Langit pagi itu sedikit mendung, tapi halaman studio Mahendra Pictures sudah ramai seperti pasar. Mobil kru datang silih berganti, aktor berdandan di tenda makeup, dan beberapa figuran sibuk latihan dialog di sudut ruangan.
Di antara hiruk pikuk itu, Nayla berdiri kikuk memegang kartu tanda peserta lanjutan audisi yang baru dikirim semalam.
Selamat! Anda lolos ke tahap berikutnya sebagai kandidat figuran sinetron “Cinta di Balik Lensa”. Harap hadir jam 07.00 di studio utama.
Dia masih tidak percaya.
“Mi, liat! Aku beneran dipanggil lagi! Aku kira mereka cuma bercanda!” teriak Nayla ke Mira lewat telepon.
Dari seberang, Mira terdengar malas.
“Dipanggil buat figuran aja kamu norak banget.”
“Ya ampun, Mi! Dari figuran ke pemeran utama itu cuma beda takdir dan keberanian!” serunya penuh semangat.
“Dan juga bakat,” sahut Mira.
“Tapi semangat deh. Jangan sampe kamu bikin sutradaranya stres.”
“Tenang aja, Mi. Aku profesional. Hari ini aku bakal jadi figuran paling bersinar yang pernah ada!”
Nayla menutup telepon dan menarik napas panjang. Dia menatap ke arah studio besar bertuliskan Mahendra Pictures dengan mata berbinar.
“Bismillah… semoga nggak malu-maluin,” gumamnya pelan, sebelum langkahnya membawanya masuk ke dunia yang akan mengubah hidupnya.
Sementara itu, di sisi lain ruangan, seorang pria berkaus hitam polos tengah sibuk mengatur kabel lampu bersama kru lain.
Kaus itu sederhana, tapi tubuhnya terlalu tegap dan posturnya terlalu rapi untuk ukuran kru biasa.
Ya, dia Arga Mahendra, CEO yang sedang menyamar sebagai kru magang bernama Rey.
“Rey, tolong ambilin kabel roll di gudang,” perintah salah satu kru senior.
Arga — eh, Rey — hanya mengangguk patuh. “Siap.”
Rehan yang berdiri di pojok menatap pemandangan itu sambil menahan tawa.
“Gila, Bos, kamu beneran nurut disuruh ngangkat kabel? Dari ruang rapat ke ruang produksi, penurunan kasta banget.”
“Diam, Rehan. Ini bagian dari observasi lapangan,” jawab Arga datar sambil membawa gulungan kabel besar. “Lagipula, kadang untuk memahami dunia bawah, kita harus turun ke bawah.”
“Kalau gitu abis ini nyapu sekalian aja, biar makin menyatu,” ejek Rehan.
Arga tidak menggubris. Tapi wajahnya berubah begitu melihat sosok yang baru datang — gadis berkaus putih, celana jeans, rambut dikuncir tinggi, dan senyum selebar pagi.
Nayla.
Dia datang dengan langkah riang, sempat tersandung kabel, lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Arga spontan menahan tawa di balik masker kru yang dia pakai.
“Eh, Mas Rey!” Nayla menyapa ceria.
“Eh? Kamu inget aku?” tanya Rey pura-pura kaget.
“Ya iyalah! Aku kan yang waktu itu numpahin air ke kamu. Ingatan buruk itu biasanya melekat selamanya,” jawabnya santai.
Arga tertawa kecil. “Wah, iya juga sih. Sekarang aman kan? Nggak bawa botol air lagi?”
Nayla mengangkat botolnya tinggi-tinggi. “Bawa dong! Tapi sekarang aku janji nggak bakal nyiram siapa-siapa, kecuali kalau disuruh adegan.”
Rey mengangguk sambil menahan senyum. “Bagus. Dunia perfilm-an aman hari ini.”
Jam tujuh lewat sedikit, sutradara datang — pria botak dengan suara keras, membawa walkie talkie dan ekspresi selalu marah.
