"Kau marah?"
Hah? Orang gila ini masih sempat-sempatnya bertanya padaku, apa aku marah? Kau tahu, dia seperti bocah yang sedang merengek-rengek dan membuatku menanggung malu di depan umum. Yang benar saja, kita teman juga bukan. Hanya bertetangga, itu saja. Wah, rasanya ada amarah yang meluap-luap. Seperti air keterlaluan mendidih, sampai airnya hampir tersedot hampis dan hampir terbakar. Ia tidak berhenti mengoceh. Tapi, orang gila itu benar-benar serius mengatakannya. Seperti saat kau mengatakannya tulus dari hati dan hanya orang-orang tentu yang bisa melihat ketulusan itu. Hmm, ya. Itu alasanku mengiyakannya.
Peraturan pertama yang baru saja kulanggar adalah aku tidak pernah membawa laki-laki ke dalam rumahku. Selain Kale. Ah, Kale tidak dihitung. Dia satu-satunya keluargaku yang kupunya. Peraturan kedua, baru saja untuk kali pertama. Hmm, aku bisa melihat ketulusan hati orang asing yang akhir-akhir ini mengikutiku. Hei, kau pikir aku tidak tahu? Aku membuntutiku. 2 hari yang lalu, ia mengikutiku di perpustakaan. Malamnya, ia memesan makanan yang sama sepertiku. Sore di keesokan harinya. Dia juga menonton film yang sama denganku. Setelah selesai menonton, ia juga mengantre membeli tiket film yang sama seperti itu. Tadinya ingin menegurnya. Tapi entahlah, tidak kulakukan dan membiarkannya. Ada hal yang membuatku terkesan, sebenarnya.
"Kenapa harus aku yang mengambulkan permintaanmu?"
"Karena, kau juga sendirian."
Karena, kau juga sendirian....
Wah, itu menusukku.
"Tidak ada orang lain?" tanyaku.
"Tidak, kau juga tidak ada, kan?"
"Kau ingin menonton film apa? Kau terbiasa sarapan?" meski itu hanya sebuah pertanyaan. Nada bicara Lucid tidak bersahabat.
"Kau seperti seorang Ibu yang marah tapi tetap mengingatkan untuk makan."
"Apa Ibumu seperti itu? Wah, kau punya banyak topik. Ada saja yang kau bicarakan. Tapi jangan membuatku kecewa di akhir! Seperti tiba-tiba mengganti topik dengan berbicara mengenai tawaranmu itu."
Laki-laki itu menatapku. Wajahnya tidak jelek tapi menyebalkan. Rambutnya yang mulai gondrong sesuai dengan wajahnya. Sepertinya dia tak akan cocok dengan rambut pendek. Dia punya lesung pipit dikedua pipinya. Kulitnya juga bersih. Hmm, tipekal laki-laki yang rajin berbenah diri. Dari rumahnya saja sudah terlihat. Benar-benar rapi. Dia juga kesepian. Bukan karena, Adiknya yang bercerita tapi tatanan di rumahnya yang terlihat jelas. Seseorang yang kesepian. Apa itu terlihat juga padaku? Bagaimana dia bisa tahu, kalau aku seseorang yang hidup dalam kesunyian?
"Ibuku? Hahaha, tidak mungkin. Mungkin, dulu. Hei, kau masih tidak percaya padaku? Bahkan, aku hampir melupakannya tapi, kau yang terus-menerus mengingatkanku."
Sofa berwarna green forest yang terlalu besar itu, hampir tidak ada yang mendudukinya. Selain sang pemilik rumah. Keenan, orang pertama. Sofa itu menghadap Televisi pemberian Kale yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Kale tidak menyukai sofa itu karena, sofa milik Ibuku. Dari kecil aku menyukainya dan menginginkannya. Walau kenangan itu buruk masih ada kenangan yang ingin kuingat. Di sofa itu, ada keluarga kecil yang menonton film bersama-sama.
"Kau tidak punya alergi apa pun, kan?"
"Keenan...."
"Hei, orang asing! Kau di mana?"
"Kee...."
Orang asing itu, tertidur pulas. Dua piring telur sapi dengan saus tomat dan nasi yang sudah ada dikedua tanganku menjadi sia-sia. Sia-sia baginya. "Terima kasih, memberiku lebih banyak porsi sarapan hari ini," Lucid mengambil selimut milik Kale dan meletakkannya begitu saja di dekat Keenan.
Usai menghabiskan makanannya, ia sesekali melihat ke arah Keenan. Laki-laki itu sudah menggunakan selimut itu bahkan, ia mendengkur. Earphone sudah terpasang di telingaku. Wah, suara dengkurannya melebihi volume lagu yang kuputar. Bahkan, hampir mendominasi. "Apa dia tidak tidur seharian?" entahlah.
