Sebuah motor sport yang d******i warna hitam dengan sedikit sentuhan hijau gelap melesat kencang membelah jalan kota Grassland yang telah diselimuti kegelapan malam.
Motor itu di bawa dengan kecepatan tinggi oleh Natalie yang akhirnya bisa pergi dari pusat pelatihan setelah memberikan nomor telefonnya kepada Ethan.
Sebenarnya ia terpaksa memberikannya karena ia harus menuju ke suatu tempat di pinggiran kota Grassland. Tempat dimana banyak orang yang sudah lama menunggu untuk dirinya datang.
Tempat itu hanya sekitar 12 mill dari pusat pelatihan tim Grassland United. Sebuah pangkalan pinggir laut dengan sebuah bangunan agak tua yang mampu menampung 50an orang di dalamnya.
Sebagian besar pangkalan itu dijadikan lapangan kosong untuk memarkirkan kendaraan dan melakukan kegiatan luar ruangan lainnya.
Kuda besi Natalie diparkirkan di lapangan itu bersama sekitar 20an motor lainnya. Tapi hanya motor Natalie lah yang paling terlihat mencolok dari semua motor yang berjajar disana.
Setelah melepaskan helm dan menaruhnya diatas motor, Natalie langsung berjalan menuju ke sebuah bangunan yang ada di ujung lapangan.
Bangunan itu tidak mewah namun juga tidak kumuh. Bangunan itu terbuat dari kontainer-kontainer bekas yang di tumpuk dan disusun sedemikian rupa dan di cat ulang sehingga terlihat seperti sebuah bangunan.
Hiruk pikuk dari dalam bangunan terdengar sampai luar, membuat Natalie tersenyum lebar sampai terkekeh. Di tembok yang berada di sisi samping bangunan itu ada sebuah banner dengan cat yang masih basah terbentang sepanjang tembok, hampir 5 meter panjangnya.
Sampai di depan pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu, Natalie langsung masuk ke bangunan itu dan membuat suasana yang tadinya hiruk pikuk seketika berubah menjadi hening.
Hampir 30 pasang mata lelaki yang ada di ruangan itu tertuju padanya yang masih berdiri di depan pintu. Banyak dari mereka yang berbadan besar dengan tatto di tubuhnya.
"Malem ini gue yang traktir!" ucap Natalie, melemparkan tas yang sedari tadi ia bawa ke arah gerombolan lelaki di sudut ruangan.
Tepat setelah para lelaki itu membuka tas Natalie dan mendapati ada puluhan botol beer di dalamnya, suasana kembali ramai penuh suka cita.
"Thank you, Nat!" kata seseorang berkepala botak, mengangkat botol beer-nya sambil tersenyum ceria.
Sedangakan Natalie hanya membalas ucapan itu dengan senyuman lalu lanjut berjalan lagi menuju ke sebuah sofa yang ada di ujung ruangan.
"Lo telat banget, banner-nya udah selesai." kata seorang laki-laki berusia sekitar 30an, yang duduk di sofa itu sambil menghisap rokoknya.
"Kan lo tahu kalo gue gak bisa pulang sebelum anak-anak dijemput semua." balas Natalie, ikut duduk di sofa itu.
Laki-laki itu adalah Wolfgang, atau biasa dipanggil Wolf. Dia adalah pemimpin kelompok suporter tim Grassland United di tribun Utara yang memiliki nama Grassland Warrior. Meskipun Natalie seorang perempuan, tapi Natalie adalah bagian dari kelompok suporter itu.
"Gimana kondisi tim buat pertandingan besok?" tanya Wolf, sambil mengusap kumis tebalnya.
"Semuanya aman, Revegard juga dalam kondisi baik." jawab Natalie.
"Dia pemain gila, semoga dia main bagus besok." ucap Wolf, kembali menghisap rokok yang ada di tangannya.
Seketika Natalie termenung karena mengingat masalahnya dengan Ethan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan Ethan lakukan dengan nomor telefonnya. Ia tidak mau orang-orang tahu jika ia sudah tidur bersama Ethan malam itu.
"Percy tadi bawa makanan, coba lihat makanannya di meja. Lo pasti belom makan malem kan?" kata Wolf, membuyarkan lamunan Natalie.
