(POV Fira)
"HUAAA! AKU BAHAGIA BANGET, DI PANGGIL ADEK UNTUK PERTAMA KALINYA OLEH KAK IED." Diriku dalam hati meronta-ronta dan menggeliat bahagia, bahkan sampai ada syukurannya dalam hatiku.
Aku. Full. Senyum.
Bahkan Kak Ied aja sampai bingung melihat ku yang tiba-tiba jadi aura bidadari banget- aura bidadari gimana bentuknya ya? Asbun banget aku- aku dengan semangat menyelesaikan mengelap tumpukan terakhir perlengkapan makannya, dan dengan sigap menata kedalam rak besar di belakang Kak Ied. Begitu pula kak Ied.
"Uiss, Fira kenapa nih tiba-tiba full senyum~" Kepala Kak Mira muncul dari jendela besar tempat memberikan orderan, menatap sambil menyulam senyum, tangan kanannya menahan wajahnya yang menyandar.
"Ada dehh~" Aku meletakkan piring terakhir tanpa terasa.
"Nih upah kalian. Terimakasih atas perkejaan hari ini, dan selamat beristirahat!" Kak Mira menyerahkan uang 100 ribu ke aku dan Kak Ied yang dimana aku bisa merasakan sekilas saat mata Kak Ied dan Kak Mira bertemu rasanya seperti bertukar informasi secepat kilat. Yang tersisa hanya senyuman itu lagi!
"Sebenarnya apa sih, yang dibahas Kak Ied dengan Kak Mira?" tanyaku akhirnya setelah tak bisa membendung rasa penasaran ini lagi.
"Ada deh~" Aku langsung melotot kearah kak Ied saat dia meniru jawaban ku dengan wajah datarnya. Tapi senyuman tipis muncul. Asem.
"Kamu pulang duluan dek, Aku mau beli minum dan makanan buat besok." Aku langsung mau menyerahkan uangku sekalian biar makanan kita nambah. Tapi Kak Ied menggeleng. Kami berhenti di depan Indomaret yang cukup ramai pembeli. Cahaya terang lampu keluar dari toko serba ada itu. Bau khasnya menyerebak melewati sela-sela jendelanya.
"Simpan uangmu, untuk masa depanmu." Tertegun hatiku mendengar hal mengenai masa depanku.
Masa depan?
Bahkan itu kata yang tak pernah terpikirkan olehku, yang kupikirkan bagaimana aku bisa makan besok. Mimpiku sudah padam sejak aku lahir di dunia ini. Hidup hanya untuk bertahan dan menikmati keindahan nya disela-sela letihku, agar waktu tak merebut nafasku begitu cepat.
Tanganku turun dan menggenggam uang merah itu sampai lecek. Memeluk kaki kak Ied tanpa aba-aba sejenak dan melepaskan. Dan lagi-lagi aku melihat wajah keterkejutannya, yang dimana aku geleng-geleng udah berapa kali aku membuat Kak Ied terkejut hari dengan tingkahku diluar prediksi BMKG.
"Jangan lama-lama ya, Kak!" Aku tersenyum lebar dan melambaikan tangan lalu ngebut jalan kerumah dibawah lampu jalan yang merekam tiap langkah menjauhku.
Kak Ied membalas singkat, dan masuk ke dalam Indomaret setelah memastikan aku benar-benar sudah pergi.
Senandung kecil ku menemani ku ditengah kota yang mulai diselimuti oleh ketenangan. mobil-motor berkurang drastis begitu juga manusia, Aku bersenandung sambil menikmati papan-papan iklan yang penuh hiasan dan kata-kata manis mengenai produk maupun jasa yang mereka tawarkan.
Yang sangat dibalut rapih, menutupi tipuan sebenarnya. Permainan yang begitu manis dan menjebak, andaikan terbuai, malang tak dapat di tolak hanya dapat menerima penuh sesal hati.
Apakah bisa diulang? Tentu tidak sayang~
"Akhirnya, sam-" Langkah ku langsung ter-rem, pupil ku mengecil, cengkraman uang yang awalnya hanya untuk menemukan uang merah itu. Sekarang aku menembus hingga membekas. Dua orang pria telah menungguku. Berbaju serba hitam kucel dengan tangannya masuk kedalam saku celananya yang.
"s****n, dua orang itu lagi, padahal Senin aku sudah memberikan jatah uangku! Jangan sampai Kak Ied tau tentang preman itu." Aku mencaci maki dia preman itu juga dalam hati. Aku benci mereka.
"Oii, Fira. Akhirnya kau pulang juga lama kami menunggumu tau." Preman pertama tersenyum lebar kepadaku, berjalan mendekati dan merangkul pundakku seakan-akan kawan lama. Memuakan.
"Apa mau kalian, cepat beri tahu sekarang." Aku menatap tajam kearah dia pria yang masih santai menikmati ekspresiku.
"Kami minta maaf karena mengganggumu malam-malam begini... Kami kesini ingin menjatah uang "keamanan" karena sangat mendesak." Pria kedua yang menjawab pertanyaanku dan memegang ujung rambut panjang biru langitku.
