"Akhirnya, aku mandi setelah sekian lama!" Aku mengangkat tinju ku keatas tinggi-tinggi bahkan lompat-lompat kegirangan.
"Terakhir kamu mandi, memang kapan Dek?" kata kak Ied yang sedang mencari baju di lemari Abangnya kak Mira yang dibilang Ibu Mira nggak papa pinjem aja karena udah lama nggak kepake.
Sedangkan aku sedang menunggu Kak Mira yang mencari baju kecil untuk ku di lemarinya.
"Hmm.. Kayaknya terakhir kali aku mandi dua bulan yang lalu." Kak Ied langsung menoleh kearah dengan tatapan tajam percaya.
"Dasar, Adek bau." Aku langsung melotot, sedangkan Kak Ied tersenyum miring.
"Coba kak Ied ulangi, kalau berani!"
"Adek bau, Fira bau." Kak Ied sambil menutup hidung mengipas-ngipas udara, dan menghindari ku yang melompat kearahnya, hendak menggigit nya karena kesal!
Tanpa bisa dicegah lagi, aku dan kak Ied langsung berlarian, memutari kamar yang sempit ini jika harus menjadi arena balap dadakan! Berulang-kali aku jatuh, sedangkan Kak Ied dengan santai menghindari ku. Asemm!
Tiba-tiba sebuah ide terlintas dibenakku, dengan senyuman selebar pisang, aku menuju ke kasur dan mengambil bantal yang sudah tersusun rapih tanpa tahu apa-apa yang akan terjadi pada dirinya. Dan saat Kak Ied menoleh kearah ku, dengan sekuat tenaga aku melempar bantal itu ke wajahnya! Dan Kak Ied yang tidak sempat mengelak, terkenal tepat ke wajahnya tanpa ampun.
"Ohh... Jadi gitu aturan mainnya... Baiklah Adik ku~ Berarti kau siap untuk dibalas, bukan?" Bantal tadi sekarang di pegang erat, aura dingin dan siap bertempurnya terasa kuat! dan sekarang lompat-lompat kecil dengan mata merah ruby nya yang mengunci ku sebagai targetnya, senyumannya lebar terpasang.
"Mati guee!" teriakku dalam hati.
Keringat dingin bercucuran, sampai bibirku berkecumik seperti merampalkan mantra agar Kak Ied menghilang. Tanganku dengan cepat meraih bantal satu lagi untuk melindungi diri, dan selanjutnya Kak Ied memukulku, ku balas memukulnya. Yang membuat akhirnya kami perang bantal!
Pertarungan kami sangat sengit, tapi Kak Ied selalu awas ketika aku terlalu dekat dengan hal bahaya seperti tadi aku ditarik oleh kak Ied saat pinggangku hampir terentuk ujung meja belajar yang tajam, menghadang ku yang ujung kaki menabrak rak berisi buku atau menangkap ku yang hampir jatuh dari kasur karena aku lompat-lompat di kasur untuk menghindari Kak Ied. Walaupun perang bantal masih berlanjut sengit.
Aku sangat senang, dengan perang bantal ini!
Di dalam hati aku sangat senang dan tersentuh dengan perlindungan Kak Ied dalam diamnya, Kak Ied masih melindungi ku dengan serius walaupun sedang fokus bermain denganku, atau aku yang berlebihan saja? Karena tugas kakak kan melindungi Adiknya?
Tak tahu lah! Bagiku itu tetap membahagiakan karena aku di lindungi orang tersayang ku!
"Fira ini bajunya-" Kak Mira masuk tanpa mengetuk pintu, yang membuat dia terpatung melihat pemandangan kamar Abangnya hancur berantakan, dengan Aku yang sedang ada diatas kasur memukul kepala Kak Ied dan Kak Ied melindungi kepalanya dengan lengannya.
Tapi serempak menoleh saat Kak Mira masuk, aku hanya bisa nyengir dan kak Ied diam sambil membungkuk.
"A-pa ya-ng se-dang ka-li-an la-ku-kan?" Kak Mira mengeja kata bersama kerutan halus muncul di wajahnya.
"Perang bantal." jawab Kak Ied singkat, padat, dan jelas.
Yang membuatku melongo menatap Kakak ku satu ini, otaknya sepertinya memang dibuat untuk mengatakan to the point atau ringkas ya, tanpa harus memberikan penjelasan atau alasan seperti orang kebanyakan.
"Tujuannya?" tanya kak Mira menyerahkan kaus hitam gambar kucing simpel lengan panjang yang bermotif hitam dengan putih seperti zebra dengan celana panjang abu-abu polos kepadaku.
