaknya sendiri.
"Kue yang cokelat punya siapa?" tanya Leo pada akhirnya.
"Punya kamu," kata Regina. "Dua-duanya punya kamu. Nenek cuma menitipkan."
Menjelang malam, Leo mengantuk di pangkuan ibunya. Tiffany merapikan rambut anak itu, lalu berbicara pelan, tidak sadar bahwa Iris berdiri cukup dekat untuk mendengar.
"Dengar, ya. Kamu tidak harus jadi anak yang sempurna supaya tetap Mama sayang. Kalau nilaimu jelek, Mama tetap sayang. Kalau kamu marah sama Mama, Mama tetap sayang. Kamu tidak perlu membayar apa pun."
Mata Iris panas. Ia berbalik ke arah lain dan berpura-pura sibuk dengan piring supaya tidak ada yang melihat.
Perempuan yang dahulu merebut apa pun milik orang lain kini belajar memberi ruang kepada seorang anak agar menjadi dirinya sendiri.
Sebelum pulang, Leo terbangun dan menarik tangan Aurora untuk bermain di halaman. Mereka mengejar-ngejar bayangan sendiri di bawah lampu taman, dan suara tawa anak itu terdengar sampai ke teras.
Tiffany berdiri di samping Iris, sama-sama menonton.
"Terima kasih karena dulu tidak membiarkan aku menghancurkanmu," katanya.
Iris tidak langsung menjawab. Ia memikirkan perempuan berusia dua puluhan yang pernah berdiri di depan pintu kamar dengan dada terbakar, yang pernah merencanakan begitu banyak hal buruk sambil tersenyum di meja makan.
"Aku hampir membiarkan diriku sendiri hancur," katanya.
Mereka saling melirik, lalu tersenyum. Bukan senyum yang menghapus apa pun; hanya senyum dua orang yang sama-sama tahu seberapa jauh jalan yang sudah mereka tempuh.
Tidak ada utang di antara keduanya. Yang ada hanya pengakuan bahwa perubahan memang mungkin.