“Oke semuanya! Hari ini kita latihan reading dan blocking untuk episode satu! Figuran, siap di posisi!” teriaknya.
Nayla segera berlari ke barisan figuran lain. Tapi karena terlalu semangat, dia malah berdiri di tempat pemeran utama.
Sutradara menatapnya tajam. “Hei, kamu! Nomor berapa?”
“108, Pak!” jawab Nayla bangga.
“Itu barisan pemeran utama, bukan figuran!”
“Oh, maaf, Pak! Tapi saya siap kalau mau dinaikin peran,” katanya polos.
Semua orang menahan tawa.
Termasuk Rey, yang hampir tersedak air minumnya.
Sutradara menghela napas. “Udah, sana pindah ke belakang.”
“Siap, Pak!” Nayla menyalami pemeran utama cowok sebelum pindah posisi, membuat suasana makin kocak.
Selama latihan, Rey bertugas bantu bagian properti. Tapi matanya terus saja tertarik memperhatikan Nayla.
Entah kenapa, tingkah lugu gadis itu bikin suasana syuting yang biasanya kaku jadi terasa hidup.
Dia salah masuk frame tiga kali, salah dialog dua kali, dan sekali hampir kejedot kamera.
Namun setiap kali Nayla minta maaf dengan wajah panik dan senyum malu-malu itu… entah kenapa, Arga tidak bisa marah.
Dia justru tertawa — perasaan yang sudah lama tak dia rasakan di lokasi syuting.
Waktu istirahat siang tiba.
Kru dan pemain duduk berkelompok sambil makan dari kotak bekal produksi.
Nayla duduk di bawah pohon dekat pagar, membuka nasi kotaknya dengan ekspresi bahagia.
“Wah! Nasi kotak gratis, Mi, berhasil!” gumamnya sambil mengambil selfie.
“Terima kasih semesta, akhirnya perjuanganku nggak sia-sia!”
Rey yang duduk tak jauh dari situ mendengarnya. Ia berjalan mendekat, membawa minuman kaleng.
“Kamu serius ikut audisi cuma demi nasi kotak?” tanyanya sambil duduk di sebelahnya.
Nayla menatapnya heran. “Eh, kenapa? Makan gratis tuh anugerah. Kamu nggak pernah ngerasain susah ya?”
Rey terdiam sesaat.
Tentu saja dia tidak pernah “susah” — uangnya lebih dari cukup buat beli catering satu studio.
Tapi dia tak ingin ketahuan.
“Ya… kadang harus hemat juga,” jawabnya cepat.
“Makanya aku kerja kru.”
Nayla menatapnya lama. “Kamu nggak kelihatan kayak kru.”
Rey tersenyum tipis. “Maksudmu?”
“Ya… kamu tuh bersih banget. Biasanya kru suka bau keringat dan debu, kalau kamu malah wangi.”
Rey nyaris tersedak. “Wangi bukan dosa, kan?”
Nayla tertawa. “Iya juga sih. Tapi kamu aneh. Eh, jangan-jangan kamu artis undercover ya? Atau agen rahasia?”
Rey menggeleng pelan sambil menahan senyum. “Kalau aku agen rahasia, aku nggak bakal ngangkat kabel.”
“Ah, bener juga,” jawab Nayla polos. “Tapi siapa tau kamu lagi latihan peran. Dunia hiburan tuh penuh misteri.”
Arga menatap wajah ceria itu diam-diam.
Kalimat terakhirnya entah kenapa terasa sangat tepat. Dunia hiburan memang penuh misteri — dan hari ini, dia sendiri salah satu rahasianya.
Sore hari, latihan berlanjut. Sutradara mulai tegang karena aktor utama tidak datang.
Suasana di lokasi jadi kacau. Beberapa kru panik, pemain mulai resah.
“Gimana nih, kalau aktor utamanya telat lagi, syuting gagal!” teriak salah satu asisten sutradara.
Tiba-tiba Nayla mengangkat tangan. “Pak! Saya bisa gantiin!”
Semua orang menatapnya.
