CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 4: Pagi yang Salah
Maya tidak bisa tidur.
Bukan karena gugup. Bukan karena takut. Tapi karena senyum itu. Senyum kecil Arka Devandra yang dia lihat dua kali hari ini. Senyum yang mungkin tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun. Tapi dia tunjukkan ke Maya. Di pantry. Di ruang CEO. Dua kali.
Maya berguling di kasurnya. Kasur tipis di kos-kosan sempit berukuran tiga kali empat meter. Dindingnya dicat putih kusam. Kipas angin di atas kepalanya berputar lambat, bunyinya krek-krek-krek seperti mau copot kapan saja. Di sampingnya, laptop seken masih menyala dengan layar jobdesc yang belum selesai dia baca. Di luar, suara motor dan orang jualan mie ayam masih terdengar samar.
Jam menunjukkan 01.30.
Maya memeluk bantal. Wajahnya masih panas. Setiap kali dia pejam mata, yang muncul adalah Arka. Arka dengan lengan kemeja digulung. Arka dengan dasi longgar. Arka dengan mata yang tidak sedingin pagi. Arka yang bilang aku tidak mau menunggumu di pantry lagi.
Dia membalikkan badan. Menghadap tembok. Tembok itu ada coretan bekas penyewa sebelumnya: Jangan lupa bahagia. Maya tersenyum sendiri.
Jangan lupa bahagia. Gampang banget ngomongnya.
Dia membalik lagi. Kipas angin di atas masih krek-krek-krek. Panas. Dia buka jendela kecil di samping kasur. Udara malam masuk, bawa bau asap dan mie ayam dari pinggir jalan.
Ponselnya menyala. Notifikasi masuk.
Maya mengambil ponsel. Ini sudah jam 02.00. Siapa yang pesan jam segini?
Ternyata bukan pesan. Tapi notifikasi dari aplikasi dating itu. Yang dia pikir sudah tidak aktif. Yang dia buat setahun lalu saat masih punya harapan untuk jatuh cinta.
Ada yang menyukai profilmu!
Maya hampir membuang ponsel.
Dia kira aplikasi itu mati. Dia kira tidak ada yang pakai lagi. Tapi kenapa sekarang? Kenapa jam dua malam?
Dia buka aplikasi itu dengan jari gemetar. Siapa yang like profilnya jam segini? Orang gila? Orang yang tidak bisa tidur? Orang yang—
Maya berhenti.
Foto profil itu hitam. Gelap. Tidak ada wajah. Tidak ada petunjuk. Usia: 28. Lokasi: 2 km dari lokasimu. Bio: Tidak mencari apa-apa.
Maya langsung duduk.
Jantungnya berdegup kencang. Matanya tidak bisa lepas dari layar. 28 tahun. Dua kilometer dari kosannya. Bio: Tidak mencari apa-apa.
Itu bio yang sama. Bio yang dia lihat di tablet kantor. Bio milik Arka Devandra.
Tidak mungkin. Dia bilang aplikasi itu sudah dihapus. Dia bilang dia hapus dari tablet. Tapi ponsel? Apa dia punya di ponsel? Apa dia yang like profilku jam dua malam?
Jari Maya bergerak sebelum otaknya sempat berpikir. Dia klik profil itu. Muncul opsi untuk membalas like. Muncul opsi untuk mengirim pesan. Muncul opsi untuk—
Maya melempar ponsel ke ujung kasur.
“Tidak,” katanya keras-keras. “Tidak. Ini jebakan. Ini pasti error lagi. Aku tidak akan—tidak akan—”
Tapi matanya tidak bisa berhenti menatap ponsel itu. Layar masih menyala. Profil hitam itu masih terpampang. Tidak mencari apa-apa.
Dia ambil ponsel lagi. Dia lihat notifikasi itu. Dia lihat profil itu. Dia lihat jaraknya. Dua kilometer.
Kos Maya ada di daerah pinggiran, jauh dari gedung perkantoran. Kalau Arka ada dalam radius dua kilometer dari sini, berarti dia... di mana? Apa dia tinggal di sekitar sini? Apa CEO perusahaan teknologi senilai ratusan miliar tinggal di daerah pinggiran yang jalannya berlubang?
Maya menggeleng. Bukan urusannya. Bukan urusannya di mana Arka tinggal. Bukan urusannya kenapa Arka like profilnya jam dua malam. Bukan urusannya sama sekali.
Dia matikan ponsel. Letakkan di samping bantal. Pejamkan mata.
Tidak bisa tidur.
Dia nyalakan ponsel lagi. Buka aplikasi itu lagi. Profil hitam itu masih ada. Like itu masih ada. Dan Maya, dengan kesadaran penuh bahwa ini adalah ide paling bodoh yang pernah dia miliki, membalas like itu.
Langsung muncul notifikasi.
Anda dan Arka D. telah saling menyukai! Kirim pesan sekarang?
