"Maksud Suster bagaimana? Jelas-jelas suamiku beberapa hari saat aku tidak disampingnya, dia masih di rawat disini, dan kondisinya juga masih sama. Tidak mungkin suamiku keluar dari rumah sakit, dan aku tidak mengetahuinya," kata Celin yang tidak percaya pada ucapan perawat yang ada dihadapannya. "Apa maksud suster, suamiku sedang keluar untuk mencari udara segar di taman depan, begitu?"
"Bukan Bu, tapi pak Arga sudah keluar dari rumah sakit, setelah ada seseorang yang melunasi biaya rumah sakit," jelas perawat tersebut.
Membuat Celin terdiam sejenak mencerna ucapan dari perawat tersebut. "Terima kasih, Sus." kata Celin yang langsung meninggalkan perawat tersebut, sebelum membalas ucapan terima kasih yang terlontar dari bibirnya.
Dan tujuan Celin saat ini adalah menunju ruang administrasi yang ada di rumah sakit tersebut, untuk menanyakan siapa yang sudah membayar biaya pengobatan sang suami, hingga sang suami sudah keluar dari rumah sakit.
Benar jika ada seseorang yang membayar biaya rumah sakit Arga. Namun, Celin tidak mengetahui siapa yang sudah membayar biaya rumah sakit untuk sang suami, karena petugas administrasi tidak mengetahui siapa yang sudah membayarnya, dikarenakan seseorang yang sudah membayar biaya rumah sakit Arga, tidak mempublikasi indentitasnya.
Kemudian Celin keluar dari rumah sakit, dan tujuannya saat ini adalah menemui sahabatnya Sera, yang hari ini sedang libur bekerja. Karena Celin yakin, sahabatnya itu pasti tahu siapa yang sudah membayar biaya rumah sakit sang suami dan juga membawanya pergi. Mengingat lagi, sebelum ia memutuskan untuk ke ibu kota, Celin menitipkan suaminya pada Sera.
***
Tidak butuh waktu lama untuk Celin tiba di rumah Sera sang sahabat. Yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah yang selama ini ia tempati bersama sang suami.
Entah sudah berapa kali Celin mengetuk pintu sebuah rumah sederhana, yang terlihat paling bagus dari beberapa rumah disekelilingnya.
Namun, tidak ada tanda-tanda pintu rumah tersebut akan dibuka. Membuat Celin langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang sahabat.
Dan Celin kini mendudukkan bokongnya diatas sebuah kursi yang ada di teras rumah Sera.
Setelah ia menghubungi sahabatnya, dan Sera sedang pergi ke desa sebelah, dan kini sudah menuju arah jalan pulang.
Setelah menunggu beberapa saat sambil memikirkan tentang sang suami. Kini Celin baranjak dari duduknya, ketika melihat Sera datang dengan mengendarai motor matic.
"Maaf aku lama," kata Sera setelah menghampiri Celin. "Kenapa kamu tidak memberi tahu aku, jika kamu sudah pulang dari kota Cel?"
"Maaf," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Celin dan berjalan mengikuti Sera masuk ke dalam rumah. "Ra, ada yang ingin aku tanyakan padamu,"
"Aku tahu, pasti kamu akan menanyakan tentang mas Arga," tebak Sera, yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Celin. "Maaf sebelumnya, Cel. Aku tidak memberi tahu kamu, jika Mas Arga sudah keluar dari rumah sakit,"
"Kamu sudah tahu? Kenapa kamu tidak memberi tahu aku Ra," tanya Celin sambil menatap pada sahabatnya, ketika keduanya sudah duduk di sebuah kursi yang ada di ruang tamu rumah Sera.
"Aku tidak tahu harus memberi tahu kamu bagaimana. Karena aku sendiri tidak tahu kapan mas Arga keluar dari rumah sakit, dan sama siapa juga aku tidak tahu. Kemarin saat aku ingin menemui mas Arga saat jam istirahat, aku sudah tidak mendapati dia di ranjang perawatannya Cel, padahal belum lama aku meninggalkannya." jelas Sera panjang lebar.
Setelah mendengar penjelasan dari Sera. Celin kini beranjak dari duduknya, lalu menarik tangan sang sahabat untuk beranjak dari duduknya.
"Ada apa Cel?" tanya Sera bingung. Kenapa sahabatnya tersebut tiba-tiba menarik tangannya.
