Pagi di Jakarta memang nggak pernah lembut. Suara klakson, pedagang kopi keliling, dan kru syuting yang teriak-teriak nyari kabel, semuanya berbaur jadi orkestra khas dunia sinetron.
Nayla datang paling awal hari itu — entah karena takut dipecat sebelum sempat terkenal, atau karena mimpi semalamnya yang terlalu aneh. Dalam mimpinya, Rey—si kru misterius itu—ngaku kalau dia bos produksi dan diam-diam suka sama dia. Tapi ya, namanya juga mimpi. Lucu, tapi mustahil.
Dia menatap dirinya di kaca make-up: rambut dikuncir dua, wajah tanpa polesan, kaus oversize yang kebesaran setingkat dua nomor. “Gue harus tampil total hari ini,” gumamnya penuh semangat. “Nggak boleh ada adegan jatuh ke kolam lagi.”
Dari kejauhan, seseorang memperhatikannya sambil menyesap kopi hitam.
Arga—atau di lokasi dikenal sebagai Rey—menyandarkan tubuhnya di kursi kru, matanya tak lepas dari Nayla yang sibuk menata rambutnya pakai jepitan warna ungu.
Dia nggak tahu kenapa gadis itu bisa mengubah suasana pagi yang biasanya membosankan jadi… hidup.
Biasanya, sebelum turun ke lokasi syuting, Arga cuma mikirin rating, kontrak iklan, atau laporan keuangan. Sekarang? Dia mikirin apakah Nayla udah sarapan atau belum.
“Mas Rey!” suara nyaring Nayla bikin lamunannya pecah. “Ini bener kan kalau ‘close up’ itu artinya wajah kita dimajuin banget ke kamera?”
Rey menatapnya sambil menahan tawa. “Iya. Tapi kalau terlalu dekat, kameramennya bisa jatuh cinta.”
Nayla melotot, lalu cengengesan. “Duh, mas ini ya, sukanya modus. Nih, saya kasih jepitan ungu biar nggak modus lagi!”
Dia dengan seenaknya menjepit rambut Rey pakai jepitan plastiknya sebelum kabur ke area figuran.
Arga cuma bisa menghela napas. Jepitan ungu itu masih nempel di rambutnya, dan entah kenapa dia malas melepasnya.
Lokasi mulai ramai. Kru sibuk, pemain utama datang dengan gaya berlebihan—kacamata hitam, aura artis, dan wangi parfum mahal yang bikin semua orang menoleh.
Sutradara, Pak Niko, teriak dari monitor, “Oke, siap! Hari ini kita ada tambahan pemain pembantu baru, Riko Prasetya. Anak muda ganteng, viral di t****k, cocok banget buat adegan romantis!”
Begitu nama Riko disebut, semua cewek figuran langsung heboh. Termasuk… Nayla.
“Ya ampun, itu kan Riko yang suka lipsync lagu India itu!” katanya heboh ke Mira, sahabatnya sesama figuran.
Riko datang dengan senyum menawan, kaus ketat, rambut tertata. Satu langkah masuk, langsung semua mata terpaku.
Dan tentu saja, dalam waktu kurang dari lima menit, dia sudah berdiri di samping Nayla.
“Halo, kamu Nayla ya? Aku liat waktu audisi kemarin. Lucu banget kamu,” katanya, senyum setengah miring.
Nayla ngakak, “Lucu apanya? Aku malah kepleset pas adegan menangis!”
“Justru itu, spontan. Nggak semua orang bisa bikin orang ketawa pas salah,” jawab Riko santai.
Arga yang dari tadi berdiri sambil ngecek properti, cuma bisa melirik tanpa ekspresi. Tapi tangannya menggenggam gelas kopi terlalu kuat sampai bunyinya “krek”.
Rehan, yang kebetulan lewat, langsung nyengir. “Wah, gelas hampir pecah, Bos. Padahal baru liat si Riko ngobrol.”
“Diam, Rehan,” jawab Arga pelan. Tapi nadanya tajam.
Latihan adegan dimulai.
Sutradara menunjuk Nayla dan Riko buat latihan ekspresi romantis—adegan tangan bersentuhan.
“Coba Riko, liat mata Nayla. Nayla, kamu pura-pura jatuh cinta ya. Kamera, standby!”
Nayla berusaha fokus, tapi matanya nggak bisa lepas dari ekspresi Riko yang terlalu total.
“Uh, kok kamu serius banget, sih?” bisiknya, kikuk.
“Namanya juga latihan chemistry,” jawab Riko lembut. “Biar penonton baper, Nay.”
