(POV Fira)
Kak Ied yang terbaik! Walaupun tampangnya memang kek beruang kutub, tapi hatinya Hello Kitty.
Sekarang aja kita makan mie cup bareng di taman melihat keindahan nya sambil ngobrol santai- lebih tepatnya aku yang cerita dan Kak Ied yang mendengarkan sambil ngunyah mie- yang sesekali seperti biasanya ditimpali satu dua kata dan sisanya anggukan.
Tapi, tak masalah! Karena entah kenapa aku merasa jarak ku dengannya tak sejauh kemarin, bahkan Kak Ied jauh lebih lembut saat bicara padaku. Apa perasaan ku saja?
"Kenapa kau bengong, Fira?" Wajah Kak Ied berada tepat di depanku yang membuat ku terkejut bukan main!
"EH, Kakak ngagetin aku aja!" Aku menjauhkan muka Kak Ied.
"Itu, kuah mie mu, hampir tumpah." Refleks aku langsung menunduk kearah mie cup aku yang beneran hampir tumpah ke lutut, jika saja nggak ditahan oleh Kak Ied." Kamu mikirin apa?"
"Bukan apa-apa Kak, cuman seneng aja ngeliat matahari sore di taman ini. Dengan seseorang sekarang." Senyum lembut muncul dari bibirku dan mataku ikut bersinar tertimpa cahayanya. Kak Ied hanya duduk lebih dekat dengan ku tanpa kata-kata. Dan menyelesaikan makan mie kami dan membuang sampahnya ke tempatnya.
Taman rasanya tenang sekali seperti tidak ada orang, padahal ada, tawa anak-anak dan obrolan masih terdengar jelas di telingaku. Tapi sepertinya mereka ikut tenggelam dalam ketenangan dan kelembutan usapan angin yang berhembus tanpa lelah membawa sejuk, pohon dan bunga melambai indah seperti membawa pertunjukan.
"Oiya!" Mataku langsung menoleh ke rangkaian bunga aster yang tinggal sebentar lagi selesai.
Aku dengan kecepatan kilat, menyatukan beberapa bunga lagi dan jadi! Mahkota bunga. Aku menatap Kak Ied, berdiri mendekatinya dan menaruh mahkota bunga itu dengan senyuman bangga dan bahagia, sedangkan kak Ied membeku sebentar sebelum menyentuh apa yang ada di kepalanya. "Untuk apa ini?"
"Untuk Kakak." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
Kak Ied menggeleng pelan, menunjuk kearah mahkota bunga. "Kenapa kamu ngasih aku ini?"
"Karena Kakak cocok dan keren saat menggunakan!" Kata-kataku meluncur begitu saja dari mulutku. Kak Ied terkekeh geli yang membuat ku makin bingung.
"Katamu, aku cocok dengan mahkota bunga ini? Apa kau yakin?" Kak Ied pergi ke plastik makanannya berada, mengambil sebotol air membukanya dan meneguknya. Sebelum menyerahkannya kepada ku. Dan aku menerimanya dan meneguknya juga hingga tandas.Lalu duduk di sampingnya lagi.
"Tentu saja! Kakak cocok kok, Kakak lembut dan indah seperti bunga, makna bunga bukan hanya 'cantik' untuk perempuan, tapi 'cantik' untuk semua orang. Termasuk kakak." Aku menunjuk kearahnya dengan senyuman hangat. Kak Ied hanya terdiam dan menyentuh mahkota bunga itu lagi.
"Oya, bunga kesukaan kakak apa? Aku bunga forget me not." Aku merebahkan diri di rumput lagi setelah memastikan perut ku sudah aman.
"Aku tak punya bunga kesukaan."
"Kenapa?!"
"Nggak papa."
Aku memiringkan kepala. "Kalau begitu boleh aku yang milih buat kakak?" Kak Ied mengangkat bahu sebagai jawaban.
Kepala ku semakin miring memikirkan bunga yang cocok untuknya yang ku tahu, beberapa kali aku memukul-mukul kepala pelan dan komat-kamit tak jelas me-list semua yang ku hapal dari toko bunga. Dan Ied diam memperhatikan kegiatan unik ku sambil nyemil biskuit coklat- yang pasti di ambil dari plastik makanannya-.
"Bunga apa yang cocok dengan Kak Ied?!"
