Pagi itu, Novi berdiri di depan cermin di apartemennya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mengenakan pakaian formal: blazer hitam dengan kemeja putih yang rapi. Penampilannya berubah total—jauh dari citra playgirl yang sering terlihat memikat di pesta-pesta malam. Namun, ada sesuatu yang membuatnya gugup. Dunia yang akan ia masuki sama sekali asing baginya. Dunia korporat yang penuh aturan, hirarki, dan tekanan. Dunia yang, ia tahu, akan menjadi ujian terbesar dalam hidupnya.
Dengan tarikan napas panjang, Novi melangkah keluar dan naik taksi menuju gedung megah tempat ia akan memulai pekerjaannya. Setibanya di sana, suasana sibuk para pegawai yang lalu-lalang semakin membuatnya merasa kecil. Namun, ia menegakkan bahu. Dia sudah memutuskan untuk melangkah maju. Tidak ada jalan untuk mundur.
Seorang wanita bernama Clara, kepala divisi sumber daya manusia, menyambutnya di pintu masuk lantai eksekutif. Clara, dengan senyum ramah dan gaya bicara profesional, memperkenalkan Novi kepada beberapa staf yang akan bekerja bersamanya. Mereka tampak ramah, meski Novi bisa merasakan beberapa tatapan menilai dari beberapa orang.
“Kamu akan menghabiskan sebagian besar waktu di lantai ini, terutama di ruang kerja Pak Angga,” ujar Clara sambil memandu Novi melewati lorong-lorong kantor yang terlihat modern dan elegan. “Dan ingat, Pak Angga adalah tipe atasan yang sangat teliti. Jadi, pastikan kamu selalu siap.”
Novi hanya mengangguk, meski dalam hati sedikit cemas. “Teliti” terdengar seperti eufemisme untuk “sulit.”
Ketika mereka tiba di depan pintu ruang kerja Angga, Clara mengetuk pintu dan masuk lebih dulu. Angga sedang duduk di belakang meja besar, sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Namun, begitu Clara memperkenalkan Novi, dia mengangkat pandangannya.
“Selamat pagi, Tuan Angga,” sapa Novi dengan nada sopan.
Angga hanya mengangguk singkat. “Selamat datang. Saya harap kamu sudah siap bekerja. Pekerjaan di sini membutuhkan fokus dan komitmen penuh.”
Nada suaranya datar, tapi tetap penuh wibawa. Novi merasa seperti berada di bawah sorotan lampu panggung. “Tentu, saya akan memberikan yang terbaik,” jawabnya, mencoba terdengar percaya diri.
“Baik. Clara, pastikan Novi diberi akses ke jadwal saya dan dokumen-dokumen yang relevan,” ujar Angga sebelum kembali memusatkan perhatian pada layar laptopnya.
Clara memberi isyarat kepada Novi untuk mengikutinya keluar. Setelah mereka meninggalkan ruangan, Clara berbisik, “Kamu harus belajar memahami gaya kerja Pak Angga. Dia tidak banyak bicara, tapi sangat memperhatikan detail. Jangan khawatir, nanti kamu akan terbiasa.”
Novi mengangguk, meskipun dalam hatinya masih merasa sedikit gugup. Dia tahu, bekerja dengan Angga akan jauh berbeda dari kehidupan bebas yang selama ini ia jalani.
---
Jam pertama bekerja berjalan lambat. Novi mencoba memahami sistem kerja di perusahaan tersebut. Clara membantunya mengakses jadwal harian Angga, mengatur dokumen, dan mempelajari protokol komunikasi yang ketat. Novi, yang terbiasa dengan kehidupan spontan dan santai, merasa sedikit kewalahan dengan semua aturan dan prosedur ini. Tapi ia menahan diri untuk tidak mengeluh. Ini adalah bagian dari pilihannya.
Ketika waktu makan siang tiba, Novi memutuskan untuk pergi ke kafetaria kantor. Dia mengambil nampan makanannya dan mencari tempat duduk di sudut ruangan. Namun, sebelum ia sempat duduk, seorang wanita muda dengan rambut cokelat lurus menghampirinya.
“Hai, kamu pasti Novi, kan? Sekretaris baru Pak Angga?” wanita itu memperkenalkan diri. “Aku Rina, dari divisi pemasaran.”
Novi tersenyum kecil. “Iya, benar. Senang bertemu denganmu, Rina.”
