CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 1: Error di Hari Pertama
Maya berdiri di depan gedung kaca itu dengan kopi panas yang merembes ke jari telunjuknya. Tutup gelasnya longgar, dia sadar tadi saat beli di pinggir jalan, tapi dia buru-buru karena takut telat. Hasilnya sekarang: jari lengket dan dia harus terus ganti tangan biar tidak kepanasan.
Gedung di depannya menjulang dua puluh lima lantai. Kaca gelapnya memantulkan langit pagi dan bayangan dirinya yang berdiri kaku sejak lima menit lalu. Dia sudah dua kali coba masuk. Dua kali juga mundur karena jantungnya berdegup kencang.
Maya Lestari. Dua puluh tiga tahun. Baru lulus tiga bulan lalu dengan gelar Desain Komunikasi Visual. IPK 3,4. Portofolio lumayan. Tapi kerjaan desain yang dia lamar tidak ada yang memanggil. Satu-satunya panggilan datang dari Devatech Innovations. Posisi: asisten administratif. Gaji: cukup untuk bayar kos dan makan. Maya ambil. Karena dia butuh. Karena kosannya sudah nagih dua bulan.
Jadi sekarang dia di sini. Di depan gedung megah yang bahkan pintu otomatisnya terlihat lebih mahal dari seluruh isi kamar kosnya.
Dia tarik napas. Lalu hembuskan.
Ini hari pertama. Kamu pasti bisa.
Pintu otomatis terbuka. Maya melangkah masuk.
Udara dingin AC langsung menyambarnya. Begitu juga pemandangan lobi yang membuat matanya membelalak. Lantai marmer putih mengilap. Lampu gantung minimalis. Resepsionis setengah lingkaran dengan logo perusahaan yang menyala biru.
Dia berjalan ke resepsionis dengan langkah pelan, takut sepatu barunya bersuara. Sepatu itu dibeli dua hari lalu di toko diskon. Harganya enam puluh ribu. Sekarang jempol kaki kirinya sudah terjepit.
Seorang wanita dengan rambut disanggul rapi dan senyum lebar menyambutnya. Namanya Sarah.
“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?”
“Maya Lestari. Karyawan baru. Hari pertama.”
Sarah tersenyum. Tapi senyumnya berubah jadi aneh. Matanya membulat sebentar, lalu dia tersenyum lagi dengan cara yang berbeda.
“Oh, karyawan baru. Lantai delapan belas untuk bagian umum. Tapi ada pesan dari Pak Arka. Semua karyawan baru hari ini diminta lapor langsung ke lantai dua puluh. Ruang CEO.”
Jantung Maya mencelos.
“Langsung?”
“Langsung.”
Maya mengangguk. “Baik, makasih.”
Dia berjalan ke lift. Kopi di tangannya mulai terasa panas. Dia ganti tangan. Lalu ganti lagi.
Di dalam lift, Maya menatap pantulannya di cermin. Wajahnya pucat. Matanya sembab karena semalam tidur tiga jam. Bayangan hitam di bawah mata masih kelihatan meskipun sudah pakai concealer dua lapis.
Lift berhenti dengan bunyi ding lembut.
Pintu terbuka.
Maya keluar dan langsung berhenti. Lantai dua puluh bukan kantor biasa. Dinding sebelah kiri seluruhnya kaca, memperlihatkan pemandangan kota. Lantai marmer gelap mengilap. Tanaman hijau di setiap sudut. Dan di ujung, meja resepsionis dengan tulisan DEVATECH yang menyala biru.
Tapi tidak ada orang.
Maya berdiri di tengah, bingung. Kopi di tangannya mulai dingin. Dia melihat ke kiri. Kosong. Ke kanan. Ada lorong panjang dengan pintu kayu besar di ujungnya.
Dia berjalan ke arah lorong.
Setiap langkahnya terdengar di atas marmer. Semakin dekat ke pintu kayu besar itu, semakin dia merasa seperti akan masuk ruang sidang. Padahal dia cuma asisten administratif.
Pintu itu setengah terbuka.
Maya mengintip.
Di dalam ruangan luas dengan meja kayu besar di tengah, seorang pria berdiri membelakangi pintu. Rambut hitam, dipotong rapi. Bahu lebar, pas dengan jaket blazer abu-abu. Tangannya di belakang, memegang sesuatu.
Maya mengetuk pintu.
“Permisi.”
Pria itu berbalik.
Maya lupa bernapas.
