3 tahun yang lalu, masih benar-benar mengingatnya. Tidak pernah sekali pun melupakannya. Masih membekas dan ya. Seseorang yang pengecut dan sedang bersembunyi adalah aku. Jika diingat-ingat dan semakin diingat, rasanya membuatku malu. Malu pada diriku sendiri dan malu tidak bisa menolong diriku sendiri.
"Apa? Kau ingin jadi tukang foto? Hah, fotografer? Kau mau jadi apa? Bahkan, kau sendiri tidak tahu apa-apa. Hanya gegabah dengan sesuatu yang kau belum tahu langkah selanjutnya. Atau bahkan, kau belum memikirkannya. Pikiranmu itu masih anak-anak," terang Ibunya panjang lebar sehabis memukul anaknya tanpa ragu. Lucid saat itu hanya bisa meneteskan air mata. Ia tidak ingin berbicara karena, Ibunya tidak akan berhenti berbicara dan akan terus memberikan ungkapan-ungkapan yang justru menyakitinya.
Itu Ibunya. Ayahnya pun tidak tinggal diam. Kale berada di sampingku. Ia juga masih terluka. Ia sangat menyukai lukisannya yang terpajang di dinding kamarnya dan ia berhasil menghasilkan banyak karya tapi, orang tua kami ingin menghentikan itu tanpa melihat apa yang diinginkan oleh anak mereka. Mereka juga menyuruhku menyerah, meski mereka tahu apa yang dilihat pada Kale juga ada padaku dan seharusnya mereka bangga padaku maupun Kale. Satu hal yang ingin kulakukan dan kale juga adalah memiliki penghasilan dan keluar dari rumah untuk bahagia. Meski tidak tahu definisi bahagia bagi mereka itu seperti apa. Justru kebebasan yang mereka cari sebenarnya.
Kekacauan yang terjadi di dalam rumah cukup membuat luka yang terus-menerus menumpuk. Menjadi ingatan yang berkala, meski berlalu bukan berarti apa telah terjadi juga berlalu begitu saja. Kalau ada mengatakan, mengapa harus berlarut dalam masa lalu yang tidak perlu untuk diingat lagi? Jika diucap memang semudah itu tapi, tidak tahu kenyataannya seperti apa. Sering kali terjadi, seperti mengungkapkan beberapa kata-kata yang menyuarakan soal terjebak masa lalu. Kau, dia, atau mereka. Tidak akan sama. Semua orang punya pilihan dan porsi tersendiri. Seperti porsi makan, anggap saja seperti itu. Itu versi mudahnya.
PLAK!
Suara tamparan yang sering kudengar itu, seperti mengejarku. Ada kalanya itu membawaku pada mimpi buruk yang berulang dan terbangun di tengah malam. Terbangun dengan keringat yang bercucuran. Terkadang juga menangis dengan tiba-tiba tanpa tahu penyebabnya. Terkadang juga hanya tidak ingin keluar ke mana pun. Dulu, rumah adalah tempat ternyaman dan terasa terlindungi sebelum semua kekacauan datang di kehidupanku.
Pukul 3 pagi, Lucid tidak bisa melanjutkan tidurnya. Meski hari ini libur akan percuma saja, ia tetap tidak bisa tidur sampai menjelang malam nanti. Ia mengganti celana pendeknya dengan celana tidur yang kebesaran sampai menyentuh lantai. Melipat bagian celananya itu di atas mata kaki. Lalu, mengambil hoodie kesayangannya yang sudah ia miliki begitu lama tapi warna pada hoodie itu tidak memudar. Karena, ia jarang-jarang memakainya. Bisa dihitung dengan hitungan jari. Selalu ada alasan dibalik apa yang terjadi atau kebiasaan-kebiasaan yang mungkin dimiliki setiap orang.
"Ah, ini terlalu pagi untuk keluar," ucap Lucid dengan menghela napas. Ia mengintip dibalik jendela kamarnya. Tentu, di luar masih gelap. Ada beberapa pedagang yang sudah berseliweran berjalan dengan barang dagangannya yang begitu banyak. Mereka bersiap-siap terlalu dini tapi, mereka tetap ramah dan tidak terlihat kelelahan. Ya, manusia handal dalam menyembunyikan semuanya.
Lucid tetap keluar meski di luar masih gelap. Supermarket di dekat apartemennya buka 24 jam, ia akan ke sana membeli permen. Stock permennya sudah habis. Kedua matanya berkeliling. Suasana mencengkam ada padanya. Tapi tidak membuatnya takut. Ia harus turun dari lantai 4 ke lantai dasar. Tidak seperti biasanya, menggunakan tangga darurat untuk sampai di lantai dasar. Karena sebelumnya ada 2 orang yang tiba-tiba tergeletak pada dini hari di dekat tangga darurat. 2 orang itu tidak sadarkan diri setelah menghabiskan waktu malam, mereka sangat bau. Bau dunia malam. Kale pernah datang padaku dengan bau seperti itu. Kupikir dia memang meminumnya ternyata, tidak. Ada yang berusaha menjebaknya, ia juga babak belur. Kale tinggal di dekat kampusnya. Ya, kita berdua saling menghidupi diri sendiri. "Ah, dua orang itu. Orang yang sama. Apa mereka setiap hari akan seperti itu?" benar, dia orang yang dilihatnya sebelumnya. Mereka tergeletak lagi. Lucid melewatinya dan berjalan mendekat pada lift yang tak jauh dari tangga darurat. "Tunggu..." Lucid menyadari sesuatu yang ia lihat dari 2 orang yang tergelatak dibalik pintu tangga darurat yang terbuka. "Apakah aku benar-benar melihatnya?" Lucid berlari seperti ada yang mengejarnya.