Rina duduk di sebelahnya, membawa nampan makanannya sendiri. “Jadi, bagaimana rasanya bekerja langsung di bawah Pak Angga? Banyak yang bilang dia sangat perfeksionis.”
Novi tertawa kecil, meskipun tidak terlalu lepas. “Sejauh ini, masih mencoba beradaptasi.”
Rina mengangguk. “Kamu pasti butuh waktu. Dia memang terlihat dingin, tapi sebenarnya dia sangat peduli dengan pekerjaannya. Banyak orang mengaguminya—tidak hanya karena dia CEO yang sukses di usia muda, tapi juga karena dedikasinya.”
Novi mendengarkan dengan seksama. Ada rasa penasaran yang muncul di dalam dirinya. Siapa sebenarnya Angga? Bagaimana seorang pria muda seperti dia bisa memimpin perusahaan sebesar ini? Apakah semua itu murni hasil kerja keras, atau ada sesuatu yang lebih?
---
Sore itu, saat Novi kembali ke ruangannya, Angga memanggilnya ke ruang kerja. Ia melangkah masuk dengan perasaan gugup, tapi mencoba menyembunyikannya.
“Ini jadwal saya untuk minggu depan,” kata Angga, menyerahkan tablet berisi daftar panjang pertemuan dan acara. “Pastikan kamu mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan sebelum setiap pertemuan. Ada pertanyaan?”
Novi menggeleng. “Tidak, saya mengerti.”
Angga memandangnya sejenak, lalu berkata, “Saya butuh seseorang yang bisa diandalkan, Novi. Jika kamu merasa ini terlalu sulit, lebih baik kamu katakan sekarang.”
Kata-katanya tajam, tapi entah bagaimana, Novi merasa tertantang. “Saya bisa melakukannya, Tuan Angga. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”
Angga mengangguk, seolah menerima jawabannya. Namun, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Novi merasa bahwa dia masih sedang diuji.
---
Hari pertama berakhir dengan Novi merasa lelah tapi juga penuh tekad. Ini adalah dunia yang jauh berbeda dari kehidupannya sebelumnya. Dunia di mana aturan, tekanan, dan profesionalisme mendominasi. Tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak—bukan hanya tentang pekerjaan ini, tetapi juga tentang pria bernama Angga Alfarisi.
Dia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai. Dan dia tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Malam itu, Novi pulang ke apartemennya dengan langkah berat. Hari pertama bekerja sudah selesai, tapi pikirannya masih dipenuhi berbagai hal. Jadwal Angga yang padat, tekanan dari tugas-tugas yang menuntut, dan interaksinya dengan CEO itu sendiri membuatnya merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis. Tapi, meskipun lelah, ada sesuatu yang membuat Novi tersenyum kecil.
Ia mengingat tatapan Angga saat mereka terakhir berbicara. Ada ketegasan, tetapi juga sedikit rasa ingin tahu, seolah-olah pria itu sedang mencoba membaca dirinya, sama seperti Novi mencoba membaca Angga.
Di tengah lamunannya, ponsel Novi bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.
"Novi, pastikan semua materi untuk rapat direksi besok pagi sudah disiapkan. Cek email saya untuk detailnya. - Angga"
Novi menatap pesan itu beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Baik, Tuan Angga. Akan saya cek sekarang."
Dia langsung membuka laptopnya dan memeriksa email Angga. Begitu melihat isi pesan tersebut, Novi langsung mengernyit. Ada banyak dokumen yang perlu ia pelajari dan persiapkan untuk rapat penting esok hari. Dengan rasa tanggung jawab baru yang tumbuh dalam dirinya, ia menyingsingkan lengan baju dan mulai bekerja.
---
Pagi berikutnya, Novi tiba di kantor lebih awal. Dia memastikan semua materi sudah siap di meja rapat sebelum para direksi datang. Ketika Angga tiba, dia mengenakan setelan abu-abu gelap yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Novi, yang sudah berdiri di dekat meja dengan tumpukan dokumen, menyapanya dengan nada sopan.
“Semua dokumen sudah siap, Tuan Angga. Apakah ada hal lain yang perlu saya persiapkan?”
Angga melirik dokumen itu sekilas, lalu mengangguk. “Bagus. Jangan tinggalkan ruangan sampai rapat selesai. Saya mungkin membutuhkan bantuanmu untuk mencatat poin-poin penting.”
