CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 2: Bug yang Menyebalkan
Maya tidak tahu harus ke mana.
Dia berdiri di lorong lantai dua puluh dengan tablet yang sudah mati di tangannya, sementara Sarah kembali ke lantai bawah dengan senyum misterius yang meninggalkan seribu pertanyaan. Ruangan di sekitarnya sunyi. Hanya suara AC yang berdengung pelan dan detak jam dinding dari dalam ruang CEO yang masih terdengar sampai ke sini.
Dia melihat ke kiri. Ada lorong lain dengan beberapa pintu tertutup. Mungkin ruangan kosong. Mungkin ruang rapat. Mungkin juga gudang tempat dia bisa bersembunyi sampai pensiun.
Dia melihat ke kanan. Lift yang membawanya naik tadi. Pintu emergency. Dan tangga darurat.
Maya memilih berjalan ke ujung lorong, menemukan sebuah ruang kecil yang ternyata pantry. Meja marmer putih. Mesin kopi mahal yang tidak dia tahu cara menggunakannya. Kulkas kecil berisi minuman kemasan. Dan kursi tunggal di sudut.
Dia duduk.
Tablet mati itu dia letakkan di atas meja. Dia menatapnya seperti menatap bom waktu. Di dalam perangkat tipis itu, tersimpan bukti kebodohan terbesar dalam hidupnya. Pesan yang tidak pernah dia tulis. Pesan yang dikirim oleh jari kelingkingnya yang nakal. Pesan yang berbunyi kamu ganteng banget dikirim ke CEO-nya sendiri.
Maya menyandarkan kepalanya ke dinding. Dingin. Tapi tidak lebih dingin dari tatapan Arka Devandra tadi.
Dia mencoba mengingat wajah pria itu saat membaca pesan. Bingung. Itu yang dia lihat. Bingung selama setengah detik, lalu kembali datar seperti layar komputer yang di-refresh. Tapi setelah itu? Saat Maya bilang itu error? Saat dia bilang tablet baru suka error seperti setrika?
Maya memukul kepalanya lagi.
Setrika. Kamu bilang setrika. Di depan CEO perusahaan teknologi. Kamu bilang setrika.
“Dasar bodoh,” gumamnya pelan.
Perutnya keroncongan lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Dia belum sarapan. Kopinya tertinggal di ruang CEO, mungkin sekarang sudah dingin dan tumpah di atas meja kayu besar itu. Dia tidak berani kembali ke sana. Arka bilang jangan ganggu sebelum jam makan siang. Dan sekarang masih jam sembilan lewat lima belas menit.
Tiga jam lebih. Dia harus bertahan tiga jam lebih tanpa sarapan, tanpa kopi, dan dengan rasa malu yang menggerogoti perutnya.
Dia membuka tas. Laptop sekennya mulai berbunyi seperti pesawat. Kipasnya selalu berisik kalau terlalu lama di dalam tas. Dia keluarkan, letakkan di meja. Layar menyala dengan lambat. Butuh satu menit penuh untuk masuk ke desktop.
Maya membuka dokumen jobdesc yang tadi sempat dia lihat sekilas. Daftar tugasnya panjang. Sangat panjang. Mulai dari yang masuk akal seperti mengatur jadwal rapat dan menyusun laporan, sampai yang tidak masuk akal seperti memastikan suhu ruang CEO selalu 21 derajat celcius dan bunga di meja Arka diganti setiap hari Senin.
Bunga. CEO ini minta bunga diganti setiap minggu. Laki-laki segitu dinginnya ternyata suka bunga.
Maya nyaris tertawa sendiri. Tapi tawanya langsung mati ketika dia membaca baris terakhir di halaman pertama.
Catatan: Semua tugas wajib dilaporkan langsung ke Pak Arka setiap jam 16.00. Keterlambatan pelaporan akan dicatat sebagai pelanggaran disiplin.
Dia menarik napas. Menghela.
Ini bukan kerjaan asisten biasa. Ini kerjaan asisten pribadi seorang perfeksionis yang mengatur semuanya sampai detail sekecil suhu ruangan. Dan Maya tidak punya pengalaman jadi asisten sama sekali. Latar belakangnya desain grafis. Yang dia kuasai adalah Photoshop, Illustrator, dan cara membuat kopi instan yang enak.
Kamu bisa belajar. Kamu pasti bisa. Ini cuma soal mengatur waktu dan teliti. Simple.
Dia membuka halaman kedua.
Puluhan tabel. Puluhan kolom. Puluhan tenggat waktu yang semuanya berwarna merah.
Maya menutup laptop.
Tidak. Tidak simple. Ini gila.
Dia menatap tablet mati di sampingnya. Layar hitam itu seperti sedang mengejeknya. Lihat, kamu bahkan tidak bisa mengoperasikan perangkat kantor. Apa kamu yakin bisa bertahan di sini?
