CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 3: Malam Itu Ada Rendang
Maya tidak bisa berkonsentrasi sisa sore itu. Setelah Arka pergi dari pantry, dia berdiri di depan meja marmer itu selama lima menit hanya untuk menenangkan detak jantungnya. Kotak makan hitam kosong masih ada di depannya. Bekas kuah rendang mengering di dasar kotak. Dia harus mencuci ini. Dia harus mengembalikannya. Tapi bagaimana caranya?
Dia cuci kotak itu sampai bersih, lalu keringkan dengan tisu. Tapi dia belum berani mengembalikannya. Dia letakkan di samping laptop, lalu duduk, lalu berdiri, lalu duduk lagi.
Jam menunjukkan 13.00. Sisa waktu sampai jam 16.00 terasa seperti satu abad.
Dia membuka laptop. Membaca jobdesc lagi. Tapi matanya hanya bergerak di atas kata-kata tanpa ada satu pun yang masuk ke otak. Yang terbayang hanya satu adegan: Arka berdiri di seberang meja, dengan lengan kemeja digulung, menatapnya makan rendang sampai habis. Dan bilang itu untuk dua kali makan. Bilang dia harus ganti. Bilang dia harus cari makan malam. Jam tujuh. Di sini.
Maya menghela napas. Dia buka aplikasi pesan antar makanan dan menghabiskan satu jam hanya untuk memilih restoran rendang terenak. Tapi lalu dia sadar. Dia tidak tahu alamat kantor untuk pengiriman. Dia tidak tahu Arka mau makan di pantry atau ruangannya. Dia tidak tahu tingkat kepedasan yang Arka suka.
Dia hampir menangis.
Tapi tidak ada waktu untuk menangis. Jam sudah 14.30. Dia belum melakukan satu pun tugas dari daftar jobdesc.
Dia tutup aplikasi, buka laptop, dan mulai kerja. Mengatur jadwal rapat Arka untuk minggu depan. Lima belas rapat. Lima belas waktu berbeda. Lima belas orang yang harus dihubungi. Tangannya bergerak cepat di keyboard. Matanya fokus ke layar.
Menyusun laporan pengeluaran bulanan. Ratusan baris angka. Matanya silau. Tapi dia tidak berhenti. Jari-jarinya menari di atas keypad, menjumlah, mengurangi, membandingkan.
Memastikan bunga di meja Arka diganti. Dia keluar dari pantry, berjalan ke lorong, dan berhenti di depan ruang CEO. Pintunya terkunci. Dia ketuk. Tidak ada jawaban.
Maya turun ke lantai dasar, menemui Sarah di meja resepsionis. Sarah sedang memotong kuku jari manisnya.
“Mbak, Pak Arka biasanya beli bunga di mana?”
Sarah meletakkan gunting kukunya. Matanya berbinar. “Kamu sudah sampai tahap ganti bunga? Baru hari pertama?”
“Mbak Sarah, tolong.”
Sarah tertawa. “Pak Arka suka bunga lili putih. Beli di toko bunga depan gedung, sebelah kiri. Bilang aja untuk ruang CEO. Mereka sudah tahu.”
“Makasih.”
“Tapi hati-hati. Bunga lili itu harumnya menyengat. Jangan kebanyakan. Nanti Pak Arka bersin.”
Maya mengangguk. Dia keluar gedung, berlari kecil ke toko bunga. Beli tiga tangkai lili putih. Cukup kecil untuk diletakkan di vas, cukup indah untuk tidak membuat Arka marah. Dia bayar dengan uang terakhir di dompetnya.
Kembali ke lantai dua puluh, pintu ruang CEO masih terkunci. Maya letakkan bunga itu di meja resepsionis kecil di lorong, dekat pintu. Dia tulis catatan di kertas bekas: Bunga baru. Maaf, pintunya terkunci. —Maya.
Jam 15.45. Dia kembali ke pantry, menyelesaikan laporan pengeluaran. Matanya perih. Lehernya kaku. Jari-jarinya kebas. Tapi dia tidak berhenti sampai semua kolom terisi. Sampai tidak ada satu sel pun yang berwarna merah.
Jam 16.00 tepat, Maya berdiri di depan pintu ruang CEO. Pintunya terbuka. Arka ada di dalam, duduk di balik meja kayu besar dengan laptop terbuka di depannya. Wajahnya masih dingin. Fokus.