Bukan karena dia tampan. Iya, dia tampan. Hidung mancung. Rahang tegas. Bibir tipis. Tapi itu bukan masalahnya. Masalahnya adalah matanya. Hitam, tajam, dan dingin. Kayak mata orang yang lagi mencari sumber error dalam kode program.
Dan sumber error itu adalah Maya.
“Maya Lestari?” Suaranya datar. Tidak ada nada.
“I-iya, Pak. Saya Maya. Karyawan baru. Asisten administratif.”
Arka Devandra menatap Maya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Tatapannya lama. Terlalu lama.
“Kamu terlambat.”
Maya ngecek jam di pergelangan tangan. 08.15.
“Maaf, Pak. Saya sampai gedung jam delapan. Cuma saya—”
“Aku tidak butuh alasan. Aku butuh orang yang tepat waktu.”
Maya membeku. Kata-katanya ilang semua. Keringat dingin mulai merembes di punggung.
“Maaf, Pak,” akhirnya dia cuma bisa bilang itu.
Arka menghela napas. Pelan. Kayak orang yang sudah capek duluan.
“Kamu posisinya asisten. Kerjaan kamu membantu aku. Jadi kamu harus ada di sini sebelum aku datang. Bukan setelah. Paham?”
“Paham, Pak.”
“Sekarang, kamu tahu tugas kamu?”
Maya menggeleng. “Belum, Pak.”
“Tidak ada yang kasih jobdesc?”
“Belum, Pak.”
Arka diam. Matanya menyipit. Kayak dia lagi mikir apakah orang ini layak bertahan lebih dari satu hari.
Dia berjalan ke meja, mengambil tablet, dan menyerahkannya ke Maya.
“Semua ada di sini. Baca. Pelajari. Hari ini kamu mulai.”
Maya menerima tablet itu dengan tangan gemetar. Layarnya menyala, menampilkan daftar tugas yang panjang. Mulai dari mengatur jadwal, menyusun dokumen, sampai memastikan minuman di ruang CEO tersedia setiap jam setengah delapan.
Dia baru mau membaca ketika tablet itu berbunyi.
Bret.
Sebuah notifikasi muncul di layar.
Dating App Match!
Selamat! Anda telah match dengan Arka D.! Kirim pesan sekarang?
Maya membeku.
Matanya membesar. Jari-jarinya kaku di tepi tablet. Dia menatap layar. Lalu menatap Arka yang sedang berdiri dengan dokumen di tangan, tidak sadar dengan apa yang baru saja muncul.
Dating app. Di tablet CEO. Match dengan dia sendiri. Kenapa?
Keringat Maya berubah panas. Seluruh tubuhnya seperti kebakar. Dia mencoba mematikan layar, tapi jarinya gemetar.
Arka menoleh.
“Kenapa?”
Maya mendongak. Wajahnya pucat. Tapi senyumnya mengembang—senyum panik yang dia pakai setiap kali situasi tidak terkendali.
“Tidak, Pak. Tidak ada apa-apa. Saya mau baca dulu di luar, boleh?”
“Baca di sini. Aku mau kasih penjelasan.”
“Tapi, Pak, saya—”
“Sekarang.”
Suaranya datar. Tidak tinggi. Tapi ada tekanan yang membuat Maya tidak bisa bergerak.
Dia berdiri di situ. Dengan tablet yang masih menampilkan notifikasi match dengan CEO-nya sendiri.
Sementara Arka mulai menjelaskan tugas-tugas dengan suara monoton seperti membaca buku panduan.
Maya cuma bisa mengangguk. Telinganya mendengar, tapi otaknya tidak sampai. Yang dia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Arka berhenti bicara.
Maya tidak sadar. Dia masih mengangguk kosong.
“Maya.”
Dia kaget. Tablet di tangannya nyaris jatuh. Dia refleks menangkap, tapi jari kelingkingnya menyenggol layar.
Klik.
Sebuah suara kecil keluar.
Pesan terkirim!
Maya menunduk perlahan. Di layar tablet, di bawah notifikasi match tadi, sekarang muncul kalimat baru.
Halo, aku Maya. Kamu ganteng banget. Maaf, ini error. Aku nggak sengaja.
Maya menutup mata.
Ini bukan hari pertama. Ini akhir dari hidupku.
Arka masih berdiri di tempatnya. Dia masih bisa lihat gadis di depannya berubah warna dari pucat jadi merah, dari merah jadi pucat lagi.
“Kamu kenapa?”
“Tidak, Pak.” Suara Maya kecil.
“Apa di tablet itu ada yang kurang jelas?”
