(POV Fira)
Aku tak pernah menyangka akan mendengarkan permintaan Kak Ied yang satu ini. Pelukan! Mengigat selama ini aku yang selalu memeluknya duluan atau reflek Kak Ied saat aku terluka atau sedih, bukan permintaan langsung seperti ini!
Dan aku bisa melihat Kak Ied yang penuh perjuangan hanya mengatakan hal yang menurutku itu kecil. Tapi bagi Kak Ied sepertinya itu hal yang sangat besar.
Pelukan ini rasanya sungguh berbeda dari semua pelukan yang pernah ku berikan, rasanya seperti hangat, penuh kenangan, dan damai. Aku suka pelukan ini! Aku sambil memperhatikan ekspresi kak Ied dan aku lihat wajahnya seperti anak kecil yang kembali ke seseorang yang dia rindukan.
Kak Ied tersenyum lebar, matanya terpejam tenang, hembuskan nafas teratur dan kepalanya kini bersandar di dadaku, Kak Ied lucu sekali! Kami lama sekali berpelukan seperti ini tapi aku tak masalah selama kakak ku bahagia aku pun ikut bahagia!
"Terimakasih, dek. Kak Ied akhirnya mengenal perasaan yang selama ini hilang..." Pelukan kami mengendur, tapi kak Ied masih bertahan dengan posisi berasar di dadaku.
Aku memeluk kepala Kak Ied dan mencium pelan ubun-ubun kepala kakak ku ini. "Apa yang hilang, kak?" tanyaku yang masih belum mengerti.
Sebelum akhirnya Kak Ied menikmati pelukan ku sebentar sebelum akhirnya bangkit dan duduk bersandar ke jendela, menatap tanaman yang berayun pelan terhembus angin. Ibu Mira sudah masuk ke dalam rumah.
"Kasih sayang. Itu yang hilang." Kakak Ied menyandarkan dagunya ke tangannya.
"Kasih sayang...?" Mataku ikut menatap ke luar jendela, sambil melirik sekilas ke Kak Ied.
"Ya, kasih sayang atau cinta seseorang kepada kita tanpa syarat." kata kak Ied yang membuat ku lagi-lagi terdiam, karena baru mengerti maknanya.
"Jadi pelukan, perhatian, dan bantuan yang selalu aku berikan kepada kak Ied itu... Kasih sayang?" tanya ku memastikan dan kini aku mendekati kak Ied dan menyandarkan tubuh kecil ku ke badannya. Yang langsung memperbaiki posisi duduknya agar aku lebih nyaman.
"Ya, itu benar."
"Lalu apa bedanya dengan cinta?"
"Cinta itu inti dari segala perasaan yang membahagiakan atau sayang, sedangkan kasih sayang itu percabangan yang lahir dari cinta." jelas kak Ied dengan ciri khasnya singkat, padat, dan dapat di mengerti.
"Jadi cinta itu seperti ibunya sedangkan kasih sayang itu anaknya." Kak Ied menggaguk. Aku tersenyum lebar.
Lalu kami hanya menatap kebun itu lagi dalam diam, merasakan tiap hembusan nafas dan nyanyian burung dari kejauhan. Aku merapatkan diri dan kak Ied selalu menerimanya.
"Kau ingin kembali ke rumah kita sekarang, dek? tanya Kak Ied membuka percakapan setelah beberapa menit kami berdiam diri.
Aku mengaguk. "Aku sudah rindu dengan rumah kardus ku kak! Ya... Walaupun aku juga suka dengan rumah ku yang ini..." Aku menatap Kak Ied dengan senyuman tipis tapi mataku bimbang antara senang dan sedih.
"Kita bisa kesini kapan saja Fira, sebanyak yang kamu mau. Karena ini rumahmu juga, kau ingat?" Kak Ied membelai lembut rambut ku.
Aku berbinar-binar. "Beneran?!"
"Beneran."
"Janji?"
"Janji" Kak Ied menerima kelingking ku. Yang membuat ku lompat-lompat kecil di atas kasur yang membuat kak Ied tertawa kecil.
"Akhirnya kalian keluar kamar, kami nungguin kalian tau!" Paman Wil menurunkan korannya saat kami datang ke ruang tengah.
Kak Mira dan Ibunya sedang asik ngobrol sambil nyemil, langsung menoleh kearah kami, dan melambaikan tangan ke aku. Meminta ku ikut yang langsung aku iyakan dengan lari-lari kecil dan duduk bersama mereka. Sedangkan Kak Ied mengobrol dengan Paman Wil.