Sutradara mendengus. “Kamu? Gantiin aktor cowok?”
“Bisa! Aku fleksibel! Aku bisa jadi siapa aja kalau dibayar,” jawab Nayla dengan bangga.
Semua tertawa, tapi Rey justru mendekat ke sutradara.
“Pak, daripada kosong, biar saya bantu dulu aja baca dialog lawan mainnya.”
Sutradara melirik Rey, lalu mengangguk. “Oke, kru baru, bantu dulu. Kita latihan blocking.”
Rey berdiri di depan Nayla, memegang naskah.
“Coba adegannya, kamu marah karena aku bohong,” katanya.
Nayla langsung memeragakan. “Kamu pikir aku nggak tau? Aku liat kamu jalan sama perempuan itu!”
Rey mengangkat alis. “Aku bisa jelasin—”
“Udah nggak usah jelasin! Aku kecewa!” Nayla menunjuk dadanya dramatis, lalu tanpa sadar menatap mata Rey terlalu lama.
Sekitar dua detik, mereka hanya diam, saling menatap.
Nafas keduanya terasa berubah ritmenya.
Tiba-tiba sutradara berteriak, “Cut! Bagus banget! Eh, kru baru, kamu cocok juga main sinetron, loh!”
Rey menunduk menahan senyum, sementara Nayla menepuk dadanya sendiri, mencoba menenangkan jantungnya.
“Aduh, aku lupa napas…” bisiknya pelan.
Selesai latihan, hujan turun deras. Kru berlarian mencari tempat berteduh.
Nayla berdiri di bawah atap kecil, tapi tetap kehujanan di ujungnya.
Rey datang membawa payung.
“Mas Rey!” seru Nayla. “Kamu punya payung?! Wah, keren! Biasanya kru tuh bawa kabel, bukan payung.”
Rey tersenyum samar. “Kali ini aku bawa dua.”
“Serius?” tanya Nayla, matanya berbinar.
“Enggak sih, cuma satu. Tapi bisa buat berdua.”
Wajah Nayla langsung memerah. “Heh, modus nih!”
“Terserah kamu mau nyebut apa. Tapi kalau kamu nggak mau, yaudah aku pergi aja,” katanya santai sambil pura-pura melangkah menjauh.
“Eh, eh, jangan! Aku nggak bilang nggak mau!” seru Nayla buru-buru.
Rey menoleh, menahan senyum.
Mereka pun berjalan berdua di bawah satu payung kecil.
Hujan menetes lembut di sekeliling mereka, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan.
Nayla diam beberapa saat sebelum berkata pelan, “Mas Rey…”
“Hm?”
“Kalau nanti aku jadi artis beneran, aku bakal traktir kamu makan nasi kotak tiap hari.”
Rey terkekeh. “Itu bentuk terima kasih yang unik.”
“Ya, kan kamu udah bantu aku latihan tadi. Dan… kamu nggak pernah marah meski aku bikin kacau.”
Rey menatapnya dalam-dalam. “Kadang, hal yang kamu sebut ‘kacau’ justru hal yang bikin hari orang lain jadi lebih hidup.”
Nayla terpaku sejenak, menatap mata Rey yang hangat di bawah cahaya hujan.
Entah kenapa, dadanya terasa aneh — campuran gugup dan hangat.
Setelah mereka sampai di depan gerbang studio, Nayla menatap Rey sambil mengusap rambutnya yang basah.
“Makasih ya, Mas Rey.”
“Sama-sama,” jawabnya lembut. “Hati-hati pulang.”
“Besok kamu di sini lagi?” tanya Nayla.
Rey tersenyum samar. “Mungkin. Dunia ini kecil, Nayla. Siapa tahu kita ketemu lagi.”
Nayla tertawa kecil. “Jangan ngomong kayak di film, ah. Tapi… aku harap iya.”
Mereka saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya berpisah — tanpa tahu bahwa hari-hari berikutnya akan menjerat keduanya dalam cerita yang lebih rumit dari sekadar sinetron.