CEO 404: Cinta Tidak Ditemukan
Episode 5: Diam yang Berbicara
---
Maya tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah pengakuan di pantry itu.
Sepanjang hari, dia berusaha fokus bekerja. Tapi matanya terus tertarik ke ruang CEO. Pintunya tertutup. Arka ada di dalam. Tapi dia tidak keluar. Tidak sampai jam makan siang. Tidak sampai jam tiga sore.
Maya menghabiskan waktu di pantry, mencoba mengerjakan tugas. Tapi setiap kali melihat cangkir kopi kosong di seberang meja, jantungnya berdegup tidak karuan.
Kamu balas like-ku. Aku juga tidak tahu kenapa aku like profilmu.
Kalimat itu berputar di kepalanya terus-menerus.
Jam menunjukkan 15.30. Maya berdiri. Berjalan ke lorong. Berhenti di depan pintu ruang CEO. Dia angkat tangan, mau mengetuk. Tapi ragu. Apa dia mengganggu? Apa Arka sedang rapat?
Tangannya turun.
Pintu terbuka.
Maya kaget. Arka berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya sedikit kusut, dasinya longgar. Matanya menatap Maya.
“Kamu mau apa?”
“Saya hanya mau tanya, Pak. Bapak sudah makan siang?”
Arka mengangkat alis. “Kamu datang ke sini untuk tanya apakah aku sudah makan siang?”
Maya menelan ludah. “Iya, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena tadi pagi Bapak hanya minum kopi. Saya khawatir Bapak belum makan.”
Arka diam. “Kamu khawatir?”
Maya menunduk. Wajahnya merah.
“Masuk,” kata Arka.
Maya mengikuti. Pintu tertutup di belakang mereka. Ruangan itu sunyi. Meja kayu besar masih berantakan dengan dokumen. Tirai kaca terbuka, memperlihatkan langit sore yang mulai berwarna jingga.
Arka duduk di kursinya. Maya duduk di seberang.
“Aku belum makan siang,” kata Arka.
Maya menghela napas lega. “Bapak mau saya pesankan makanan?”
“Kamu tahu aku suka apa?”
Maya berpikir. Rendang untuk malam. Es teh. Kopi hitam. Nasi uduk untuk sarapan. Tapi untuk siang?
“Bapak suka nasi uduk,” jawabnya pelan.
Arka mengangguk pelan. “Kamu perhatikan.”
“Tadi pagi Bapak bilang suka nasi uduk. Tapi Bapak tidak sarapan. Jadi saya pikir...”
“Aku tidak sarapan karena menunggu seseorang di pantry.”
Maya tercengang. “Menunggu saya, Pak?”
Arka tidak menjawab. Dia membuka laptopnya. Tapi Maya tidak bergerak.
“Pak, kenapa Bapak menunggu saya?”
“Karena aku pikir kamu akan membawakan nasi uduk.”
“Saya tidak tahu kalau Bapak suka nasi uduk.”
“Sekarang kamu tahu.”
Maya diam. Ada yang mengganjal di dadanya. “Saya akan beli nasi uduk untuk Bapak besok pagi.”
“Kamu tidak usah.”
“Tapi Bapak—”
“Maya.” Suara Arka memotong. Lebih pelan dari biasanya. “Kamu tidak perlu membelikanku makanan. Bukan tugasmu.”
“Lalu kenapa Bapak tadi menyuruh saya tebak?”
Arka menutup laptopnya. Matanya menatap Maya. “Karena aku ingin tahu apakah kamu memperhatikan detail kecil. Apakah kamu peduli.”
“Saya peduli, Pak.”
“Karena tugas?”
Pertanyaan itu menusuk. Maya menunduk. Tangannya menggenggam rok sendiri.
“Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya merasa tidak tega kalau Bapak tidak makan. Bapak sudah baik kepada saya. Bapak kasih saya rendang, kopi, kotak makan. Bapak tanya saya sudah sarapan atau belum.”
Maya berhenti. Napasnya pendek.
“Bapak baik,” selesainya lirih.
Arka tidak bicara. Dia bangkit, berjalan ke jendela kaca. Punggungnya tegap, tapi terasa berat.
“Aku tidak baik,” katanya pelan. “Aku hanya tidak ingin kamu kelaparan.”
“Tapi Bapak sendiri kelaparan.”
“Itu beda.”
“Kenapa beda, Pak?”
Arka berbalik. Matanya menatap Maya. Lembut. “Karena kamu punya alasan untuk kelaparan. Kos menunggak, ibu di kampung, laptop seken yang bunyinya kayak pesawat. Kamu kelaparan karena kamu memilih bertahan. Aku kelaparan karena aku lupa. Itu beda.”
Maya terpaku. Arka tahu. Arka tahu semua detail kecil yang tidak pernah dia ceritakan.
