"Ayo turun, kita udah sampe nih." ajak Ethan, membukakan pintu mobilnya untuk Natalie.
Sejak pertama kali sampai di tempat itu, Natalie hanya bisa diam terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Ternyata Ethan membawa Natalie ke sebuah taman bermain dengan segala macam wahana.
Mulai dari komedi putar, bianglala, hingga wahana ekstrem seperti roller coaster, semuanya lengkap di taman hiburan itu.
Dari awal ia pindah ke kota Grassland untuk berkuliah sampai saat ini ia sudah bekerja, ia tak pernah sekali pun berekreasi ke taman hiburan.
Natalie biasa menghabiskan akhir pekannya dengan menonton pertandingan sepak bola atau sekedar tidur-tiduran di kasurnya yang empuk.
Tapi hari ini Ethan tiba-tiba mengajaknya ke tempat yang sudah lama ia ingin kunjungi. Mata Natalie berbinar-binar melihat semua yang ada di hadapannya saat itu sampai membuat Ethan sedikit bingung.
"Lo mau ikut gak sih? Gue pegel nih megangin pintu." keluh Ethan, membuyarkan pikiran Natalie.
"Hih, megangin pintu mobil aja pegel." balas Natalie, segera keluar dari mobil.
Seketika Natalie teringat jika ia tak memiliki cukup uang untuk membayar tiket masuk ke taman hiburan itu.
Ia memang punya uang, tapi jika uangnya dipakai untuk membeli tiket masuk taman hiburan, bisa-bisa ia tidak makan selama seminggu.
"Ethan, gue...." kata Natalie ragu.
"Gue yang bayar, gue kan banyak duit." potong Ethan, membanggakan diri dan membuat Natalie berdecih.
"Sombong!" gumam Natalie, mendelik ke arah Ethan.
Ethan yang mendengar Natalie bergumam justru malah tertawa sambil memasang kaca mata hitam di wajahnya.
Dengan sadar sepenuhnya, Ethan menggandeng tangan Natalie dan menuntun wanita bertubuh agak mungil itu masuk ke dalam taman bermain.
"Eh ini ngapain gandeng-gandeng tangan gue?!" tegur Natalie.
"Kalo gak digandeng nanti lo hilang. Gue gak mau repot-repot ke ruang operator buat nyuruh petugas manggil nama lo pake mikrofon." kata Ethan, tanpa melepaskan genggamannya di tangan Natalie.
"Tapi gue kan bukan anak kecil!" seru Natalie, membuat Ethan menghentikan langkahnya.
Kalimat Natalie membuat Ethan berhenti melangkah untuk berdiri menghadap ke arah Natalie.
Pria berambut pirang itu menatap Natalie yang hanya setinggi dadanya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Usia Natalie memang sudah berkepala dua, tapi dandanan Natalie yang terlihat seperti anak remaja.
Apalagi dengan sling bag kecil yang melintang di tubuh Natalie, membuat kesan imut pada wanita itu.
"Apa lihat-lihat?!" tantang Natalie, ketika melihat Ethan sedang memperhatikannya.
"Galak banget kaya macan." gumam Ethan, membalikan badannya.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka di dalam taman hiburan. Satu per satu wahana di taman hiburan itu mereka naiki sampai mereka kini berhenti di depan wahana roller coaster.
"Ayo naik itu, Than." ajak Natalie, yang masih excited.
"Hah? Gak mau ah. Lo liat tuh, orang-orang aja pada teriak pas keretanya jalan."
"Ya itu karna wahananya seru. Udah ayo naik." jelas Natalie, sambil menarik tangan Ethan dengan paksa.
Wahana-wahana yang sebelumnya mereka naiki terbilang cukup santai, mereka hanya naik bianglala, komedi putar, dan masuk ke istana boneka.
Namun sekarang Natalie malah memaksa Ethan menaiki wahana roller coaster. Wajah Ethan terlihat sangat pucat selama mereka mengantre untuk naik wahana itu.
Ethan hanya diam membisu sambil mengatur nafas agar jantungnya tidak meledak saking kencang debaran jantungnya.