Dan saat itu, jemari Riko menyentuh tangan Nayla perlahan.
Dari jauh, Rey—eh, Arga—yang pegang clipboard langsung salah langkah, tersandung kabel listrik, dan jatuh duduk dengan suara berdebam keras.
Semua orang menoleh. Nayla spontan berlari menghampirinya.
“Mas Rey! Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa,” katanya cepat. Tapi wajahnya merah padam.
“Eh, jangan bilang kamu cemburu, ya?” Nayla menggoda.
Arga menatapnya datar, lalu berkata tenang tapi dalam, “Aku cuma takut kamu kesetrum kalau kabelnya rusak.”
“Alasan klasik,” gumam Nayla sambil terkekeh.
Tapi senyum kecil tetap nyangkut di bibir Arga. Entah kenapa, candaan gadis itu selalu berhasil mencairkan suasana hatinya.
Istirahat siang.
Semua kru makan bareng di tenda catering, suasana ramai, penuh tawa. Riko duduk di sebelah Nayla, ngobrol seru soal makanan dan fans.
Rey memilih duduk agak jauh, pura-pura sibuk dengan laptop, padahal matanya sesekali mencuri pandang ke arah mereka.
“Mas Rey!” Nayla tiba-tiba melambai. “Sini deh, duduk deket aku. Nih ada tempe goreng enak banget, ambil!”
Riko menoleh dengan alis naik, tapi tetap tersenyum ramah.
Arga agak kikuk, tapi akhirnya mendekat juga.
“Tempe ini hasil sedekah, Mas. Catering-nya ngasih lebih,” kata Nayla sambil menyodorkan piring.
Arga mengambil satu, menggigit pelan. “Enak.”
“Kan! Aku tuh punya radar makanan enak.”
Obrolan mereka ngalir ringan, dari topik sinetron, hujan semalam, sampai cita-cita.
Nayla bilang, “Aku tuh cuma pengin satu hal. Bisa muncul di layar TV walau cuma dua detik, terus mama bilang, ‘Itu anakku!’”
Arga menatapnya lama. “Kalau kamu terus semangat kayak gini, dua detik bakal jadi dua jam.”
Nayla tertawa keras. “Aminin dong, Mas Rey!”
Arga mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia sudah mengaminkan lebih dari sekadar itu.
Dari jauh, Rehan yang memperhatikan menahan senyum.
“Bos, kalau terus kayak gini, identitasmu bakal kebongkar sendiri. Cara kamu ngeliatin dia tuh kayak iklan sabun, lembut tapi penuh makna.”
Arga mendengus. “Kamu banyak omong.”
“Tapi bener, Bos. Kamu jatuh cinta.”
“Rehan.”
“Ya, ya, diam.”
Namun sebelum suasana terlalu manis, tiba-tiba suasana di lokasi mendadak heboh.
Beberapa kru berlarian, ada suara bisik-bisik.
“Eh, katanya ada artis besar datang!”
“Siapa?”
“Clara Adeline!”
Nayla menoleh cepat. “Clara Adeline? Itu Clara yang main film Langit Tak Berbintang?”
Riko menepuk pundaknya. “Yup. Itu dia.”
Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan set.
Dari dalamnya keluar seorang wanita tinggi bergaun putih elegan, kacamata besar, dan aroma parfum yang mahalnya bisa bikin seluruh tenda catering bangkrut.
Semua kru langsung berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, ekspresi tenang Rey berubah.
Clara berjalan anggun, menatap langsung ke arah Rey, lalu tersenyum samar.
“Halo, Arga,” katanya pelan tapi cukup keras untuk membuat jantung Rey berhenti sepersekian detik.
Nayla menatap, bingung. “Arga? Siapa Arga?”
Riko menatap keduanya dengan rasa ingin tahu.
Dan Rey… hanya bisa menelan ludah, tahu kalau sandiwara kecilnya baru saja terancam berakhir.
Suasana lokasi syuting mendadak berubah.
Yang tadinya penuh tawa dan aroma tempe goreng, kini berganti jadi bisik-bisik dan tatapan penasaran. Semua mata tertuju pada satu sosok — Clara Adeline, sang bintang besar yang auranya seolah menelan seluruh cahaya di sekitar.
Clara menurunkan kacamata hitamnya perlahan. Tatapan matanya tajam, tapi senyum di bibirnya lembut — senyum yang bisa meluluhkan jantung siapa pun.
Langkahnya ringan namun pasti, langsung menuju ke satu orang.
Bukan sutradara.
Bukan produser.
Tapi… Rey.
