Jakarta pagi itu terasa aneh. Langit cerah, tapi hati Arga justru mendung.
Dia duduk di ruang kerjanya di lantai 27 kantor Arion Pictures, menatap layar laptop yang menampilkan laporan produksi sinetron Cinta dalam Casting.
Namun pikirannya tak fokus ke angka atau jadwal syuting.
Yang terus terbayang justru satu wajah — Nayla, gadis polos yang kini entah di mana.
Sejak kejadian kemarin, Nayla nggak muncul lagi di lokasi.
Teleponnya nggak aktif, pesan Rehan nggak dibalas, dan tim casting bilang dia “mengundurkan diri”.
Arga menatap jendela besar yang menghadap ke arah langit Jakarta.
“Dia pergi karena aku,” gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya, CEO yang biasa tegas itu terlihat rapuh.
Clara Adeline Muncul
“Masih mikirin gadis itu?”
Suara lembut namun penuh tekanan membuat Arga menoleh.
Clara berdiri di depan pintu ruangannya, mengenakan blazer putih dan kacamata hitam. Elegan seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu di balik senyumnya — dingin, penuh strategi.
Arga menghela napas. “Clara, aku nggak mau ribut.”
“Ribut? Aku cuma mau bicara bisnis.”
Clara melangkah masuk dan meletakkan map di atas meja. “Aku baru tandatangan kontrak jadi pemeran utama di sinetronmu.”
“Tanpa persetujuanku?” tanya Arga dengan nada dingin.
Clara tersenyum. “Persetujuan direksi lain sudah cukup. Kamu lupa, Arion Pictures bukan cuma milikmu?”
Arga mengetukkan jarinya di meja, menahan emosi. “Kamu main kotor.”
“Aku hanya main sesuai aturan,” jawab Clara santai. “Oh ya, ada satu hal lagi.”
Dia menyalakan tablet dan menunjukkan sebuah artikel berita dari portal gosip besar.
“CEO Arion Pictures Ketahuan Dekat dengan Figuran?”
Ada foto Arga dan Nayla di bawah payung, wajah Nayla setengah tertutup tapi jelas dikenali.
Arga langsung tegang. “Kamu yang sebarkan ini?”
Clara menatap lurus ke matanya. “Aku cuma ‘menyediakan kebenaran’. Media hanya melakukan tugasnya.”
“Kebenaran?” Arga menatapnya tajam. “Kamu tahu ini bisa menghancurkan hidupnya.”
“Justru itu. Sekarang kamu bisa lihat sendiri siapa yang cocok mendampingimu di dunia ini, Arga. Seorang gadis kampung nggak akan tahan dengan sorotan publik.”
Arga berdiri, suaranya tegas dan dingin.
“Kalau kamu pikir ini bikin aku mundur, kamu salah besar. Aku akan pastikan Nayla nggak terluka karena permainanmu.”
Clara tersenyum tipis. “Kita lihat saja, sayang.”
Dia berjalan keluar dengan langkah anggun, meninggalkan aroma parfum dan badai yang lebih besar dari sebelumnya.
Nayla’s POV
Sudah tiga hari aku ngumpet di rumah kontrakan Mira.
Sejak foto aku dan Mas Rey—eh, Arga—viral, hidupku berantakan.
Teleponku nggak berhenti bunyi. Ada yang ngatain aku perebut kekasih orang, ada yang bilang aku pelakor, bahkan ada yang maki-maki tanpa tahu cerita sebenarnya.
Aku mematikan ponsel, menarik selimut sampai ke kepala.
“Udah, Nay,” kata Mira lembut. “Kalau kamu terus sembunyi, mereka pikir gosip itu bener.”
“Terus aku harus ngapain?” suaraku serak.
“Datang lagi ke lokasi. Buktikan kamu nggak salah.”
Aku menatap sahabatku itu lama.
Mira benar, tapi aku takut. Dunia ini kejam buat orang kecil kayak aku.
Tapi kemudian aku ingat tatapan Arga waktu di bawah hujan itu.
Tatapan yang bukan cuma janji, tapi juga doa.
Akhirnya aku berdiri, menatap kaca.
“Oke, Nayla. Dunia boleh benci, tapi kamu nggak boleh kalah.”
Siang itu Nayla datang ke gedung Arion Pictures dengan nekat.
Security hampir nggak ngizinin dia masuk, sampai salah satu staf kenal wajahnya dari lokasi syuting dan membiarkan lewat.
Begitu pintu lift terbuka di lantai 27, Nayla langsung merasa kecil.
Lantai marmer putih, lampu gantung kristal, dan resepsionis bergaun hitam yang menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Permisi, saya mau ketemu Pak Arga Mahendra” kata Nayla pelan.
“Sudah ada janji?”
“Belum…”
“Kalau begitu—”
“Biar saya yang urus.”
Suara berat yang familiar membuat Nayla menoleh cepat.
Arga berdiri di depan lift, mengenakan setelan abu muda, rambut rapi, aura CEO-nya muncul penuh.
Nayla nyaris lupa bernapas.
Rasanya seperti melihat dua orang berbeda: Mas Rey yang suka jepitan ungu, dan Arga Pratama yang memimpin perusahaan besar.
“Mas…”
“Masuk ke ruanganku,” katanya singkat. Tapi nada suaranya lembut, bukan dingin.
Begitu pintu tertutup, Arga menatap Nayla dengan mata lembut tapi khawatir.
“Aku minta maaf,” katanya cepat. “Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu diserang netizen.”
