Pukul 11:11, seketika waktu berputar untukku. Memutar dengan sendirinya. Semua tentang kenangan, kenangan yang menyakitkan sekali pun...
"Lucid, apa kau tidak ingin tersenyum padaku?" sudah biasa mendengar itu. "Tidak sopan," Lucid melangkah pergi. Akan percuma juga menanggapinya, tidak akan ada habisnya.
"Kau kesal mendengar itu?" dia lagi dia lagi. Ada gossip terbaru yang sudah menyebar luas. Lucid terlihat bersama Keenan dan bla...bla...
Keenan juga dengan terang-terangan mengatakan padaku. Tapi itu menjengkelkan diawal ucapannya, saat aku mendengarnya. Dia bilang, kita akan berpisah saat berjalan ke arah pulang. Hmm, siapa juga yang ingin pulang bersamanya? Bukankah, aku hanya berjalan sendirian? Ucapannya yang kedua itu baru membuatku setuju. Keenan tidak ingin ada yang tahu kalau dirinya dan aku tinggal bersebelahan.
"Tidak."
"Apa perlu kubuat orang itu agar menutup mulutnya?" Keenan dengan intonasinya yang cepat.
"Hah? Lalu, kau dapat terima kasih dariku? Atau kau justru meminta imbalan?" Lucid yang tetap dengan pendiriannya.
"Wah, kau sangat sulit untuk digapai."
"Untuk apa manusia digapai? Semua akan berubah dan pergi."
"Mau sampai kapan kau kesepian di dunia? Setidaknya untuk sementara kau diberi kesempatan bersama seseorang."
"Kau, maksudnya?" ya, Tuhan. Ada apa dengan mulutku? Kenapa aku menjadi Kale?
Keenan hampir terpelosok masuk ke dalam tapi, ia cepat sadar agar tidak kentara. "Hahaha, apa kau sedang bergurau denganku? Wah, selera humorku tidak sampai. Hehe," ucapnya.
Bahkan, lawan bicaranya itu sudah berbalik arah. "Hei, Lucid!" Lucid melambaikan tangan dengan membelakangi Keenan, kemudian ia berlari.
"Setidaknya, ia melambaikan tangan padaku. Ya, setidaknya," Keenan tersenyum dan membalas lambaian tangan itu sampai tidak terlihat batang hidungnya.
Ruang Club Fotografi, pukul 4 sore. Tidak ada yang tidak membicarakan soal Lucid dan Lucid. Tidak hanya itu, Keenan ikut menjadi topik perbincangan di antara anggota clubnya. "Kalian sudah menghubunginya? Apa sebenarnya dia sudah berhasil membujuknya?" sang ketua club yang terlihat antusias dan berharap ada kabar baik dari Keenan. "Pak ketua jangan senang dulu! Belum tentu juga Keenan berhasil. Kalau Keenan berhasil, Lucid sudah berada bersama kita sekarang. Bukankah hari ini batas terakhirnya?" semua orang terlihat pasrah. Semuanya menjadi korban penolakkan dari Lucid yang sudah kesekian kalinya. Bahkan, bertubi-tubi.
KREK!
"Apa itu Keenan?"
"Keenan!"
"Hei, Keenan!"
Keenan yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi datar dan menguap. "Hoaaaam...."
PLAK!
"Aw!"
"Hei, Rara! Kau yang melakukannya?" Keenan melempar botol yang masih ada isinya pada Rara dan dengan sigap botol itu tepat sasaran di tangan Rara.
"Kau datang untuk kabar baik, kan?" Rara menarik-narik jaket Keenan, seperti sedang mengancam. Hanya Rara satu-satunya tameng untuk Keenan bagi anggota-anggota yang lainnya. Semua angkat tangan kecuali, Rara. "Kau pikir itu tidak sakit? Kau selalu bersikap brutal. Aku tidak membawa kabar apa-apa," Keenan kembali dengan posisi yang semua orang tahu. Ia datang untuk tidur. Tentu, sikapnya itu tidak mengecewakan banyak orang karena, mereka tahu bagaimana seorang 'Keenan'. Jadi, mereka tidak menaruh banyak harapan. Tapi tak memungkiri juga, keajaiban itu datang. Keenan tiba-tiba bisa melakukan hal yang membuat mereka takjub. "Yahh, dia kembali lagi," Rara menghela napas dan pasrah. Semua pun tidak bisa berkutik.
"Hmm, jangan ada yang mencarinya! Apalagi, datang tiba-tiba untuk mendesaknya mengikuti apa yang kita perlukan. Pantas dia tidak mau karena, kalian semua memaksanya," ucap Keenan pada semua dengan memejamkan mata.