“Pak Arka, bagaimana Bapak—”
“Aku membaca data karyawan.” Arka berjalan mendekat. “Tiga bulan lulus, alamat kos di pinggiran, laptop model tiga tahun lalu. Dan kemarin kamu bilang ongkir mahal dengan wajah jujur sampai aku yakin itu uang terakhirmu.”
Maya tidak bisa bicara. Matanya panas.
“Jadi,” Arka berdiri di samping kursinya. Jaraknya hanya setengah langkah. “Kamu tidak perlu membelikanku makanan. Kamu tidak perlu balas kebaikanku. Tugasmu adalah bekerja. Selamatkan uangmu untuk kos dan ibumu. Paham?”
Maya mengangguk. Tapi ada yang ingin dia tanyakan. Sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi pagi.
“Pak Arka, boleh saya tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kenapa Bapak peduli? Saya cuma asisten baru. Saya error terus. Saya telat, saya salah kirim pesan, saya habiskan rendang Bapak. Kenapa Bapak peduli?”
Arka diam. Dia berjalan kembali ke meja, mengambil cangkir kopi yang sudah dingin, lalu meletakkannya kembali. Gerakannya lambat.
“Karena kamu adalah error pertama yang tidak ingin aku perbaiki.”
Maya tidak mengerti. “Maksudnya, Pak?”
Arka menatap matanya. “Aku suka semuanya teratur. Sistem. Kode. Logika. Tapi kamu datang dengan pesan error di hari pertama, dengan kopi yang tumpah, dengan rendang yang kamu habiskan tanpa sadar. Kamu adalah bug di sistemku.”
Maya menunduk. “Maaf, Pak.”
“Tapi aku tidak ingin memperbaikimu.”
Maya mendongak.
“Aku tidak tahu kenapa,” lanjut Arka pelan. “Tapi setiap kali kamu error, aku malah penasaran. Error apa lagi yang akan kamu buat? Dan setiap kali kamu membuat kesalahan, aku tidak marah. Aku hanya ingin tahu lebih banyak.”
Arka berjalan mendekat lagi. Sekarang dia berdiri di depan Maya. Hanya satu langkah.
“Aku tidak mengerti perasaan ini. Aku tidak bisa memberi nama. Tapi aku tahu itu ada. Dan aku tidak ingin menghapusnya.”
Ruang CEO itu sunyi. Lampu kota mulai menyala di balik jendela. Langit jingga perlahan berubah biru tua.
Maya mendongak. Matanya bertemu dengan mata Arka.
“Pak Arka, saya juga tidak mengerti.”
Arka menunggu.
“Tapi saya tahu, setiap pagi saya ingin cepat sampai ke kantor. Setiap malam saya ingin jam tujuh cepat datang. Setiap kali Bapak kasih saya kopi, rasanya hangat. Setiap kali Bapak bilang besok jangan telat, saya tersenyum sendiri.”
Maya berhenti. Napasnya pendek. Tapi dia tidak berhenti.
“Saya tidak tahu itu namanya apa. Tapi saya juga tidak ingin menghapusnya.”
Arka tidak bicara. Dia menunduk, mendekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Maya.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita pelan-pelan cari tahu.”
Maya menahan napas. “Cari tahu apa, Pak?”
“Cari tahu nama perasaan ini. Bareng-bareng.”
Maya tersenyum. Senyum yang keluar tanpa izin. Arka melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, dia membalas senyum itu dengan senyum yang sama. Senyum nyata. Senyum yang membuat matanya menyipit.
“Besok,” kata Arka, “kamu bawakan nasi uduk untukku.”
“Tadi Bapak bilang tidak usah.”
“Sekarang aku bilang bawakan.”
Maya tertawa pelan. “Baik, Pak.”
“Dan jangan telat.”
“Saya janji tidak telat, Pak.”
Arka mengangguk. Dia berbalik, kembali ke kursinya, membuka laptop. Seperti biasa. Tapi Maya tahu ada yang berubah.
Dia keluar dari ruang CEO dengan langkah ringan. Di lorong, dia mengambil ponsel, membuka aplikasi dating itu. Profil hitam dengan bio Tidak mencari apa-apa masih ada.
Dia mengetik pesan.
Besok aku bawakan nasi uduk. Jangan lupa es teh.
Pesan terkirim.
Dari dalam ruang CEO, terdengar bunyi notifikasi. Lalu ponsel Maya bergetar.
Aku tunggu.
Maya tersenyum. Di lorong sunyi lantai dua puluh, dengan lampu kota menyala di balik jendela, dia berdiri di samping vas bunga lili, memegang ponsel dengan kalimat pendek dari seorang CEO yang tidak percaya cinta.
Kita pelan-pelan cari tahu.
Untuk pertama kalinya, Maya tidak takut dengan ketidakpastian. Karena dia tidak sendirian.
Bersambung ke Episode 6