"Hampir saja...."
Kedua mata yang terbelalak. Telapak tangan yang menutup mulut dan dahi, menghasilkan pose yang aneh. Suara cegukan. Serta dua orang yang saling mematung. Film yang mereka tonton seperti sedang menonton, mereka.
PRANG!
Pecahan gelas yang masih terisi lemonade, menyelamatkan mereka. "Biar aku saja," ucap Keenan sembari membalikkan badan dan berjalan ke arah dapur. Sedangkan, Lucid. Ia berlari mengambil pakaian di kamarnya dan berjalan keluar dengan cepat ke kamar mandi seperti mengurung diri, di sana ia berkelahi dengan dirinya sendiri. Mengomel tanpa bersuara di depan cermin. Sambil mengingat kejadian yang sebenarnya dan pose anehnya itu? "Sial! Itu memalukan," suara Lucid lirih agar tidak terdengar.
Meja itu terlalu kecil. Di antara mereka sebenarnya ada jarak. Tapi, Keenan tidak berhati-hati. Dia sepertinya selalu kehilangan keseimbangan bahkan, ketika duduk sekali pun. Antisipasi dan gaya reflekku, itu keahlihanku. Keenan hampir jatuh dan menimpaku tapi mulutnya mendarat di telapak tanganku yang ada di dahi. Pose reflek yang kuberikan itu justru membuatku malu. Seperti mengira Keenan akan menciumku. Apa dia akan menetertawaiku? Apa dia juga memikirkan itu? Ah, ya Tuhan. Mengapa itu bisa terjadi?
Tok...tok...tok...
"Lucid, seseorang mencarimu."
Hah? Siapa yang mencariku?
"Iya, sebentar. Biar aku saja yang membukanya."
Kupikir Keenan sudah pergi ternyata, dia ada tepat di hadapanku. Saat aku membuka pintu. "Hei! Mengapa kau berdiri di sini?" teriak Lucid pada Keenan dan tidak sengaja menepis lengannya saat Lucid melewatinya.
Suara ketukan itu tak terkontrol. Baru saja mengatakan, tidak ada orang yang datang. Tidak ada orang lain yang datang? Bagaimana dengan Kale? Apa itu, Kale? "Sebentar!" teriakku.
"Hei, kenapa kau lama sekali? Kau sedang apa sebenarnya?" benar, itu Kale. "Apa yang kau inginkan?" Lucid hanya nenampakkan kepalanya. Tangannya menahan pintu agar Kale tidak bisa masuk. "Ada apa denganmu? Kau tidak membiarkanku masuk? Hah?" ada apa dengan hari ini? Ada-ada saja. Bagaimana ini? "Hmm, aku sibuk. Pergilah!" aku tahu, itu tidak akan merubah segalanya. Kale bukan bocah ingusan yang mudah dibodohi. "Ah, baiklah," balasan darinya. "Hah?"
"Apa kau bilang, hah?"
"Ah, iya. Itu maksudku," Lucid mengelak.
"Sebentar, kau mencurigakan. Kau sedang menyembunyikan sesuatu?" Kale dengan tatapan yang menyelidik. "Kalau tidak ada apa-apa, biarkan aku masuk!" Kale dan Lucid mulai saling tarik-menarik. Lucid pun mulai tak sanggup lagi mahan pintu itu sendirian, Kale terlalu kuat tapi tidak membuatnya menyerah.
"Kenapa dia lama sekali? Apa terjadi sesuatu?" ucap Keenan. Ia berjalan mendekat tanpa disadari Lucid, Keenan sudah berada benar-benar di dekatnya. "Hei, kau sedang apa?" Keenan berbisik tepat di telinga Lucid. Mata Lucid hampir keluar. "Ssstt!" Lucid memintanya untuk tutup mulut. "Hei, biarkan aku masuk!" teriak Kale. "Bersembunyilah, aku mohon!" pinta Lucid pada Keenan. "Tidak perlu,"
GREK!
Keenan membuka pintu itu. "Hai, long time no see!" ucap Keenan dengan lambaian tangannya dan tersenyum. "Keenan? Sedang apa kau di sini?"
Lucid yang berada dibalik punggung Keenan itu terlihat kebingungan. "Kalian saling mengenal?" Lucid melihat di antara Kale dan Keenan. "Ah, ini yang kau katakan kau sedang sibuk? Ada apa denganmu?" sindir Kale. Sial! Kenapa dia tidak bisa menjaga mulutnya? "Hei, bukan itu maksudku. Bukankah, kau akan marah kalau aku...."
