Jujur, rasanya aneh tapi senang karena Kak Ied kerja bareng aku. Rasanya sangat campur aduk sekarang!
"Kakak yakin, mau kerja bareng jadi kuli cuci piring bareng aku?"
Kami sudah ada di rumah sedang rebahan, setelah selesai merapihkan perlengkapan makan dan kompor portable Kak Ied yang hampir di ambil orang, bapaknya sudah hampir kabur saat tiba-tiba kami hadang jalannya dan Kak Ied dengan aura dingin mengintimidasi bapaknya, bayangan nya menutupi bapak itu "Kembalikan."
Aku tersenyum sambil memegang balok kayu yang ada disekitar ku, untuk jaga-jaga. "Itu bukan punya anda. Bapak~"
Bapaknya mengangguk paham gemetaran, tanpa sepatah kata pun meletakan kompor portable ke bawah lalu kabur terbirit-b***t.
"Kakak sih! ngejar aku tapi nggak diberesin dulu kompor dan bahkan kopernya lupa ditutup, untung bapaknya belum kabur bahkan nggak ngambil barang-barang di koper kakak!" omelku tanpa ampun kepada Kak Ied sambil membantunya membereskan.
Sedangkan yang diomelin hanya mengangguk-angguk dan fokus ngeberesin koper. Asem.
Dan sekarang kita rebahan mengistirahatkan badan. Kak Ied mengaguk. "Sekalian, biar punya penghasilan dan nggak ngerepotin kamu."
"Tapi aku nggak merasa kerepotan kok! Malah, seneng bisa membantu kakak." Sekalian posisi ku berubah menjadi tiduran diatas paha kak Ied. Dan seperti biasanya Kak Ied tidak masalah.
"Aku nggak enakan sama kamu Fira, kamu adek ku tapi malah yang kerja, aku malah ngangur. Logikanya kebalik. Harga diriku juga sebagai laki-laki tercoreng, dan aku mau kita berjuang bersama-sama. Bukan hanya satu orang."
Aku tertunduk terdiam, tidak memikirkan dampaknya sejauh itu bagi Kak Ied. "Maaf, Kak Ied..." Tangan Kak Ied mengelus kepalaku pelan.
"Tidak apa-apa Fira, maaf juga kalau itu membuatmu kepikiran. Ayo kita berjuang bersama sekarang. Bersama?" Kak Ied melebarkan tangannya.
Aku menyeka air mata yang hampir jatuh. "Bersama!" Aku menerima pelukan Kak Ied dengan senyuman lebar.
"Oya, besok aku mulung. Kakak mau ikut juga." Kak Ied mengaguk.
Senyumanku semakin lebar dan aku hort ke Kak Ied. "Siap komandan, saya akan memperkenalkan anda kepada jenderal saya. Laksanakan!"
Kak Ied tertawa kecil, lalu ikut hormat. "Laksanakan." Kami tertawa bersama.
Kami mengobrol panjang dengan seru seperti membahas apa yang akan kita lakukan, udah berapa lama aku kerja disana, dan fakta unik tentang Kak Mira dan Tuan Edwan. (Yang tidak akan kuberi tahukan kepada para pembaca:p).
Kami mengobrol asik sampai matahari sekarang berada diatas kota, panasnya sungguh membakar. Kalau sekarang kita ada di luar kalian bisa melihat karya seni ribuan payung warna-warni mengembang untuk melindungi kepala pejalan kaki, kesabaran para manusia juga masuk mode setipis tisu dibagi tujuh.
Suara klakson makin menggila karena kesibukan ditengah musim peralihan tak berujung ini, bahkan teriakan sesekali keluar. Jika ada yang adu mulut pada kondisi sekarang maka aku jamin seratus persen kalian akan kembali dengan keadaan mengenaskan.
"Kalau begitu kita istirahat sekarang, untuk persiapan ke medan perang busa kita." tambah Kak Ied. Aku mengangguk melepas pelukanku yang masih menempel sepanjang canda tawa kami.
"Makan pake apa kak, sekarang?" Aku mengintip Kak Ied yang sedang mengobrak-abrik plastik makanan itu, sambil mengipas-ngipas diri dengan kardus untuk mendinginkan tubuh.
"Pakai bubur instan." Kak Ied menunjukkan dua bungkus bubur instan. Dan aku menatap berbinar-binar. Makanan baru lagi!
Lalu kami memasaknya, dan membuat bubur jauh sedikit lebih lama daripada memasak mie karena harus menunggu airnya benar-benar menyerap buburnya. Setelah jadi Kak Ied menaruhnya di dua mangkok plastik sedang dan menaruh bumbu bubur mengaduk dengan sendok beberapa saat sebelum memberikan topping kerupuknya. Lalu menyerahkan porsiku kepada ku.
