"Fira! Bangun, ada apa denganmu?!" Aku terbangun, nafasku memburu cepat, keringat membanjiri tubuh ku dan mata ku sembab penuh air mata.
Kak Ied menatap ku khawatir di samping ku dan menyentuh dahi ku pelan, mengecek apakah aku demam, dan menyerahkan sebotol air mineral plastik padaku. "Minum dulu." Aku menggeleng dan langsung memeluk erat-erat Kak Ied yang membuat Kak Ied terkejut bukan main. Karena di peluk olehku.
"Tolong... Jangan tinggalkan Fira Kak."
Kak Ied membeku seperkian detik sebelum pelan-pelan menaruh tangannya diatas kepala ku, dan mengelus kepala ku lembut. "Tentu saja tidak Fira, kenapa tiba-tiba kau jadi begini?" Kak Ied menatap heran diriku, tangannya masih lanjut mengelus kepalaku membuat ku sedikit tenang.
"Benarkah, Janji?" Aku tidak menggubris pertanyaan kak Ied, yang ku butuhkan sekarang adalah kepastiannya. Aku mengulurkan jari kelingking ku, mataku menatapnya penuh harapan.
Kak Ied terdiam. Menatap jari kelingking ku. "Janji." Kali ini Kak Ied menerima kelingking ku dengan kelingkingnya.
Yang membuat ku sangat senang dan menaruh wajah ke dadanya. Sedangkan Kak Ied tidak membalas pelukan tapi tidak menyuruh ku pergi, hanya memperbaiki posisi duduk dan lanjut mengelus kepala ku pelan.
"Terimakasih." kataku pelan.
Kak Ied menunduk menatap diriku yang mungil memeluk dirinya yang seperti tiang. Mengangguk kecil.
Pagi menyinari dengan tenang, jalanan mulai ribut kembali, suara ribuan langkah orang memenuhi langit. Gedung-gedung memulai usaha dan bisnis nya kembali, memutar keuangan negara tercinta lagi
"Fira." Aku mengadah ke atas, ke wajah kak Ied yang menunduk kearah ku lagi. Mata kami bertemu. "Kenapa kau tadi menangis dan gelisah sepanjang malam?"
Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan, lalu menceritakan mimpi ku dengan detail bahkan tangan ku sampai ikut bergerak, dan Kakak Ied mendengarnya dengan serius tanpa memotong atau mengalihkan pandangannya sejenak dari ku.
Saat menceritakannya air mata ikut terjatuh mengigat tiap potongnya walaupun hanya sebentar rasanya sangat panjang sekali dan sangat membekas dalam pikiran maupun hatiku. Yang membuatku berulang-kali mengusap air mataku dengan kain baju ku.
"Jadi begitu Kak... Maka dari itu aku mohon Kakak jangan meninggalkanku." Akhirnya kisah mimpi ku selesai diceritakan. Suasana jadi hening.
Kak Ied seperti sedang mencerna mimpi ku yang terasa begitu nyata untuk ku- tak tahu untuk kak Ied- berulang-kali kak Ied membuang nafas panjang sambil mengetuk-ngetuk lantai kardus rumah kami.
(POV Ied)
Fira setelah menyelesaikan menceritakan mimpi buruknya, rasanya aku sangat terhantam sekali, karena rasanya begitu nyata... Seakan-akan itu akan benar-benar terjadi di masa depan dimana jika nanti aku sudah sukses. Tapi yang paling mengikis hatiku adalah bahwa Fira tidak membenciku malah memberikan aku selamat dan pergi.
Benarkah aku akan meninggalkan Fira?
Apakah segitunya aku tak tahu berterima kasih kepada Fira yang sudah menolong ku dalam berbagai hal mulai dari menyembuhkan dan mengisi hidupku yang kosong, dan aku sudah ku anggap sebagai adik ku dalam waktu singkat?
Apakah hatiku sudah mati, saat itu terjadi?
Tidak, aku masih punya sejumput hati saat di bagian akhir, saat Fira mengungkit tentang janji akan menjadi kakak adik selamanya. Disitu terdiam, nadaku menjadi lebih hancur dan aku juga mematung, yang berarti aku juga berat untuk berpisah dengannya.
Apa yang terjadi di masa depan jika itu terjadi?
"Kak?"
Aku tersentak melihat Fira yang melambai-lambaikan tangannya di depan wajah ku.
"Iya, kenapa?"
"Jadi, gimana jawaban Kakak? Apakah Kakak akan tetap meninggalkan aku saat dewasa?"