Walaupun terlihat sangar dan galak, Wolf sangat perhatian kepada Natalie. Bahkan Wolf sudah menanggap Natalie sebagai adiknya sendiri dan begitu pun sebaliknya. Mereka sudah saling mengenal begitu lama, tepatnya saat Natalie baru memulai kuliahnya di Grassland University.
Mereka sering bertemu di kedai dekat stadion setiap Natalie pulang menonton tim Grassland United berlaga. Tidak hanya bertemu dengan Wolf, tapi dengan anggota kelompok Grassland Warrior yang lain juga.
"Gue mau lihat banner-nya." kata Natalie, berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan keluar ruangan.
Ia berdiri di depan banner putih panjang dan besar yang terbentang di tembok. Grassland Warrior selalu membuat banner baru untuk setiap pertandingan yang dilakukan di kandang Grassland United. Tapi ada juga banner yang sudah bertahun-tahun di pakai secara turun-temurun dari generasi ke generasi sebagai identitas kelompok.
KALIAN DATANG, KALIAN DILARANG MENANG!!!
Begitulah tulisan yang terpampang dengan cat berwarna merah di atas banner putih yang besok akan dibentangkan di tribun Utara saat laga berlangsung.
"Gue denger, pihak penyelenggara cuma kasih 1.000 tiket buat suporter tim tamu." kata Wolf, yang ternyata menyusul Natalie keluar.
"1.500" Natalie mengoreksi, dibalas Wolf dengan kekehan.
"Berapa tiket yang laku terjual?"
"700" Jawab Natalie, sambil tertawa.
Mendengar itu Wolf pun ikut tertawa, kelompok suporter Grassland United memang sudah terkenal dengan aksi militan mereka sehingga membuat kelompok suporter lain cukup takut untuk bertandang di markas mereka.
Dengan sedikitnya jumlah tiket yang terjual membuktikan jika kelompok suporter lain takut untuk bertandang ke kandang Grassland United.
Selesai bercanda-canda dengan Natalie, akhirnya Wolf kembali masuk kedalam bangunan setelah dipanggil oleh teman-teman yang lainnya untuk bergabung dalam pesta beer yang tadi Natalie bawakan.
Natalie tak langsung ikut masuk bersama Wolf karena tiba-tiba handphone-nya berdering tanda ada sebuah panggilan masuk. Nomor yang sama dengan nomor panggilan terakhir yang masuk.
"Gue udah sampe rumah." ucap Ethan, yang ada di ujung sambungan.
"Terus kenapa?"
"Yaa... Gue mau ngasih tau lo aja, siapa tahu lo khawatir atau kangen sama gue." jawab Ethan, dengan percaya diri setinggi langit.
"Hih, males banget gue kangen sama lo. Gak bermanfaat bagi kehidupan gue." balas Natalie, bergidik geli.
Namun Natalie bisa mendengar kekehan Ethan di telinganya. Menandakan jika Ethan tidak marah dengan ucapannya. Otak Natalie berpikir keras kemana ujung pembicaraan ini nanti.
"Gue mau ngajak lo jalan lusa." kata Ethan, membuat Natalie tersedak.
"Jalan? Ngapain?"
"Ya, jalan-jalan, biar kayak orang pacaran."
"Kita kan enggak pacaran."
"Nanti juga pacaran kok."
Balasan Ethan membuat Natalie berdecih, kesal karena Ethan selalu saja punya jawaban atas kalimat-kalimat yang ia lontarkan.
"Halo?" ucap Ethan, karena Natalie hanya membisu.
"Gue mau jalan sama lo, dengan syarat besok Grassland United harus menang dan lo harus cetak 2 gol." kata Natalie.
"Gimana? Sanggup, nggak?" lanjutnya.
Ethan terdiam sejenak sambil menimbang-nimbang kesanggupannya. Tapi semenit kemudian ia tersenyum lebar dengan penuh percaya diri.
"Gue bakal cetak tiga gol besok."
Jawaban Ethan membuat Natalie ikut tersenyum. Kalau masalah percaya diri, seorang Ethan Revegard tidak usah diragukan lagi.