Uiss~ air liurku rasanya sudah mengenang bahkan hanya membuka sedikit mulut ku pasti akan tumpah membentuk air terjun!
"Terimakasih kakak!" Aku lalu menyuapnya setelah meniup buburnya kedalam mulutku. Kak Ied juga melahap buburnya.
"Enak!" sorakku dalam hati.Tanganku langsung ngebut makannya.
"Tuhan terimakasihh telah mempertemukan aku dengan kakak yang begitu baik!" Aku sujud syukur dalam hati.
"Fira hati-hati maka-"
"UHUKK -UHUKK!" Bubur ku salah masuk saluran!
Kak Ied langsung kedalam rumah, membuka plastik makanan dan mengeluarkan air mineral terakhir. Membukanya dan langsung menyerahkannya kepadaku. Aku menerimanya dan meneguknya hingga setengah.
"Makannya hati-hati lain kali." Kak Ied menepuk-nepuk punggungku pelan sedangkan aku hanya bisa mengangguk dan cemberut kecil.
"Yaudah sekarang kita istirahat, nyuci piringnya sekalian nanti di tokonya. Sekarang taro aja disini tutupin pake kardus juga."
Kak Ied merapihkan rambut panjangnya yang menutupi wajahnya, dan memasukan kembali kompornyq ke dalam koper.Sedangkan aku yang menutupi peralatan makannya dengan kardus.
"Selamat tidur Kak!"
"Selamat tidur juga, Fira "
Lalu kami terlelap dengan hati penuh.
...
(POV Ied)
"Kak Ied ayo bangun! Kita harus kerja sekarang." Badanku di goyang-goyangkan oleh Fira.
"Hmm.." Aku membuka mata, mengucek dan duduk mengumpulkan nyawa dulu.
Aku melirik ke arah jam, jam 16.30. Aku meregangkan badan sedikit dan menatap Fira yang sudah siap rambutnya diikat dengan karet- dariku- model kucir ekor kuda dan lengan panjangnya yang digulung.
"Ayo! kita berangkat." Fira menarik tanganku keluar, dan aku mengikuti saja.
"Sebentar." Fira menoleh. "Perlengkapan makan kotor kita. Dan aku mau ngambil karet juga."
Mulut Fira melonggo seperti baru ingat juga tentang perlengkapan makan kita yang kotor, akhirnya dia mengikutiku ke belakang rumah. Aku membuka koper besar yang biru yang berisi pakaian dan hiasan kecil ku, aku mengambil karet yang aku selipkan di tiap cela pinggir dan menguncir model ekor kuda juga rambut hitamku. Karena simpel.
"Dah kak, udah Fira bawa!" Aku geleng-geleng kepala.
"Sekarang gantian aku, yang tadi pagi kan kamu udah." Tanganku langsung mengambil semua perlengkapan makan kotor itu dari tangannya. Yang membuatnya salah tingkah.
"Trus aku ngapain?"
"Jalan aja. Nanti kan kita nyuci bareng." jawabku sebelum Fira protes.
Akhirnya Fira mengangguk senang, lalu berjalan riang di depan ku sambil mengayunkan tangannya dan bersenandung kecil.
"Hoii cepat kali kalian sampai." Gadis itu menunggu kami di balik mesin kasir seperti kemarin.
Aku masih ingat jelas apa yang kami bicarakan saat Fira mencuci piring.
"Apa mau mu dari Fira. Ied?" Gadis rambut pendek coklat itu menatap ku tajam dengan mata orennya.
"Awalnya, aku hanya ingin menumpang hidup dengannya sampai aku mendapatkan perkejaan. Ya... Seperti memanfaatkannya, tapi aku akan membalas jasanya sebelum aku pergi selamanya dari hidungnya." Aku berhenti sebentar mengambil nafas, sambil memperhatikan reaksi gadis sekitar 19 tahun depan ku ini.
Dan aku sudah menangkap tatapan kebencian dan kejijikan terhadapku, auranya yang awalnya dingin menjadi mencekam.
"Tapi ternyata, aku berubah pikiran. Karena suatu kejadian dan kebersamaan singkat, aku jadi ingin melindunginya, menjadi berguna dan mulai menyayanginya. Aku ingin menjadi Abangnya, Aku tak ingin meninggalkan nya" Wajahnya agak melunak tapi masih tajam menyelidiki. Tapi tawa kecil keluar dari mulutnya.
"Kau aneh, Ied." Aku mengaguk.
"Ya, aku memang aneh. Sepertinya." Aku melirik ke arah dapur. Mira juga melirik ke arah yang sama.
"Kalau begitu tunjukan, bentuk kesungguhanmu mu " Wajah ku berkerut halus.
