"Keenan....," Keenan mengulurkan jemari tangannya di hadapan Lucid. Ia salah sangkah lagi. Keenan pikir, Lucid akan membalas uluran tangan itu. Ternyata, beberapa menit yang lalu dia hanyalah hantu yang tidak terlihat. Lucid tak peduli dengan kehadirannya. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi, benar juga. Dirinya hanya orang asing, bagi Lucid.
Lucid berjalan melewati tangga darurat. Laki-laki itu mengikutiku. Dia tidak membuatku seperti berjalan dengan seseorang yang berniat untuk jahat, aku tidak merasakan sesuatu sedang mengancamku. Mungkin itu terlihat berlebihan tapi apa salahnya berhati-hati.
"Kau mengikutiku?" ucapku pada laki-laki yang berada di belakangku. Laki-laki itu mundur beberapa langkah dariku. Tangga darurat selalu sepi, tidak ada banyak orang yang menggunakan tangga darurat.
"Apa aku membuatmu takut? Hmm, sebenarnya ada yang ingin kukatakan dan aku memang berniat untuk menemuimu. Ah, seharusnya aku mengatakannya saja dari awal. Kau tidak berpikir aku akan melakukan yang macam-macam, kan? Aku bukan seperti itu, sama sekali bukan dan tidak akan!" tegas Keenan dengan mukanya yang serius.
"Ah, kau orang suruhan Vane?" ucapan Lucid yang mengejutkan Keenan.
"Tidak, aku datang untuk diriku sendiri."
Lucid melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Laki-laki bernama Keenan itu terus-menerus berbicara meski tahu, aku sedang mengabaikannya. Sampai di depan pintu masing-masing dan ya. Dia adalah tetanggaku.
"Apa kau ingin masuk? Siapa tahu kau mencari sesuatu yang selama ini kau cari," ucap laki-laki itu.
Hah? Apa kau ingin masuk? Siapa tahu kau mencari sesuatu yang selama ini kau cari? Mengenalnya saja, tidak. Lucid tetap mengabaikannya. Ia tidak akan berbicara dengan orang asing meski dia memang tetanggaku. Dia datang padaku hanya ingin mendapatkan apa yang ia mau, itu tidak tulus. Lucid membuka pintu dan hendak masuk tapi, Keenan menahan pintu itu. Mata mereka bertemu dengan jarak yang cukup dekat. Mata Keenan melihat kedua mata perempuan di hadapannya itu secara bergantian. Lucid, tatapannya tidak berubah. Dia begitu dingin, seperti cinta yang tidak terbalaskan.
"Aku tidak akan menerima permintaan kalian," tolak Lucid.
"Apa alasannya? Mengapa kau menyia-nyiakan bakat yang kau miliki? Aku tahu kau mencari sesuatu yang selama ini kau cari dan aku ingin menunjukkan itu padamu. Kau boleh saja curiga padaku tapi, itu tidak akan terjadi.
"Atas dasar apa kau tahu kalau tidak terjadi apa-apa? Bukankah, kau sedang persuasif denganku? Kau terlihat berusaha untuk meyakinkanku. Tapi sayangnya, itu tidak berhasil padaku," Lucid menepis tangan laki-laki yang menghalangi-halangi ia masuk.
"Suara untuk bintang..."
Langkah kaki Lucid terhenti lagi, bagaimana ia tahu soal suara untuk bintang? Kalau bukan kelua....
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa, kau....," suara Lucid bergetar, ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Keenan melangkah mendekati perempuan itu. Tangannya menggenggam jemari tangan, Lucid. Membawanya masuk ke dalam apartemennya. Lucid berusaha melepas genggaman itu tapi, laki-laki itu terlalu kuat. Di dalam pikirannya masih bertanya-tanya, bagaimana laki-laki itu bisa tahu soal seseorang yang ia jaga dengan aman selama ini? Atas permintaan seseorang itu, hasil foto itu ada. Sampai sekarang foto itu masih ada di media sosial milikku dengan menyelipkan cerita menurut pandanganku terhadapnya. Seseorang itu, Keenna Ocean. Gadis yang akan menginjak remaja itu, meninggal 3 tahun yang lalu.
Baru pertama kalinya, ia tiba-tiba berada di tempat tinggal orang asing yang baru saja di hari itu bertemu dengannya. Pandangan Lucid berkeliling. Ada banyak kamera dan foto-foto yang terpajang, sama seperti dirinya. Lucid juga melakukannya. Tapi Lucid hanya memiliki beberapa kamera. Bahkan, hanya ada satu kamera yang paling sering digunakan. Kemera yang sudah menemaninya di masa sulit.
