Setelah kepulangannya dari rumah mama Lina, tanpa tahu dimana keberadaan sang suami saat ini.
Penyesalan terus menyelimuti hati Celin, setelah mama Lina tahu, jika ia kembali mencari uang dengan cara yang salah.
"Cel, kenapa kamu melakukan hal itu lagi?" tanya Sera, memilih menemani sang sahabat di banding harus pulang ke rumahnya setelah mengantar Celin.
"Aku tidak punya pilihan lain, dan aku menyesal, Ra," sambung Celin yang sudah duduk di kursi yang ada di ruang tamu, rumah sederhana miliknya.
"Aku kecewa padamu, Cel. Aku pikir kamu pergi ke kota memang untuk menemui kerabat kamu,"
"Maafkan aku, Ra," kata Celin, dan kini menatap pada Sera yang berdiri tidak jauh dari kursi yang didudukinya. "Ra, apa kamu mau membantu aku mencari mas Arga?"
"Entahlah Cel. Minggu depan aku pindah kerja ke rumah sakit lain, dan aku memilih mencari kosan disana, karena rumah sakit tempat aku bekerja lumayan jauh. Tapi sebisa mungkin sebelum aku pindah kerja, aku akan membantu kamu mencari mas Arga,"
"Terima kasih," Celin baranjak dari duduknya, lalu menghampiri sang sahabat. "Sekali lagi, maafkan aku, Ra,"
"Jangan kamu ulang lagi, semoga saja saat kamu bertemu dengan mas Arga, dia akan memaafkan kamu, setelah apa yang kamu lakukan padanya,"
***
Di waktu dan juga kota berbeda. Mana hanya diam sambil menikmati makan malam yang ada dihadapannya.
Disaat semua orang yang menghadiri acara makan malam tersebut sedang bergembira mengetahui Laura, istri dari Mana ternyata sedang mengandung.
Bukan karena ia tidak percaya jika bayi yang sedang Laura kandung adalah buah hatinya, karena anak pertama yang Laura lahirkan bukanlah darah dagingnya.
Mana percaya dan juga yakin, jika sang istri memang mengandung buah hatinya, karena selama ini hanya dengan sang istri ia melakukan hubungan badan. Sebelum ia kembali menghabiskan malam dengan Celin, mantan partnernya di atas ranjang.
Setelah sejak lama Mana memata-matai Celin, dan tahu dia kembali menjual diri demi uang untuk pengobatan suaminya.
Membuat Mana terpaksa untuk menghabiskan malam dengan Celin lagi, demi membantunya. Agar Celin tidak tidur dengan pria lain.
Mengingat lagi, meskipun Mana sudah menikah dengan Laura, tapi ia masih ingin tahu kehidupan Celin. Entah mengapa sampai saat ini ia masih tidak bisa melupakan mantan partnernya itu. Mungkin karena rasa bersalahnya dulu, ketika keduanya masih bersama tanpa ikatan.
Dimana Mana mengabaikan Celin yang jelas-jelas mencintainya, dan mengejar wanita lain yang ternyata membuat hatinya terluka. Dan dari situ Mana merasa telah menyia-nyiakan Celin yang dulu sangat mencintainya, hingga ia merasa kehilangan, setelah Celin memutuskan pergi tanpa sepengetahuannya.
Apalagi Mana kembali mengulang kejadian yang sama seperti dulu lagi, malam kemarin. Membuatnya semakin tidak bisa melupakan Celin, yang masih sama seperti dulu saat berada diatas ranjang.
Meskipun Mana tahu, Celin melakukannya dengan terpaksa, membuat Mana segera mengakhiri aktifitas panas diatas ranjang. Walaupun sebenarnya Mana ini berlama-lama dengannya, karena jujur, ia sangat merindukan Celin.
Hingga akhirnya Mana kini harus mengalihkan pikirannya dari Celin, saat papa mertuanya menghampirinya.
"Hebat kamu Mana, papa bangga padamu," kata papa Roni sambil menepuk pundak Mana.
Yang hanya mendapat senyuman dari Mana, meskipun senyuman yang ia tunjukkan adalah senyuman palsu.
"Karena kamu sudah membuat papa bangga. Maka dari itu, dua puluh persen saham perusahaan yang sedang kamu pegang saat ini akan menjadi milikmu,"
Mana langsung menatap pada papa mertuanya mendengar apa yang dikatakannya. Merasa tidak mungkin mendengar dua puluh persen saham perusahaan yang dipegangnya akan menjadi miliknya.