Novi mengangguk, meskipun dalam hati ia sedikit gugup. Ini adalah rapat pertamanya sebagai bagian dari tim Angga. Ruangan mulai dipenuhi oleh para direksi, masing-masing membawa aura otoritas yang membuat suasana semakin berat.
Selama rapat, Novi duduk di sudut ruangan, memperhatikan dengan seksama. Angga memimpin diskusi dengan percaya diri, setiap kata yang ia ucapkan terdengar tegas dan terarah. Namun, di tengah diskusi, salah satu direksi—seorang pria paruh baya bernama Pak Firman—mengajukan pertanyaan tajam tentang salah satu proyek perusahaan.
“Pak Angga, angka-angka yang tertera di laporan ini terlihat optimis, tetapi apakah kita sudah mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul jika pasar tidak merespons sesuai harapan?”
Semua mata tertuju pada Angga. Novi bisa merasakan ketegangan di ruangan itu, tapi Angga tetap tenang. Dia membuka dokumen yang ada di depannya dan menjawab dengan percaya diri, “Saya sudah mempertimbangkan skenario terburuk dan membuat rencana mitigasi. Jika pasar tidak merespons, kita masih punya cadangan dana untuk mengurangi dampaknya tanpa merugikan investor.”
Jawaban itu tampaknya memuaskan Pak Firman, tapi Novi bisa melihat bahwa Angga tetap waspada. Dia melirik ke arah Novi, dan entah kenapa, tatapan itu terasa seperti sebuah pengingat: kamu harus selalu siap.
Setelah rapat selesai, Angga mendekati Novi yang masih duduk di sudut ruangan.
“Kamu melakukannya dengan baik tadi,” katanya singkat.
Novi terkejut. Ini pertama kalinya Angga memberinya pujian, meskipun nadanya tetap dingin. “Terima kasih, Tuan Angga. Saya akan terus berusaha.”
Angga mengangguk, lalu berjalan keluar ruangan tanpa berkata apa-apa lagi. Novi hanya bisa menarik napas lega. Hari ini adalah kemenangan kecil baginya.
---
Namun, hari itu belum selesai.
Sore menjelang malam, Novi sedang bersiap untuk pulang ketika ponselnya kembali bergetar. Pesan singkat dari Angga muncul di layar.
"Temui saya di ruang kerja sekarang."
Novi langsung merasa waspada. Dia berjalan menuju ruang kerja Angga dengan berbagai pikiran di kepalanya. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah ada sesuatu yang terlewat?
Begitu dia masuk, Angga sedang berdiri di dekat jendela, kembali menatap pemandangan kota seperti kemarin. Novi merasa ada sesuatu yang berbeda dalam ekspresinya—tidak sekaku biasanya.
“Duduklah,” kata Angga tanpa menoleh.
Novi duduk di kursi di depan meja besar itu, menunggu Angga berbicara.
“Ada hal yang ingin saya bicarakan denganmu,” katanya akhirnya, berbalik menghadapnya. “Saya butuh seseorang yang tidak hanya bisa menjalankan tugas administratif, tapi juga bisa memahami dinamika pekerjaan ini. Saya tahu kamu datang dari latar belakang yang berbeda, dan itu bukan masalah bagi saya. Tapi saya ingin tahu, sejauh mana kamu bisa bertahan.”
Novi terdiam. Kata-kata Angga terasa seperti tantangan.
“Saya akan bertahan, Tuan Angga,” jawabnya akhirnya. “Saya tahu dunia ini berbeda dari yang biasa saya jalani, tapi saya siap belajar dan beradaptasi.”
Angga tersenyum tipis, sesuatu yang jarang ia tunjukkan. “Bagus. Kita lihat seberapa jauh kamu bisa melangkah.”
Novi meninggalkan ruang kerja itu dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu dalam cara Angga berbicara yang membuatnya merasa bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang administrasi atau profesionalisme. Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang mungkin melibatkan dirinya secara pribadi.
Namun, Novi menepis pikiran itu. Dia belum mengenal Angga sepenuhnya, dan dia tahu satu hal pasti: pria itu penuh teka-teki.
Di lift, Novi melihat bayangannya di cermin. Dia tersenyum kecil. Hari ini dia membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa menjalani kehidupan yang berbeda. Tapi perjalanan ini masih panjang, dan dia tahu, dunia Angga adalah dunia yang penuh kejutan.