Gedung UKM, pukul 3 sore. Seluruh anggota club fotografi tengah berdiskusi. Menyisahkan Keenan yang selalu terlihat kelelahan dan kurang tidur. Mereka yang berada di ruangan itu akan mengabaikannya dan tidak akan menegurnya atau bahkan, menanyai banyak hal. Karena itu akan percuma. Keenan terlalu bebal, tidak akan mendengar ucapan orang lain. Selain itu mereka tahu beberapa hal. Ya, soal Joe. Joe si biang onar, sebutannya di club fotografi. Fakta bahwa mereka akan menjadi saudara tiri cukup mengejutkan bagi mereka, orang-orang yang tahu bagaimana Keenan dan Joe dengan pertemanannya.
Ibu Keenan akan menikah dengan Ayah Joe. Anak-anak mereka bukannya tidak ingin merestui hanya saja masing-masing dari mereka, terjebak akan masa lalu yang belum usai. Ayah Keenan meninggal, begitu juga dengan Ibu Joe. Satu hal yang membuat anak-anak mereka terbebani atas pernikahan ini adalah Ibu Keenan cinta pertama Ayah Joe, begitu juga sebaliknya. Karena hal itu menjadi memutar masa lalu. Keenan dan Joe pada awalnya baik-baik saja, teman yang dekat. Teman yang saling mengandalkan. Hanya karena pernikahan itu, Joe menggila dan tiba-tiba melampiaskan semuanya pada Keenan. Seperti menjadi perwakilan dari keluarga saat dia membuat onar. Berkelahi, membuat kegaduan, merusak barang-barang di restaurant ia bekerja part time, dan masih banyak lagi.
"Siapa menurut kalian atau seseorang yang kalian tahu. Mereka-mereka memiliki hasil foto yang saat kalian melihatnya. Wah, foto-foto ini mengingatkan kalian akan kehidupan yang tengah kalian lalui," ucap Vane, ketua club fotografi yang selalu ekspresif.
"Lucid Dream, kalian tidak pernah lihat hasil karyanya, ya? Whoaa! Benar-benar tidak bisa membuatku berkedip. Tapi sayangnya dia menutup rapat-rapat kesempatannya dan menyimpannya untuk dirinya sendri," ucap salah satu anggota club.
Keenan yang mendengar nama yang ia tahu itu, seketika terbangun seperti sehabis tersetrum arus listrik atau kau yang pernah tertidur tiba-tiba kakimu naik ke atas dan kesemutan. Kedua mata seolah-seolah segar kembali. Telinganya melakukan pekerjaannya. Tubuhnya kembali duduk dengan tegak.
"Ah, iya. Baru saja aku ingin mengatakan itu. Aku dulu satu sekolah dengannya dan sekaligus pernah membujuknya untuk masuk club di SMA, termasuk club fotografi kita ini. Kalian tidak ingat? Aku yang dengan semangat membarah mengajukan namanya untuk perlombaan-perlombaan yang club kita butuhkan," terang Ben tanpa jeda.
Orang-orang di ruangan itu tidak menyadari seseorang yang mereka abaikan, tengah menyimak diskusi itu. "Apa foto-fotonya sebagus itu? Kenapa mereka tahu? Sedangkan aku, tidak tahu apa-apa. Apa dia begitu terkenal? Selain memang wajahnya yang pasti membuatnya terkenal. Tak kusangkah, aku dan dia memiliki hobby yang sama. Apa dia lebih profesional daripada aku?" dalam benak Keenan, ia berbicara.
"Biar aku saja yang membujuknya. Lihat saja! Aku akan membujuknya untuk kalian," Keenan yang membuat semua orang tercengang dan baru tersadarkan, seseorang yang tidak pernah tertarik pada setiap pertemuan itu tiba-tiba mengajukan diri.
"Hah, kau? Kau mengenalnya? Bagaimana kau bisa membujuknya? Sebentar! Kau ternyata selama ini diam-diam menyimak?" ucap Vane yang tampak heran dan kaget dengan tingkah Keenan yang tiba-tiba. Keenan telah menjadi pusat perhatian, seperti ada rasa syukur yang terucap. Seseorang telah merasa dirinya berguna. Keenan bahkan, tidak pernah peduli dengan omongan orang-orang dibelakangnya. "Hmm, tidak juga. Tapi serahkan padaku, aku akan membawa kabar baik untuk kalian. Aku sangat percaya diri, kalian bisa melihatnya, kan?" mereka semua memberikan tatapan yang bermacam-macam. "Dia sudah gila," ucap Rara dan meminta maaf pada semuanya. Rara, sahabat Keenan.
