Ini bukan pertama kalinya Natalie terhipnotis dengan indahnya iris mata hijau gelap milik Ethan.
Saking indahnya, Natalie selalu merasa ingin berlama-lama menatap mata indah itu.
Tapi Natalie harus tetap dalam keadaan sadar. Ia tak boleh membiarkan Ethan mengatakan kalimat itu.
"Nat, gue sebenernya suk-"
"Iya, gue juga suka es krim. Yuk makan es krim, tuh di situ ada abang es krim." potong Natalie, lalu langsung berlari ke arah tukang es krim, meninggalkan Ethan.
Tentu saja hal itu membuat Ethan menatap Natalie dengan bingung sampai dahinya mengkerut.
"Kok dia kabur sih? Apa gue terlalu buru-buru? Tapi kan dia gak tahu gue mau bilang apa." batin Ethan, melamun.
Tidak mau larut dalam lamunannya, Ethan pun pergi menyusul Natalie yang sedang memesan es krim.
"Lo mau rasa apa?" tanya Natalie, saat Ethan berdiri di sampingnya.
"Coklat cookies."
"Oke, berarti strawberry yogurtnya satu, sama coklat cookiesnya satu ya." ucap Natalie kepada penjual es krim.
Melihat Ethan mengeluarkan dompet dari saku celananya membuat Natalie buru-buru mengambil uang dari dalam sling bagnya untuk membayar es krim.
"Nih, Bang. Pake ini aja bayarnya hehe..." kata Natalie, buru-buru menyerahkan uangnya.
"Gak usah, Bang. Pake ini aja." ucap Ethan menyodorkan kartu kreditnya juga.
"Heeehhh... Udah gak usah, gue yang traktir. Kan tadi lo udah bayarin tiket masuk."
"Gue yang ngajak lo kesini, gue yang tanggung jawab."
Ekhem...
Dehaman abang penjual es krim itu seketikan menghentikan perdebatan Ethan dan Natalie.
Es krim mereka hampir mencair di tangan abang penjual es krim karena mereka berdua terlalu lama berdebat.
"Maaf ya, Bang." kata Natalie, cengengesan.
Dengan cepat, Natalie pun langsung mengambil dua cone es krim dari tangan abang penjual es krim.
Tanpa peduli dengan ekspresi protes dari Ethan, Natalie pun langsung menarik tangan Ethan dari tempat itu sebelum Ethan memaksa abang penjual es krim untuk memakai kartu kreditnya lagi.
"Sebutin nomor rekening lo, uangnya mau gue transfer." ucap Ethan, sambil mengotak-atik handphonenya.
"Rahasia." balas Natalie, masih asik menjilati es krimnya.
Ethan yang tadinya sedikit kesal karna kelakukan Natalie, tiba-tiba langsung terbengong melihat Natalie yang sedang menjilati es krim.
Pikiran Ethan melayang kemana-mana melihat lihainya lidah dari wanita yang ada di depannya saat ini.
Ia pun kembali teringat kejadian malam dimana dirinya dan Natalie menghabiskan malam bersama.
"Ethan, es krim lo cair tuh!" seru Natalie, membuyarkan pikiran Ethan.
Dengan wajah yang merona, Ethan memakan es krimnya sampai habis tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kemaren kenapa lo ada di tribun Utara?" tanya Ethan, mencoba untuk mencari topik pembicaraan.
"Gue emang selalu di sana kok."
"Kok gue gak pernah lihat lo sebelumnya?"
"Muka gue ditutup, biar gak ketahuan."
"Kenapa?" tanya Ethan lagi.
"Gapapa."
Jawaban singkat Natalie membuat Ethan mendengus kesal. Padahal ia benar-benar penasaran.
Tak biasanya seorang wanita menonton pertandingan sepak bola dari tribun Utara. Kebanyakan dari mereka akan menonton dari tribun Timur atau tribun VIP di Barat.
Biasanya tribun Utara dan Selatan berisikan para suporter fanatik yang akan membuat koreo dan melantunkan nyanyian-nyanyian penyemangat.
Tak jarang para suporter tribun Selatan apalagi tribun Utara yang terlibat dalam bentrok dengan suporter lawan karna mengingat posisi tribun suporter lawan yang sangat dekat.
"Emang lo gak takut kena pukul kalo lagi ada bentrok?" tanya Ethan lagi dan lagi.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan Ethan, Natalie hanya menghela nafas. Ia tidak bisa membuka rahasianya di depan Ethan sekarang.