Maya mengambil tablet itu. Menekan tombol samping. Layar menyala. Daftar tugas muncul lagi. Dan di pojok kanan atas, notifikasi dating app itu masih ada. Belum dibaca. Belum dibuka. Tapi pesan terkirimnya sudah tidak muncul lagi di layar utama.
Dia membuka notifikasi itu dengan jari gemetar.
Aplikasi dating itu terbuka. Profil Arka Devandra muncul dengan foto formal yang jelas bukan foto untuk dating app. Foto itu foto perusahaan. Blazer abu-abu, ekspresi datar, latar belakang putih. Bio-nya singkat: CEO Devatech. 28. Tidak mencari apa-apa.
Tidak mencari apa-apa. Tapi kenapa punya aplikasi ini? Kenapa profilnya lengkap? Kenapa match dengan Maya?
Maya melihat profilnya sendiri. Foto yang digunakan adalah foto lama, dua tahun lalu, rambutnya masih panjang dan wajahnya masih segar tanpa bayangan hitam di bawah mata. Bio-nya dia tulis asal saat mendaftar dulu: Mencari seseorang yang bisa diajak tertawa sampai lupa waktu.
Itu dulu. Saat Maya masih percaya cinta. Saat dia masih punya waktu untuk berpikir tentang hal-hal romantis. Sekarang dia cuma punya utang kos dua bulan dan ibu yang menunggu kabar baik.
Dia menutup aplikasi itu. Menekan tombol samping sampai layar mati.
Tidak. Dia tidak akan memikirkan itu. Dia di sini untuk bekerja. Bukan untuk mencari pacar, apalagi dengan CEO-nya.
Jam menunjukkan 09.30.
Dia buka laptop lagi. Mulai membaca jobdesc satu per satu. Mencatat hal-hal penting di buku notes kecil yang dibelinya kemarin. Tulisannya cepat dan sedikit berantakan, tapi dia usahakan rapi. Dia ingin tunjukkan kalau dia bisa. Kalau dia layak di sini.
Jam 12.00, Maya belum selesai membaca setengah dari daftar tugas.
Matanya sudah perih. Kepalanya pusing karena lapar. Perutnya keroncongan terus-menerus. Tapi dia tidak berani berhenti. Dia tidak berani keluar dari pantry ini karena takut bertemu Arka di lorong. Dia tidak berani pergi ke kantin karena takut telat kembali kalau tiba-tiba dipanggil.
Dia sedang fokus membaca tentang prosedur pengajuan dokumen tanda tangan ketika suara di belakangnya membuatnya melompat.
“Kamu belum makan?”
Maya berbalik cepat. Jantungnya hampir copot.
Arka Devandra berdiri di ambang pintu pantry dengan tangan di saku celana. Blazer abu-abunya sudah tidak dipakai, tinggal kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya masih sama rapi. Matanya masih sama tajam. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Mungkin karena ini pertama kalinya Maya melihat dia tanpa blazer. Dia terlihat lebih... manusia.
“P-pak Arka,” Maya berdiri terlalu cepat. Kepalanya pusing. Dunia berputar sebentar. Dia memegang tepi meja.
“Kamu pucat,” kata Arka. Masih datar. Tapi matanya mengamati.
“Saya sehat, Pak.”
“Sehat tapi pucat seperti mayat?”
Maya tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya berdiri di situ, memegang meja, berusaha agar tubuhnya tidak jatuh.
Arka masuk ke pantry. Dia berjalan ke kulkas kecil, mengambil sebotol air mineral, lalu meletakkannya di depan Maya.
“Minum.”
“Saya tidak—”
“Minum.”
Suaranya tidak keras. Tapi ada perintah di dalamnya yang membuat Maya menurut. Dia mengambil botol itu, membuka tutupnya, dan minum. Air dingin mengalir di tenggorokannya yang kering. Perutnya langsung terasa lebih baik.
“Kapan terakhir kali kamu makan?” tanya Arka.
“Tadi pagi, Pak.”
“Kamu berbohong.”
Maya tersentak. “Saya tidak—”
“Kopimu masih utuh di meja saya. Belum diminum sama sekali. Kalau kamu sarapan pasti beli kopi dan makanan. Tapi kamu hanya bawa satu gelas kopi. Jadi kamu tidak sarapan.”
Maya terdiam. Dia tidak menyangka Arka memperhatikan detail seperti itu. Dia bahkan tidak menyangka Arka masih ingat kopinya ada di meja.
“Saya lupa sarapan, Pak,” akhirnya Maya jujur.
“Karena takut telat?”
Maya mengangguk pelan.