“Tidak, Pak. Sangat jelas.”
“Lalu kenapa mukamu kayak mau pingsan?”
Maya menggeleng cepat. “Saya cuma kepanasan, Pak.”
Arka menatap jaket tipis warna krem yang Maya pakai. Bahan katun. Jelas bukan jaket tebal.
Dia tidak bilang apa-apa. Hanya balik ke mejanya dan membuka laptop.
“Kalau begitu, keluar. Pelajari tugasnya. Jangan ganggu aku sebelum jam makan siang.”
Maya mengangguk cepat. Langsung berbalik, melangkah ke pintu dengan kaki lemas.
Tapi begitu tangannya menyentuh gagang pintu, suara Arka terdengar lagi.
“Maya.”
Dia berhenti. Napasnya tertahan.
“Ya, Pak?”
“Tabletnya tinggal.”
Maya menunduk. Masih memegang tablet itu. Dia lupa.
Dengan gerakan kaku, dia balik lagi ke tengah ruangan, meletakkan tablet di atas meja, tepat di samping laptop Arka.
Dan di detik itu, ketika tablet berada satu lengan dari mata Arka, Maya melihat layarnya masih menyala.
Pesan terkirim! masih terpampang.
Bersama dengan kalimat yang tidak pernah dia ingin Arka baca.
Arka menoleh ke samping.
Matanya jatuh ke layar tablet.
Maya melihat detik itu. Detik di mana alis Arka bergerak. Detik di mana matanya membaca. Detik di mana wajah dingin itu—untuk pertama kalinya—menampilkan sesuatu yang lain.
Bingung.
Hanya sebentar. Lalu dia kembali datar.
Dia menatap Maya.
Maya menatap dia.
Ruangan itu sunyi.
“Maya.”
“Ya, Pak.”
“Apa kamu baru saja mengirim pesan dari tablet ini?”
Maya menelan ludah. Terasa pahit.
“Itu... error, Pak.”
Arka mengerjapkan mata. “Error?”
“Iya, Pak. Error sistem. Tablet ini pasti error.”
“Tablet ini baru aku beli minggu lalu.”
“Ya, itu. Kadang barang baru suka error, Pak.”
Arka menatap Maya dengan ekspresi yang tidak bisa Maya baca.
Lalu dia mengambil tablet itu. Membaliknya. Menekan tombol samping.
Layar mati.
“Kamu bilang ini error?”
“Iya, Pak.”
“Kamu yakin?”
Maya mengangguk. Terlalu cepat. “Yakin, Pak.”
Arka meletakkan tablet di atas meja. Lalu menatap Maya sekali lagi.
“Baik. Kalau error, perbaiki. Aku tidak mau ada bug di perangkatku.”
Maya hanya bisa mengangguk.
“Sekarang keluar.”
Dia tidak perlu dikasih tahu dua kali.
Maya melangkah ke pintu dengan cepat. Tapi di ambang pintu, dia berhenti.
“Pak Arka.”
“Apa?”
“Maaf. Hari pertama saya... berantakan.”
Arka tidak menjawab. Tapi Maya bisa lihat, sekilas, sudut bibir pria itu bergerak.
Bukan senyum. Tapi juga bukan cemberut.
Maya keluar. Pintu tertutup di belakangnya.
Dia bersandar di dinding lorong, menutup muka dengan kedua telapak tangan, dan napasnya keluar tersengal.
Hari pertama. Belum satu jam. Dan kamu sudah mengirim pesan flirting ke CEO lewat tablet kantor.
Kamu ganteng banget. Maaf, ini error.
Dia memukul kepalanya sendiri pelan.
“Maya?”
Dia kaget. Sarah berdiri di sampingnya dengan segelas air mineral.
“Kamu okay?”
Maya menghela napas panjang.
“Aku baru saja mengirim pesan cinta ke CEO lewat tablet kantor,” katanya dengan suara datar. “Lewat aplikasi kencan yang entah kenapa ada di tabletnya.”
Sarah tidak kaget. Matanya malah berbinar.
“Oh, kamu yang pertama.”
“Maksudnya?”
“Karyawan baru yang langsung error di hari pertama. Biasanya butuh waktu seminggu buat bikin Pak Arka sebel.”
Maya tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Perutnya keroncongan. Jam menunjukkan jam sembilan kurang seperempat. Dia belum sarapan. Kopinya tertinggal di ruang CEO.
Selamat datang di dunia kerja, Maya.
Ini baru permulaan.
Bersambung ke Episode 2