Pagi itu, Novi tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, pikirannya masih terganggu oleh pesan misterius dan mobil hitam yang melintas di depan rumah Angga. Meski mencoba bersikap tenang, perasaan gelisah tetap membayangi.
Angga belum datang, tetapi suasana di lantai direksi sudah mulai terasa sibuk. Tim pemasaran dan tim legal bolak-balik membawa dokumen, bersiap untuk presentasi besar yang akan berlangsung pagi ini. Novi mengatur napas dan mencoba fokus pada tugasnya.
Tak lama kemudian, Angga muncul di pintu utama, mengenakan setelan hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih berwibawa dari biasanya. Dia melangkah cepat menuju ruangannya, lalu memanggil Novi lewat telepon kantor.
“Masuk ke ruangan saya sekarang.”
Novi mengambil buku catatannya dan langsung menuju ruangan Angga.
“Dokumen presentasi sudah siap, Tuan Angga,” katanya setelah masuk.
Angga mengangguk singkat, mengambil map dari tangannya, lalu membuka dokumen itu. “Bagus. Tapi ada hal lain yang ingin saya bicarakan.”
Novi merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Nada suara Angga terdengar serius, bahkan lebih dari biasanya.
“Semalam,” kata Angga sambil menatapnya tajam, “saat kamu keluar dari rumah saya, apakah ada sesuatu yang mencurigakan?”
Novi terdiam sejenak. Apakah Angga tahu tentang mobil hitam itu?
“Ada,” jawab Novi akhirnya. “Sebuah mobil hitam melintas perlahan. Saya merasa dia mengawasi saya, tapi mobil itu tidak berhenti.”
Angga menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya berubah dingin. “Saya sudah menduga.”
“Menduga apa, Tuan Angga?” Novi bertanya dengan hati-hati.
Angga menghela napas, seolah-olah sedang menimbang apakah dia harus menceritakan semuanya. Akhirnya, dia berkata, “Ada pihak yang tidak suka dengan keputusan perusahaan ini, terutama proyek-proyek besar yang sedang kita kerjakan. Mobil hitam itu mungkin adalah bagian dari mereka.”
“Mereka siapa?” Novi mencoba menahan rasa takutnya.
“Saya tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang,” jawab Angga dengan nada tegas. “Tapi yang perlu kamu tahu, ini bukan sekadar pekerjaan biasa. Ada banyak hal yang terjadi di belakang layar, dan beberapa di antaranya bisa membahayakan.”
Novi terdiam. Dia mencoba mencerna ucapan Angga, tetapi semakin dia berpikir, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
“Kenapa saya?” tanya Novi pelan. “Kenapa saya harus terlibat dalam semua ini?”
Angga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Karena kamu sekarang adalah bagian dari tim saya. Dan saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang bekerja untuk saya.”
Kata-kata itu terdengar tegas, tetapi juga mengandung sesuatu yang lain—perlindungan. Novi tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin khawatir.
---
Presentasi dengan para investor berlangsung tanpa hambatan. Angga memimpin pertemuan dengan percaya diri, sementara Novi duduk di sisi ruangan, mencatat poin-poin penting. Para investor tampak terkesan dengan paparan Angga, tetapi Novi menyadari bahwa pria itu tetap waspada sepanjang waktu. Tatapannya sesekali menyapu ruangan, seolah-olah sedang mencari sesuatu.
Setelah pertemuan selesai, Novi kembali ke mejanya. Namun, baru saja dia duduk, Clara menghampirinya dengan ekspresi cemas.
“Novi, ada seseorang yang mencarimu,” kata Clara.
“Mencari saya?” Novi mengernyit. “Siapa?”
“Dia tidak mau menyebutkan namanya,” jawab Clara. “Dia menunggu di lobi.”
Novi merasa waspada, tetapi memutuskan untuk tetap menemui orang tersebut. Ketika dia tiba di lobi, seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan jas abu-abu berdiri di dekat sofa. Wajahnya tidak familiar, tetapi ada sesuatu yang membuat Novi merasa tidak nyaman.
“Anda Novi, bukan?” tanya pria itu dengan suara ramah, tetapi ada nada dingin di baliknya.
“Ya. Anda siapa?” Novi menjaga nadanya tetap netral.
Pria itu tersenyum tipis. “Saya hanya ingin memberikan saran. Dunia ini penuh dengan jebakan, terutama jika Anda terlalu dekat dengan orang seperti Angga. Sebaiknya Anda menjaga jarak sebelum terlambat.”
Novi membeku. Kata-kata pria itu langsung mengingatkannya pada pesan yang dia terima semalam.
“Saya tidak tahu apa yang Anda maksud,” jawab Novi, berusaha terdengar tegas meskipun tangannya sedikit gemetar.
“Percayalah,” kata pria itu, menatapnya tajam. “Anda tidak ingin terjebak dalam sesuatu yang tidak Anda pahami.”
Sebelum Novi sempat menjawab, pria itu berbalik dan berjalan keluar dari gedung. Novi hanya bisa berdiri di tempatnya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
---
Ketika dia kembali ke meja kerjanya, pikirannya masih penuh dengan pertanyaan. Dia ingin memberitahu Angga tentang pria itu, tetapi dia ragu apakah itu keputusan yang bijak. Angga sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya, dan Novi tidak ingin terlihat seperti seseorang yang tidak bisa menangani tekanan.