Aku menggeleng. "Aku tidak tahu."
Cahaya wajah Fira makin meredup, menunduk, tubuhnya bergetar hebat dan meremas baju ku. "Tapi aku akan berusaha, untuk menempati janjiku." Fira langsung mendongak kembali matanya sudah berkaca-kaca.
"Masa depan bisa dirubah, asalkan kita usaha seperti kata orang. Maka dari itu aku akan berusaha tidak menjadi seperti yang ada di mimpimu, dengan seluruh ujian yang akan kita hadapi." Kali ini aku memeluknya untuk pertama kalinya, bahkan ini pertama kalinya aku memeluk orang setelah sekian lama. Tidak erat bahkan kaku, tapi cukup.
Fira langsung membalas pelukannya dengan terisak kecil. "A-aku juga akan berusaha agar aku tidak menjadi beban bagi Kakak di masa depan."
Aku tersenyum, dan membiarkan Fira menyelesaikan isakannya. "Aku tunggu."
"Ja- jadi aku boleh jadi adik kakak...?" Fira bertanya setelah lima menit dia terisak, dan sekarang dia mengelap sisa air mata nya dengan tisu yang ku berikan.
"Ya, kau boleh jadi adik ku Fira. Kalau kau mau kakakmu seperti beruang kutub." Fira tertawa yang membuatku tersenyum kecil.
"Tentu saja Kakak! Kalau tidak aku sudah meninggalkan kakak dari dulu " Aku pura-pura mencibir.
Sekarang Fira berubah posisi menjadi tiduran di pangkuanku sambil menatap ku. Tapi aku langsung mengangkatnya dan mendudukkan nya, yang membuat pipinya mengembung.
"Sarapan, kita belum sarapan." kataku singkat sambil keluar menuju tempat koper ku ditaruh- dibelakang rumah yang ditutupi dengan kardus dan kayu bekas- aku menyingkapnya dan mengambil koper besar yang berwarna merah bata dan membukanya mengeluarkan kompor gas portabel ku.
"Fira, tolong ambilkan mie instan dan botol air mineral yang masih penuh di plastik makanan."
"Yang ini kak?" Fira muncul setelah beberapa saat aku meminta tolong dengan dua bungkus mie instan rasa mie goreng dan botol air mineral.
Aku mengangguk. Dan mengeluarkan panci legend, dua buah piring plastik putih dan dua buah sendok dan garpu.
Menaruh panci itu diatas kompor dan menyalakannya, air ku tuang lalu menunggu airnya mendidih sedangkan Fira membuka bumbu mienya dan menuangkan nya ke piring mencampurkan satu sama lain. Air sudah mendidih aku memasak mie nya sekaligus -biar hemat waktu dan gas yang terbatas - setelah mienya matang aku membung airnya ke selokan dan mienya ku bagi rata.
Fira menunggu dengan mata berbinar-binar. "Nih mie mu." Aku menyerahkan mie bagiannya yang langsung disambut dan dilahap olehnya. Tapi aku menahannya.
"Masih panas."
Dia mengangguk dan meniup-niup mienya sebelum masuk ke dalam mulutnya.
"ENAK!" Sorak Fira kecil dan lanjut memakannya.
Aku pun ikut makan sambil memperhatikan nya.Rasanya aku sudah puas dan kenyang, hanya dengan melihat wajah bahagianya menyantap mie.
"Maaf, harus makan mie lagi" kataku pelan.
Fira langsung menghentikan gerakan makannya dan menggeleng. "Justru aku malah senang bisa makan mie kakak! Mie masakan kakak sangat enak" Aku terkekeh kecil. "Namanya juga mie instan, pasti enak lah."
"Tapi masakannya, Kakak yang bikin beda."
"Iyakah?"
"Iya!"
"Apa bedanya?"
"Cintanya."
Dahiku berkerut, cinta? "Maksudnya?"
"Iya, perasaan yang kakak curahkan dalam memasak berbeda dengan yang lain, makanya enak!" Fira melahap sendokan mie terakhir ke mulutnya.
Aku tak pernah berpikir sejauh itu yang ku tahu masak sama saja dengan yang lainnya, mau siapapun yang masak, hasil dan rasanya akan tetap sama.
Tapi Fira lagi-lagi melihatnya berbeda, dia melihat... Perasaan. Perjuangan orang yang membuatnya, yang membuatnya terasa berbeda walaupun dibuat dengan bahan dan cara yang sama. Dia memang gadis yang aneh...