"Dengan cara, kau berkerja disini. Menjadi tukang cuci piring seperti Fira." Mira menatapku misterius dengan senyuman tipisnya. "Bagaimana? Kalau kau menolak, maka aku akan menjauhkan mu dari Fira, karena tidak becus ngurusin nyawa orang atau adikmu."
Aku tersenyum kecil. Menarik.
"Kenapa kau ingin sekali menjauhkan aku darinya? Sedangkan kau bukan siapa-siapanya Fira." Aku menebar pancingan.
"Karena aku sudah menganggapnya adik perempuanku sendiri, maka dari itu jika ada yang mendekatinya." Mira menodongkan pisaunya kearah leherku yang entah dari mana dia punya. "Dia harus menghadapiku dulu."
Aku tersenyum kecil. "Baik, Nona. Saya akan berkerja disini." Mira meletakkan kembali pisaunya dan tersenyum kecil juga. "Pilihan bagus."
Dan saat itu Fira muncul.
"Fira hati-hati." Aku menagkap tangannya.
Sudah keempat kalinya Fira terpeleset air, dan empat kali itu juga aku menagkap tangannya.
"Hehehe. Terimakasih Kakak!" Aku hanya mengangguk dan fokus lagi mencuci piring, sedangkan Fira bolak balik dari depan ke dapur mengambil piring kotor.
Toko ini sangat ramai sore hari, pantas saja upahnya 100 ribu perhari -tapi untuk di Jakarta kurang- mayoritas yang datang adalah anak-anak muda atau bapak-bapak pencinta motor yang sama dengan tema motor.
Musik disetel keras tapi tak memekakkan telinga, orang-orang bercerita santai tanpa intimidasi mau muda ataupun tua. Mira dan para chef sekarang sibuk dengan tugasnya masing-masing dengan memaparkan senyuman customer servicenya, tapi senyuman tulus seperti menganggap mereka adalah keluarga. Sepertinya aku akan betah disini.
"Maaff kak Ied! Aku lamaa." Fira datang bersama tumpukan piring kotor terakhir untuk saat ini.
Dan sekarang bergabung denganku mencuci piring. Kami mengobrol sambil bermain busa, membentuknya menjadi berbagai bentuk sesuai imajinasi. Seperti kucing yang dimata ku seperti beruang, aku membuat roket tapi diamata Fira itu seperti kapal.
Bahkan kami bermain berpura-pura menjadi bajak laut menggunakan gelas-gelas sampai di tegur Mira. Pokoknya sangat menyenangkan. Aku beberapa kali tertawa, padahal dulu aku ketawa sudah seperti keajaiban ketujuh.
Sepertinya aku memang ketularan Fira.
"Tahan juga ya kamu nyuci piring ini setiap hari." Fira terkekeh pelan, sambil menyabuni panci.
"Tahan dongg, kali nggak aku makan pake apa? Trus juga menyenangkan aku bisa bermain sabun secara gratis!" Fira membuat sebuah gelembung yang pecah saat baru terbang sejenak.
Aku terdiam sejenak. "Lalu yang pertemuan pertama kita, kenapa kamu makan-makanan bekas orang?" Aku teringat itu.
Fira langsung menghentikan menggosok panci, tapi langsung melanjutkan lagi. "Tidak apa-apa! Hanya ingin berpetualang saja." jawabnya pelan di akhir kalimat.
Bohong banget, dari nadanya dan gerakan yang terhenti sejenak itu saja, sudah menunjukkan bahwa sesuatu terjadi padanya. Tapi aku tak ingin dia sedih mengingatkannya. Jadi aku hanya memilih mengangguk saja.
Lalu lanjut mengobrol, sampai tak terasa matahari sudah benar-benar tumbang diluar, posisinya sudah diambil alih oleh bulan, keramaian juga mulai menyepi dengan pasti meninggalkan sejumput yang bertahan.
Sekarang aku dan adikku sedang mengelap perlengkapan dapur sebelum kami pulang. Kami mengelap dengan serius yang membuat kami diselimuti keheningan.
"Kakak terimakasih... Aku sangat senang bisa kerja dengan Kakak!" Fira membentuk hati dengan tangannya.
Aku geleng-geleng kepala melihat tingkahnya."Kakak juga berterima kasih sama adek mau bareng sama kakak.
"KAKAK MANGGIL AKU APA TADI!" Aku langsung lompat dua langkah karena mendengar nada Fira naik pesat dan matanya berbinar-binar senyuman nya sepanjang sungai Nil.
"A-adek. Memang kenapa?" Fira langsung full senyum.
"Nggak papa!" Aku hanya bisa bengong dalam hati.
"Aku... salah kata kah?"