Maya mengetuk pintu.
“Pak Arka, laporan saya.”
Arka mendongak. “Masuk.”
Maya masuk. Dia letakkan kotak makan hitam yang sudah dicuci di sudut meja.
“Kotak makannya, Pak. Saya sudah cuci.”
Arka melirik sebentar. “Kamu tidak suka rendang?”
“Saya suka, Pak. Tadi saya habis.”
“Lalu kenapa kamu kembalikan?”
Maya bingung. “Saya pikir Bapak perlu kotaknya kembali.”
“Aku punya banyak. Simpan saja kalau kamu suka.”
Maya terdiam. Arka Devandra yang dingin sedang membicarakan kotak makan bekas rendang. Dan dia bilang simpan saja.
“Baik, Pak.”
Arka mengangguk. “Laporan.”
Maya membuka buku notes. Dia membacakan semua yang sudah dikerjakan. Jadwal rapat minggu depan. Lima belas konfirmasi. Laporan pengeluaran. Semua angka sudah diperiksa dua kali. Bunga lili putih di luar karena pintu terkunci. Dan tiga tugas terakhir belum sempat dipelajari.
Arka mendengarkan tanpa menyela. Matanya tidak berpaling dari Maya. Jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan kayu.
Ketika Maya selesai, Arka tidak langsung bicara. Diam beberapa detik.
“Kamu tidak tahu kode akses ruanganku?”
“Tidak, Pak.”
“Kenapa tidak tanya?”
Maya mengerjapkan mata. “Saya tidak tahu kalau boleh tanya.”
Arka menghela napas. Pelan. Tapi kali ini, Maya merasa helaan napas itu tidak sesabar tadi pagi.
“Maya, kamu asistenku. Kalau ada yang tidak kamu tahu, kamu tanya. Kalau ada yang menghalangi tugasmu, kamu laporkan. Kalau kamu diam dan memilih jalan sendiri, kamu tidak membantu. Kamu malah menambah masalah.”
Maya menunduk. “Maaf, Pak.”
“Kode akses ruanganku 2018. Hafalkan.”
“Baik, Pak.”
“Dan bunga lili. Jangan tiga tangkai lagi. Aku alergi. Satu tangkai cukup.”
Maya membeku. “Maaf, Pak. Saya tidak tahu.”
“Sekarang kamu tahu.”
Arka membuka laptop lagi. Maya berbalik ke pintu. Tapi suara Arka menghentikannya.
“Maya. Jam tujuh. Di pantry. Jangan lupa rendangnya.”
Maya menoleh. Arka tidak melihat ke arahnya. Tapi Maya bisa melihat sudut bibir pria itu bergerak. Kali ini dia yakin itu senyum.
Jam 18.55, Maya sudah berdiri di pantry dengan dua bungkusan makanan. Satu rendang pedas sedang. Satu rendang pedas ringan. Dia juga beli kerupuk merah dan es teh manis dua gelas.
Dia menata semuanya di meja marmer putih. Kotak makanan dibuka rapi. Sendok dan garpu di atas tisu bersih. Es teh di sisi kanan. Kerupuk di mangkuk kecil.
Jam 19.00. Tidak ada Arka.
Maya menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Jam 19.07, dia mulai gelisah. Apa Arka lupa? Apa ini hanya cara Arka untuk membuatnya menunggu seperti orang bodoh?
Jam 19.15. Maya hampir menangis. Bukan karena menunggu terlalu lama. Tapi karena merasa bodoh. Dia pikir ini sesuatu. Ternyata tidak. Ini hanya pekerjaan.
Dia mulai merapikan kotak makanan. Tangannya bergerak perlahan tanpa semangat.
“Kamu mau ke mana?”
Maya kaget. Arka berdiri di ambang pintu pantry. Blazer abu-abunya sudah dipakai lagi. Tapi matanya tidak sedingin tadi pagi.
“Saya pikir Bapak tidak jadi datang,” kata Maya, suaranya cemberut tanpa sadar.
“Rapat mendadak. Baru selesai.”
Arka masuk. Dia berdiri di seberang meja, menatap dua kotak makanan.
“Kamu pesan dua?”