Arka tidak bilang apa-apa. Dia berjalan ke mesin kopi, menekan beberapa tombol dengan gerakan yang sangat familiar, seperti dia melakukan ini setiap hari. Dalam satu menit, mesin itu mengeluarkan secangkir kopi hitam dengan aroma yang kuat. Arka mengambil cangkir itu, lalu meletakkannya di depan Maya.
Dengan satu tangan di saku, satu tangan lagi di pinggul, dia berdiri di seberang meja dan menatap Maya.
“Kopi. Hangat. Bukan karena aku baik. Tapi karena asisten yang pingsan karena kelaparan akan menyulitkan pekerjaanku.”
Maya menatap cangkir kopi itu. Lalu menatap Arka. Pria itu berdiri dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi entah kenapa, di tengah dinginnya ruangan pantry ini, kopi yang baru dibuat itu terasa hangat bahkan sebelum dia meminumnya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Maya lirih.
Arka tidak menjawab. Dia membuka kulkas lagi, mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna hitam, lalu meletakkannya di samping kopi Maya.
“Makan.”
“Pak, ini—”
“Kantin lantai dasar sudah tutup. Ini makanan cadangan saya. Nasi rendang. Masih hangat.”
Maya membuka kotak itu perlahan. Aroma rendang langsung menyebar di ruangan kecil itu. Perutnya keroncongan lagi, lebih keras dari sebelumnya. Dia malu. Tapi laparnya lebih besar dari rasa malu.
“Pak, saya tidak enak—”
“Kamu suka rendang?”
Pertanyaan itu tiba-tiba. Maya mengangguk.
“Kalau suka, makan. Kalau tidak suka, tinggal. Tapi jangan buang-buang waktuku dengan basa-basi.”
Maya tidak perlu didorong dua kali. Dia mengambil sendok yang ada di dalam kotak itu dan mulai makan. Rendangnya empuk. Bumbunya meresap. Pedasnya pas. Dia makan cepat, terlalu cepat, sampai sesekali tersedak dan harus minum kopi yang diberikan Arka.
Arka berdiri di seberang meja, tidak pergi. Dia hanya berdiri di situ, sesekali melihat ponselnya, sesekali melihat Maya makan. Ekspresinya tidak berubah. Tapi dia tidak pergi. Itu yang membuat Maya bingung.
Kenapa CEO perusahaan teknologi senilai ratusan miliar ini berdiri di pantry kecil menemani asisten baru yang belum genap setengah hari kerja makan siang?
Maya tidak berani bertanya. Dia hanya makan sampai habis. Sampai kotak hitam itu kosong. Sampai sendok terakhir menyapu sisa kuah rendang yang masih menempel.
Dia meneguk kopinya. Hangat. Pahit. Tapi enak.
“Makasih, Pak,” katanya lagi. Kali ini lebih jelas. Matanya menatap Arka langsung.
Arka mengangkat alis. “Kamu habis semuanya.”
“Iya, Pak. Karena enak.”
“Itu untuk dua kali makan.”
Maya membeku. “A-apa?”
“Nasi rendang itu porsiku untuk siang dan malam. Kamu habis dalam sepuluh menit.”
Wajah Maya langsung merah. Dari ujung telinga sampai ke leher. Panas. Sangat panas.
“Pak, saya tidak tahu. Saya pikir ini untuk saya. Maaf. Saya—”
“Bereskan.”
Maya menghentikan omongannya. “Hah?”
“Kamu habiskan rendangku. Jadi kamu ganti. Cari makan malamku nanti. Jam tujuh. Di sini. Jangan telat.”
Arka berbalik, berjalan ke pintu pantry, lalu berhenti.
“Dan Maya.”
“Ya, Pak?”
“Aplikasi dating di tablet itu sudah aku hapus. Tapi pesan error yang kamu kirim tadi sudah aku screenshot.”
Wajah Maya yang tadinya merah berubah pucat dalam sekejap.
“Screenshot, Pak?”
“Sebagai bukti kalau perangkatku pernah mengalami bug. Kalau ada masalah dengan sistem di masa depan, aku punya dokumentasi.”
Dia keluar. Meninggalkan Maya di pantry dengan mulut terbuka, jantung berdegup kencang, dan perasaan campur aduk antara malu, panik, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak dia mengerti.
Screenshot. Dia screenshot pesan itu. Pesan “kamu ganteng banget” akan tersimpan di perangkat CEO selamanya.
Maya menunduk di atas meja pantry, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya. Wajahnya panas. Tapi senyumnya tidak bisa hilang.
Kenapa senyum? Kenapa kamu senyum, Maya? Dia baru saja mempermalukan kamu. Dia baru saja bilang kamu habis makan siang dan malamnya. Dia baru saja bilang dia screenshot pesan error kamu.
Tapi senyum itu tetap ada. Dan Maya tidak tahu harus berbuat apa.
Bersambung ke Episode 3