Iris berwarna hijau gelap milik Ethan seakan-akan menghipnotis Natalie untuk terus-terusan menatapnya. Berkali-kali Natalie menelan salivanya sambil menggigit bibir bawahnya yang membuat Ethan gemas ingin mencium kembali bibir ranum Natalie.
"Hmm... Revegard, lo bisa munduran sedikit,gak? Gue agak gerah nih." ucap Natalie, merasakan wajahnya mulai panas.
Padahal suhu di tempat itu sangat sejuk karena adanya pendingin ruangan, tapi Natalie benar-benar merasa wajahnya seperti terbakar dari dalam.
"Nggak mau."
Balasan itu membuat Natalie kembali menelan salivanya untuk yang kesekian kali. Ia harus bertahan untuk tidak salah tingkah di depan Ethan, jadi ia memalingkan wajahnya ke samping agar tidak menatap wajah tampan lelaki yang memojokannya saat ini.
"Revegard, ini udah kelewatan. Gue harus balik ke lapangan sebelum anak-anak dateng." kata Natalie, berusaha membujuk Ethan agar ia dibiarkan pergi.
Ethan kembali menampakan smrik-nya, kemudian menarik handphone dari saku celananya tanpa mengendurkan perhatiannya ke Natalie.
"Tulis nomor lo disini." Ethan menyodorkan handphone-nya.
"Nomor gue? Buat apa?"
"Tulis aja!" perintah lelaki bersuara berat itu.
Tak ada pilihan lain, Natalie pun menuliskan sebuah nomor di handphone Ethan. Saat ini ia benar-benar harus segera pergi dari tempat itu, jadi ia terpaksa menuruti kemauan Ethan.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Natalie, karna tepat setelah ia selesai menuliskan nomor di handphone Ethan, akhirnya ada seseorang yang lewat di lorong itu dan membuat Ethan sedikit mundur dari posisinya.
"Arthur! Si Roy udah di lapangan?" tegur Natalie kepada Arthur, yang kebetulan lewat.
"Udah gue anterin tadi. Dia nyariin lo, ternyata lo disini." balas Arthur, tersenyum ramah.
Arthur adalah salah satu rekan satu tim Ethan. Sedangkan Roy adalah anak Arthur yang tergabung dalam tim junior, jadi Arthur sudah cukup akrab dengan Natalie.
Terlebih lagi di umurnya yang masih muda, Arthur harus menduda dengan satu anak. Jadi Arthur banyak sekali berkonsultasi dan meminta saran Natalie untuk kebaikan Roy.
Ibu Roy meninggalkan Roy dengan Arthur karena berselingkuh dengan wanita lain. Sebagai seseorang yang memiliki pengalaman diselingkuhi, Natalie mengerti rasanya menjadi Arthur.
Jadi Natalie dengan senang hati menggantikan peran ibu untuk Roy walaupun hanya sebentar saja. Beberapa kali juga Roy dititipkan kepada Natalie ketika Arthur sedang butuh waktu dengan calon ibu baru untuk Roy.
Moment setelah bertegur sapa dengan Arthur itu dimanfaatkan oleh Natalie untuk kabur dari tempat itu. Tepat setelah Arthur menjauh, Natalie langsung berlari secepat yang ia mampu seperti orang kesetanan.
"Astaga, Natalie. Kamu kok kayak dikejar malaikat maut aja, ini masih pagi loh." kata Coach Adam, saat Natalie sampai di pintu gerbang sektor 2 dengan nafas terengah-engah.
"Ini lebih buruk dari malaikat maut, Coach. Saya dikejar Ethan." balas Natalie, keceplosan menyebutkan nama Ethan.
"Ethan?"
"Eh, maksud saya setan, Coach. Ya, tadi saya liat disana tuh." Natalie menunjuk arah dengan asal.
Tak mau memperpanjang masalah, Natalie memilih untuk kembali ke loker room untuk menyapa anak didiknya yang sudah datang pagi itu.
Akademi untuk tim junior bukan hanya membina pemainnya untuk berlatih sepakbola. Tapi akademi tim junior juga menyediakan sebuah sekolah khusus para atlet dengan metode pembelajaran yang berbeda dari sekolah sekolah pada umumnya di luar sana.
Jadi anak-anak itu tidak hanya mahir dalam bermain sepakbola, tapi mereka juga memiliki wawasan yang luas tentang dunia dan sebagainya.