Mengingat lagi, Mana sebenarnya hanya di percaya oleh papa Roni untuk memegang perusahaannya, dan mendengar apa yang Papa Roni katakan, membuatnya sangat terkejut.
"Pa, ini berlebihan," kata Mana, yang menurutnya sangat berlebihan.
"Tidak, selama ini kamu sudah membuat perusahaan papa menjadi lebih baik, dan kamu juga sudah menjaga putri papa dengan sangat baik pula. Jadi kamu pantas mendapatkan itu semua," jelas papa Roni yang begitu bangga pada Mana.
"Selamat, Mana." sahut Laura setelah mendengar, sang suami mendapat saham dua puluh persen dari perusahaan keluarganya.
Membuat Laura langsung memeluk Mana dari belakang, dan mencium sebelah pipinya.
"Mana, Mana. Dia suami kamu, Laura, harusnya panggil yang benar," sahut papa Roni yang masih berdiri di samping kursi yang diduduki oleh Mana.
"Aku tahu Pa, tapi aku lebih suka memanggil suamiku dengan memanggil Mana saja. Papa tahu, itu lain dari pada yang lain tahu,"
"Terserah padamu," ujar papa Roni yang kembali menepuk punggung Mana. "Selalu jaga putri papa ini. Papa percaya padamu, Mana,"
Mana hanya menganggukkan kepalanya, sambil mengukir senyum paksa. Karena ia sangat bersalah pada keluarga sang istri, saat mereka semua mendukungnya.
Hingga detik ini, Mana masih memikirkan Celin, sampai rela memata-matainya selama ini.
***
Seminggu berlalu, dengan ditemani oleh Sera sebelum dia pindah kerja. Pergidari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya untuk mencari keberadaan Arga sang suami.
Tetap saja Celin tidak menemukan keberadaan sang suami. Dan beberapa kali mengunjungi rumah mama Lina, untuk mencari tahu keberadaan Arga. Yang ada ia di usir dengan keji oleh mama mertuanya.
Celin yang baru saja tiba di rumah, setelah seharian mencari keberadaan sang suami yang sangat menyanyanginya dengan tulus, dan tidak pernah mengungkit masa lalunya.
Langsung mengambil foto dirinya dan juga sang suami diatas meja tepat disebelah tempat tidur yang Celin diduduki.
Lalu menatap foto tersebut, dan mengelus foto sang suami. "Mas, kamu ada dimana?" tanya Celin, dengan air mata yang tiba-tiba membasahi kedua pipinya.
Namun, setelahnya Celin menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Ketika ia mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Apa itu Mas Arga," kata Celin yang langsung beranjak dari duduknya, setelah menaruh fotonya dan foto sang suami di tempatnya semula.
Kemudian ia keluar dari dalam kamar menuju pintu rumahnya, berharap sang suami yang mengetuk pintu.
Namun, harapannya sirna setelah Celin membuka pintu. Ternyata adik iparnya yang datang.
"Halo Kakak ipar yang cantik," sapa Juan adik kandung dari Arga, yang langsung masuk ke dalam rumah sebelum Celin mempersilakan masuk. "Sudah lama aku tidak datang ke rumah ini. Ternyata masih sama, sungguh menyedihkan," ucapnya sambil mengedarkan tatapannya keseluruh penjuru rumah tersebut.
Tentu saja mendengar ucapan dari Juan, pria arogan yang selalu membuat masalah di kampungnya, tapi selalu terbebas dari hukum yang berlaku, karena uang yang selalu bertindak, tidak membuat Celin sakit hati. Karena adik iparnya dan juga mama mertuanya, sebelas dua belas, sama-sama tidak menyukainya.
Setelah puas mengedarkan tatapannya, kini Juan menatap pada Celin dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak lupa menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
"Kakak ipar, maukah tidur denganku?" tanya Juan, dan berjalan mendekati Celin.
"Jika tidak ada hal yang ingin kamu bicarakan, silakan keluar!" perintah Celin, setelah mendengar perkataan Juan.
"Tentu saja ada, aku ingin mengajak kakak ipar tidur. Yuk!"
"Jangan kurang ajar kau!"
"Eleh, jangan sok suci. Dari pada menjual diri pada orang lain. Mending tidur denganku, tenang saja nanti aku bayar. Kakak ipar mau dibayar berapa, tinggal katakan saja."
"JUAN!!!"