Maya menatap layar. Jari telunjuknya melayang di atas tombol pesan. Satu sentuhan. Satu sentuhan dan dia akan mengirim pesan ke CEO-nya lewat aplikasi kencan jam dua malam. Satu sentuhan dan tidak ada lagi yang namanya error. Ini akan nyata. Ini akan disengaja.
Dia tidak menekan tombol itu.
Dia matikan ponsel, tarik selimut sampai ke dagu, dan memaksa dirinya tidur. Kipas angin masih krek-krek-krek. Di luar, mie ayam sudah tutup. Kota mulai sunyi.
Dan Maya akhirnya terlelap dengan senyum kecil di wajahnya. Senyum yang sama seperti yang dia lihat di wajah Arka. Senyum yang tidak dia sadari.
Pagi harinya, Maya bangun dengan mata sembab dan rambut kusut.
Jam menunjukkan 06.30. Dia punya satu setengah jam untuk siap-siap. Tapi dia menghabiskan sepuluh menit pertama hanya untuk duduk di kasur, menatap ponselnya, dan mengingat apa yang terjadi semalam.
Kamu balas like CEO jam dua malam. Kamu sengaja balas like CEO jam dua malam.
Dia buka ponsel. Aplikasi dating itu masih terbuka. Notifikasi masih ada. Tapi tidak ada pesan masuk. Tidak ada hi atau hai atau kamu juga bangun jam segini? Hanya diam. Hanya like yang dibalas. Hanya dua orang yang saling menyukai tanpa ada yang memulai percakapan.
Maya tidak tahu harus merasa lega atau kecewa.
Dia memilih merasa lega. Jauh lebih aman.
Dia mandi. Air dingin menyegarkan wajahnya. Dia pakai baju yang sama dari kemarin karena baju lain masih basah. Kemeja putih. Jaket tipis krem. Sepatu yang menjepit jempol kaki. Tapi kali ini dia tambahin lipstik. Warna pink muda. Tipis. Tidak mencolok.
Bukan untuk dia, pikir Maya sambil melihat cermin. Ini untuk profesionalisme. Asisten yang rapi mencerminkan perusahaan yang rapi.
Dia ambil tas. Masukin laptop yang kipasnya mulai bunyi lagi. Masukin buku notes. Masukin dompet yang isinya tinggal recehan. Lalu dia keluar kos, naik angkot, dan dalam perjalanan dia mampir ke warung nasi uduk. Dia sarapan. Seperti yang Arka bilang.
Nasi uduk dengan tempe goreng dan sambal. Enak. Hangat. Perutnya terisi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir.
Dia sampai di gedung Devatech jam 07.40. Sepuluh menit lebih awal dari kemarin. Dia langsung menuju lift, naik ke lantai dua puluh, dan—
Arka sudah ada di pantry.
Dia berdiri di depan mesin kopi, memegang cangkir kosong, menatap Maya dengan ekspresi datar. Tapi Maya bisa lihat matanya bergerak cepat. Dari wajahnya, ke bajunya, ke tasnya, ke tangannya yang kosong.
“Kamu sarapan?” tanya Arka.
“Iya, Pak. Nasi uduk.”
“Kopi?”
“Belum, Pak.”
Arka mengangguk. Dia berbalik, menekan tombol mesin kopi, dan dalam semenit menghasilkan dua cangkir kopi hitam. Satu untuk dirinya. Satu untuk Maya. Dia geser cangkir itu ke seberang meja.
Maya duduk. Dia memegang cangkir itu, menghirup aromanya, dan merasa sesuatu yang aneh di dadanya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
“Kamu tidak bawa bunga,” kata Arka.
Maya hampir tersedak. “Saya... saya lupa, Pak. Maaf. Nanti siang saya beli.”
“Jangan siang. Sekarang.”
“Sekarang, Pak?”
“Toko bunga buka jam delapan. Sekarang jam tujuh empat puluh lima. Kamu punya waktu lima belas menit. Pergi.”
Maya buru-buru berdiri. Tapi Arka belum selesai bicara.
“Dan Maya.”
“Ya, Pak?”
“Kamu tidak bawa kotak makan.”
Maya mengerjapkan mata. “Kotak makan?”
“Kemarin aku bilang simpan. Kamu bawa pulang. Sekarang mana?”
“Itu... masih di kos saya, Pak.”
“Kenapa tidak kamu bawa?”
“Saya pikir itu cuma kotak makan biasa, Pak.”
Arka menatap Maya dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Kalau aku bilang simpan, artinya simpan. Bukan bawa pulang dan tinggal. Kamu bawa besok.”
“Baik, Pak.”
“Sekarang pergi beli bunga. Satu tangkai. Jangan tiga.”
Maya berlari keluar pantry, masuk lift, turun ke lantai dasar, lalu berlari ke toko bunga. Dia beli satu tangkai lili putih. Kembali ke gedung. Naik lift. Lantai dua puluh.