"Ah, baiklah. Kita lihat saja usaha dari Keenan berhasil atau tidak dan untuk berjaga-jaga kalian semua yang ada di sini juga mencari beberapa orang sekaligus berusaha membujuk Lucid," pinta sang ketua club.
"Hei, kau baik-baik saja?" ucap Rara pada sahabatnya itu. Keenan seperti ada di tempat tapi jiwanya terbang tinggi berkelana dengan bayang-bayang wajah Lucid Dream di hadapannya. "Wah, dia gila. Hei!" telinga Keenan seakan tidak berfungsi. Rara meninggalkannya, begitu pun juga dengan yang lainnya. Tinggal Keenan seorang yang berada di ruangan itu.
Rooftop, pukul 4 sore. Hawa dingin dan angin yang berembus menusuk kulit, menyejukkan. Lucid melihat ke arah bawah. Tentu, itu cukup tinggi. Ia melihatnya sampai kakinya berjinjit. Rambutnya yang tadinya basah menjadi sedikit kering. Earphone yang terpasang di telinganya, memutar beberapa playlist lagunya.
"Kau tidak ingin turun ke bawah, kan?" Lucid tak manyadari seseorang sedang mengajaknya berbicara. "Dia tidak mendengarku?" Keenan melihatnya dengan tatapan yang dalam. Dengan tangan yang melipat dan dagunya yang menompang. "Halo, hei! Aku di sini," Keenan, tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Kedua matanya bersinar seperti bocah yang mendapatkan permen atau ice cream bahkan, coklat.
Pandangannya tidak berpaling. Aneh, seharusnya matanya menjadi kering karena tidak berkedip. Tapi, Keenan tidak peduli. Hanya pemandangan indah yang ia lihat saat ini. Dia seperti langit biru yang tidak mengenal pagi, siang, sore, atau pun malam. Baginya, Lucid seperti itu di matanya. Karena, dia 'Ocean'. Hmm, dia lautan yang sedang menatap ke arah langit.
PLAK!
Keenan menampar dirinya sendiri. "Wah, apakah aku terlihat gila?" ucap Keenan Lirih. Dilihatnya lagi, Lucid terlihat melihat ke arah bawah. "Hei, kau...."
Keenan mendekatinya. Menyentuh jemari tangannya dan menariknya sampai di antara keduanya hampir tidak memiliki jarak. Mata mereka bertemu. Adegan yang begitu diharapkan Keenan, terjadi. Mereka saling berhadapan. Walau beberapa detik. Tapi itu berarti. Lucid mendorongnya sampai mereka terlihat memiliki jarak. "Apa yang kau lakukan?" raut wajah Lucid serius bahkan, cenderung dingin. "Wah, kenapa sikapnya yang dingin terlihat keren?" ucap Keenan dalam benaknya.
"Kau tidak ingin turun ke bawah, kan?" Keenan mengulang ucapanya. "Hah? Kau pikir aku ingin mengakhiri hidupku?" balas Lucid dengan menatap lawan bicaranya sekilas lalu, berpaling.
"Lalu, untuk mengapa kau melihat ke arah bawah seakan kau ingin turun ke bawah?"
"Kau memperhatikanku?" Lucid memasang raut wajah seperti menaruh kecurigaan pada lawan bicaranya. "Tidak, aku tinggal tepat di sebelahmu. 410, kau tinggal di 411, kan?" Keenan pikir, Lucid akan meresponnya dan mengajaknya berkenalan. Ternyata, justru diabaikan.
Matahari yang akan segera tenggelam itu, menemani mereka dalam diam. Tanpa disadari Lucid, ada garis senyuman yang sedang ia perlihatkan. Keenan menangkap garis senyuman itu dan membuatnya hanyut dalam suasana yang tidak bisa ia jelaskan. Keenan semakin menatapnya, semakin dalam. Menikmati matahari yang tenggelam dan langit yang mulai meredup. Tapi di matanya, lagit biru itu masih ada bersamanya. Seperti tidak ingin menjadi akhir di hari itu.
She likes sky, i prefer ocean...