"Ah, dia memang cerewet. Kita masuk saja," ucap Kale pada Keenan. Mereka saling merangkul.
"Wah, pantas mereka terlihat serupa. Sama-sama menyebalkan. Bahkan, ini rumahku. Berani-beraninya, wah!"
"Kenapa kau tak memberi tahuku, kalau kau membuat strawberry cheesecake?" protes Kale dan mengambilnya dengan tangan kosong lalu, memakannya dengan lahap. Hmm, sudah lama tak membuatnya. Kale begitu menyukainya. "Kau membuatnya?" tanya Keenan dengan ekspresi mukanya yang terlihat melihatku dengan sebelah mata. "Iya, kenapa? Ada apa dengan tatapanmu itu? Hah?" jelas-jelas, cara makannya dengan Kale terlihat sama. Begitu menikmati. Bahkan, aku hanya kebagian 1 potong saja.
"Tidak, aku menyukai....," tiba-tiba Keenan tidak bisa melanjutkan ucapannya. Hanya karena melihat pemandangan di hadapannya. Apa mereka sedekat itu? Aku sudah mengenal Kale begitu lama. Tapi, aku tidak pernah tahu kalau Kale juga mengenalnya. Memang, ini kali pertamanya bertemu dengan Kale kembali setelah Keenna tiada. Lucid terlihat memperhatikanya. Apa mereka berpacaran? Tapi tidak terlihat seperti sepasang kekasih. Bersahabat? Itu terlihat dan kuharap itu benar. Aku tidak ingin dia menjadi rivalku.
"Hei, bagaimana kalian bisa mengenal?" pertanyaan Keenan yang membuat Lucid dan Kale tertawa.
"Hahaha, mungkin sama sepertimu," ucap Kale.
"Hei, apa maksudmu? Kau tidak serius mengatakannya, kan? Kau meledekku?"
"Kenapa kau ingin tahu? Kurasa kau selalu ingin mencampuri urusan orang lain," ucap Lucid.
"Wah, kalau sikapmu seperti itu. Kapan kau akan punya pacar? Kau tidak ingin punya pacar?" seperti biasa Kale selalu tidak bisa menjaga mulutnya. "Hei, kenapa kau juga mengusikku? Apa maumu datang padaku, hah? Kau datang padaku selalu ada maunya," teriak Lucid.
"Kau dengar, kan? Dia seperti nenek lampir. Dia tidak pernah punya pacar sekali pun. Siapa juga yang mau dengannya. Semua akan takut melihatnya," ucap Kale pada Keenan.
Keenan melihat ke arah Lucid. Tatapan Lucid seperti berbicara, 'Apa kau lihat-lihat?' tapi itu tidak membuatnya terganggu. Aku tetap menyukainya. Tapi itu juga menggangguku, apa Kale dan Lucid sedekat itu? Mereka teman lama? "Hei, Kale! Jadi, kau sudah tahu aku tinggal bersebelahan dengannya? Kau keterlaluan, kenapa tidak mengunjungiku? Jelas-jelas kau sering datang. Aku hanya di sebelah. Wah, kau!" protes Keenan pada Kale.
Itu membuatku penasaran. Bagaimana mereka saling mengenal? Kale tidak pernah bercerita apa pun padaku. Tunggu! Apa dia juga mengenal, Keenna? Sepertinya itu tidak tepat, jika aku bertanya soal Keenna. Wah, dunia memang sempit hanya berpura-pura terlihat luas.
"Wah, mereka berdua seperti dua bocah yang sering berbuat ulah," Lucid tidak peduli dengan tingkah Kale dan Keenan yang saling pukul-memukul. Aku akan bertindak saat ada atau membuat barang-barang di rumahku rusak.
Tanpa disadari, Lucid telah memberi garis senyuman di wajahnya. Suasana pertengkaran kekanak-kanakan itu, membuat suasana sunyi yang biasanya mengelilinginya terasa hidup. Meski hanya hari ini saja. "Itu seperti telah membalas kerinduanku," ucap Lucid dengan tatapan yang mengarah ke luar jendela.
Andai jika Keenna juga masih ada, bisa saja kesunyian yang kupunya sedikit berkurang dan mungkin ceritanya akan berbeda. Sikapku pada Keenan, juga. Hmm, aku pun juga takut. Jika tiba-tiba salah menyebut nama di antara Keenna dan Keenan.
"Hei, kalian berdua! Apa kalian lapar?" teriakku pada mereka.
"Wah, mereka pura-pura tidak mendengarku? Atau mereka terlalu seru sampai tak melihatku ada?"
"Lucid, kurasa aku semakin menyukaimu...."