Aku melirik Kak Ied, mata merah ruby tenang dan rambut panjang hitam berhamburan tertiup angin. Merah...
"Poppy." ucapku tanpa sadar. Yang membuat ku terkejut sendiri begitu juga Kak Ied yang hendak melahap biskuit lagi langsung terhenti.
Tapi aku tersenyum. Itu sempurna!
"Bunga kesukaan Kak Ied sekarang bunga Poppy!"
"Kenapa bunga Poppy?" Kak Ied lanjut melahap lagi, dan kali ini menyodorkan biskuit itu kepada ku.
"Karena cocok dengan mata kakak. Dan aura yang kurasakan dari kakak." Aku menggigit biskuit dengan berbunga-bunga. Makanan manis yang terbaik!
Kak Ied hanya tersenyum kecil setelah mendapatkan jawabanku, dan menatap jalanan yang menyepi. Berdiri dan mengambil dua kopernya. "Ayo pulang, jalanan sudah sepi." Aku mengangguk dan menenteng kembali plastik makanan itu dan membuang bungkus biskuit dan botol minum itu.
Kami menuju rumah. Di langit yang mulai tercampur tinta hitam sang bulan.
"Akhirnya sampai!" Hatiku amat berbahagia bisa memeluk kasur ku kembali.
Setelah membantu Kak Ied membuat tempat 'tersembunyi' untuk dua koper nya agar aman- dengan bahan bekas tentunya- Aku berguling-guling dengan bahagia. Kak Ied masuk membawa sebuah benda ukuran nya sebesar kotak pensil yang persegi panjang berwarna abu-abu, ada dua tombol dan satu lubang kecil, penuh dengan 'mata-mata' berwarna putih dengan silver belakang nya, belakangnya ada semacam kotak-kotak hitam, dan bisa di gantung!
Benda apa ini? Aku baru pertama kali melihatnya! Mataku berbinar-binar dan celingak-celinguk memperhatikan tiap sudut benda itu, sampai Kak Ied mengambil dari tangan ku dan meminta ku agar mata ku terlalu dekat dengan alat itu. Lalu alat itu dinyalakan dengan tombol pertama.
"WOWW, KEREN!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut ku, benda itu menyala!
"Ini namanya lampu emergency. Sama kayak senter tuamu, ukurannya kecil biar bisa dibawa-bawa. Sedangkan yang kotak-kotak di belakang lampu itu namanya panel surya, fungsinya buat ngisi energi lampu dengan sinar matahari, tombol kedua fungsinya buat ngubah fungsi nya, jadi lampu tidur atau belajar." Kak Ied memencet lampu kedua yang membuat lampu menjadi lebih redup tapi lembut sedangkan yang kedua menjadi lebih cerah tapi tenang keorenan. " Sedangkan lubang kecil ini untuk mengisi energi nya dengan listrik." Kak Ied menunjukkan sebuah kabel yang di hubungkan dengan sebuah kotak kecil keras itu.
Aku hanya bisa terpukau dan mengangguk-anggukkan kepala seperti burung beo. "Jadi, ini yang namanya lampu... Keren dan indah sekali." Aku selalu tahu apa itu lampu, di kota penuh cahaya yang berasal dari 'lampu' dan mereka begitu jauh, tapi aku baru memahami dan melihat bentuk aslinya sekarang.
Kak Ied menatap lamat-lamat diriku yang tersihir dengan hal yang selalu dia anggap lumrah, yaitu lampu yang di anggap suatu keindahan olehku. Tangannya mengarah kearah kepala ku, namun terhenti di lamunan angin, yang dia tarik kembali. Dan hanya mengangguk kecil, menikmati cahaya sang penerang baru rumah kecil ini.
"Kakak. Apakah aku bisa memiliki lampu sendiri?" tanyaku tanpa melepaskan pandangan.
"Kamu pasti akan punya sendiri, Fira. Aku yakin."
Tanpa sadar aku menyandarkan kepala ku ke bahunya, dan tak menarik nya kembali dan Kak Ied juga tak mengusir kepala kecilku. Yang ada membenarkan posisi duduknya. "Terimakasih, kakak."
Langit malam cerah bintang-bintang di luar, bulan tak hadir, tapi tak masalah langit akan tetap menunjukkan gemerlap nya di balik rindunya.Suara kota tak lagi nyaring, tapi masih berdetak, tawa dan kebersamaan masih terdengar jelas. gemerisik alunan suara pohon terdengar samar-samar di tengah-tengah jalan menjadi hiasan, katak dan jangkrik memulai nyanyian merdu mereka.