“Saya tidak tahu Bapak suka pedas atau tidak.”
“Kamu pesan dari restoran mana?”
Maya menyebut dua nama. Arka mengangkat alis.
“Dua-duanya jauh. Ongkirnya mahal.”
“Saya tidak peduli ongkir, Pak. Saya cuma mau Bapak makan enak.”
Kata-kata itu keluar tanpa filter. Maya langsung menyesal.
Arka menatapnya lama. “Kamu tidak peduli ongkir.”
Maya menunduk. Wajahnya panas. “Maksud saya, Bapak sudah baik kasih saya rendang tadi siang. Saya cuma mau balas.”
“Kamu balas dengan dua porsi rendang dan es teh dua gelas?”
“Saya tidak tahu Bapak suka es teh atau tidak.”
“Aku suka es teh.”
Arka duduk. Dia mengambil sendok, membuka kotak rendang pedas sedang, dan mengambil satu potong daging. Mengunyah perlahan. Matanya tertutup sebentar.
Maya tidak bernapas selama tiga detik itu.
“Enak,” kata Arka.
Dada Maya terasa lega. Lega sekali.
Arka makan dengan perlahan. Teratur. Rapi. Maya duduk di seberang, tidak makan. Dia hanya menatap Arka. Untuk pertama kalinya hari ini, Maya melihat Arka Devandra tanpa dinding dingin. Di pantry kecil ini, dengan lengan kemeja digulung dan dasi sedikit longgar, dia terlihat seperti manusia biasa.
“Kamu tidak makan?” tanya Arka.
“Saya sudah makan tadi siang, Pak.”
“Kamu makan rendangku tadi siang. Itu milikku. Kamu belum makan hari ini.”
“Saya tidak lapar, Pak.”
Perut Maya keroncongan.
Arka mendongak. Matanya menatap Maya dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Kesal. Tapi kesal yang aneh.
“Makan.”
“Pak, saya—”
“Maya. Aku tidak suka mengulang perintah.”
Maya menurut. Dia ambil sendok dan makan rendang dari kotak satunya. Pedasnya sedang. Dagingnya empuk. Tapi tidak seenak rendang Arka tadi siang.
Mereka makan dalam diam. Dua orang di pantry kosong, lantai dua puluh gedung kaca yang sunyi, dengan lampu kota mulai menyala di balik jendela. Diam ini tidak terasa canggung. Diam ini terasa hangat.
Arka menghabiskan rendangnya lebih dulu. Dia letakkan sendok, ambil es teh, minum satu tegukan.
“Besok,” katanya tiba-tiba.
Maya mendongak.
“Besok kamu sarapan dulu sebelum berangkat. Aku tidak mau asistenku pingsan karena kelaparan.”
“Baik, Pak.”
“Dan beli bunga lili satu tangkai. Jangan tiga.”
“Iya, Pak.”
“Dan dating app di tablet itu sudah aku hapus. Tapi kalau kamu penasaran dengan profilku, tanya langsung. Jangan cari lewat perangkat kantor.”
Maya tersedak. Rendang di mulutnya hampir keluar. Dia batuk-batuk, memukul d**a sendiri.
“Saya tidak penasaran, Pak!”
“Kamu sudah kirim pesan.”
“Itu error!”
“Kamu bilang ganteng.”
“Itu jari kelingking saya yang salah!”
Arka bangkit dari kursinya. Di ambang pintu, dia berhenti.
“Maya. Besok jangan telat. Aku tidak mau menunggumu di pantry lagi.”
Dia pergi.
Maya duduk di kursinya dengan sendok masih di tangan, mulut setengah terbuka, jantung berdegup kencang.
Besok jangan telat. Aku tidak mau menunggumu di pantry lagi.
Dia tidak bilang tidak mau menunggu. Dia bilang tidak mau menunggumu lagi. Ada kata lagi. Berarti dia datang ke pantry jam tujuh. Berarti dia menunggu. Berarti dia sengaja datang.
Maya menunduk di atas meja, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah sekali. Lipstiknya mungkin luntur karena dia terus menggigit bibir. Tapi dia tidak peduli.
Dia tersenyum. Senyum lebar yang tidak bisa dia sembunyikan.
Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala satu per satu. Dan Maya merasa, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, dia tidak sendirian.
Bersambung ke Episode 4