(POV Ied)
Langkahku memintal pulang dengan tenang sambil membawa plastik besar di tanganku, tapi hatiku sangat tidak tenang rasanya. Seperti ada sesuatu yang besar terjadi tanpa sepengetahuanku. Maka dari itu semakin mendekati rumah langkahku makin membesar bahan lari beneran.
Dan benar saja. Aku saat sampai rumah tidak menemukan Fira, rumah juga gelap lampu tak menyala yang berarti dia sendiri belum menyentuh rumah sedikit pun. Firasat yang sangat buruk sangat melekat dihati ku sekarang...
"Fira?" panggilku pelan, memindai sekeliling rumah berharap melihat tubuh mungilnya.
Aku meletakkan plastik makannya dan mulai menyusuri kota. Hawa di sekelilingku sekarang benar-benar dingin dan tajam.
"Siapapun yang berani menyentuh adikku, tak kan kubiarkan dia nafas dengan tenang." Bisikku dalam hati dengan mata setajam penghakiman tertinggi.
"IEDDD!"Kepalaku langsung menoleh kebelakang, saat baru berjalan sedikit, kearah gadis yang muncul terengah-engah sambil melambaikan tangan kearah ku.
Gadis rambut coklat pendek bermata Oren itu memegang lenganku erat-erat yang membuatku terkejut. Tapi aku berusaha menenangkan Mira yang tertunduk yang bergetar hebat bahkan tetesan air mulai membasahi trotoar.
"Ada apa, Mira?"
"Fi-Fira! Dia terluka parah..."
Tubuhku langsung mematung, wajah dinginku rasanya retak, otakku langsung mencaci-makiku atas keteledoran ku dalam mengurus adikku. Begitu pula hatiku yang kali ini satu pendapat dengan otak.
"Da-dari mana kau tahu?" Aku berusaha tetap tenang, tapi wajahku semakin hancur.
Mira mengeluarkan ponselnya, mengetuk w******p dan menunjukkan sebuah pesan dari seseorang. Yang saat k*****a di kontaknya tertulis "Ayah." Aku membacanya seksama tanpa berkedip.
Ayah: MIRA!
Ayah: MIRA!!
Mira: Ada apa, Yah? Kenapa panik amat?
Ayah: Fira pingsan, dan terluka...
Mira: ...AYAH JANGAN BERCANDA! INI NGGAK LUCU SAMA SEKALI!
Ayah: SEJAK KAPAN, AYAH PERNAH BERCANDA SOAL ORANG?! SEKARANG AYAH UDAH ADA DI RUMAH BERSAMA FIRA. LAGI DIOBATI OLEH IBUMU.
Tolong, nanti sekalian pas jalan pulang beliin pembalut luka, plester, dan betadine. Untuk Fira.
Mira: Boleh minta foto Fira, Yah?
Ayah: 1 foto
[Fira yang sedang tertidur pucat di sofa, lengan dan kaki sedang dirawat oleh seorang wanita berambut panjang coklat tua bermata ungu tua]
Mira: ...
Mira: Dimana, Ayah bertemu dengan Fira?
Ayah: Ayah habis pergi ke pasar, biasa ibumu minta tolong tiba-tiba minta belikan bahan yang kurang, saat Ayah jalan pulang, di tikungan Ayah tiba-tiba di panggil namanya, Ayah langsung nengok dan terkejut ngeliat Fira yang udah pucat pasi jalan udah pincang sebelah dan tubuhnya penuh luka dan memar. Apalagi di lututnya, sudah tak karuan warna dan lukanya.
Yang Ayah tebak dia jatuh bangun mulu saat kabur, dan dia di kejar preman pasar yang kamu tau lahh, yang suka keliatan selalu pas beli perlengkapan sehari-hari. Ayah langsung nangkep Fira yang jatuh ke Ayah sambil bilang minta tolong dengan suara sekecil semut. Sebelum akhirnya Fira pingsan.
Mira: Premannya Ayah apakan?
Ayah: Ya.. Ada lahh, pasti kau juga tau. Putriku.
Mira: Baik, Yah. Aku tutup toko dulu bareng karyawan yang lain dulu.
Ayah: Ya, jangan lama-lama.
Wajah dinginku benar-benar hancur sekarang, aku menggigit bibir bawah sambil mendongakkan kepala keatas. Menahannya agar tidak jauh, Mira hanya berpaling membiarkanku menekan gejolak yang berada dalam dadaku.
"Ayo, kita jalan. Ayahku pasti sudah menunggu." kata Mira setelah beberapa saat. Aku hanya mengangguk.
Kami berjalan dalam keheningan, kepala sama-sama penuh, aku tak tahu apa yang dipikirkan oleh Mira aku hanya melihat kerutan wajah, tangan yang mengepal kuat memegang bawaan langkahnya tegas, bahunya turun dan matanya berkaca-kaca. Yang kutahu hanya pikiranku yang penuh ribuan rencana terhadap preman yang telah menyentuh bahkan melukai Adikku.
"Jadi itu penyebabnya, saat pertemuan pertama aku dengan Fira dia makan makanan sisa orang. Tak akan ku biarkan." Gerahamku bergelutuk, tubuhki tegap sepenuhnya, aura dinginku sekarang menjadi tajam.
Disaat bersamaan juga pandangan ku tertunduk menatap ujung sepatu kulit hitamku dengan mata hampa.