Nayla menggeleng. “Bukan salah kamu. Aku aja yang bego, nggak tahu siapa kamu sebenarnya.”
“Nayla…”
“Mas, dunia kamu bukan dunia aku,” lanjutnya. “Aku cuma figuran, Mas. Kamu CEO, dan… calon tunangan orang terkenal.”
Arga langsung menatap tajam. “Clara bukan tunanganku. Itu cuma perjodohan keluarga yang belum pernah aku setujui.”
“Tapi media bilang—”
“Media bisa bilang apa aja. Yang aku rasain cuma satu: aku suka kamu.”
Nayla terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi suaranya penuh ketulusan.
“Aku nggak peduli statusku,” lanjut Arga. “Aku cuma pengin kamu tetap jadi Nayla yang apa adanya. Dan kalau dunia mau menyerangmu, aku yang berdiri di depan.”
Air mata Nayla menetes pelan.
“Mas Arga…”
“Panggil aku Rey,” bisiknya sambil tersenyum kecil. “Aku lebih suka kamu kenal aku sebagai Rey.”
Nayla menunduk, menahan senyum di balik air matanya.
“Kalau gitu, Rey, aku siap.”
Rehan mengetuk pintu. “Bos, maaf ganggu, tapi wartawan makin gila. Mereka nyari Nayla.”
Arga mengangguk cepat. “Suruh tim PR siapkan pernyataan resmi. Aku yang tanggung jawab.”
Nayla panik. “Mas, nggak usah! Nanti kamu malah kena imbas.”
Arga tersenyum tipis. “Udah terlanjur. Kita sekalian aja bikin mereka tambah bingung.”
Dia membuka laci meja, mengeluarkan selembar dokumen.
“Ini kontrak kerja sama baru. Aku mau kamu tandatanganin.”
Nayla membaca cepat, lalu menatapnya curiga. “Kontrak apa ini?”
Arga tersenyum kecil. “Kontrak cinta pura-pura. Kita berpura-pura pacaran buat redam gosip. Biar media tahu semua ini bukan skandal, tapi promosi sinetron.”
Nayla melongo. “Serius?”
“Serius,” jawab Arga tenang. “Tapi cuma pura-pura di depan publik.”
“Dan kalau aku beneran jatuh cinta beneran?”
Arga menatapnya dalam. “Aku udah jatuh duluan.”
Nayla tercekat.
Untuk sesaat, dunia seakan berhenti.
Sementara itu, di lantai bawah, Clara sedang diwawancarai oleh sejumlah reporter.
Dengan senyum profesionalnya, ia berkata,
“Saya senang bekerja sama dengan Arga. Tapi saya harap dia bisa fokus pada pekerjaannya, bukan urusan pribadi.”
Reporter menelan umpan itu mentah-mentah. Judul berita sore itu muncul cepat di layar-layar:
“Clara Adeline Sindir CEO yang Terlalu Sibuk dengan Figuran”
Namun reaksi publik tidak seperti yang dia harapkan.
Banyak yang justru menilai Clara terlalu sombong, sementara video Nayla yang tersenyum sederhana saat latihan dulu mulai viral dengan tagar #ProtectNayla.
Rakyat internet berubah cepat. Nayla yang semula dihujat kini mulai didukung.
Kembali ke Kantor Arga
“Nayla,” kata Arga setelah membaca notifikasi di ponselnya, “kamu trending.”
“Hah? Trending kenapa lagi?”
“Karena mereka suka kejujuranmu. Ada fans yang bilang kamu ‘real’, bukan palsu kayak selebritas.”
Nayla menutup wajah dengan tangan. “Ya Tuhan, aku malu.”
Arga tertawa kecil. “Malu kenapa? Kamu baru aja menang melawan Clara Adeline tanpa harus ngomong sepatah kata pun.”
Nayla ikut tertawa, tapi dalam hatinya ada rasa hangat yang tak bisa dijelaskan.
Bersama Arga, semua hal rumit terasa lebih sederhana.
Malam Hari
Kantor sudah sepi. Hanya suara AC dan hujan tipis di luar jendela.
Nayla duduk di sofa, menandatangani kontrak dengan tangan gemetar.
“Udah resmi nih, Rey. Kita pura-pura pacaran.”
Arga tersenyum. “Iya. Tapi hati-hati, pura-puranya bisa jadi beneran.”
Nayla menatapnya, setengah bercanda, setengah takut.
“Mas Rey, jangan ngomong kayak gitu. Aku bisa baper.”
“Baper aja, aku nggak keberatan.”
Mereka tertawa pelan. Tapi di antara tawa itu, ada sesuatu yang tumbuh perlahan — sesuatu yang nyata.
Dan ketika Arga mengulurkan tangan, Nayla menyambutnya.
Bukan cuma sebagai aktris figuran dan CEO, tapi dua orang yang mulai berjuang menulis naskah cinta mereka sendiri, di luar skenario mana pun.
Clara di Balik Bayangan
Di tempat lain, Clara menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
Video Arga dan Nayla yang tertawa bersama di kantor menyebar cepat, bahkan jadi trending di beberapa platform.
“Aku nggak akan kalah,” gumamnya pelan.
Dia menatap ke luar jendela apartemennya yang tinggi, wajahnya berubah dingin.
“Kalau Arga pikir cinta bisa menyelamatkan Nayla, dia salah besar. Dunia hiburan lebih kejam dari itu.”
Tangannya mengetik pesan pada seseorang:
“Kita mulai rencana tahap dua. Sebarkan rumor baru. Kali ini, tentang masa lalu Nayla.”
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Perang baru saja dimulai.