"Apa dia benar-benar mengenalnya?"
"Apa mereka dekat?"
"Semua sedang membicarakan mereka berdua."
"Mereka terlihat bersama akhir-akhir ini."
Suasana di ruangan menjadi ribut dengan topik pembicaraan yang sama. "Hei, kau benar-benar mengenalnya?" bisik Rara di telinga Keenan. "Rahasia," balasan dari Keenan. Rara? Dia memang sahabatku tapi dulu. Sulit bagiku untuk membuatnya jauh dariku. Sudah melalui berbagai cara tapi tetap Rara perempuan itu tidak peduli dengan apa yang kuucapkan. Kalau dia tidak berterusterang dengan perasaannya padaku, mungkin akan berbeda cerita. Hmm, aku tidak suka melihatnya berpura-pura tidak apa-apa tapi, ia terluka. Aku sudah menolaknya berulang kali dan tidak akan bisa seperti dulu lagi. Tapi, dia tetap ada tak seperti melupakan apa yang sudah terjadi. Sorot mata Rara berubah, seperti sorot mata yang penasaran dan memiliki rasa ingin tahu yang begitu besat apalagi, itu menyangkut di antara Keenan dan perempuan lain. Rara benar-benar menyeramkan jika ada perempuan lain yang berusaha merebut Keenan darinya.
"Hai, Lucid!"
"Hai...."
Judulnya adalah seorang teman tapi, kau tetap saja sendirian. Rullie mengandeng tanganku, seolah teman sejati. "Hmm, Rullie," panggilku. Aku akan mengatakan perlahan. Setiap hari di mana pun berada. Perpisahan bisa saja terjadi. Hmm, lebih baik sendirian dari pada bersama seseorang yang hanya berbicara buruk di belakangmu. "Iya, ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu? Kenapa wajahmu seperti itu?"
Ini saatnya memisah jarum yang hendak mengenai kaki saat kau akan melangkahkan kaki. "Kau pikir aku tidak tahu? Tidak tahu apa yang kau bicarakan pada orang lain. Lagi-lagi, seseorang yang berada di sampingku justru bukanlah orang yang tulus. Setidaknya, kalau kau membenciku katakan saja padaku. Mengapa harus berbicara di belakangku?" ucapku dan melepas gengaman tangannya.
Tatapan Rullie sinis. Matanya penuh kebencian. Terlihat begitu membenciku. "Hahaha, kau baru tersadar dari kebodohan yang kau buat sendiri? Atau kau justru belum menyadari itu? Kau pikir semua orang yang terlihat menyukaimu itu, benar-benar menyukaimu? Berwajah cantik dan berhati seperti bidadari? Hah? Itu konyol! Kau membosankan. Tidak ada yang bisa dilihat," balasan darinya membuatku ingin menertawainya. Mulutnya komat-kamit, seperti puas sudah mengatakannya.
"Ah, baiklah terima kasih atas kejujuranmu. Kupikir ini sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Bye, Rullie! Kau juga harus berhati-hati dengan laki-laki itu," laki-laki itu. Laki-laki yang mendekati Rullie, dia benar-benar busuk.
"Hah? Bilang saja kau iri. Iya, kan?" teriaknya padaku.
Lucid menghela napas. Ingatannya masih jelas. Penuh banyak ingatan yang tersimpan. Ia duduk di taman menghadap orang-orang yang sedang bersorak pada para laki-laki populer yang tengah bermain basket.
"Hai...."
"Ah, kau tidak kaget rupanya."
"Sedang apa kau duduk sendirian di sini?"
"Halo, Lucid!"
"Hei, aku mengajakmu berbicara."
"Kau lagi....kau lagi...."
"Kau masih menganggapku orang asing?"
"Tidak juga," sama sekali tidak, Keenan. Hmm, hanya saja...
"Lantas, mengapa?"
"Hmm, apa kau pernah dengar 11:11? Di mana pada jam 11 lebih 11, kau seperti dibawa oleh pikiranmu sendiri. Dibawa masuk untuk memutar masa lalu yang kau punya. Kau tahu, mengapa itu bisa terjadi?"
"Aku senang kau berbicara padaku tapi apa terjadi sesuatu?" ucap Keenan.
"Itu bedanya kau dan aku. Tidak ada yang selaras. Kau tidak mengerti apa yang kukatakan," ucap Lucid dan beranjak pergi.
"Hei, kau menilaiku hanya dari itu saja? Hei, Lucid!"
"Jangan melewati batas, Lucid! Kau tidak tahu apa artinya. Ya, kau tidak tahu."