Tok....tok....tok....
Lucid mengetuk pintu itu. Hanya orang itu, seseorang yang ada dipikirannya. Tak lama orang itu membukanya. "Lucid...," ucapnya. Keenan tidak menyangkahnya, Lucid berada di hadapannya. Tapi ada yang aneh. Perempuan itu terlihat panik. "Ada apa?" ucap Keenan lagi. Keringat bercucuran membasahi wajahku. Tidak pernah menyangkah kalau aku harus melihatnya. Apa dua orang itu tewas di tempat? "Kau bisa...," aku seperti sehabis melihat hantu. "Masuklah!" Keenan menarik tanganku dan memberiku segelas air. Bahkan, tanganku gemetar. "Kau bisa mengatakannya kalau kau sudah tenang," ucapnya. Rasanya ingin marah saat Keenan meletakkan tangannya di atas kepalaku. Lucid meminum segelas air itu sampai habis tak tersisa. Laki-laki itu melihatku dengan tatapan yang tidak biasa. Ah, di melihatku seperti Adik perempuannya? Rasanya membuatku terluka jika berbicara soal Adiknya. Aku tidak akan membahasnya.
Lucid berbicara dengan berbisik di telinga laki-laki itu. Keenan tak menyangkah, perempuan yang ada dihadapannya itu akan melakukannya. Membuatnya mematung dengan pikiran yang sedang berpikir, ia tidak ingin memberikan reaksi yang terlihat ia sedsng gugup. Tapi, Lucid telah membuatnya gugup.
"Keenan, kau mendengarku? Hei! Kau mendengarku, kan?" ada apa dengannya? Dia, melamun? Sedangkan aku, sedang berbicara dengan serius. Aku takut suaraku yang terlihat panik ini akan terdengar di luar.
"Keenan!"
"Hei, Keenan!"
Lucid membalikkan badan dan hendak beranjak dari tempat duduknya tapi, Keenan menangkap jemari tangannya. "Ah, kau sudah sadar? Ada apa denganmu? Apa kau terlalu kaget dan kau bereaksi seperti itu?" ucap Lucid yang tidak mengerti dirinyalah yang membuat Keenan bereaksi seperti itu.
"Kau bilang apa tadi?" Keenan justru bertanya padanya.
Lucid mengulang ucapannya. Lucid pikir, sebelumnya adalah reaksi Keenan saat mendengar apa yang ia ucapkan. Ternyata, Keenan tidak mendengar apa yang ia ucapkan. Ada apa dengannya? Kupikir ia sedang terkejut. Dia aneh, apa jiwanya melayang?
"Ah, mereka hanya perpura-pura. Mereka sengaja melakukannya untuk menipu. Semua orang sudah tahu. Mungkin karena, kau masih baru tinggal di lingkungan ini jadi, wajar kau terlihat panik. Oh, ya. Untuk apa kau keluar pagi-pagi buta? Kau tidak tahu? Itu bahaya," ucap Keenan dengan tidak menatap lawan bicaranya.
"Benar, itu hanya akal-akalannya mereka saja?" Lucid masih tidak percaya.
"Kau ingin melihatnya?"
"Iya."
"Tapi, kau harus menerima tawaran itu. Kau takut, kan? Aku akan menemanimu,"
"Wah, kau licik. Sudah kubilang, aku sudah menolakmu. Aku sudah berhenti melakukannya, 3 tahun yang lalu. Jadi, itu akan percuma."
"Kenapa kau berhenti?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Anggap saja, kita baru saja berteman."
"Hah, teman?"
"Untuk apa kau datang ke sini kalau kau tidak menganggap kita berdua seorang teman yang dekat. Hei, kau tidak sadar sedang bergantung padaku?" ucap Keenan dengan jari tangannya yang membentuk tanda kutip.
"Justru itu karena, aku orang baru dan kau kemarin memperkenalkan diri lebih dulu. Jadi, hanya kau yang kukenali wajahnya. Bukan berarti kau dan aku berteman."
Lucid beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar.
Keenan yang melihat reaksi Lucid, tersenyum dan mengekor di belakang perempuan itu.
"Itu bukan penipuan....," Lucid mematung dan melihat ke arah tangga darurat yang ada diseberang.
"Apa yang terjadi?" ucap Keenan pada seseorang di dekatnya yang berjalan dengan tergesa-gesa.
Pukul, 4 pagi. Ditemukan 2 orang yang tewas berlumuran darah di tangga darurat. 2 orang itu tidak ditemukan dibalik pintu yang terbuka tapi tergeletak pada barisan tangga. "Aneh," ucap Lucid lirih.