"Bertujuan. Kebahagiaan Adek, karena Fira bahagia saat bermain perang bantal. Tenang saja, saya yang bertanggung jawab yang merapihkan kasur." Kak Mira terdiam tangan yang sudah mengepal dan sudah siap untuk di layangkan ke kak Ied langsung hilang, dan sekarang menatap Kak Ied dengan respect.
"Yasudah, sekarang Fira mandi, nanti gantian sama Abang kau itu." Aku menggeleng.
"Aku mau membantu Kak Ied membereskan kasur."
"Tidak usah, kau mandi saja. Dengan kamu udah mandi saja sudah sangat membantuku." ujar kak Ied membenarkan ikatan rambutnya yang merosot.
"Membantu? Membantu apa?" Otak ku nggak nyambung.
"Membantu menghilangkan penyebab udara terkontaminasi bau." Aku langsung menimpuk tubuh kak Ied dengan bantal yang masih ditangan ku dengan muka masam.
Kak Mira keluar kamar seperti robot, kaku. Karena menahan tawa yang langsung meledak saat sudah masuk ke kamarnya lagi , aku bisa mendengarkannya jelas walaupun mulutnya seperti tersumpal sesuatu.
"Yaudah aku mandi! Liat aja akan ku balas perbuatan Kak Ied!" Langkahku ku buat terhentak-hentak karena kesal di kerjain mulu sama kak Ied!
"OYA, KAMAR MANDINYA YANG PINTU KAYU DI DAPUR ITU KAMU KELUAR FIRA SAMPE KAYAK ADA BANGUNAN KECIL YA!" sahut Kak Mira dari kamar kencang.
"YA KAK!" jawabku singkat.
Aku baru tau ternyata Kak Ied bisa menyebalkan ini, walaupun apa yang dia katakan nggak ada yang salah, justru fakta beneran, aku mengendus tubuhku yang membuat ku tutup hidung sendiri karena mual mencium bau badan ku!
Ternyata aku memang sebau itu! Tapi kenapa aku tak pernah merasakannya dari dulu ya? Mungkin karena aku sendiri bodo amat dengan diri sendiri.
"Waktunya mandi!~" Pintu kamar mandi langsung ku tutup dengan riang, saatnya menikmati 'kehidupan laut'! Dan selanjutnya yang terdengar hanya senandungku dengan suara air yang membasuhku.
(POV Ied)
Aku merapikan kasur dengan keadaan yang akhirnya senyap, tapi lengkungan kecil di bibir ku belum hilang bahkan sesekali tertawa karena mengigat ekspresi wajah Fira saat aku mengatainya bau. Sampai membuat kamar orang jadi kapal pecah karena perang bantal.
Aku tak ada maksud untuk menjahilinya, hanya mengatakan fakta, tapi ternyata tidak buruk juga. Dan perang bantal yang terjadi secara tidak sengaja karena aku refleks gemas dengan tingkah nya dan sekaligus membalas kelakuannya abnormalnya yang menerbangkan bantal ke wajahku.
Tidak sakit. Tapi cukup membuat ku terkejut.
Walaupun begitu aku tetap mempertahankan keselamatan Adik ku sendiri saat melihatnya dalam posisi berbahaya, dengan bayaran aku tertimpuk dengan nya bertubi-tubi.
Sampai Mira datang dengan wajah seperti setengah jiwanya keluar dari raganya karena melihat kamar -atau lebih tepatnya kasur Abang nya- seperti kapal pecah, debu-debu tipis terbang karena terpukul-pukul. Dan saat Mira bertanya apa yang terjadi dan apa tujuannya, aku hanya menjawab dengan kejujuran dengan rasa malu yang menyelip di hati ku karena aku terlihat kekanak-kanakan.
Tapi jujur aku merasa bahagia.
"Akhirnya selesai." gumamku meregangkan otot-otot yang kaku.
"Kak Ied!! aku sudah selesai mandii!" Fira datang dengan gaya ala-ala model fashion show, rambut panjang biru langitnya berantakan masih menyisakan air tapi sekarang dia sudah berkilau dan wangi tak ada lagi muka kusam berdebu, kulit kuning langsatnya tak menyisakan setitik pun kotoran, bajunya kebesaran di bagian lengan dan kaki yang membuatnya terlihat dimakan oleh pakaiannya sendiri.
"Cantik." cetus ku tulus yang membuat Adik ku yang berputar bergaya terdiam dengan pipi yang memerah.
"Te-terima kasih... Kak Ied." kata Fira menutup mukanya. Terkesima.