Mau bagaimana pun, mereka berdua belum lama saling mengenal. Itu pun karena Natalie tak sengaja tidur dengan pria berambut pirang itu.
Diamnya Natalie diartikan sebagai batas untuk Ethan berhenti bertanya tentang hal tersebut kepada Natalie.
Ethan juga tidak mau melewati batas karena ia takut Natalie akan merasa tidak nyaman dan malah pergi darinya.
Kini mereka akhirnya sampai di depan rumah Natalie lagi setelah puas menghabiskan waktu di taman bermain.
Keduanya merasa sangat senang hari ini, Natalie senang karena akhirnya bisa pergi ke taman bermain, sedangkan Ethan senang karena bisa berada di dekat Natalie seharian.
"Makasih buat hari ini, Revegard."
"Tadi lo panggil gue Ethan, sekarang lo panggil gue Revegard lagi." keluh Ethan.
"Ya tapi kan itu nama lo."
"Besok-besok kalo lo panggil gue Revegard lagi, lo bakal gue cium." ancam Ethan.
"Ciam cium ciam cium, m***m lo!" kata Natalie, yang dibalas dengan gelak tawa Ethan.
Takut Ethan akan melakukan hal yang tidak-tidak, Natalie cepat-cepat turun dari mobil Ethan.
"Ini beneran gak mau kiss dulu?" canda Ethan.
Candaan Ethan membuat Natalie bergidik geli dan langsung berlari masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintunya.
"Seandainya lo jadi milik gue, lo gak bakal gue biarin pergi, Nat." gumam Ethan, sambil tersenyum lebar.
Kemudian Ethan pun segera pergi dari tempat itu untuk pulang ke rumahnya. Sedangkan Natalie malah terduduk di balik pintu karena kakinya terasa sangat lemas.
"Ya tuhan, kalau dia bukan jodohku, maka jauhkan lah. Tapi jika dia memang jodohku...."
"Masa iya sih? Emangnya gak ada yang lain?" lanjut Natalie meratapi nasibnya.
Belum sempat hatinya pulih setelah putus dari mantan pacarnya yang ketahuan selingkuh, Natalie harus dihadapkan lagi dengan pria lain yang kemungkinan menghancurkan hatinya lebih besar lagi.
Alasan Natalie tidak mau membiarkan Ethan untuk menyatakan perasaan bukan hanya karna mereka belum lama kenal.
Jujur, Natalie belum siap untuk menjalin hubungan yang baru lagi, karena ia masih trauma dengan masa lalunya.
Profesi Ethan sebagai pemain sepak bola juga sangat meragukan bagi Natalie. Ia sudah lama berkecimpung di dunia sepak bola.
Ia juga kenal dengan banyak sekali pemain sepak bola. Semuanya hampir sama, tak ada yang cukup dengan satu wanita.
Bahkan ada beberapa pemain yang sudah jelas-jelas memiliki istri, tapi nyatanya mereka sering menyewa perempuan bayaran setelah pertandingan saat sedang berada di kota lain.
Saat sedang asik meratapi nasibnya, tiba-tiba handphonenya berdering, tanda panggilan masuk.
Natalie pikir itu adalah Ethan, untung belum sempat ia mengangkat panggilan itu dengan nada ketus, ia melihat dulu siapa nama kontaknya.
"Halo, Mah..."
"Kamu apa kabar, Nat?" tanya Sinta, mama Natalie.
"Baik, Mah. Mama sama yang lainnya juga apa kabar?" Natalie bertanya balik.
"Di sini baik semua kok. Kamu udah makan belum, sayang?"
Hati Natalie seketika langsung ambyar mendengar pertanyaan Sinta dari ujung sambungan telefon.
Ia sangat merindukan keluarganya. Sudah hampir 1 tahun ia tak pulang karena harus bekerja di negeri orang.
"Heehh... Kok ditanya udah makan atau belum malah nangis?" ucap Sinta, mendengar Natalie yang terisak.
"Aku kangen mama...." balas Natalie, tidak berhenti terisak.
Natalie belum sekali pun bercerita kepada Sinta tentang dirinya yang putus dengan Gerald. Ia tak mau membebani pikiran orangtuanya dengan probelmatika kehidupannya.
Namun akhirnya malam itu Natalie menceritakan semuanya kepada Sinta walaupun sambil menangis.