Itulah yang membuat akademi tim Grassland junior menjadi akademi pembinaan usia muda terbaik di dunia. Prestasi tim Grassland United memang sudah sangat mendunia dari tim utama sampai tim junior, semuanya berprestasi.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi Natalie bisa bergabung dengan tim sebesar dan sesukses ini berkat kerja kerasnya. Natalie bukanlah terlahir dari keluarga kaya raya, keluarganya hanya keluarga sederhana yang tinggal di luar negeri.
Jadi Natalie harus merantau ke negeri orang setelah mendapat beasiswa untuk berkuliah di University of Grassland dan kini ia bisa bekerja di salah satu tim sepakbola terbaik di dunia.
Rasanya berat karna harus jauh dari kampung halaman dan keluarga, tapi ini adalah mimpi Natalie untuk berkarir di luar negeri dan menjadi bagian dari Grassland United, tim sepakbola yang sudah ia cintai sejak masih di bangku sekolah dasar.
Waktu pun berjalan begitu cepat karena sekarang jam sudah menunjukan pukul 12:00, waktunya Ethan dan rekan-rekannya makan siang dan beristirahat sebelum melanjutkan sesi latihan berikutnya.
"Gue nggakn tahu kalo lo kenal sama Natalie." ucap Arthur, sambil membuka lokernya yang ada di samping loker Ethan.
Ethan sebenarnya cukup dekat dengan Arthur dibanding dengan pemain Grassland United yang lain, tapi mereka berdua memang tidak pernah mencampuri urusan masing masing.
"Jadi namanya Natalie."
"Lah? Lo belum tahu namanya?!" kata Arthur kaget.
"Lupa nanya." balas Ethan, mengangkat kedua bahunya sambil terkekeh.
"Thur, lo tahu apa aja tentang Natalie? " tanya Ethan. Berjalan menuju kantin untuk mengambil jatah makan siang bersama Arthur.
"Natalie suka yoghurt." sahut seseorang dari belakang mereka.
Mereka berdua pun refleks menengok kebelakang dan mendapati salah seorang rekan setim mereka yang bernama Dylan sedang tersenyum lebar seperti kuda.
Pemuda berkulit putih dengan rambut merah yang sedikit ikal itu adalah pemain termuda yang tergabung di tim utama. Ia baru saja mendapat promosi dari tim junior ke tim utama tepat disaat usianya baru menginjak 15 tahun.
Seperti anak remaja pada umumnya, Dylan adalah tipe yang iseng dan sedikit nakal. Sering kali ia mengerjai senior seniornya di tim utama walaupun pada ujungnya ia akan dikerjai balik oleh seniornya.
"Jangan bohong lo, Bocil." balas Ethan, tak percaya pada pemuda itu.
"Bang, gue kan mantan anak didiknya. For your information aja, gue ini anak didik kesayangannya loh." Dylan membanggakan diri, sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.
"Oh iya, bener juga. Lo kan promosi dari tim junior ya, Cil" kata Arthur, dibalas anggukan semangat oleh Dylan.
"Setiap hari Natalie minum yoghurt, dia paling suka rasa strawberry." bisik Dylan, seakan-akan itu adalah rahasia besar.
Usai perbincangan singkat itu, Ethan buru-buru menghabiskan makanannya untuk segera pergi menjauh dari kantin. Ia pergi ke rooftop gedung utama yang ada di sektor 1 untuk mencari udara segar.
Ia duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana lalu mengotak-atik handphone-nya untuk mencari nomor yang tadi pagi dituliskan oleh Natalie.
Tanpa pikir panjang, Ethan langsung menekan tombol untuk menelfon nomor itu dan berharap ia bisa mendengar suara Natalie lagi.
Nuuuttt.... Nuuttt.... Nuuuttt....
"Halo, selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?" tanya suara laki-laki dari ujung sambungan, membuat Ethan bingung.
"Halo, siapa ini? Kenapa yang ngangkat malah cowok?" Ethan balik bertanya.
"Kami jasa penyedot WC, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"
Mata Ethan langsung melotot ketika mendengar itu. Ternyata Natalie bukan menuliskan nomor telefonnya, tapi ia sengaja menuliskan nomor penyedia jasa sedot WC di handphone Ethan tadi pagi.
"Oh maaf, saya salah sambung." kata Ethan, buru-buru memutus sambungan telefon.
Lelaki itu benar-benar sudah dikerjai oleh Natalie. Ethan langsung kesal dan tidak henti hentinya menggerutu bahkan sampai sesi latihan kedua dimulai.