Dia letakkan bunga itu di vas kecil yang ternyata sudah tersedia di meja resepsionis lorong. Vas itu bersih, transparan, dengan air yang sudah diisi penuh. Mungkin Arka yang menyiapkan. Mungkin juga Sarah. Tapi Maya memilih percaya itu Arka.
Dia kembali ke pantry. Arka masih di sana, duduk di kursi yang sama, kopinya sudah setengah habis.
“Sudah?” tanyanya tanpa mendongak.
“Sudah, Pak.”
“Duduk. Kopimu masih hangat.”
Maya duduk. Dia minum kopinya. Pahit. Tapi hangat. Sangat hangat.
Mereka diam seperti semalam. Tapi diam ini berbeda. Diam ini tidak hanya hangat. Diam ini juga... nyaman. Seperti dua orang yang sudah saling kenal lama. Seperti tidak perlu banyak bicara untuk mengerti.
Tapi Maya penasaran. Sangat penasaran.
“Pak Arka.”
“Hm?”
“Boleh saya tanya sesuatu?”
Arka mendongak. Matanya menatap Maya dengan waspada. “Tergantung pertanyaannya.”
Maya ragu. Dia tahu ini bukan pertanyaan profesional. Dia tahu ini bukan pertanyaan yang pantas ditanyakan asisten ke CEO. Tapi rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya.
“Bapak... punya aplikasi dating?”
Arka berhenti minum. Cangkirnya berhenti di depan bibir. Matanya membesar sedikit. Hanya sedikit. Tapi Maya melihatnya.
“Kenapa kamu tanya?”
“Karena kemarin di tablet Bapak ada aplikasi itu. Saya penasaran apakah Bapak masih punya di perangkat lain.”
Arka meletakkan cangkirnya. Perlahan.
“Kamu penasaran?”
Maya mengangguk. Terlalu cepat.
“Kamu penasaran karena kamu ingin tahu kehidupan pribadiku, atau kamu penasaran karena kamu ingin tahu apakah aku melihat profil kamu?”
Maya membeku.
Darahnya serasa berhenti mengalir. Wajahnya berubah pucat, lalu merah, lalu pucat lagi. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
Arka menatapnya dengan tenang. Terlalu tenang.
“Aplikasi itu,” katanya pelan, “sudah aku hapus dari tablet. Tapi aku masih punya di ponsel. Aku membuat profilnya setahun lalu untuk riset pasar. Aku lupa menghapusnya.”
Maya masih tidak bisa bicara.
“Dan semalam,” Arka melanjutkan, “aku mendapat notifikasi. Ada seseorang yang melihat profilku. Seseorang yang berada dalam radius dua kilometer dari lokasiku. Seseorang yang fotonya diambil dua tahun lalu dengan rambut panjang dan senyum lebar.”
Maya menelan ludah. Pahit. Kopi yang tadi terasa hangat sekarang terasa panas di tenggorokan.
“Itu kamu, kan?”
Maya tidak bisa berbohong. Tidak dengan mata Arka yang menatapnya seperti itu. Tidak dengan jantungnya yang berdegup kencang sampai dia bisa mendengarnya sendiri.
“Iya,” katanya lirih. “Itu saya.”
Arka tidak bicara. Dia hanya menatap Maya. Tatapan yang lama. Tatapan yang membuat Maya merasa semua rahasianya terbuka. Semua rasa malunya. Semua rasa penasarannya. Semua rasa yang bahkan dia sendiri tidak tahu namanya.
“Kamu balas like-ku,” kata Arka akhirnya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Maya menunduk. Wajahnya panas sekali. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia tidak tahu kenapa. Karena dia sendiri tidak mengerti. Karena semalam, saat dia membalas like itu, dia tidak berpikir. Jarinya bergerak sendiri. Seperti jari kelingkingnya kemarin. Seperti tubuhnya tidak mau mendengarkan otaknya.
“Saya tidak tahu, Pak,” jawabnya jujur.
Arka diam. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak Maya duga.
Dia tersenyum.
Bukan senyum kecil yang nyaris tidak terlihat. Tapi senyum yang jelas. Senyum yang menggerakkan sudut bibirnya ke atas. Senyum yang membuat matanya tidak lagi dingin. Senyum yang membuat Maya lupa cara bernapas.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku like profilmu,” kata Arka pelan. “Tapi aku melakukannya. Jam dua malam. Tanpa alasan.”
Maya menatapnya. Arka menatap Maya.
Di pantry kecil itu, di lantai dua puluh gedung kaca yang sunyi, dengan dua cangkir kopi yang mulai dingin dan satu tangkai lili putih yang baru diletakkan di lorong, mereka berdua diam.
Tapi diam ini berbeda dari semua diam sebelumnya.
Diam ini terasa seperti sesuatu yang baru dimulai.
Bersambung ke Episode 5