"Kok lo diem aja sih?" tanya Natalie.
"Hah? Enggak ah, biasa aja." jawab Ethan, berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar.
"Oh gue kira lo takut."
"Hahaha... Enggak lah, badan gue gede begini masa naik roller coaster aja takut." kata Ethan, sambil tertawa-tawa canggung.
Sampai akhirnya kini giliran rombongan Ethan dan Natalie lah yang mendapat kesempatan untuk menaiki wahana roller coaster tersebut.
Ingin rasanya Ethan kabur dari tempat itu sekarang juga, tapi rasa gengsi di hadapan Natalie lah yang membuat Ethan mengurungkan niatnya.
"Lo beneran gapapa kan?" tanya Natalie, memastikan karna melihat gelagat aneh Ethan.
"Enggak, kok gue beneran gapapa." balas Ethan, dengan penuh keraguan dalam nada bicaranya.
Roller coaster pun melesat, dari 24 orang yang menaiki kereta roller coaster itu, seorang Ethan Revegard lah yang berteriak paling keras.
Teriakannya sampai membuat Natalie berhenti berteriak karna kaget dengan reaksi Ethan.
Setelah satu putaran, kereta roller coaster pun berhenti. Pria bertubuh besar dengan rambut pirang itu terlihat sangat lemas bahkan sampai petugas harus membantunya untuk melepaskan sabuk pengaman.
Melihat Ethan yang lemas pun membuat Natalie harus membopong pria yang bertubuh lebih besar darinya sambil sekuat tenaga menahan tawa.
"Jangan pernah minta gue naik wahana itu lag-" ucap Ethan terpotong.
Huweeekkk huweekkkkk....
Sepertinya Ethan benar-benar trauma menaiki wahana tersebut. Natalie hanya bisa mengusap-usap punggung Ethan yang sedang muntah karna mual sambil terbahak.
Ia benar-benar tak menyangka jika seorang Ethan Revegard akan seperti ini setelah naik wahana roller coaster.
Padahal Ethan terkenal sebagai pemain yang sangat ditakuti di lapangan oleh lawan-lawannya terutama pemain bertahan lawan.
"Kan tadi gue udah tanya, lo malah bilang gapapa." kata Natalie, menyodorkan sebotol air mineral kepada Ethan.
Tanpa pikir panjang, Ethan langsung menyambar botol air mineral itu dan menenggak habis isinya sambil menggerutu di dalam hati.
Kalau saja ia bisa menahan rasa mualnya, setidaknya sampai ia berada di toilet, ia tidak perlu merasa malu di hadapan Natalie seperti saat ini.
Saat ini mereka duduk di sebuah bangku panjang yabg ada di bawah pohon rindang untuk beristirahat sejenak.
Wajah Ethan terlihat masih sangat pucat setelah muntah-muntah akibat naik roller coaster tadi.
"Jangan maksain diri sendiri demi orang lain, kalo gak bisa, bilang aja." ucap Natalie, mengelap bulir-bulir keringat yang ada di dahi Ethan.
Jantung Ethan lagi-lagi berdebar sangat kencang. Kali ini bukan karna roller coaster, tapi karena sentuhan Natalie pada dahinya.
Belum pernah Ethan merasakan jantungnya berdebar kencang seperti ini ketika disentuh oleh perempuan sebelumnya.
Sentuhan Natalie benar-benar membuat Ethan merasa lebih baik. Mualnya sudah hilang, ia pun kembali bersemangat seperti semula.
"Nat, gue mau bilang sesuatu." kata Ethan, menatap Natalie dengan wajah serius.
Wajah serius Ethan justru membuat jantung Natalie ikut berdebar dengan sangat kencang. Ia khawatir Ethan mengatakan sesuatu yang sebenarnya ia tak mau dengar dari mulut Ethan.
Otak Natalie berpikir dengan sangat keras bagaimana cara menghentikan Ethan mengatakan kalimat itu.
Sedangkan Ethan malah heran melihat Natalie yang terlihat panik walaupun ia belum mengatakan apa-apa.