Ethan bangun dari tidurnya dengan senyuman merekah di wajah tampannya. Dari bangun tidur, mandi, sampai menyantap sarapan pun ia lalui dengan senyuman lebar yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Semalam ia berhasil mencetak tiga goal ke gawang lawannya yang membuat timnya berhasil meraih kemenangan.
Tapi keceriaan Ethan bukan hanya karna timnya menang. Kesepakatannya dengan Natalie lah yang membuat dirinya kegirangan setengah mati pagi ini.
Rencananya setelah sarapan Ethan akan menjemput Natalie di rumahnya yang ternyata tidak jauh dari pusat latihan Grassland United.
Kaos putih, celana denim biru gelap, dan sneakers membuat Ethan terlihat sangat tampan. Terlebih lagi jaket pilot yang ia kenakan sebagai outer menambah kesan casual.
Tak mau berlama-lama, setelah menyelesaikan sarapannya, Ethan langsung turun ke garasi yang ada di basement rumahnya yang memiliki 2 tingkat.
Disana terparkir 4 mobil dengan harga yang fantastis. Dua mobil listrik, satu mobil sport, dan satu lagi mobil convertible.
Pilihan Ethan jatuh kepada mobil convertible berwarna abu-abu yang sewarna dengan jaketnya.
Ia memilih untuk memakai mobil convertible karena hari ini terlihat sangat cerah, jadi sangat cocok menurutnya untuk mengendarai mobil dengan atap yang bisa dibuka tutup.
Selama tinggal di kota Grassland, Ethan tinggal sendirian di rumahnya yang cukup besar itu. Sebenarnya ia juga jarang berada di rumah.
Waktunya selalu dihabiskan untuk latihan dan bertanding. Sejak pertama kali ditempati, rumah besar itu hanya Ethan gunakan untuk tidur di malam hari saja.
Ayahnya yang berada di luar kota hanya sesekali mengunjungi Ethan. Biasanya ayahnya akan menginap setelah menonton pertandingan Ethan jika ayahnya tidak ada urusan lain.
Setelah sekitar 20 km Ethan tempuh dengan mobilnya, akhirnya Ethan sampai di depan rumah Natalie.
Jauh berbeda dengan rumahnya, tempat tinggal Natalie terbilang agak kecil, tapi terbilang cukup untuk satu orang penghuni.
Turun dari mobilnya, Ethan melangkah maju menuju pintu rumah Natalie dan langsung mengetuk pintu berwarna putih di depannya setelah memastikan alamat yang diberikan Natalie semalam.
Tok tok tok....
"Orangnya gak ada," sahut suara yang Ethan kenali dari dalam rumah.
"Terus yang di dalem siapa?" tanya Ethan, terkekeh.
"Kucing," jawab Natalie asal.
Mendengar jawaban Natalie di dalam benar-benar membuat Ethan tak bisa menahan tawanya.
Jikalau saat ini Natalie ada di hadapannya, pasti ia sudah mencubit pipi chubby milik Natalie saking gemasnya.
"Bukain pintunya dong, masa gue ganteng-ganteng gini harus nunggu di depan pintu sih," keluh Ethan.
"Sabar dong," balas Natalie, yang tiba-tiba membuka pintu.
Memakai kaos putih dan jump suit berwarna biru gelas, membuat Natalie terlihat seperti sedang memakai baju couple dengan Ethan.
Padahal sebelumnya mereka berdua tidak pernah membuat kesepakatan untuk memakai baju dengan konsep yang sama sebelumnya.
"Hahahahhahaha.... Kita bajunya sama, jangan jangan kita jod-" belum sempat Ethan menyelesaikan kalimatnya, Natalie malah berbalik badan dan masuk lagi kedalam rumahnya.
"Laaahhh... Kok lo malah masuk lagi sih?" tanya Ethan, menyusul Natalie masuk ke dalam rumah.
"Mau ganti baju,"
"Ih gak usah, pake baju ini aja, lo cantik kok." kata Ethan, menahan Natalie yang mau berganti pakaian.
"Ya tapi kita jadi keliatan kayak pake baju couple," keluh Natalie, sebal.
Padahal hampir 2 jam ia habiskan untuk memilih outfit yang akan ia pakai hari ini. Namun hasilnya malah membuatnya terlihat seperti sedang memakai baju yang serasi dengan Ethan.