"Maaf... Belum bisa melindungi mu. Adikku, seharusnya aku mengajakmu bersama ke Indomaret. Tapi aku menyuruhmu pulang duluan. Aku memang Kakak tak berguna." Suara otakku menyerang ku bertubi-tubi, tak membiarkan jeda menghampiriku, aku hanya bisa bertumpu pada luka yang bahkan belum kering.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu." Aku menoleh saat Mira angkat bicara sambil menendang krikil di depannya. Tangannya mengipas-ngipas wajahnya untuk sedikit memberikan dingin di tengah panasnya ibu kota Indonesia ini.
"Kamu memang salah, tapi tidak sepenuhnya salah. Tidak ada yang memprediksi ini akan terjadi dan aku yakin kamu pasti menyuruh Fira pulang duluan agar dia bisa istirahat duluan." Mataku mengerjap-ngerjap pelan sebagai jawabannya. Mulutku tak tahu harus membalas apa.
Maafkah? atau terimakasih?
Senyap membungkus kami lagi dalam langkah.
Di tengah detak jantung ibukota, tempat ribuan pejuang takdir agar hidup lebih layak, penuh dengan ribuan mimpi dan harapan, selalu dihempaskan oleh realitas pahit. Bahwa, perjuangan mereka selalu tak berbuah manis bahkan tak berbuah.
Panas ibukota Jakarta memasak darah daging walaupun sekarang sedang di pimpin oleh sang malam, warna-warni kota tak pernah padam begitu juga riuh. Tapi area yang tidak disorot lampu di jalan sempit, tempat-tempat kotor dan ujung ruangan, ruang hati mereka meluap penuh pilu dan tatapan berharap hidup mereka menjadi lebih baik. Tapi tak pernah tergapai.
Sekitarku hanya ada pemandangan kota dan kota, dengan sejumput orang-orang berjalan kaki, pedagang kaki lima, dan satu-dua burung nampak hinggap di pohon.
Jadi apa lagi yang harus ku bahas? Hanya akan membuang durasi saja.
"Kita sudah sampai." Kami berhenti disebuah rumah tua bercat hijau muda yang memudar di makan waktu, begitu juga rumahnya di teras berpagar coklat tua terparkir motor matic tua sedangkan di kanannya ada dua kursi plastik merah dengan satu meja kayu diantara mereka. Dan halamannya dari cahaya lampu aku melihat sangat asri karena di tanami bunga.
Mira mengetuk-ngetuk pintu yang lngsung dibuka cepat oleh bapak bertopi koboi tua penuh tambalannya, pria itu melotot kearah Mira dan Mira hanya bisa menggaruk pipinya, dan terkekeh pelan.
"Lama kali kamu kayak pergi ke Kamboja aja! Untung obatnya pas kalo nggak-" omelan bapak itu terhenti, dan terdiam saat matanya menangkap sosokku yang berdiri di belakang Mira.
"Siapa dia Mira?" tanya bapak itu dengan dingin yang langsung mendominasi, mengalahkan dinginku, yang membuatku menunduk hormat padanya.
"Ini Kakaknya Fira, Yah." Mata bapak itu menatap penuh curiga padaku sama seperti Mira yang pertama kali melihatku, dan menganalisis ku.
"Sejak kapan?" tanya bapak itu tiba-tiba padaku.
"Belum lama ini, baru mau seminggu." jawabku otakku nyambung.
"Kenapa kamu ingin jadi Kakak Fira?"
"Karena, saya sudah menganggapnya adik saya sendiri, walaupun saya sendiri masih belajar menyayangi seseorang."
Alis bapak itu naik sebelah, dan Mira juga menatapku tak percaya apa yang keluar dari mulutku.
"Kenapa begitu?"
"Karena saya juga tak memiliki siapapun, saat hadir di dunia hanya kisah yang diberitahukan ibu panti tentang kedua orang tua ku. Saat di kehidupan panti juga saya tak disambut baik oleh teman-teman panti, hanya ibu panti yang benar-benar peduli dan tulus padaku.
Satu persatu teman-teman panti ku mendapatkan keluarga barunya, sehingga menyisakan aku sendiri. Yang membuatku diangkat menjadi anak oleh ibu panti.
Hidupku sangat berkecukupan, karena ibu panti memiliki toko kue yang cukup terkenal di lingkungan rumahku yang membuatku masih bisa sekolah sampai SMA, dan saat kuliah aku meninggalkan semua kenangan di panti asuhan dan hidup sendiri, hanya menyisakan kenangan dengan ibu panti."
Kedua orang di depanku mendengarkan ceritaku dengan seksama tanpa memotong. Lalu mengangguk pelan.
"Bagaimana kabar ibu pantimu?" tanya bapak itu sambil jalan dan duduk di kursi teras itu, tangannya menepuk kursi sampingnya sambil menatap ku.
Mengerti, aku langsung duduk di kursi itu, sedangkan dengan isyarat mata bapak itu -setelah menoleh kembali kearah Mira- Mira masuk kedalam rumah. Meninggalkanku berdua dengan bapak ini.
"Ibu panti, sudah meninggal sejak saya masuk kuliah." Katak bernyanyi riang memenuhi keheningan.
Aku menatap jalanan hampa di depanku sambil memperbaiki ikatan rambutku.
Bapak itu tak menjawab, dan ikut menatap pemandangan jalan sepi di depannya.
"Begitu rupanya."