Kejadian yang terjadi pada pagi dini hari itu, berharap hanyalah sebuah mimpi buruk dan tidak terjadi di kehidupan nyata. Sepasang kekasih itu tergeletak tak bernyawa. Bahkan, mereka akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi. "Sekitar jam 3 pagi, saya keluar. Dua orang itu sudah tergeletak di dekat pintu tangga darurat yang terbuka. Mereka selalu seperti itu. Bau minuman, tergeletak, dan setelahnya mereka sudah tidak ada." terang Lucid. Semua yang tinggal di dekat lokasi kejadian, akan dimintai keterangan menjadi saksi. Meski tidak tahu siapa saksi yang sebenarnya.
"Tapi ada yang aneh. Mengapa dua orang itu tergeletak di barisan tangga? Padahal, sebelumnya berada di depan pintu yang terbuka," Lucid melanjutkan ucapannya. Keenan yang berada di sampingku sedang melanjutkan pernyataanku.
Keenan menjelaskan tentang fakta dua orang itu yang diketahui banyak orang. Karena perbuatannya, dua orang itu kehilangan banyak kepercayaan dari orang sekitarnya. Mereka berpura-pura tergeletak dan merampas uang seseorang yang sebenarnya datang dengan niat baik. Itu menyedihkan, di saat banyak yang bersimpati ternyata itu hanyalah tipuan belaka. Tapi di saat itu benar-benar terjadi, semua mengabaikannya.
Lucid menghela napas. Ia berkedip beberapa kali. Kedua matanya serasa memaksanya untuk terlelap. Menjadi saksi atas kejadian itu. Memakan waktu yang begitu lama. Ia berada di kantor polisi sejak pukul 6 pagi sampai 3 sore. Ia bahkan, sempat mengatur ucapannya. Karena tidak mau ada kesalah sedikit pun.
"Kau mau ke mana?" ucap Keenan yang berjalan dengan menyentuh kepalaku.
"Lepaskan! Kau pikir kita sedekat itu? Bukan urusanmu dan aku juga tidak perlu untuk menjawab pertanyaanmu," jawab Lucid ketus.
"Hei, apa salahku? Ah, kau masih menganggapku orang asing?" Keenan berjalan mengekor di belakang Lucid. Bahkan, Keenan trus berbicara tapi tetap saja terabaikan. Lucid mengambil banyak permen dari berbagai jenis dan rasa. Keenan masih berada di dekatnya. "Kau selalu membeli permen sebanyak itu?" ucapnya padaku. Telingaku serasa gatal, ia terus-menerus berbicara walau sudah tahu, aku tidak akan meresponnya. "Sampai kapan kau akan terus mengabaikanku? Apa kau tidak takut? Di lingkungan tempat tinggal kita ini, baru saja ada...."
Sial!
Aku tidak takut tapi itu cukup membuatku terbayang-bayang. Apalagi, tangga darurat yang biasa kugunakan itu. Sepertinya beberapa hari atau bahkan, lebih lama. Hmm, aku tidak akan menggunakan tangga darurat Itu. Sampai terasa baik-baik saja tapi entahlah.
"Hahaha, kau takut, kan?" rupanya orang ini belum pergi juga dari hadapanku.
"Ah, kau sedang membicarakan 'Kau', dirimu sendiri?" balasan dari Lucid. Ia langsung menutup pintu dengan Keenan yang masih di depan pintunya.
Untuk apa aku berteman dengan seseorang yang hanya ingin memenuhi kemauannya? Beberapa hari yang lalu juga. Satu per satu dari mereka, dari club fotografi itu memintaku dengan tawaran yang sama. Bahkan, ada yang terkesan memaksa. Belum lagi membuntutiku sambil berjalan dan berbicara dengan topik yang sama. Meski Keenan tidak melakukannya dan hanya membuntutiku dengan tidak membahas soal club fotografinya. Tapi bukankah, nantinya juga akan pernyataan yang terselubung? Pasti akan seperti itu dan tiba-tiba. Itu membuatku mati rasa. Sudah dingin semakin dingin. Mungkin aku terlihat hangat pada beberapa orang yang sudah kukenal tapi terkadang juga salah sasaran. Sama halnya dengan anggapanku sendiri pada orang asing yang juga bisa salah sasaran.
Pukul 7 malam. Belum terlalu malam. Tapi sudah serasa pukul 12 malam. Tidak seperti biasanya. Meski berdampingan dengan pondasi yang tebal. Suara-suara dari luar bukan berarti tidak bisa menembus ke dalam ruangan. Ini hari sabtu. Walaupun kebanyakan orang menghabiskan waktu di luar, bukan berarti juga tidak ada yang menghabiskan waktu di rumah tanpa bersuara. Bahkan, luar biasa berisik. Itu sudah biasa di hari sabtu, seperti menghidupkan suasana bagi orang-orang yang tidak keluar rumah dan sedang tinggal sendirian, sepertiku. Ya, sepertiku.
