Kami berjalan riang sambil membahas apa saja yang kami lewati, atau terlintas di pikiran, yang membuat percakapan kami penuh anomali, tapi kak Ied tetap meladeni 1001 keanomalian ku! Emang the best my brother!
"Jadi setelah itu-" Aku terhenti berbicara melihat ada saat membuka pintu rumah, ada sepucuk surat yang nyelip. Kami sudah sampai di depan rumah kami tercinta.
Masih bagus, beramplop coklat tua dan di pojokan nya bertuliskan -K tak ada tulisan penerimanya siapa.
Ya, hanya itu saja tak ada yang lain saat aku memutar mutar amplop nya.
"Kak Ied ini surat untuk kakak kah?" tanyaku setelah kak Ied masuk setelah mengecek koper-koper nya kondisi nya aman atau tidak.
Kak Ied langsung menegang saat melihat amplop coklat di tangan ku, tangan nya bergetar saat mengambilnya dari tanganku.
"Nggak -ngak mungkin, ibu udah meninggal" gumam kak Ied yang nyaris tak terdengar jika saja aku tak mendekat kan telinga ku kepada nya.
"Hah maksudnya apa?" Otak ku lagi-lagi lemot nggak bisa diajak kerjasama ya?!
"Harus nya adek ku nggak boleh sampai tau mengenai ini..." ucap lirih Kak Ied. Meremas celananya sambil sesekali memutar-mutar surat di tangannya, seperti memastikan apakah amplop itu nyata di genggamannya.
"Itu memang apa kak? Tolong kasih tau aku." Aku menggenggam tangan kak Ied dengan mata bertanya-tanya.
Serius, aku merasa rahasia hidup dan masa lalu kak Ied jauh lebih banyak dariku, kayak kalian lengah dikit pasti ada aja gitu. Pasti para pembaca juga mikir gitu kan?
"Bukan apa-apa." Bibirku langsung maju cemberut dan sedikit kesal
"Untuk sekarang belum ada yang bisa ku jelaskan Fira, karena aku sendiri aja bingung mendapatkan surat yang tak seharusnya ini" Kak Ied bersandar ke dinding rumah sambil memijat dahinya. Mata merahnya menatap lekat-lekat kearah amplop coklat itu.
"Setelah nanti aku sudah paham apa yang terjadi, aku akan menjelaskan semuanya ke kamu, adik ku. jadi tenang saja." Kak Ied memegang kedua bahu ku. Meyakinkan ku.
Aku mengaguk. "Yaudah kalau begitu kakak baca dulu surat nya, aku nggak akan kepo kok." Aku langsung memutar badan memunggungi kak Ied dan memberikan jempol.
"Terimakasih." Lalu aku mendengar suara amplop di sobek dan suara kertas diambil dari amplop nya, dari suaranya hanya ada satu kertas surat, tak lebih.
Tak ada suara di antara kami, Kak Ied sepertinya sangat fokus membaca dan memahami surat nya, sedangkan aku sedang bersenandung kecil di dalam hati agar tidak menganggu fokus kak Ied. Sambil menatap pemandangan g**g di luar lewat celah-celah kecil kardus.
Suara selokan terdengar deras di depan rumah kami, bau sampah dan selokan jadi tercium pekat di hidung ku, suara tawuran antar pelajar seperti terdengar samar-samar dari luar g**g, lebih tepatnya di kota dari arah kanan. Karena teriakan anak laki-laki pubernya terdengar ciri khas sekali, cempreng tapi berat, dan cacian makinya terdengar menggema ke g**g kumuh ini.
Hahh .. Tawuran adalah hal yang paling menyebalkan yang ku tahu, karena selalu merugikan semua pihak, kenapa sih nggak bisa anteng-anteng aja sebagai pelajar?
Aku bahkan pernah jadi sasaran g0l0k saat nggak sengaja ngumpulin sampah di area yang dekat dengan area terjadinya tawuran, yang dikira anak-anak SMP atau SMA itu aku mata-mata dari pihak musuh mereka. Aneh, tapi itu fakta yang terjadi padaku. untungnya sampai pulang aku aman, walaupun sempet ada adegan mereka membongkar karung isi botol plastik itu karena tak mempercayai ku.
Botol-botol jatuh berserakan di jalanan yang membuat tangan ku mengepal erat karena kesal, enak banget ngeberantakin sampah yang udah susah-susah aku kumpulkan. Apalagi setelah mastiin aku bukan musuh mereka ninggalin gitu aja tanpa ngeberesin lagi, kata maaf pun tak terucap, segitu sulitnya kah cuman ngomong maaf?!
