Pagi itu, Novi terbangun lebih awal dari biasanya. Meski kantuk masih menggelayut, ia memaksa dirinya bangkit dan bersiap. Rutinitas barunya sebagai sekretaris pribadi Angga kini menjadi prioritas utama. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang bisa membuat pria itu kehilangan kepercayaannya.
Setibanya di kantor, Novi langsung menuju ruangannya untuk memeriksa jadwal Angga. Namun, ada hal yang tidak biasa pagi itu. Rapat yang seharusnya dimulai pukul sembilan mendadak dibatalkan. Semua staf terlihat kebingungan, termasuk Clara yang biasanya selalu tampak tenang.
“Ada apa, Clara?” tanya Novi, penasaran.
Clara mendekat dan berbisik, “Pak Angga sedang dalam perjalanan ke lokasi proyek. Tadi pagi ada insiden kecil, dan dia harus menangani langsung.”
“Insiden?” Novi mengernyit.
“Ya, ada masalah di salah satu lokasi konstruksi perusahaan. Dia mungkin membutuhkan bantuanmu, jadi bersiaplah kalau-kalau dia memanggilmu.”
Novi mengangguk. Meskipun tidak mendapat detail lebih lanjut, dia memutuskan untuk tetap bersiap. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Pesan dari Angga.
"Siapkan dokumen proyek Taman Mutiara dan segera menyusul ke lokasi. Alamat sudah saya kirimkan."
---
Setengah jam kemudian, Novi tiba di lokasi proyek. Sebuah gedung apartemen mewah yang sedang dalam tahap akhir pembangunan berdiri megah di depannya. Namun, suasana di sekitar lokasi terlihat tegang. Para pekerja tampak berdiskusi dengan nada suara yang sedikit meninggi, dan beberapa orang berpakaian formal berdiri di sisi lain, sibuk berbicara melalui telepon.
Angga sedang berdiri di dekat salah satu sudut gedung bersama beberapa orang yang tampaknya adalah manajer proyek. Novi mendekat, mencoba tidak terlihat gugup.
“Pak Angga,” panggilnya pelan.
Angga menoleh, ekspresi wajahnya serius seperti biasa. “Kamu bawa dokumennya?”
Novi mengangguk dan menyerahkan map yang sudah ia persiapkan. Angga membukanya dan membaca sekilas sebelum berbicara kepada manajer proyek.
“Masalah ini harus diselesaikan secepat mungkin. Jika tidak, kita akan menghadapi keterlambatan yang bisa merugikan perusahaan,” ujar Angga dengan nada tegas.
Manajer itu mengangguk cepat. “Kami sedang berusaha, Pak. Tapi ada kendala pada bahan bangunan yang tidak sesuai spesifikasi awal.”
Novi berdiri di samping, memperhatikan bagaimana Angga menangani situasi dengan tenang tapi penuh otoritas. Dia berbicara kepada semua pihak yang terlibat, memastikan tidak ada celah yang terlewat. Di tengah kesibukan itu, dia sempat melirik Novi.
“Kamu perhatikan semuanya, kan?” tanya Angga tiba-tiba.
Novi sedikit terkejut, tapi ia mengangguk. “Ya, Tuan Angga.”
“Bagus. Ingat, pekerjaan kita bukan hanya tentang angka di meja kerja. Kita harus turun ke lapangan dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kalau kamu ingin bertahan di sini, pelajari ini.”
Kata-katanya seperti peringatan sekaligus pelajaran. Novi menyadari bahwa pekerjaan ini lebih dari sekadar rutinitas kantor. Ada tanggung jawab besar yang harus ia pahami.
---
Setelah beberapa jam di lokasi proyek, Novi akhirnya kembali ke kantor bersama Angga. Dalam perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening. Angga duduk di sampingnya, membaca dokumen lain di ponselnya. Novi ingin bertanya sesuatu, tapi ragu untuk membuka pembicaraan.
Namun, Angga tiba-tiba berkata, “Kamu tadi terlihat cukup fokus di lokasi. Itu hal yang baik.”
Novi terkejut dengan komentar itu. “Terima kasih, Tuan Angga. Saya hanya mencoba memahami situasinya.”
Angga menoleh sejenak, lalu kembali memandang keluar jendela. “Kamu punya potensi, Novi. Tapi jangan cepat puas. Dunia ini tidak akan memberi toleransi pada orang yang lemah.”
Ucapan itu terdengar dingin, tapi Novi merasa ada maksud lain di baliknya. Mungkin Angga ingin mendorongnya untuk lebih berusaha.
---
Hari itu berakhir dengan Novi merasa kelelahan tapi puas. Dia mulai memahami betapa kompleksnya pekerjaan ini. Bukan hanya tentang dokumen dan jadwal, tapi juga tentang bagaimana menghadapi masalah besar dengan kepala dingin.
Namun, malamnya, saat dia bersiap untuk tidur, ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:
"Hati-hati dengan Angga. Dunia ini tidak seindah yang kamu pikirkan."
Novi menatap pesan itu lama, jantungnya berdegup kencang. Siapa yang mengirim pesan ini? Apa maksudnya?
Dia mencoba menelepon nomor tersebut, tapi tidak ada jawaban. Pesan itu hanya membuat pikirannya semakin kacau. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar perusahaan ini? Dan apa hubungannya dengan Angga?