Suasana sunyi yang sudah sering kulalui yang semestinya menjadi biasa bagiku, suasana di malam ini menjadi suasana yang membuatku menjadi gelisah. Gelisah karena melihat kejadian yang tidak pernah kulihat sebelumnya atau masih dalam keadaan yang shock sehabis melihat orang yang meninggal di lingkungan tempat tinggalku? Entahlah, sampai detik ini. Masih memikirkan bagaimana dua orang itu bisa berada di tangga? Apa dua orang itu merangkak untuk meminta tolong? Apa ada seorang pembunuh di sekitar sini? Di lingkungan tempat tinggalku? "Wah!" bulu kudungku berdiri. "Bukankah, mereka harus menangkap pelakunya dengan cepat sebelum semakin berkeliaran?"
Tok...tok...tok....
Suara ketukan pintu yang membuat salah satu kakiku terangkat seperti saat kau sudah tertidur tapi kakimu terangkat seperti tersetrum dan saat itu juga, kau otomatis terbangun dari tidurmu.
"Siapa?" Lucid melihat ke arah jam analog di meja belajarnya, pukul 9 malam. Lucid berjalan mengendap-endap di rumahnya sendiri. Suara ketukan pintu itu masih terdengar. Ia juga sudah berada dibalik pintu. Lucid mencoba untuk melihatnya dari lubang kecil yang seperti lubang cacing yang selalu ada di pintu. Tapi, Lucid tampak ragu untuk melihat lubang kecil itu. Lucid melihat ke arah bawah pintu ada bayangan seseorang yang berdiri di depan pintunya. "Kenapa perasaanku tidak enak?" Lucid mengambil tongkat baseball milik Kale yang tertinggal di tempat ia menaruh payung. Baru saja ia akan membuka kunci pintunya tapi bayangan orang itu menghindar. Lucid pun mundur beberapa langkah dan bayangan seseorang itu mendekat lagi. Mengetuk pintunya kembali dan saat itu juga, membuat Lucid semakin ragu. Ia menjauh dari pintu itu. Memeluk tongkat baseball dan ponsel yang sudah berada di genggamannya.
"Hei, kau di mana? Apa kau bisa di sini, sekarang?" Lucid menghubungi Kale, ada rasa takut yang tidak bisa ia hindari. Manusialah yang sebenarnya lebih menakutkan. Tidak bisa diduga-duga, siapa pun bisa melakukannya.
Pukul 11 malam, Lucid mencoba untuk menghubungi Kale dan lagi-lagi. Kale selalu tidak ada di saat ia membutuhkannya. Nomer telepon yang tak ia kenal itu masih menghubungnya. "Baiklah, aku akan mengangkatnya," sambil memejamkan mata. Berharap seseorang yang menghubunginya itu. Bukanlah seseorang yang memiliki niatan buruk padanya. "Halo....," suara yang tidak asing di telingaku. Apalagi, suaranya saat mulai tertawa. Dia....
PLAK!
Sadarlah, Lucid! Itu bukan apa-apa.
"Kau, kaget? Apa kau justru sudah mengenal suaraku?" hah? Apa dia selalu seperti itu?
"Ah, kau yang menelepon."
"Hahaha, tidak apa. Setidaknya, kau mengenali suaraku. Itu membuatku...."
"Bagaimana kau bisa menelponku?" Lucid dengan nada bicaranya yang selalu terdengar ketus.
"Bagaimana kau bisa mengenali suaraku?" tentu, Keenan tidak akan tinggal diam.
Pukul 12 malam, malam ini dan hari ini rasanya waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Tapi suara ketukan pintu itu membuatku penasaran sekaligus teriang-iang seperti ada yang sedang mengejarku. Apa itu, Keenan? "Ada apa? Kalau kau terus berbicara yang tidak penting, aku akan menutupnya."
Keenan yang berada di depan pintu Lucid tersenyum mendengar itu. "Kau sebenarnya ketakutan, kan?" Keenan semakin menggodanya.
"Baiklah, aku akan menutupnya."
"Aku orang itu, orang yang mengetuk pintumu."
Sambungan telepon itu masih tersambung tapi, lucid justru terdiam.
"Hmm, kau tinggal sendiri, kan? Entahlah, aku juga tinggal sendiri tapi...."
"Kau terlihat lebih kesepian dari pada aku. Jadi, memang seharusnya aku merasa khawatir akan itu dan...."
"Lucid...."
"Kurasa, aku mulai menyukaimu."
"Selamat tidur, Lucid."
Tut....tut....tut....