Brengsek!
Akhirnya aku membereskan ulang botol plastik bekas ku dengan bersungut-sungut dengan mulut yang komat-kamit tanpa arah.
"Bro gimana persiapan mu, oke kan?" Di depan rumah terhenti beberapa anak SMP -sekitar 8 orangan- yang aku kira-kira kelas 9 melihat dari salah satunya menggunakan seragam sekolah di samping anak berkaus hitam bermotif tengkorak yang paling tinggi di antara mereka dan aura 'berkuasa' di sekolah nya terasa pekat.
Anak berkaus biru yang dipanggil 'bro' itu menggeleng. "Kacau bro, musuh tau dimana tempat aku nyembunyiin alat tajam yang menjadi perlengkapan perang ku, di ambil tanpa ampun sampai rata..."
"Anj!r memangnya kamu sembunyikan dimana, kenapa nggak kamu taruh di rumah lu aja!" sahut salah satu temannya yang lain dengan nada tinggi.
"Nggak bisa gitu bro kalo aku nyimpen dalam rumah bisa kena nyokap Ama bokap gua, bisa-bisa kena hukum kayak anak jaman dulu. Tau sendiri orang tua gue gimana." Tawa memenuhi mereka sebentar, sebelum 'bro' itu melanjutkan keluh-kesahnya. Membenarkan posisi kacamatanya yang melorot.
"Biasalah orang tua kolot yang nggak ngerti zaman sekarang yang dimana kita harus nya nggak boleh di hukum. Dan untuk tempat persembunyian nya aku taruh di sebuah box bawah pohon rambutan di belakang rumah ku itu loh." Berkaca pinggang dan memutar mata saat menyebutkan kata orang tua nya.
Yang membuat darahku mendidih, gamblang banget ya ngejelekin orang tuanya! bersyukur dikit gitu kek! Lu juga punya s*****a s*****a gituan juga hasil uang jajan ngemis ngemis tantrum ke orang tua, gue yang yatim piatu pingin punya orang tua bodoh! Otak mereka kemana sih?!
Orang tuanya aku respect sih. Walaupun terdengar kejam, ngasih hukuman fisik kayak zaman dulu, tapi tujuan nya baik agar anak nya sadar dan jera kalau apa yang dia lakuin itu salah dan mau berubah, ehh, tapi ini anaknya bukannya tobat malah makin menggila keluyuran dan ikut ikutan temen-temen sengklek nya buat tawuran.
Fix otaknya nggak ke pake dan nggak bisa di tolongin lagi mereka, sebelum ngerasain sendiri akibat tawuran.
Nangis-nangis histeris menyesal karena tangan kaki hilang, sahabat tinggal nama, orang tua dan keluarga terpukul dan sekolah ngasih surat cinta buat mereka. Ya mau gimana penyesalan datang di akhir kalo di awal namanya pendaftaran. Wkwkwkwk.
Ekhmm! maaf garing ya. sudah lupakan saja. Selera penulis sukanya jokes bapak-bapak. Tapi bagi yang ketawa penulis ucapkan terima kasih. Dah yuk lanjut ceritanya.
"Penulis agak lain lah." ejekku sambil menyelidik, tangan ku kulipat di d**a, dan masang muka nyebelin. Memancing perkara.
"Lanjutin ceritanya, atau novel ini aku PHP in, nunggak, dan buat hubungan mu ama Ied kelar-"
" Oke-oke penulis ayo lanjutkan." Aku langsung lari kembali kedalam kertas digital ini untuk melanjutkan kisah.
Jangan sampai aku dan Kak Ied berakhir tragis!
"Bro ini mungkin terdengar aneh " Semua kepala langsung menoleh kearah temannya yang satu-satunya pake seragam sekolah. "Sebenarnya alasan kita tawuran apa sih?"
"Kata-kata nya baku sekali dek. Di tambah ada sedikit logat lembut dan ada spasinya gitu~ Kayak bukan orang Indonesia aja." pujiku dalam hati memperhatikan pemuda berkulit putih berambut pendek hitam dan bermata abu-abu itu. Tingginya sekitar 187 cm.
Semua mata langsung menajam walaupun dari mulut mereka mereka juga kayak bingung sendiri kek orang ling-lung.
"Buat mempertahankan harga diri kita Lah! Enak banget mereka ngejek-ngejek kita di belakang sekolah keramat itu!" kata salah satu temannya yang berkaus merah dengan mengacungkan c!lurit keatas tinggi tinggi.
Tapi berseragam menggeleng tak puas dengan jawaban nya.