“Arga Mahendra,” katanya, lembut tapi tegas. “Kita ketemu juga akhirnya.”
Semua orang yang mendengar itu langsung membeku. Termasuk Nayla, yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah bingung setengah mati.
“Arga?” gumamnya pelan. “Maksudnya siapa?”
Riko menatap Nayla, lalu ke arah Rey. “Kayaknya bukan nama samaran, deh.”
Arga—yang seharusnya jadi kru biasa bernama Rey—hanya diam.
Kopi yang tadi masih hangat kini terasa pahit di tenggorokannya.
“Clara…” suaranya nyaris tak terdengar.
“Kamu ngapain di sini? Nyamar jadi kru? Atau cari inspirasi buat drama ‘CEO yang jatuh cinta sama figuran lucu’?” tanya Clara dengan nada separuh bercanda, separuh menggigit.
Beberapa kru pura-pura sibuk, tapi jelas mereka menahan napas. Situasinya aneh — seolah mereka sedang nonton sinetron di dunia nyata.
Nayla’s POV
Aku nggak ngerti.
Barusan banget dia—Mas Rey yang selalu bantu aku belajar blocking, yang suka nyeleneh tapi perhatian—dipanggil… Arga? Dan perempuan supercantik itu, Clara Adeline, ngomong kayak mereka udah kenal lama.
“Mas Rey…” aku mendekat pelan. “Atau… aku harus manggil kamu Mas Arga?”
Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya aku lihat ada rasa bersalah di matanya. Dalam banget.
“Nayla, aku bisa jelasin,” katanya cepat.
Clara tertawa kecil, elegan tapi tajam. “Oh, tentu saja dia bisa jelasin. Tapi biar aku bantu, ya. Nama lengkapnya Arga Mahendra — CEO Mahendra Pictures, perusahaan yang memproduksi sinetron ini. Dan, calon tunanganku.”
Deg.
Kata-kata itu kayak jatuh dari langit dan langsung menimpa jantungku.
Calon… tunangan?
Aku refleks mundur satu langkah. Dunia tiba-tiba berputar. Aku cuma figuran yang gajinya aja belum cair minggu ini, sementara dia… CEO yang menyamar? Dan dijodohin sama aktris terkenal sekelas Clara Adeline?
“Mas Rey…” suaraku gemetar. “Kamu bohong sama aku?”
“Nayla, aku nggak bermaksud—”
“Udah cukup,” potongku cepat. “Aku ngerti sekarang. Kamu cuma main-main.”
Aku berbalik, melangkah pergi sebelum air mataku sempat tumpah di depan semua orang.
Arga’s POV
“Nayla, tunggu!”
Aku mau ngejar dia, tapi Clara menahan lenganku. Sentuhannya lembut tapi kuat.
“Jangan kejar dia, Arga. Kamu tahu semua mata lagi ngeliatin kita,” bisiknya.
“Clara, kamu nggak paham. Aku—”
“Aku paham lebih dari siapa pun,” katanya cepat, menatapku tajam. “Kamu selalu kayak gini. Lari dari kenyataan, pura-pura jadi orang biasa supaya bisa ‘merasakan dunia nyata’. Tapi kamu lupa, kamu bukan orang biasa.”
Aku menghela napas, ngelepas tangannya perlahan.
“Dan kamu lupa juga, Clara. Aku nggak minta dijodohkan. Semua ini cuma keputusan keluarga.”
Clara tersenyum miring. “Tapi itu kenyataan yang nggak bisa kamu ubah.”
Dia mendekat sedikit, matanya menatap lurus ke dalam mataku. “Kalau kamu pikir figuran kampungan itu bisa jadi bagian dari hidupmu, kamu salah besar.”
Aku menatapnya balik, kali ini dingin. “Jangan hina dia, Clara.”
Clara terkekeh. “Lucu. Kamu membela dia.”
Sebelum aku sempat jawab, Pak Niko datang dengan ekspresi panik tapi profesional.
“Eh, Clara! Astaga, kamu datang tanpa kabar. Kita belum siap syuting adegan kamu.”
Clara langsung tersenyum manis. “Nggak apa-apa, Pak. Aku cuma mau lihat-lihat dulu. Lagipula, aku kan akan bergabung di episode selanjutnya.”
Aku menatapnya tajam. “Kamu sengaja, ya?”
“Of course,” jawabnya ringan. “Aku mau pastiin kamu nggak keliru milih peran di dunia nyata.”
Sore itu, hujan turun pelan di lokasi.
Langit Jakarta berubah abu-abu, seolah ikut menahan napas bersama suasana yang membeku di antara kami bertiga.
