Celin terpaksa menampar adik iparnya tersebut, yang baru saja menghina dirinya dengan perkataan yang keluar dari mulut Juan.
Meskipun apa yang dikatakan oleh Juan tidaklah salah.
Tapi Celin benar-benar tidak menerima perkataan Juan yang sudah kurang ajar padanya.
Bukan hanya kali ini saja Juan kurang ajar pada Celin. Tapi sudah sering adik iparnya tersebut, bukan hanya berbicara kurang ajar, tapi beberapa kali ingin melecehkan Celin.
Tapi perbuatannya tersebut selalu digagalkan oleh Arga.
Dan itulah salah satu yang membuat Arga lebih memilih hidup menjauh dari keluarganya, agar Celin tidak mendapat hinaan dari mama Lina, dan juga Juan yang begitu arogan.
Setelah menampar adik iparnya, Celin segera menuju pintu rumahnya dan membukanya lebar. "Keluar dari rumahku!"
Bukannya mengikuti perintah dari Celin, yang ada Juan menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, dan berjalan mendekati dimana Celin berada.
Celin yang merasa terancam, segera keluar dari pintu.
Namun, langkahnya terhenti ketika Juan menahan satu tangannya.
"Juan! Lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan berteriak!" seru Celin. Dan ia langsung mengaduh kesakitan, ketika Juan langsung melepas tangannya. Membuat Celin jatuh tersungkur diatas lantai.
Dan hal itu membuat Juan langsung tertawa, lalu berjongkok tepat dihadapan Celin yang sedang menahan sakit.
"Kakak ipar pikir, aku akan tertarik dengan tubuh Kakak ipar yang menjijikkan ini? Tidak!" seru Juan, kemudian meludah tepat mengenai tubuh Celin.
Bukan hanya meludahi Celin, Juan yang sudah beranjak dari tempatnya, kini menarik rambut Celin yang tergerai indah.
Membuat sakit yang Celin rasakan karena baru saja terjatuh keatas lantai, kini sakit yang dirasakannya bertambah, saat Juan menarik rambutnya dengan kencang.
"Lepaskan aku!"
Namun, bukannya melepaskan rambut Celin. Yang ada Juan terus menarik rambutnya, sambil menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, merasa puas melihat Celin kesakitan.
"Kakak ipar, kamu membuat aku tergoda," kata Juan yang memiliki kelainan aneh untuk menaikkan hasrat di dalam tubuhnya, contohnya seperti saat ini ketika sedang menyiksa Celin.
"Juan, aku mohon lepaskan aku." pinta Celin yang tidak bisa melawan adik iparnya tersebut. Mengingat lagi, seharian Celin tidak makan apapun, karena belum menemukan titik terang dimana sang suami berada.
"Baiklah," sahut Juan. Tapi bukannya melepas tangannya yang masih menarik rambut Celin, yang ada ia menarik lebih kencang rambut Kakak iparnya tersebut, hingga tubuh Celin terseret mengikuti langkah Juan masuk ke dalam rumah. Saat hasrat Juan benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi, melihat Celin tidak berdaya, dan ia ingin segera membawanya keatas ranjang.
"Celin!" teriak ibu Susi tetangga dari Celin.
Mendengar teriakan tetangga dari Kakak iparnya, dimana ibu Susi kini berjalan mendekati teras rumah Celin.
Membuat Juan langsung melepas rambut Celin. Lalu mengambil map yang sedari tadi ia simpan di balik jaket kulit yang dikenakannya. Kemudian melemparnya pada tubuh Celin sebelum meninggalkannya.
"Ya ampun Cel. Kamu baik-baik saja?" tanya ibu Susi setelah mendekati Celin dan membantunya beranjak dari tempatnya.
"Iya Bu, aku baik-baik saja. Terima kasih," jawab Celin lalu dituntun oleh ibu Susi menuju kursi yang ada di ruang tamu.
"Kamu tunggu disini," ibu Susi pun pergi menuju dapur Celin. Dan kembali dengan membawa segelas air putih untuknya. "Minumlah,"
Celin meraih gelas berisi air putih yang berada di tangan ibu Susi. "Terima kasih Bu,"
"Sama-sama, kenapa adik ipar kamu kasar seperti itu padamu, Cel?"
Celin langsung menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari ibu Susi.