Novi tahu, hidupnya baru saja mulai memasuki babak yang lebih rumit.
Malam itu, Novi duduk di sofa apartemennya, menatap layar ponsel yang masih memunculkan pesan misterius tadi. Pikiran-pikirannya berputar, mencoba mencerna maksud pesan itu. Apakah pesan tersebut peringatan, ancaman, atau sekadar lelucon? Dia belum lama bekerja di perusahaan ini, tetapi situasi seperti ini jelas bukan sesuatu yang biasa.
Setelah beberapa menit berpikir, Novi memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan pesan itu. Mungkin ini hanya ulah seseorang yang iseng. Lagipula, dia tidak ingin paranoid di awal karier barunya.
Namun, takdir sepertinya punya rencana lain.
Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan dari Angga.
“Selamat malam, Tuan Angga,” jawab Novi setelah menarik napas panjang.
“Ada sesuatu yang perlu kamu bantu,” suara Angga terdengar tenang, tetapi tegas. “Saya ingin kamu datang ke rumah saya malam ini. Ada dokumen yang harus disiapkan untuk presentasi besok pagi.”
Novi melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sembilan malam. Dia sempat ragu, tetapi pekerjaan ini adalah tanggung jawabnya.
“Baik, Tuan Angga. Saya akan segera ke sana.”
---
Rumah Angga terletak di kawasan elit di pusat kota. Bangunan megah dengan arsitektur modern itu tampak elegan dalam temaram lampu malam. Ketika Novi tiba, seorang petugas keamanan membukakan gerbang untuknya, mengarahkan dia ke pintu utama.
Angga sendiri yang menyambutnya. Dia masih mengenakan kemeja putih yang kini dilipat hingga siku, membuatnya terlihat lebih santai, meski tetap karismatik.
“Masuklah,” katanya singkat, lalu membimbing Novi ke ruang kerja di lantai dua.
Ruang itu penuh dengan rak buku dan peralatan kerja yang tertata rapi. Di atas meja besar, ada setumpuk dokumen dan laptop terbuka.
“Kita perlu memastikan materi presentasi ini sempurna,” ujar Angga sambil menunjuk layar laptop. “Saya ingin kamu membantu merapikan data dan membuat ringkasan singkat. Ini penting untuk pertemuan dengan investor besok.”
Novi mengangguk dan langsung mengambil posisi di meja kerja kecil di sudut ruangan. Dia mulai bekerja dengan fokus, menelusuri data yang diberikan Angga dan mencoba memahami setiap detailnya.
Selama beberapa jam, ruangan itu hanya diisi oleh suara ketikan keyboard dan lembaran dokumen yang dibolak-balik. Novi sesekali melirik Angga, yang terlihat tenggelam dalam pekerjaannya sendiri. Wajah pria itu memancarkan keseriusan, tetapi ada sesuatu yang lain—sesuatu yang Novi belum bisa pahami.
---
Sekitar tengah malam, Angga akhirnya berbicara.
“Kamu kelihatan lelah,” katanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Novi menoleh. “Saya baik-baik saja, Tuan Angga. Ini bagian dari pekerjaan saya.”
Angga mengangguk kecil, lalu bersandar di kursinya. Dia memijat pelipisnya sejenak sebelum berkata, “Kamu tahu, Novi, pekerjaan di sini tidak hanya tentang apa yang terlihat di permukaan. Ada banyak hal yang tidak semua orang tahu, dan tidak semua orang harus tahu.”
Novi menatapnya dengan bingung. “Maksud Anda?”
Angga menatapnya sejenak, seolah menimbang apakah dia harus melanjutkan ucapannya. “Tidak semua orang di dunia bisnis ini bisa dipercaya. Banyak orang yang hanya peduli pada keuntungan pribadi, bahkan jika itu berarti menjatuhkan orang lain. Itu sebabnya saya selalu berhati-hati, dan kamu juga harus begitu.”
Kata-kata itu mengingatkan Novi pada pesan misterius yang diterimanya. Tapi dia memilih untuk tidak membahasnya.
“Saya akan berhati-hati, Tuan Angga,” jawabnya singkat.
Angga tersenyum tipis, sesuatu yang jarang ia lakukan. “Bagus.”
---
Beberapa jam kemudian, pekerjaan mereka selesai. Novi menghela napas lega. Dia memandang hasil kerjanya dengan puas, merasa telah melakukan yang terbaik.
“Terima kasih atas bantuanmu,” kata Angga sambil memeriksa dokumen terakhir. “Kamu bisa pulang sekarang. Istirahatlah, karena besok akan menjadi hari yang panjang.”
Novi mengangguk, lalu membereskan barang-barangnya. Saat dia melangkah keluar dari rumah Angga, udara malam terasa dingin, tetapi ada sesuatu yang membuatnya merasa hangat—perasaan bahwa dia telah mendapatkan sedikit kepercayaan dari pria yang selama ini sulit ditebak.
Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama.
Saat Novi sedang menunggu taksi di depan gerbang rumah Angga, sebuah mobil hitam melintas perlahan di jalan. Jendelanya sedikit terbuka, dan dia bisa merasakan tatapan tajam dari dalam mobil itu. Mobil tersebut melaju tanpa berhenti, tetapi cukup untuk membuat Novi merinding.
Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Dan meskipun Novi belum tahu apa, dia yakin ini bukan kebetulan.