Lucid melihat layar ponselnya. Banyak pesan dan telepon yang masuk. Semua dari club fotografi yang menghubungiku secara berkala. Sama seperti Keenan, bebal.
Pukul 10 pagi, Keenan belum ada tanda-tanda bangun dari tidurnya. Hujan baru saja reda tapi mungkin akan turun lagi di sore hari. Lucid mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia tidak ingin menggunakan hardryer agar suaranya tak membuatnya bangun. Suaranya lebih bersik dari suara hairdryer bahkan, suara hairdryer tidak berisik juga. Ia juga sudah menonton 3 film di laptopnya. Sekarang, ia bersembunyi dibalik selimut dan menghadap ke arah luar melalui jendela. Di luar sana ia menyaksikan banyak keluarga kecil yang meluangkan waktu bersama di hari minggu. Dibalik canda dan tawa mereka seperti tidak ada beban dari luarnya, tidak tahu di dalamnya.
"Kenapa? Kau menginginkannya?" suara Keenan yang tiba-tiba terdengar.
"Hei! Tak bisakah memberi tahuku lebih dulu kalau kau sudah bangun? Kenapa kau selalu datang tiba-tiba?" Lucid yang tampak kesal. Bukan apa-apa, ini di rumahku yang selalu hanya ada diriku seorang. Jarang ada tamu yang mampir sejenak. Kale bahkan, sudah jarang berkunjung dan akhir-akhir ini ia sepertinya lelah. Lelah berbuat ulah dan berpindah-pindah pekerjaan. Tapi tidak tahu lagi. Hmm, sedikit merindukannya.
"Hah? Kau sedang melamun, ya? Kau pikir aku tidak memanggil namamu sedari tadi?" lihatlah! Mukanya menyebalkan. Apa, iya? Orang ini sedang berulang tahun? "Kau sungguh sedang berulang tahun?" kali ini nada bicaraku terdengar seperti seseorang yang sedang berbicara dengan santai. "Kenapa? Kau tidak percaya? Apa kau punya masalah dengan sebuah kepercayaan?" benar, benar. Dia sudah menebakku. "Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu." senyuman lebar menghiasi di wajah laki-laki itu. Wah, benar. Itu sangat cocok di wajahnya. "Hei! Kau diam saja di situ! Aku tidak perlu bantuanmu," Lucid kembali ketus. "Baiklah," ucap Keenan dengan senyuman masam.
Lucid membuka kotak di atas lemarinya. Ia menyalakan proyektor yang di hadapkan pada tembok kosong yang tidak tertempel apa pun. Ia mengambil meja kecil yang ia hadapkan pada layar proyektor. Di samping meja itu ada container berukuran sedang yang berisi permen-permennya. Ia juga membuat strawberry cheesecake, ia sangat menginginkan untuk memakan itu di hari minggu. Lucid juga meletakkan lilin di atasnya. Terakhir ada dua gelas lemonade dengan es batu yang berbentuk bulat. Film yang ia putar adalah 'happy old year'. "Sedang apa, kau? Kau tidak menginginkannya lagi? Baiklah....," Lucid hendak meniup lilin itu. "Jangan!" teriakan Keenan menyelamatkan lilin itu.
Pukul 1 siang, hujan kembali turun. Hawanya dingin membuat perut terasa lapar. "Wah, kau lahap juga rupanya," Keenan senang melihatnya. Lucid sedang memakan cheese burger dengan membuka mulut lebar-lebar. "Itu karena ada yang menema....," duh! Mengapa aku justru mengatakannya? "Ah, akhirnya kau menganggapku seorang teman? Bukan orang asing? "Hah? Tidak! Kenapa kau percaya diri sekali?" ucap Lucid dan melirik ke arah Keenan. Seperti memberi isyarat untuk meniup lilin yang sudah berada di depannya itu. "Ah, kenapa kau tidak bilang?" Keenan tersenyum lebar. Menutup matanya. Meniup lilin itu. Memotong kue dan memberikannya pada Lucid. "Terima kasih untuk diriku sendiri," ucapan Lucid yang membuat Keenan tersenyum dan melihatnya dengan penuh arti.
Lucid dan Keenan, dua orang itu. Fokus dengan film yang mereka tonton. Sembari memakan strawberry cheesecake dengan mulut yang belepotan.
"Masa lalu bukan hanya perkara waktu..."
"Masa lalu bukan hanya perkara waktu..."
DEG!
Keduanya mengucapkan kata-kata yang sama. Mata mereka bertemu dengan tatapan yang sama tajamnya dan...
Clup!
"Hampir saja...."