Sudah berminggu-minggu setelah kejadian malam itu. Natalie hampir bisa melupakan apa yang sudah terjadi padanya dan Ethan tanpa bisa mengingat apa yang terjadi malam harinya.
Berbeda dari Natalie, Ethan justru hampir frustasi karena tidak bisa menemukan siapa sosok wanita yang tidur bersamanya malam itu. Selama berminggu-minggu ia memimpikan wanita yang tidur bersamanya saat itu sampai ia mengingat dengan persis bagaimana wajah wanita tersebut walaupun tidak tahu namanya.
Cepatnya Natalie melupakan kejadian itu bukan karena ia tidak peduli akan hal itu, terlebih lagi malam itu adalah malam pertama kalinya Natalie melepaskan mahkotanya kepada seorang lelaki, agak miris karena ia tak mengingat prosesnya.
Natalie hampir berhasil melupakan hal itu karena banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan di tempat ia bekerja, seperti yang saat ini sedang ia lakukan.
Sudah hampir tiga tahun Natalie menjadi manager tim Grassland junior. Tim itu adalah tim akademi usia muda dari tim sepakbola Grassland United, sebuah tim sepakbola yang berasal dari kota Grassland.
Bagaimana tidak kerepotan? Natalie harus mengurus hampir 20 anak berusia 8-12 tahun yang tergabung dalam tim junior. Pekerjaannya sebagai manager tim sepakbola usia muda bukan hanya mengurus keperluan anak anak tim junior di dalam lapangan, tapi juga di luar lapangan.
Di dalam lapangan, Natalie berperan seperti ibu dari 20 orang anak. Selama anak-anak itu berada di pusat pelatihan pada jam latihan, Natalie lah yang bertanggung jawab terhadap anak-anak itu.
Memberikan konsultasi untuk menjaga psikologi anak-anak tetap sehat, sampai mengingatkan anak-anak tim junior untuk membersihkan sepatu masing masing setelah latihan pun dilakukan oleh Natalie.
Lelah? Pasti. Tapi semua itu terbayarkan ketika Natalie bisa melihat senyuman dan mendengar candaan polos dari anak-anak didiknya. Para orangtua juga sangat menghargai dan mengapresiasi Natalie karena sudah menjadi orangtua kedua bagi anak-anak mereka selama jam latihan.
Bukan hanya sekali dua kali Natalie diundang ke acara makan malam dari keluarga anak-anak didiknya, bahkan Natalie juga pernah ditawarkan sebuah mobil dari orangtua salah seorang anak didiknya karena Natalie berhasil menyelamatkan anak tersebut dari cedera parah yang mungkin saja akan melenyapkan mimpi dan cita-cita anak tersebut untuk menjadi pesepakbola professional.
Tapi bukan itulah tujuan Natalie menjadi manager tim. Pada dasarnya Natalie memang sangat menyukai anak anak dan sepakbola, jadi pekerjaannya saat ini sangat tepat untuknya. Maka dari itu ia melakukan semua hal yang menyangkut anak didiknya dengan senang hati dan professional.
"Nat, tolong anterin ini ke Coach Martin." perintah Coach Adam, pelatih tim junior.
"Coach Martin?" ucap Natalie, sambil membaca tulisan di kertas yang tadi diberikan oleh Coach Adam.
"Iya, tadi Coach Martin minta daftar nama anak-anak yang usianya udah 12 tahun."
"Berarti saya harus ke sektor 1?" tanya Natalie, sedikit panik.
Tentu saja ia merasa panik, sektor 1 adalah sektor dimana tim utama Grassland United berlatih dan beraktivitas selama jam latihan.
Jika Natalie berada di kawasan itu, besar kemungkinan ia akan bertemu dengan Ethan, orang yang paling tidak mau ia temui setelah Gerald, mantan pacarnya.
"Mmangnya kamu mau ngirim surat itu pake burung merpati?" sarkas Coach Adam.
Natalie hanya bisa menghela nafas sambil berdoa sepanjang perjalanan dari kawasan sektor 2 menuju sektor 1 agar ia tidak bertemu dengan Ethan. Jangankan bertemu, Natalie kadang suka berdebar-debar jika mendengar orang menyebutkan nama Ethan Revegard sejak malam itu.