"Biar kita terlihat keren lah! Biar sekolah lain tunduk kepada kita, dan nggak macam-macam dengan kita." Laki laki berbaju coklat menepuk-nepuk dadanya bangga.
Seragam tetap menggeleng. dan menatap mata ketujuh temannya yang ikut. "kayaknya... Ini cuma karena ego kita." simpulnya singkat padat jelas yang pasti sangat monohok karena menusuk hati temen-temen berseragam.
Mata teman-temannya semakin menajam, meminta penjelasan apa yang utarakan tadi, nafas mereka berat. Dan masing-masing orang sudah mengacungkan s*****a kearah si seragam.
"Coba kalian pikir sendiri, andai aja bukan ego kita mungkin sekarang di rumah belajar, melakukan hobi kita yang bermanfaat, ningkatin atau nambah skill yang berguna buat kita di masa depan, pasti nggak ada pikiran buat tawuran yang tak berguna ini, namun apa?" Si seragam menarik nafas.
Kita malah dendam cuman karena di jelekin orang yang kurang kerjaan, yang belum tentu mereka juga bener. Kita sekarang kayak bocah belum di ajarin ngatur amarah trus sok-sokan mau villain, yang nyerang bunuh dan nyumpahi mereka mati, bukankah itu tho|ol ?
Sebenarnya kalau mau balas ejekan mereka mudah banget malah lebih mudah daripada tawuran.
Ada 2 pertama diemin dan jangan ladenin itu yang membuat mereka capek dan malu sendiri dan kedua buat nama sekolah kita makin harum, buat diri kita pantas dan ikut lomba dan menang sebanyak mungkin setidaknya satu orang satu kemenangan entah itu umum harapan atau sudah berusaha, itu bikin mereka habis topik sendiri dan bisikan nya jadi lebih di belakang.
Orang yang ngejelekin itu cuman orang iri atau caper aja. Coba aja mereka nggak gitu pasti mereka juga sibuk nyari lomba sana sini."
Tutup si berseragam yang membuatku memperhatikan aja tepuk tangan pelan agar mereka tak mendengar, pidatonya sungguh bagus sekali udah kelas profesional! Aku setuju dengan dia.
"Au ah! teman-teman udah lah kita tinggalin aja si pecundang ini, kayak ustadz aja ceramah-ceramahin kita, dah yuk cabut." Si badan nya paling besar menurunkan s*****a diikuti yang lain, lalu menyenggol lengan si seragam dengan kasar, begitu juga yang lain bahkan ada yang sampai mendorong nya hingga jatuh dan terluka.
Yang membuatku langsung keluar rumah dan mendekati laki-laki itu.
"Kamu nggak papa?" tanyaku sambil membantunya berdiri.
Si seragam itu mengaguk sopan. " Iya kak, ini hal kecil di giniin mah." katanya sambil menutupi lengan kanannya yang terluka.
Aku yang sudah melihat nya tak tinggal diam, langsung menarik nya duduk di depan rumah ku. "Kamu tunggu sini dulu ya, aku ambil perban dan betadine di dalam." kataku cepat sebelum laki-laki itu berkata.
Untung pas luka karena preman pasar itu, aku jadi punya stock obat-obatan dari ibu Mira. aku menyiapkan nya yang membuat kak Ied yang fokus melihat surat itu menurunkan surat nya.
"Ngapain kamu dek?" Eh buset sangking fokusnya, suara keras samping aja kak Ied nggak denger! apalagi sampingnya persis apa masih di kacangin? Mungkin.
"Ini buat ngobatin anak SMP yang di depan rumah kita karena ada tawuran."
Kak Ied mengaguk dan beranjak pergi. "Aku mau pergi dulu ya. Memastikan sesuatu, mungkin pulangnya sore." Aku mengaguk.
"Hati-hati di jalan, Kak." kak Ied mengelus kepalaku lalu keluar.
"K-KAKK IEDD" teriak si seragam saat melihat kak Ied keluar.
Yang membuat ku terkejut dan langsung buru-buru keluar membawa obat-obatan itu.
Dan disitu aku melihat mereka saling tatap-tatapan kak Ied gerahamnya bergelutuk, sedangkan si seragam menatap tak percaya dan senang secara berbeda dan misterius.
"Assate..." hardik pelan kak Ied, membelah ketegangan.
Yang membuat si seragam mengaguk cepat.
" Ya, itu saya kak. Ied Tushar. Eh, bukan" Si seragam menggeleng pelan.
"Koori-aniki."
Aku terpengah dengan melihat semua ini! Tuhan apa lagi yang akan muncul di hidupku!!