Suasananya sangat menyenangkan! Aku mengobrol banyak dengan Kakak Mira dan Ibunya membahas apa saja yang terlintas seperti di meja makan tadi pagi! Kadang membuat tawa terpingkal-pingkal kadang membuat ku sedih hampir meneteskan air mata.
"Nah, jadi setelah aku ngeberesin dapur, Tuan Edwan datang tanpa suara. Niatnya jelas, mau ngerjain aku kayak karyawan yang lain, tapi..." Aku mendengarkan Kak Mira bercerita dengan serius, tak ingin ketinggalan atau luput satu kata dari cerita ini! -karena cerita bos jail kesayangan kita!- Lumayan buat tambahan koleksi entah cerita biasa atau sesuatu yang secret!
" Tuan Edwan mengejutkan aku, dan tentu aku kaget dong orang lagi mode serius manapun pasti kaget kalau di kagetin, tapi di tangan ku pas-pasan masih ada kain lap kotor di tangan ku. Yang membuat saat aku kaget aku refleks ngelempar kain lap itu ke wajah Tuan Edwan.
Tuan Edwan yang masih asik mentertawakan ekspresi wajah kaget ku langsung terdiam dengan mata membesar saat kain lap itu mengenai tepat wajahnya!" Ledakan tawa langsung memenuhi ruangan m, yang membuat Paman Wil dan Kak Ied yang lagi ngobrol sambil ngopi santai langsung menolehkan kepala sangking terkejutnya. Bahkan tubuh mereka tersentak sebentar.
Perut ku sampai sakit sangking lawaknya bagiku, sedangkan Ibu Mira dan Kak Mira tawanya sudah reda. Dan sekarang menenangkan diri.
"Kalian ini, tiap lengah dikit bikin jantungan! " seru Paman Wil saat akhirnya tawa kami reda dan sudah duduk dengan posisi anggun lagi.
"Ini yang namanya menikmati kisah, sayang." kata ibu Mira terkekeh kecil sambil merapihkan rambut panjang coklat tuanya, air mata sedikit mencuat dari mata ungu tuanya.
"Iya, Yah! Seharusnya Ayah dan Ied join kesini ikut ketawa bukan cosplay jadi bapak-bapak komplek." Tawa ku keluar lagi sampai memukul-mukul lantai.
Apa tadi? Paman Wil dan Kak Ied di bilangin mirip bapak-bapak komplek?! Tuhan ini keajaiban ketujuh bisa mendengar hal ini akuu!
Sedangkan Paman Wil melototi putrinya sedangkan Kak Ied menyeruput kopi santai dan mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Kita ini lagi membicarakan hal yang lebih top secret ya! Nggak kayak kalian ngebahas sesuatu yang ketawa bikin orang jantung. Sungguh tidak ramah jantung." balas Paman Wil, yang di kacangin kami yang lanjut ngebahas yang lain, sekarang ngebahas kebun bunga depan rumah.
Yang membuat Paman Wil geram sendiri, tapi akhirnya tertawa pelan sebelum lanjut mengobrol dengan Kak Ied.
... Yang entah kenapa kali ini aku yakin mereka berdua benar-benar membicarakan top secret itu, dari ekspresi kak Ied yang tidak sengaja tertangkap mata ku, aku bisa melihat tubuhnya menegang, matanya jauh lebih serius dari sebelumnya, bahkan kopi hitam yang hendak dia seruput tertunda bahkan di letakan kembali.
Paman Wil juga bercerita dengan suara lebih kecil, bahkan seperti ada penekanan di beberapa kata-kata, dan matanya ikut serius setiap kak Ied membalas perkataan atau bertanya Paman Wil. Yang membuat hati kecilku curiga dan ingin kepo.
Tapi tak bisa, karena rasanya seperti ada tabir tak terlihat yang menghalangi ku untuk mendekat, kaki ku juga ogah di ajak berjalan kearah mereka. Yang membuat ku hanya bisa menghembuskan nafas kecewa dan kembali ngobrol bersama dengan Kak Mira dan Ibunya, walaupun tidak sebersemangat itu...
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Yang sebegitunya penting, sampai tubuh ku ogah untuk mendekatinya?"
"Apakah sesuatu yang berbahaya?"