Aku menunggu di parkiran belakang, berharap Nayla masih di sekitar.
Dan benar — dia duduk di bawah tenda kru, sendirian, memeluk lutut sambil menatap hujan.
Aku berjalan pelan ke arahnya, membawa payung. “Nayla…”
Dia nggak langsung jawab.
Cuma mendongak pelan dan berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, “Jadi, semua yang kamu bilang ke aku itu bohong?”
Aku menggeleng. “Nggak. Semua yang aku rasain itu nyata.”
Dia tersenyum kecut. “Nyata buat kamu, mungkin. Tapi buat aku, itu cuma candaan dari seseorang yang lagi bosan jadi orang kaya.”
Aku terdiam.
Hujan makin deras. Suara air menutupi detak jantung yang terasa begitu keras.
“Nayla, aku nyamar bukan buat main-main,” jelasku pelan. “Aku cuma pengin lihat dunia nyata tanpa embel-embel jabatan. Aku pengin tahu rasanya diperlakukan bukan karena posisi, tapi karena siapa aku sebenarnya.”
Dia menatapku, matanya basah. “Dan aku cuma figuran yang nggak tahu kalau sutradaranya CEO.”
“Bukan sutradara,” kataku sambil tersenyum tipis. “Aku cuma pemilik perusahaannya.”
“Loh, makin parah dong!” Nayla tertawa sarkastik. Tapi tawanya segera berubah jadi isakan kecil. “Mas Rey… eh, Mas Arga… aku nggak tahu harus percaya yang mana.”
Aku membuka payung, melangkah lebih dekat, lalu berdiri di hadapannya.
“Nggak usah percaya kata-kataku,” bisikku lembut. “Percaya aja sama mataku. Karena cuma kamu yang bisa bikin aku lupa kalau aku Arga Mahendra”
Dia terdiam. Hujan menetes dari ujung payung ke tanah, membentuk irama pelan yang terasa hangat di tengah udara dingin.
Untuk sesaat, dunia seperti berhenti.
Aku menatap wajahnya yang polos, matanya yang masih merah, dan aku tahu — perasaan ini bukan lagi permainan.
Tapi sebelum aku sempat mengatakan lebih, suara tepukan tangan terdengar dari belakang.
“Wah, adegan yang indah. Sayang banget nggak direkam.”
Clara berdiri di bawah payung hitam, menatap kami berdua dengan senyum sinis.
“Arga, kamu memang jago bikin drama, ya. Tapi ingat, dunia nyata nggak punya naskah happy ending.”
Dia berbalik, masuk ke mobil mewahnya, meninggalkan aroma parfum dan perasaan yang menggantung di udara.
Nayla’s POV
Aku menatap kepergian Clara dari jauh. Ada sesuatu di matanya tadi — bukan cuma sombong, tapi juga sedih.
Tapi entahlah. Aku nggak bisa mikirin orang lain sekarang. Hatiku udah cukup kacau.
Mas Rey—atau Mas Arga—berdiri di sebelahku dalam diam.
Aku tahu dia tulus, tapi aku juga tahu dunia kami beda jauh.
“Mas,” aku akhirnya bicara pelan, “kita berhenti di sini aja, ya. Aku nggak mau jadi masalah buat kamu.”
Dia langsung menatapku, kaget. “Nayla, jangan ngomong kayak gitu.”
“Aku serius,” jawabku lirih. “Aku cuma figuran. Dan kamu, Mas… kamu terlalu jauh buat kugapai.”
Aku bangkit berdiri, mengembalikan payungnya. “Terima kasih udah bikin aku ngerasa istimewa, walau cuma sebentar.”
Lalu aku berjalan pergi, membiarkan hujan menutupi semua air mata yang akhirnya jatuh.
Arga’s POV
Aku menatap punggungnya menjauh, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, semua hal yang aku punya terasa nggak ada artinya.
Mobil, jabatan, kekayaan — semuanya kosong tanpa tawa gadis itu.
Rehan muncul di sampingku, membawa jas hujan. “Bos, mau pulang?”
Aku menggeleng. “Nggak. Aku mau nunggu.”
“Dia udah pergi, Bos.”
“Aku tahu,” jawabku pelan. “Tapi kalau dia balik, aku pengin dia tahu aku masih di sini.”
Hujan turun lebih deras. Tapi aku nggak bergerak sedikit pun.
Di dalam diam dan dingin sore itu, aku tahu satu hal pasti:
Aku, Arga Pratama, CEO yang selalu bisa dapetin apa pun… akhirnya jatuh cinta pada sesuatu yang nggak bisa aku beli — Nayla.