"Apa kau tahu ini? Kau pasti tahu, kan?" laki-laki itu tiba-tiba datang. Dia membawa...
Bagaimana bisa, foto itu ada padanya?
Keenna Ocean, gadis itu yang tidak kukenal itu datang padaku. Katanya, ia menemukan media sosial dan ada salah satu hasil fotoku yang menurutnya mengena di hatinya. Ia bercerita banyak dan tidak menganggapku orang asing. Selain memintaku untul mendokumentasikan dirinya di hari itu. Ia juga menjadikanku seorang teman yang sedang berkeluh kesah. Banyak hal yang kudengar darinya. Ya, seseorang yang sedang bercerita sebenarnya tidak butuh untuk diberi tanggapan. Hanya butuh didengar dan ditemani. Tak kusangkah itu hari terakhirnya. Aku datang di rumah terakhirnya. Saat keluarganya sudah mengucapkan selamat tinggal di rumah terakhirnya. Aku meletakkan figura potret terakhirnya di sebelah nisannya. Masih begitu muda, ia terlalu cepat untuk meninggalkan dunia.
Figura itu, sekarang ada di tangan laki-laki itu. "Bagaimana itu bisa ada bersamamu? Kau mencurinya? Kau, Keenan Oce...."
Keenan mengangguk. "Iya, aku adalah Kakaknya."
"Ah...," aku tidak bisa berkata-kata. Seperti tidak tahu cara mamaknai pertemuan yang tidak bisa kumengerti. Bagaimana bisa bertemu dengan Kakaknya?"
"Whoaa! Ternyata orang itu kau, aku tak menyadarinya dan tidak tahu apa-apa," Keenan berbicara di hadapanku dengan kedua mata yang kau saat melihatnya mengerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang.
"Bagaimana kau menyadarinya, kalau orang itu adalah aku? Aku hanya tahu Keenna memiliki seorang Kakak laki-laki yang juga sering memotretnya. Jika diputar kembali, ada yang kusesali. Tidak memberikan foto itu secara langsung padamu. Bahkan, itu permintaan terakhirnya. Foto itu diambil sehari setelah Keenna meninggal dan foto itu juga selesai dicetak di hari...."
"Seharusnya di hari itu, aku bertemu dengannya tapi dunia memintanya untuk kembali," Lucid malanjutkan ucapanya. "Bolehkah, aku bertanya?" tanya Lucid. Hmm, satu-satunya yang ada dipikiranku.
"Apa yang kau tanyakan membuatmu penasaran?" ucapnya padaku.
"Ya, jika kau berkenan."
Lucid berbicara dengan menatap lawan bicaranya itu tanpa ragu. Tidak seperti biasanya, ia akan berpaling jika berbicara pada orang asing. Terutama, seorang laki-laki yang tak dikenal tiba-tiba berbicara dengannya.
"Hmm, Keenna tidak ingin Kakaknya melihat wajahnya menjelang ia pergi."
Menjelang ia pergi...
Apa manusia selalu memberi pertanda?
Sedangkan manusia lain, dibuat tidak mengerti dan menyadari di saat sudah berpulang.
"Terima kasih, Keenna datang padaku dan memberiku kesempatan untuk mendengar ceritanya meski tidak saling mengenal. Dia menganggapku seperti seorang teman."
"Jadi, kau bersedia untuk mengikuti perlombaan itu, kan? Setidaknya, kau bisa masuk di club fotografi kalau kau tidak mau mengikutinya."
"Hei! Kau merusak suasana dan kau juga licik," Lucid membalikkan badan dan berjalan keluar tapi sekali lagi, Keenan menghentikan langkah kakinya. "Beri tahu aku, bagaimana caranya agar kau mau menerima tawaran itu?" ucap Keenan tepat di belakangku.
"Hah? Kau bertanya bagaimana aku bisa menerima tawaran itu? Aku sudah menolakmu dan kau masih saja berusaha agar aku luluh, itu maksudmu?" cara bicara Lucid yang selalu terdengar cepat. Ia membalikkan badannya dan mata mereka bertemu. Wajah mereka saling berdekatan, hampir menyisahkan sedikit jarak.
DEG!
"Apa kau percaya ini adalah takdir atau hanya kebetulan yang bisa saja terjadi?" Keenan berbicara dengan dirinya sendiri.