"Bagaimana, kamu sudah mengetahui dimana Arga berada?" tanya ibu Susi yang tahu, Celin sedang mencari keberadaan sang suami, yang menghilang tanpa jejak.
"Belum Bu,"
"Sabar ya," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir ibu Susi, sambil menepuk punggung Celin.
Dimana Celin baru saja membuka map yang tadi di lempar oleh Juan. Dan setelah membuka dan membaca isi selembar kertas yang ada di dalam map tersebut.
Celin begitu terkejut, hingga ia menjatuhkan map tersebut, lalu menitikan air mata.
"Cel, ada apa?" tanya ibu Susi, lalu mengambil map tersebut yang berada diatas lantai. Dan ia juga terkejut setelah membaca selembar kertas yang ada di dalam map tersebut, dimana kertas tersebut adalah gugatan cerai yang sudah ditandai tangani oleh Arga.
"Tidak mungkin mas Arga melakukan ini padaku, Bu." kata Celin dengan derai air mata yang semakin deras. Meskipun ia melihat sendiri, tanda tangan yang sudah terbubuh diatas kertas gugatan perceraian, adalah tanda tangan sang suami.
"Ibu juga yakin, ini bukan Arga. Tapi keluarganya," sambung ibu Susi yang tahu, keluarga besar Arga tidak menyukai Celin. "Kamu tenang saja, Cel." Ibu Susi coba untuk menenangkan Celin.
Namun, tidak mendapat tanggapan dari Celin yang hanya diam terpaku, tanpa bisa berpikir sedikit pun dengan derai air mata yang semakin deras.
***
Semalam Celin tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun, bukan hanya karena memikirkan sang suami yang sampai saat ini belum ia ketahui keberadaannya, tapi juga memikirkan surat gugatan perceraian yang ia taruh diatas meja tidak jauh dari tempat tidur dimana Celin sekarang berada.
"Aku yakin, surat gugatan perceraian itu mama yang buat, untuk memisahkan aku dan juga mas Arga," kata Celin yang kini bangkit dari duduknya, kemudian mengambil map berisi surat gugatan perceraian dan tas miliknya yang juga berada dimeja tersebut.
Dan tujuan Celin saat ini adalah, pergi ke rumah mama Lina.
Karena Celin tidak mempunyai kendaraan, akhirnya ia pergi ke rumah mama Lina dengan menaiki ojek.
Dan tidak butuh waktu lama untuk Celin tiba di rumah mama mertuanya. Tentu saja ia langsung mengatuk pintu rumah mama mertuanya, tak lupa mengucap salam.
Dan tidak perlu menunggu waktu lama, pintu rumah tersebut dibuka dari dalam oleh mama Lina. "Bagus kamu datang. Apa kamu sudah menandatangani surat gugatan cerai itu?" tanya mama Lina langsung pada intinya, lalu merebut map yang ada di salah satu tangan Celin.
Namun, mama Lina langsung memicingkan matanya ketika sudah membuka map tersebut, dan ternyata Celin belum menandatangani gugatan perceraian.
"Apa yang kamu tunggu hah?! Kenapa kamu tidak menandatangani ini!" seru mama Lina sambil menunjuk pada surat gugatan perceraian yang sudah beralih tangan ada ditangannya.
"Aku tidak ingin bercerai dengan mas Arga. Aku tahu, anda yang melakukan ini," kata Celin.
Mendengar penolakan Celin membuat Mama Lina langsung menyunggingkan senyum sinis, dan menatap padanya. "Kamu pikir putraku masih ingin bersama denganmu, setelah apa yang kamu lalukan? Tidak!"
"Anda yang bilang seperti itu, bukan Mas Ar..." Celin tidak jadi meneruskan ucapannya, ketika melihat sang suami muncul dari balik pintu. "Mas," ucap Celin, ia tidak salah melihat, memang yang sedang ditatapnya adalah sang suami. Yang ternyata sudah sembuh dari sakitnya. "Mas Arga," ucapnya lagi, dan langsung mendekati dimana Arga berada.
"Berhenti!" perintah Arga, membuat Celin menghentikan langkahnya untuk mendekati sang suami.
Kemudian Celin menatap pada Arga. "Mas Arga,"
Bukannya menanggapi ucapan dari Celin, yang ada Arga mengambil map di tangan mama Lina lalu menyodorkannya pada Celin. "Aku ingin kita bercerai!"