Malam ini, Celin dan juga Mana sama-sama melakukan kesalahan dan mengkhianati pasangan masing-masing. Karena keduanya mengulang lagi kejadian beberapa tahun silam, dimana keduanya saling membutuhkan satu sama lain, meskipun yang di lakukan keduanya saat ini dalam kondisi yang berbeda.
Dimana Celin melakukan, hanya demi sang suami yang membutuhkan uang cukup banyak untuk pengobatannya.
Setelah keduanya melakukan hubungan panas diatas ranjang sebuah kamar hotel lebih dari satu jam. Celin segera menutupi tubuh polosnya dengan selimut, ketika Mana sudah turun dari atas ranjang dan langsung mengenakan pakaiannya tanpa ingin membersihkan diri.
Sesal yang sekarang Celin rasakan setelah melakukan aktifitas panas dengan Mana, karena ia sudah mengkhianati sang suami yang sedang tergeletak lemah diatas ranjang rumah sakit.
Bulir air mata tiba-tiba jatuh membasahi kedua pipinya, tapi langsung Celin hapus sebelum Mana melihatnya.
"Terima kasih," ucap Mana setelah mengenakan pakaiannya.
Tentu saja tidak mendapat tanggapan dari Celin yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
Kemudian Celin menatap pada Mana, setelah ia melempar tiga gepok uang pecahan seratus ribu tepat dihadapannya.
"Itu semua untuk kamu," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Mana sebelum meninggalkan Celin.
Celin menatap kepergian Mana, dengan penyesalan yang begitu dalam. Karena ia bukan hanya mengkhianati sang suami, tapi juga menyakiti hati wanita lain, yaitu istri dari Mana.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Celin, dan tatapannya kini tertuju pada tiga gepok uang yang tadi di lempar oleh Mana. Yang ia yakini uang tersebut lebih dari dua puluh juta.
Dan benar saja, setelah mengambil uang tersebut dan menghitungnya, Celin mendapati jumlah uang tersebut sebesar tiga puluh juta. Dan jumlah uang yang sekarang berapa di tangannya lebih dari cukup untuk membayar biaya rumah sakit sang suami.
"Mas, aku pulang," kata Celin, memutuskan untuk cepat pulang ke kampung halamannya, karena uang yang ia dapatkan lebih dari cukup, dan ia tidak ingin lagi mengkhianati sang suami bermalam dengan pria lain lagi, cukup dengan Mana saja.
***
Sementara itu, setelah menikmati tubuh Celin. Mana bergegas pulang menuju rumah yang cukup megah. Meskipun rumah tersebut bukanlah rumahnya, melainkan rumah sang istri, yang enggan tinggal di rumah Mana, karena rumahnya tidak terlalu megah dibanding rumah sang istri, yang seperti istana.
Tentu saja Mana mengingat apa yang baru saja terjadi antara ia dan juga Celin mantan partnernya dulu.
Sesal? Tentu saja Mana tidak menyesali apa yang sudah ia lakukan.
Dan rasanya ia ingin menghabiskan waktu dengan Celin lebih lama, meskipun Mana sangat yakin jika Celin melayaninya dengan terpaksa, tidak seperti dulu saat keduanya masih tinggal disatu atap yang sama.
Mana pun bergegas masuk ke dalam rumah, tentu saja karena jam sudah menunjukkan satu dini hari, kemudian ia langsung menuju kamar yang sudah lebih dari dua tahun ia tinggali.
Dan tatapan pertama ketika masuk ke dalam kamar yang luasnya melebihi lapangan tenis. Tatapan Mana tertuju pada sang istri yang masih terjaga dan duduk diatas kasur sambil menyandarkan punggungnya disandaran tempat tidur.
"Baru pulang?" tanya Laura Mizi istri dari Mana yang ia nikahi dua tahun silam.
Dan Mana hanya menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju arah kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.
Namun, Mana segera menghentikan langkah kakinya ketika sang istri memanggilnya.
"Pak Simon memberi tahu aku, jika kamu pulang dari kantor sudah dari jam lima sore. Kenapa jam segini baru tiba di rumah?"
Mana tidak langsung menjawab pertanyaan dari sang istri. Yang ada ia kini membalik tubuhnya untuk menatap pada Laura, sapaan dari Laura Mizi, tak lupa menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
"Sejak kapan kamu peduli padaku, hah?!" pertanyaan dari Mana tanpa menjawab pertanyaan yang sang istri lontarkan.