"Baiklah, sekarang giliranku yang mandi, jangan lupa untuk menyisir rambut." Aku beranjak pergi sambil mengambil pakaian yang ku ambil tadi, kaus hitam dengan celana panjang mocha, lalu menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuh ku yang sudah sangat lengket dan sama baunya dengan adik ku- aku ngaca ya kalau aku juga bau- sampo ku tuang dan ku ratakan dengan tenang begitu pun sabun, setelah semua selesai aku bilas semuanya, mengeringkan dengan handuk yang tadi di berikan Paman Wil yang sedang ngopi pagi sambil membaca koran. Mengenakan pakaian lalu keluar dengan hati tenang. Karena salah satu permasalahan terselesaikan.
"Kenapa kamu belum sisiran, dek?" tanyaku yang masih mengerikan rambut panjangku melihat Fira yang sekarang asik melihat keluar jendela yang berada samping kasur. Fira terkejut saat mendengar suaraku.
"Hehehe, keasikan melihat bunga-bunga yang lagi di siram ibunya kak Mira, kak!" Fira menunjuk-nunjuk dengan ujung bibirnya.
Yang membuat naik ke kasur dan ikut melihat, yang ternyata memang benar ibu Mira sedang menyiram bunga-bunga dengan selang yang terhubung panjang dengan keran, bau tanah tercium jelas dan rasa segar dan tenang entah kenapa merasuki hatiku. Hanya dengan melihatnya.
Beberapa saat aku ikut menyaksikan aktivitas kecil menenangkan itu bersama Fira, sampai Ibu Mira notice kehadiran kami dan menyapa kami, sebelum akhirnya aku mengambil sisir rambut di meja belajar abangnya Mira- yang sudah aku pastikan kebersihannya- lalu mulai menyisir rambut panjang Fira perlahan. Yang membuat menegang sebentar sebelum akhirnya menikmati sisiran ku. Sambil menatap bunga-bunga itu.
Tak ada suara diantara kami, hanya ada kehangatan.
"Terimakasih kak." bisik Fira dengan senyuman hangat saat aku selesai menyisirnya. "Sekarang. Giliranku, yang menyisir rambut Kakak."
"Tidak usah." Tanganku sudah mulai menyisir, tapi langsung ditahan oleh Adikku. Yang menatap penuh harap.
Hembusan nafas pelan keluar, lalu aku mengaguk yang membuat Adikku itu mengambil sisir yang ada di tanganku, dan meminta ku untuk menatap bunga saja, dan berjanji untuk hati-hati saat menyisir rambutku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
Lalu Fira mulai menyisir rambutku pelan, tenang dan penuh kasih. Seperti sosok orang yang sudah lama hilang dari diriku, yang sosoknya pergi saat aku menempuh perjalanan kuliah. Ibu panti ku, bukan. Ibuku.
Aku menikmati sisiran nya, yang membuat ku larut terbuai, nyaman sekali. Aku ingin berlama-lama disisir olehnya walaupun hanya mimpi.
"Kak Ied sudah selesai." Fira menepuk pundak ku pelan, menyadarkan ku.
"Fira... B-bolehkah aku..." kata-kata keluar berhamburan tak jelas dari mulutku karena otak dan hatiku tak sinkron. Ada sesuatu yang kuinginkan dari Fira, tapi otak ku tak merestuinya sedangkan hatiku ingin aku mengungkapkan keinginan ku. "I-ingin.."
"Hmm.. Pelan-pelan saja kak, tidak usah terburu-buru. Aku akan mendengarkannya." Fira menggenggam tanganku hangat, yang membuatku menjadi lebih tenang.
"Bolehkah, aku meminta pelukan darimu...?" Aku langsung memalingkan wajah sangking merah nya mukaku karena malu dan merinding sendiri apa yang keluar dari mulutku.
"Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa kamu mengatakannya Ied?! Otak kau udah ilang? Atau kamu makin sengklek?" Debat hebat terjadi dalam diriku. Otak mencibirku bukan main.
"Lebih baik dia mengakuinya otak! Daripada menyesak seumur hidup." bela hatiku kepada otak.
"Mending nanggung nyesek seumur hidup daripada jadi aib, dan membuat Fira menjadi jijik padaku hati!" kilah otak menunjuk-nunjuk hati dengan mata merah.
Hati terdiam. Tak dapat melawan.
Tapi dalam kejapan mata saat aku masih penuh, Fira memeluk tubuh besarku dengan senyuman lebar. Yang membuat ku terkejut bukan main tapi aku langsung membalas pelukannya dengan erat.
Hahh... Aku sangat, senang.
Sudah tak ingat kapan aku yang meraup meminta kehangatan ini , dan sekarang aku memintanya lagi.
Aku jadi ingat lagi.
Bagaimana rasanya kehangatan.