"Fira, sekarang saatnya tidur." Aku mengangguk kecil, mengucek mata dan lompat ke tempat tidur ku.
Aku menatap untuk terakhir kalinya kearah lampu. "Selamat malam, lampu dan Kak Ied." Lalu terlelap.
(POV Ied)
Fira sudah tertidur, tapi rasanya aku menemukan sesuatu yang amat berharga hanya karena sebuah lampu.
Benda yang sudah sering aku lihat keberadaan nya, hanya menjadi angin lalu jika aku melewati cahayanya. Tapi, dimata Fira itu sebuah keajaiban. Keindahan, yang bahkan saat aku menunjukkan saja dia dengan semangat memperhatikan tiap sudut dan detail lampu emergency yang sudah tua itu.
Saat aku menjelaskan, dia mendengarkan ku dengan begitu serius seperti aku dosen yang menjelaskan ilmu terumit sedunia- yang bahkan mahasiswa zaman sekarang aja banyak yang main-main. Tanpa memotong satupun kalimat ku yang dari kulihat ada beberapa yang membuat nya bingung.
"Hah.. Sepertinya aku kurang bersyukur ya."
Aku tiduran diatas tas kerjaku yang sekarang tugas nya berubah menjadi bantalku. Menatap langit-langit rumah.
"Poppy." kata itu terputar lagi dalam benak ku.
"Kenapa bunga Poppy?"
"Karena cocok dengan mata kakak. Dan aura yang kurasakan dari kakak."
Aku tersenyum mengingat itu, unik sekali pilihan nya. Aku kira dia akan memilih bunga mawar atau terkenal merah lainnya yang lumrah. Tapi, yang dia pilih poppy untuk bunga kesukaanku.
"Bunga kesukaan pilihanmu aku terima, Fira." Bisikku lalu aku terjun terlelap juga kali ini dengan wajah tenang.
(POV Fira)
Aku dimana?
Aku menatap sekitar, sepi dan hampa. Kakiku melangkah menuntunku menyusuri tempat tak berujung itu, yang terdengar hanya suara langkahku yang menggema. Sampai aku berhenti di rumah ku, masih sama tak ada yang berubah.
"KAKAK! TOLONG JANGAN TINGGALKAN FIRA!" Aku langsung menoleh kearah suara teriakan penuh pilu itu. Dan aku membeku.
Itu aku, tapi versi dewasa yang sedang menggenggam erat tangan pria bermuka hitam berjas mahal di depannya sambil berlutut penuh deras air mata. "Apa yang terjadi?!"
Pria itu menepis tanganku dengan kuat sampai membuat ku terjatuh. "Kita tidak bisa bersama lagi, Fira." Hitam di wajah pria itu meluruh dan nampak bahwa itu wajah Kak Ied. Mata merah rubynya menatap jijik kepadaku.
"T-TAPI, KAKAK SUDAH BERJANJI AKAN BERSAMAKU SAMPAI AKHIR HAYAT KITA! " Kak Ied tertawa dan mengangkat daguku. "Kau masih berharap, janji itu nyata?" Dingin sekali nadanya tak seperti Kak Ied yang ku kenal, Apakah itu Kak Ied?
"Jadi... Kakak benar-benar akan meninggalkanku?"
"Iya."
"Setelah, begitu banyak kebersamaan kita?"
"Iya."
"Setelah luka dan ujian yang kita lewati?"
"Iya."
"Dan satu-satunya janji untuk menjadi kakak yang selalu menemaniku, kau buang...?"
"...Iya."
Aku menahan tangis yang bisa meledak kapan saja, melihat semua ini, apakah ini akan benar-benar terjadi di masa depan? Kenapa harus begini akhirnya? Kenapa kita tidak bersama?!" Sesak sekali rasanya menanggungnya. Tubuhku bergetar hebat bahkan terduduk sangking lemasnya.
"Baiklah kalau begitu. Berbahagialah dengan kesuksesan yang telah kau gapai kak, aku bangga sebagai adikmu. Kalau begitu selamat tinggal." Diriku melangkah pergi dengan hancur.
Sedangkan Kak Ied mematung.
"TIDAK!"