Karena memang, meskipun Mana dan juga Laura sudah lebih dari dua tahun menjadi pasangan suami istri. Tapi keduanya tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya, mungkin karena keduanya menikah bukan karena saling mencintai.
Melainkan karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua Laura, yang menginginkan sang putri menikah dengan Mana, meskipun Mana bukanlah dari keluarga kaya raya seperti keluarga Laura.
Tapi kedua orang tua Laura menginginkan Mana menjadi menantunya. Karena bagi keduanya, Mana sudah berjasa bagi keluarganya.
"Aku selalu peduli padamu, kamu saja yang selalu menganggap aku tidak peduli padamu," sahut Laura dan kini turun dari atas kasur dan berjalan mendekati dimana Mana berada. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,"
"Nanti saja, aku ingin membersihkan tubuhku," sahut Mana yang langsung melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi. Meninggalkan Laura yang kembali menuju tempat tidur.
Setelah kurang lebih setengah jam berada di dalam kamar mandi. Mana keluar dari dalam kamar mandi dengan baju tidur yang sudah melekat di tubuhnya.
Kemudian ia berjalan mendekati tempat tidur dimana sang istri berada.
Tentu saja Mana lupa, jika sang istri ingin mengatakan sesuatu padanya. Seperti apa yang Laura katakan sebelum Mana masuk ke dalam kamar mandi.
Membuat Mana langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, dengan pikiran terus tertuju pada Celin yang tadi melakukan aktifitas panas dengannya.
Namun, setelahnya Mana menyingkirkan pikirannya tentang Celin. Saat tangan Laura tiba-tiba memeluk tubuhnya, membuat Mana yang menidurkan tubuhnya terlentang, langsung menoleh pada sang istri. Dimana Laura menidurkan tubuhnya miring menghadap sang suami.
"Mana," panggil Laura. "Ada yang ingin aku katakan padamu,"
"Katakan saja!" perintah Mana, dan mengalihkan tatapannya, menatap langit-langit kamar.
"Aku hamil lagi,"
Tentu saja pernyataan dari Laura membuat Mana kembali menoleh pada sang istri sambil memicingkan matanya.
"Kenapa reaksi kamu seperti itu sih? Harusnya kamu senang karena kita akan punya anak lagi," kata Laura, setelah melihat redaksi dari Mana yang tidak senang atas kehamilannya. "Meskipun Noah bukan anak kandung kamu, tapi bayi yang sedang aku kandung adalah anak kamu," ucap Laura.
Mengingat lagi, Mana menikahi Laura setelah kedua orang tuanya tahu, jika putrinya tersebut mengalami kecelakaan, dan meminta Mana menikahi Laura untuk menyelamatkan keluarganya dari berita buruk, karena pria yang menghamili Laura kabur begitu saja.
Mana tidak ingin menanggapi ucapan dari Laura, dan memilih membalik tubuhnya membelakangi sang istri.
"Mana,"
"Aku ingin tidur," sahut Mana entah mengapa tidak ingin membahas kehamilan Laura.
***
Keesokan harinya, akhirnya Celin kembali ke kampung halamannya, setelah mendapat uang yang lebih dari cukup untuk membayar biaya rumah sakit sang suami.
Ketika tiba di kampung halamannya, ia segera menuju rumah sakit dimana sang suami berada. Dan tujuannya saat ini adalah menemui sang suami di ruang perawatan yang sudah dua minggu lebih ditempati Arga.
Namun, ketika sudah masuk ke dalam ruang perawatan dimana sang suami selalu berada. Celin tidak mendapati Arga di ruangan tersebut. Ranjang yang selalu sang suami tiduri juga kosong, seperti tidak ada lagi tanda-tanda ranjang tersebut ditiduri.
Membuat Celin langsung keluar dari dalam ruang perawatan tersebut. Dan menghentikan langkah salah satu perawat yang biasa mengatar makanan untuk sang suami, dimana perawatan tersebut sedang mendorong troli berisi makanan untuk para pasien yang ada di rumah sakit tersebut.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat tersebut setelah Celin menghentikan langkahnya.
"Sus, suamiku kenapa tidak ada di dalam?"
"Memangnya ibu tidak tahu, Pak Arga sudah keluar dari rumah sakit?"
"Apa?!"