"Tuhan! lancang kali dia pegang-pegang rambut orang tanpa izin, memang tak punya etika kali mereka." Aku menyantet mereka dalam pikiranku, boneka berbentuk mereka sudah ribuan aku tusuk tanpa ampun, bahkan sampai tak berbentuk.
"Berapa?"
"100 ribu. "
"HEH, GILA YA KAU?! NAIK 2 KALI LIPAT. SENIN KALIAN NAIKIN 20 RIBU KE 50 RIBU YANG MEMBUAT KU NGGAK BISA BELI MAKAN, SEKARANG JADI 100 RIBU. EMANG TAK ADA HATI DAN OTAK KALIAN." Kedua pria itu tersenyum miring dan mulutnya mendekati telingaku.
Tamparan melayang dan menghantam pipi ku tanpa ampun, Bahkan tinju meluncur beberapa kali ke tubuh kecilku yang membuat ku meringkuk kesakitan.
"Bayar atau rumahmu hancur." Bisik mereka yang membuatku ciut. Alasan itu lagi.
Tanganku bergetar menyerahkan uang 100 ribu yang sudah seperti nyawa kedua ku, yang direbut oleh kedua pria yang selalu merebut kerja keras orang lain, dengan mudahnya dan ribuan ancaman tak berperasaan. Tangisku hampir bocor karena aku benar-benar tak ikhlas jika uang ini direbut mereka apalagi kenangan di uang ini sangat berbeda.
Aku memperolehnya bersama Kakakku Ied. Kenapa? Kenapa ini yang harus direbut.
"Simpan uangmu, untuk masa depanmu." kata Kak Ied itu lewat saat uang merah benar-benar direbut, sisa jarak 1 inci sebelum benar-benar menyentuh kulit tangan orang orang yang berbinar-binar matanya.
Aku langsung menarik tanganku yang membuat kedua pria itu terkejut. "Tidak akan ku biarkan, kalian merebut masa depanku!" Sedetik kemudian aku langsung lari secepat mungkin demi menyelamatkan dengan tubuh yang sudah sangat berteriak bahkan jalanku cukup pincang dan oleng karena sakit.
Kedua pria itu langsung mengejar aku tak memperdulikan rumah reyot kardusku lagi, karena yang dipikirkan mereka saat ini bagaimana mendapatkan uang untuk 'sesuatu'. Bagus. Dengan ini hatiku cukup tenang karena mereka tak menyentuh rumahku dan barang-barang Kak Ied -jika sampai mereka tau- tapi pertanyaanku sekarang adalah. Aku harus bersembunyi di mana?
Tubuhku juga sangat terbatas apalagi ini malam hari jarak pandangku amat berkurang dan kawasan jadi sangat rawan bahaya. Dan yang mengejarku dua orang dewasa yang sekali langkah kek ke Bogor menuju Surabaya sangking lebar langkahnya.
"Kak Ied jangan sampai kau mencariku untuk saat ini ya..." Pesanku pelan dalam hati ditutup dengan tawa kecilku.
Dan aku berlari tanpa arah, jatuh bangun aku sampai hampir benar-benar tertangkap oleh mereka tapi untungnya aku sempat menghindar. Mata ku mulai meredup kepalaku mulai pusing berkunang-kunang. Tubuhku diambang batas setelah latihan tanpa henti.
"HEH ANAK KURANG AJAR! SINI LO, UDAH DIBAIKIN MALAH NGELUNJAK YA."
"UDAH NGGAK SAYANG NYAWA YA, LO!"
"DI KASIH HATI MINTA UANG MINTA JANTUNG KAU, AWAS AJA LU KE TANGKEP. MATI LO."
Kedua preman itu sudah kehabisan energi juga tapi tetap memaksakan diri mengejar ku hanya untuk uang 100 ribu ku. Suara preman itu seperti anjing marah, besar dan mengerikan.
Aku menggigit bibir dan air mata lolos dari mataku. Kaki ku benar-benar sudah lelah setelah lari sekitar 2 meter dan itu sangat mengurasnya. Sendi-sendi tubuhku rasanya sudah copot dan koyak dari kakiku peluh benar-benar dalam definisi mandi keringat karena satu tubuh benar-benar basah keringat aku walaupun udaranya sejuk.
Tubuhku juga sudah sakit semua, karena dipaksakan lari, bahkan kakiku ada yang berdarah. Tak tahu yang mana sangking aku buru-buru lanjut lari takut tertangkap oleh mereka.
"Tuhan... Tolong aku "
Sepertinya Tuhan mendengar doa ku, seorang Paman dengan topi koboi tua tambalannya berpapasan denganku. Berjalan sedang merokok santai membawa plastik coklat. Yang membuatku sangat bernafas lega.
"PAMAN WIL!" teriakku langsung lompat kearah nya, dan Paman Wil terlonjak kaget dan langsung menangkap tubuh ku yang jatuh kearahnya.
"Tolong... Aku..." Aku jatuh pingsan di ujung kalimat.
Semuanya gelap, aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu yang ku tahu paman Wik marah besar melihat wajah syoknya sekilas sebelum aku pingsan.
"Aku berhasil menyelamatkan masa depanku. Kak Ied."