"Atau sesuatu yang aku sendiri saja aku tak tahu.. "
Otakku memikirkan begitu banyak kemungkinan, walaupun belum tentu juga itu terjadi atau ada. Otakku begitu penuh!
"Kamu baik-baik aja, Fir?" tanya Kak Mira yang melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku yang membuat ku tersadar dari lamunanku.
"I-iya aku baik-baik saja kak!" kataku berusaha ceria agar Kak Mira tak khawatir.
"Bohong." Satu kata dari Ibu Mira rasanya sudah menusuk pertahanan terdalam tubuhku.
Hanya satu kata.
Ibu Mira meneguk air hangat, sebelum menatapku lurus-lurus. "Apa pun yang kau pikirkan sekarang Fira, kau buang jauh-jauh ya. Karena belum tentu apa yang kita pikirkan itu sesuai, daripada nanti kamu hanya terluka dengan pikiran mu yang semakin liar." Ibu Mira mendekati ku lalu menepuk kepalaku pelan dengan senyuman hangatnya.
Yang membuat hatiku tenang kembali. "Baik Ibu Mira!"
"Oya Ibu Mira, Paman Wil dan Kak Mira. Aku pamit pulang ke rumah kami ya." kataku saat melihat Paman Wil dan Kak Ied kembali biasanya.
"Ehh, secepat ini? Kamu yakin nak, nggak mau lebih lama lagi?" Aku menggeleng.
"Terimakasih tawarannya Ibu Mira, tapi saya sudah rindu dengan rumah saya."
Ibu Mira menggaguk kecil, dengan senyumannya, tapi tangan nya menggenggam erat tanganku.
"Kenapa nggak sekalian tinggal disini aja? Tidurnya pakai kamar Abangku." tanya kak Mira usil.
Aku tetap menggeleng. " Aku bersyukur dan sangat senang bisa merasakan kamar dan kasur yang layak, tapi bagaimanapun juga itu milik orang lain yang tak boleh di berikan ke orang lain." jawabku pelan.
Yang membuat Kak Mira terdiam dan meremas celana panjang hijau mintnya.
"Tapi, apakah kau masih mau kembali ke rumah mu ini. Fira?" Giliran Paman Wil yang bertanya.
Aku tersenyum menatap Kak Ied sebentar yang dibalas anggukan oleh Kak Ied.
"Iya Paman Wil, aku dan Kak Ied akan selalu kembali ke rumah ini, kapanpun walaupun jarang. Namanya juga rumah pasti tempat kita kembali. Seperti kata Paman Wil!" Paman Wil mengaguk kecil senyuman tipis andalannya muncul kembali.
"Berarti ini bukan perpisahan. Jadi aku tak akan bilang selamat tinggal, tapi sampai jumpa kembali." kata Paman Wil ringan sambil mengelus ujung topi koboinya.
Aku dan Kak Ied mengaguk bersamaan.
"Kalau begitu biarkan kami mengantar kalian sampai depan rumah." Lalu langkah mantap menuju keluar rumah menghias langit-langit rumah.
Sesampainya di luar rumah aku melambaikan tangan ke keluarga tak sedarah ku itu, yang dibalas oleh mereka. Kak Ied juga ikut melambaikan tangan dan senyuman kecil. Bunga-bunga di kebun juga ikut melambaikan, ikut menghantar kepergian kami.
"BAJU ITU UNTUK KAMU DAN IED YA, FIRA! AWAS AJA KALAU DI KEMBALIKAN AKU GIGIT KALIAN." kata Kak Mira saat aku dan Kak Ied melangkah pergi.
Aku tertawa. "SIAP KAK!"
"DAN KALAU KALIAN INGIN MAKAN DAN MANDI, PINTU RUMAH INI SELALU TERBUKA LEBAR UNTUK KALIAN BERDUA YA, NAK!" tambah Ibu Mira
Yang ke balas anggukan bersama Kak Ied.
Tanganku ku ulurkan ke kakak ku yang langsung di terima, yang membuat kami bergandengan selama perjalanan kembali.
Rumah ini menjadi saksi bisu bahwa ini bukan perpisahan tetapi, hanya menunggu kedatangan di waktu selanjutnya.
Kembali ke rumah mereka.
"Bersama?" tanyaku.
"Bersama." jawab Kak Ied.
Yang membuat hatiku hangat dan mempererat gandengan tangan itu.