Untungnya perjalanan untuk mengantarkan daftar nama itu ke Coach Martin berjalan mulus tanpa bertemu dengan Ethan. Wajar karena saat itu masih terlalu pagi untuk para pemain datang ke pusat latihan.
Melirik jam tangannya yang masing menunjukan pukul 08:30 membuat Natalie sedikit tenang. Jadi ia memutuskan untuk buang air kecil terlebih dahulu sebelum kembali ke sektor 2.
Tak butuh waktu lama juga bagi Natalie untuk buang air kecil. Setelah buang air kecil, tak lupa ia mencuci tangannya di wastafel dan segera keluar dari kamar mandi sebelum jam 9.
Tepat saat Natalie keluar dari toilet, lelaki berbadan kekar dengan berambut blonde yang ikonik melintas di lorong dan tanpa sengaja membuat kontak mata dengan dirinya. Hari itu secara kebetulan Ethan datang lebih pagi dari biasanya dan mendapati wanita yang ia cari selama berminggu-minggu ada di hadapannya.
Karna panik, Natalie langsung cepat cepat masuk lagi kedalam toilet sambil berharap Ethan tidak melihatnya ataupun mengenalinya. Ia berharap Ethan akan langsung melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan keberadaan Natalie disana.
Setelah merasa sedikit tenang dan sudah mengatur nafasnya, Natalie memberanikan diri untuk keluar dari toilet. Sedikit demi sedikit Natalie membuka pintu toilet sembari mengintip keluar, berjaga-jaga siapa tahu Ethan masih ada disana.
Merasa aman, Natalie pun dengan tenang membuka pintu toilet lebar-lebar dan keluar dari sana untuk segera kabur sejauh mungkin.
Baru selangkah Natalie berjalan, tiba-tiba kerah baju polo-nya ditarik oleh seseorang dari belakang, membuat dirinya hampir terjatuh.
"Mau lari kemana?" tanya suara berat Ethan.
"Hehehehe.... Revegard, hai." ucap Natalie, kikuk berusaha untuk bertingkah seolah olah tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua.
"Gue udah berminggu-minggu buat nyari lo, sampe gue setengah gila." kata Ethan, menatap Natalie dengan tatapan tajam.
"Hah? Lo nyariin gue? Buat apa? Emangnya kita pernah ketemu?" balas Natalie, berusaha sebisa mungkin untuk pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Jangan pura-pura bodoh, gue ingat betul wajahmu."
Deg!
Mau bagaimana pun Natalie membantah, Ethan tetap yakin jika wanita yang saat ini ada di hadapannya adalah wanita yang tidur bersamanya malam itu.
"Gue enggak pura-pura bodoh, mungkin lo salah orang, Revegard. Sekarang gue harus pergi, gue ada kerjaan yang harus diselesaikan." kata Natalie, melihat Ethan memblokade jalan Natalie dengan badan besar nan kekarnya.
"Emangnya lo nggak ingat apa yang kita ngapain aja waktu itu?" tanya Ethan, masih berusaha memblokade jalan yang ingin diterobos oleh Natalie.
"Emang kita ngapain? Gue gak pernah ngapa-ngapain sama lo." bantah Natalie.
"Oh ya? Lo nggak ingat kalau kita udah bersetub-"
Kalimat Ethan terpotong karena dengan cepat Natalie membekap mulut Ethan dengan telapak tangannya sebelum kalimat itu selesai.
Hal itu terpaksa Natalie lakukan karena Coach Martin berjalan melewati lorong itu. Memang Coach Martin tidak mempedulikan apa yang sedang mereka berdua lakukan di depan toilet, tapi Natalie tidak mau sampai orang lain mendengar fakta bahwa dirinya sudah tidur bersama Ethan.
"Oke, anggep aja itu one night stand. jadi tolong jangan ganggu gue lagi, gue harus pergi dari sini." bisik Natalie, setelah Coach Martin sudah jauh dari sana.
"Gue itu seorang Revegard. Gue nggak akan melakukan one night stand." balas Ethan, memojokan Natalie ke dinding dan meletakan telapak tangan kirinya kedinding, tepat disaping telinga Natalie.
Posisi itu membuat Natalie merasa terpojok sampai wajahnya mulai terasa panas. Terlebih lagi melihat smrik di bibir Ethan dan mata hijau gelap yang indah milik Ethan dari dekat karna jarak mereka kini kurang dari 50 centimeter.