"Sini kak, piringnya mau Fira cuci sekalian." Aku menyerahkan piringku yang sudah bersih juga dari makanan.
"Sabun cuci piringnya ada di koper juga, di botol bekas." Fira mengaguk dan mengambilnya lalu pergi ke suatu tempat.
... Lah dia nyuci piring dimana?!
Aku langsung lari ngejar Fira yang hampir menghilang sepenuhnya.
(POV Fira)
Ayo kita cuci piring! Di tempat kesayangan ku~
Sebentar lagi aku bakalan nyampe tempat makan Rude, sekalian nanyain tugas ke Mira tugas nyuci piring ku siang ini atau sore.
"Fira!" Aku langsung ngerem mendadak karena bahu ku ditahan seseorang.
Aku menoleh kearah belakang dan ternyata Kak Ied yang menahanku, nafasnya ngos-ngosan, rambut panjang nya menutupi setengah wajahnya tak beraturan, keringatnya mengucur tiada banding membuatnya seperti orang habis mandi.
"E-eh, kenapa Kak Ied?! Kenapa Kak Ied ngejar aku?" Aku menepi ke gedung terdekat untuk berteduh sekaligus Kak Ied beristirahat ambil nafas.
Kak Ied mengatur nafasnya sebentar.
"Kamu... Mau cuci piring, dimana?" tanganku langsung menepuk jidat dan aku tertawa kencang. Jadi kak Ied capek-capek dan jauh-jauh ngejar aku, cuman buat tau dimana aku cuci piring dimana?!
Kak Ied menatap kesal kearah ku karena alih-alih menjawab malah ketawa ngakak.
"Hah.. Hah.. Aku nyuci piring di toko fast food tempat aku kerja kak. Tenang aja aku nggak nyuci piring di selokan." Jariku menunjuk kearah toko itu yang tinggal jalan sedikit lagi nyampe.
Kak Ied melihat toko itu, dan menganalisis luarnya yang dimana aku bisa menangkap keterkejutan melihat toko Tuann Edwin yang begitu maniak motor.
"Kamu kerja disana?" tanya Kak Ied memastikan. Aku mengangguk mantap.
"Lumayan aku digaji perhari 100 ribu, Tuan Edwan juga baik suka ngasih makanan, bahkan yang terakhir kita makan itu dari beliau."
"Tuan Edwan?"
"Bos pemilik toko fast food 24 jamnya." Aku melanjutkan langkahku saat aku melihat Kak Ied sudah membaik. "Kalau mau Kakak ikut bareng aja, aku kenalin."
Wajahnya tampak sedang menimbang-nimbang sebentar, sebelum akhirnya kepalanya mengaguk dan mengikutiku.
Kringg!
"Selamat datang di- Oii Fira kau datang dan kali ini, kau membawa seseorang ya." Kak Mira menyambut ku hangat seperti biasa tapi kali ini sambil melirik Kak Ied yang di belakangku.
"Iya Kak! Kenalin ini Kakakku Ied!" Aku mengenalkan kakak dengan semangat.
"Mira Andira." Kak Mira mengulurkan tangan sambil tersenyum, tapi menganalisis Kak Ied. Seperti mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, untuk memastikan orang di samping ku orang baik-baik.
"Ied Tushar." Kak Ied menerima ulurannya dengan nada dingin seperti biasanya. Dan ikut menganalisis Kak Mira dari atas sampai ujung.
"Kak Mira, aku izin cuci piring di dapur." Kak Mira memberikan jempol sebagai jawabannya.
Lalu aku langsung menuju dapur di belakang kasir dan mencuci piring dengan sabun Kak Ied, dan keluar dengan perlengkapan makan dan panci yang bersih. Dan aku melihat Kak Ied dan Kak Mira ngobrol santai.
"Sudah Kak! terimakasih, oya Tuan Edwan mana?" Aku celingak-celinguk.
"Tuan Edwan lagi pergi ada urusan, dan untuk jadwal cuci piringmu nanti sore ya, Fira!" Kak Mira mengelus kepala ku lembut. Aku mengangguk.
"Saya boleh ikut?" Aku dan kak Mira menoleh kearah Kak Ied. Aku terpangah.
Kak Mira mengangguk penuh arti. "Tentu, nanti kami akan mengupah juga seperti Fira."
Kak Ied mengaguk, aku masih loading. Sebenarnya apa yang mereka tadi bicarakan!