"Aku yakin, keluarnya mas Arga dari rumah sakit, ada hubungannya dengan mama Lina," jawab Celin.
Entah mengapa, ia sangat yakin jika mama mertuanya yang membayar biaya rumah sakit sang suami. Siapa lagi jika bukan mama Lina, satu-satunya orang terkaya di kampungnya.
"Ra, tolong antarkan aku ke rumah mama Lina," pinta Celin sambil menarik tangan Sera keluar dari dalam rumah.
***
Setelah mengendarai motor kurang lebih dua puluh menit. Akhirnya Celin dan juga Sera tiba di rumah mama Lina yang sangat besar dan juga bagus.
Tanpa menunggu lama lagi, Celin segera bergegas menuju pintu rumah mama Lina.
Dan baru saja ia ingin mengatuk pintu rumah tersebut, tiba-tiba pintu tersebut dibuka dari dalam oleh mama Lina.
Yang langsung menatap Celin dengan tatapan jijik. Lalu ia mendorong tubuh menantunya tersebut untuk menyingkir dari depan pintu. "Minggir! Dasar menjijikkan!"
"Cel, kamu tidak apa-apa?" tanya Sera, setelah menahan tubuh Celin yang hampir terjatuh karena dorongan mama Lina yang cukup kencang.
"Tidak Sa. Aku baik-baik saja," jawab Celin, lalu menegakkan tubuhnya, kemudian menatap pada mama Lina yang kini bertolak pinggang sambil menatap pada Celin, dengan tatapan tidak suka.
"Aku tahu, anda yang sudah membayar biaya rumah sakit mas Arga,"
"Bagus kalau kamu tahu," sahut mama Lina, menanggapi perkataan dari Celin.
"Aku mohon, beri tahu aku, dimana Mas Arga sekarang berada," mohon Celin dengan sangat tulus.
Namun, bukannya menanggapi perkataan dari Celin lagi, yang ada mama Lina kini menyunggingkan senyuman sinis dari sebelah surut bibirnya.
Kemudian satu tangannya mengambil sesuatu dari dalam kantong daster yang dikenakannya, lalu melempar ke tubuh Celin.
Membuat Celin langsung menautkan dahinya, setelah mengetahui yang di lepar ibu mertuanya adalah beberapa foto dirinya, saat ia berada di kota, dari Celin memasuki klub malam, dan fotonya ketika memakai pakaian minim, dan juga saat ia pergi dan masuk ke dalam sebuah hotel.
"Lumpur tetap saja lumpur. Cih!" mama Lina muludah dan mengenai baju yang Celin kenakan.
Namun, tidak dihiraukan oleh Celin. Karena tatapannya terus tertuju pada foto-foto dirinya yang berserakan di atas lantai. Tentu saja ia bingung kenapa mama mertuanya mendapat foto ketika ia sedang di kota, saat sedang mencari uang untuk biaya rumah sakit sang suami, dengan menjadi wanita malam.
"Dan jangan pernah lagi, kamu mencari keberadaan Arga. Dasar wanita menjijikkan!" seru mama Lina.
Membuat Celin kini mengalihkan tatapannya dan menatap pada mama Lina. "Aku bisa menjelaskan semuanya," kata Celin.
"Aku tidak butuh penjelasan darimu! Sekarang pergilah!" usir mama Lina.
"Aku bisa..." Celin tidak jadi meneruskan ucapannya, karena mama Lina menampar sebelah pipinya dengan kencang, membuat tubuh Celin mundur beberapa langkah.
"Pergi!" usir mama Lina.
"Aku mohon..." kembali lagi, mama Lina menampar pipi Celin sehingga menghentikan ucapannya.
"Bu, jangan kasar seperti ini," sambung Sera yang tadi berdiri tidak jauh dari sang sahabat, ketika mendapati betapa kasarnya ibu mertua dari sahabatnya tersebut.
"Hei, kamu jangan ikut campur dengan urusan orang. Paham!" tegas mama Lina pada Sera. Kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kencang.
"Cel, kamu tidak apa-apa?" tanya Sera.
Namun, tidak mendapat jawaban dari Celin yang kini menitikan air mata. Bukan karena rasa sakit dan perih akibat tamparan dari mama Lina. Tapi lebih pada penyesalan karena sudah bertindak tanpa berpikir dulu, untuk mencari uang dengan cara instan demi membayar biaya rumah sakit sang suami. Dan akhirnya ketahuan oleh mama Lina, yang pasti akan semakin membencinya.