"Udah, gak usah ganti baju lagi, ayo berangkat," ucap Ethan, menarik tangan Natalie keluar rumah.
"Ethan!" teriak Natalie, melepaskan genggaman Ethan di lengannya.
Hal itu tentu saja membuat Ethan menatap Natalie dengan heran. Ia berpikir jika Natalie akan marah kepadanya.
"Gue belom pake sepatu,"
Lagi-lagi Ethan dibuat terbahak oleh tingkah Natalie. Ia tak sadar jika Natalie masih bertelanjang kaki sejak ia pertama kali datang.
Usai memakai sneakers putihnya, Natalie keluar rumahnya lagi dan mendapati Ethan masih berada di depan rumahnya sambil bersandar di mobil abu-abu yang terparkir disana.
Tanpa basa-basi lagi, Ethan langsung membukakan pintu mobilnya untuk Natalie dan segera duduk di kursi pengemudi setelah Natalie duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Pasang sabuk pengamannya, jangan sampe gue ditilang," tegur Ethan, dengan lembut.
Natalie pun langsung menarik sabuk pengaman yang ada di samping kirinya. Tapi ia terlihat agak kesulitan dengan sabuk pengaman itu, ternyata sabuk pengamannya sedikit macet sehingga tidak bisa ditarik sampai ujungnya.
Melihat Natalie yang kesulitan membuat Ethan berinisiatif untuk membantu Natalie. Ethan menarik ujung sabuk pengaman yang membuat tubuh besar Ethan harus melewati posisi badan Natalie.
Tindakan Ethan membuat Natalie menarik nafasnya dan sedikit memundurkan badannya supaya tidak menyentuh tubuh Ethan yang ada di depannya.
Klik!
Sabuk pengaman pun terpasang, tapi bukannya langsung kembali ke posisinya, Ethan malah menatap Natalie terlebih dahulu dengan jarak yang sangat dekat.
Jantung Natalie terasa seperti ingin pecah melihat wajah tampan pria berambut pirang yang ada di hadapannya saat ini. Akhirnya Natalie memalingkan wajahnya karna tidak mau terlihat salah tingkah.
Ingin sekali Ethan mencium bibir ranum di depannya saat ini. Ia sangat merindukan rasa manis yang malam itu pernah ia rasakan.
"Ayo jalan, ngapain malah lihat-lihat gue?" ucap Natalie, canggung.
Kalimat Natalie hanya dibalas kekehan oleh Ethan. Pria itu benar-benar gemas dengan wanita yang duduk di sampingnya saat ini.
Tak sadari, Ethan melayangkan tangannya untuk mengusap-usap pucuk kepala Natalie yang membuat Natalie melotot karna syok dengan apa yang Ethan lakukan tapi Natalie hanya bisa membisu.
Ekspresi syok Natalie ternyata tak disadari oleh Ethan. Jadi Ethan langsung tancap gas untuk pergi dari pekarangan rumah itu bersama Natalie.
"Kenapa lo pake mobil yang kaya gini sih?" tanya Natalie, memecahkan kesunyian.
"Emang kenapa?" Ethan malah balik bertanya.
"Ya gak apa-apa, takut masuk angin aja. Kan repot nanti klo gue masuk angin, harus kerokan pake uang receh," jelas Natalie, mengangkat bahunya.
Bukannya membalas kalimat Natalie, Ethan malah tertawa-tawa. Sepanjang hidupnya, Ethan belum pernah tertawa lepas seperti saat ini.
Natalie seperti figur baru yang hadir di dalam hidupnya. Ethan merasa ingin selalu berada di dekat Natalie untuk waktu yang lama.
"Kita mau kemana sih?" tanya Natalie lagi.
"Nanya mulu lo kayak pembantu baru," canda Ethan.
"Dih, gak jelas lo! Ya udah deh, gue turun disini aja." ancam Natalie yang kesal karna pertanyaannya tak terjawab.
"Heh jangan! Kita kan mau kencan," kata Ethan.
"Kencan, kencan, pala lo peang!" balas Natalie, ketus.
Balasan ketus Natalie lagi-lagi membuat Ethan terbahak sampai tak sadar mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.