Namun, perasaan gelisah itu tidak hilang. Dia merasa bahwa apa pun yang sedang terjadi, ini lebih besar dari yang dia bayangkan. Dan entah kenapa, dia tahu bahwa Angga adalah kunci dari semua ini.
Setelah beberapa lama merenung di meja kerjanya, Novi memutuskan untuk mengesampingkan semua pikiran itu dan fokus pada tugas-tugasnya. Namun, kata-kata pria misterius tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Ketika waktu makan siang tiba, dia memutuskan untuk pergi ke pantry sendirian. Ia berharap secangkir kopi panas bisa membantu menenangkan pikirannya. Namun, baru saja dia menuangkan kopi ke cangkirnya, langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan.
“Novi,” suara Angga memanggilnya.
Novi menoleh dan mendapati Angga berdiri di pintu. Penampilannya seperti biasa—tenang, berwibawa, dan sulit ditebak.
“Tuan Angga,” jawab Novi cepat, menegakkan tubuh.
Angga berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. Dia tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat, hanya memandang ke luar jendela pantry yang menghadap ke pemandangan gedung-gedung tinggi kota.
“Apa yang dikatakan pria di lobi tadi kepadamu?” tanyanya tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Novi tersentak. Dia belum sempat melaporkan kejadian itu, tetapi entah bagaimana Angga sudah mengetahuinya.
“Dia... hanya memberi peringatan, Tuan,” jawab Novi hati-hati. “Katanya saya harus menjaga jarak dari Anda.”
Angga mengangguk perlahan, seolah-olah dia sudah menduga jawabannya. “Itu bukan pertama kali saya mendengar hal semacam itu. Orang-orang seperti dia ingin menjauhkan saya dari semua orang di sekitar saya.”
“Kenapa?” tanya Novi, memberanikan diri.
Angga menatapnya dengan mata yang tajam namun tenang. “Karena mereka tahu saya tidak bermain dengan cara mereka. Dan mereka membenci itu.”
“Apa maksud Anda?” Novi mencoba menggali lebih dalam.
Angga tersenyum tipis, tapi senyumnya lebih terlihat seperti ekspresi sinis. “Dunia bisnis penuh dengan orang-orang yang rakus dan licik, Novi. Banyak dari mereka yang menginginkan posisi saya, dan mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.”
Dia kemudian menatap Novi dengan lebih serius. “Pesan saya hanya satu: jangan biarkan siapa pun membuatmu takut. Jika kamu merasa ada sesuatu yang salah, katakan pada saya. Saya akan memastikan kamu aman.”
Kata-kata Angga membawa sedikit rasa lega pada Novi, meski perasaan gelisah itu belum sepenuhnya hilang.
---
Sepulang kerja, Novi memutuskan untuk menghabiskan malamnya dengan tenang di apartemen. Namun, saat dia sedang menonton televisi, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Apa yang kamu dapatkan hari ini hanya awal. Jika kamu tetap bekerja di sana, kamu akan menyesal. Angga tidak seperti yang kamu pikirkan."
Pesan itu membuat tubuh Novi menegang. Ini adalah ancaman kedua yang dia terima dalam dua hari terakhir. Dia segera mencoba melacak nomor pengirimnya, tetapi seperti pesan sebelumnya, nomor itu tidak terdaftar.
Novi hampir menelepon Angga untuk memberitahunya, tetapi dia menahan diri. Dia tidak ingin terlihat seperti seseorang yang lemah atau mudah panik.
Namun, malam itu, pikirannya tidak bisa tenang. Dia terus memikirkan siapa yang mengirim pesan itu, dan apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan tempatnya bekerja.
---
Keesokan harinya, Novi kembali ke kantor dengan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur. Dia berharap hari itu berjalan normal, tetapi Clara mendatanginya dengan ekspresi panik.
“Novi, Pak Angga ingin kamu menemaninya ke lokasi proyek sore ini,” kata Clara dengan nada mendesak.
Novi mengernyit. “Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Sepertinya begitu,” jawab Clara sambil menoleh ke kanan dan kiri. “Tadi pagi ada laporan tentang kerusakan struktural di salah satu gedung, dan Pak Angga ingin memeriksanya langsung.”
Meski merasa gugup, Novi tidak bisa menolak. Dia segera bersiap dan mengikuti Angga ke lokasi proyek menggunakan mobil perusahaan.
---
Lokasi proyek itu berada di pinggiran kota, di sebuah gedung yang hampir selesai dibangun. Ketika mereka tiba, suasana di sana tampak tegang. Para pekerja berhenti sejenak untuk memberi salam pada Angga, tetapi wajah mereka terlihat cemas.
Angga langsung berbicara dengan kepala proyek, sementara Novi berdiri tidak jauh darinya, mencoba memahami situasinya. Namun, di tengah pembicaraan itu, Novi merasa ada seseorang yang memperhatikannya.
Dia menoleh dan melihat seorang pria berdiri di dekat pintu masuk gedung. Pria itu tampak biasa saja, tetapi tatapannya membuat bulu kuduk Novi merinding.
Pria itu menyadari bahwa Novi melihatnya, lalu tersenyum tipis sebelum berbalik dan pergi.
“Novi,” suara Angga memanggilnya, menyadarkan dia dari lamunannya.
“Ya, Tuan?”
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Angga dengan nada curiga.
“Saya baik-baik saja,” jawab Novi, meski jantungnya masih berdetak kencang.
Namun, dalam hati, Novi tahu bahwa semua ini belum selesai. Apa pun yang sedang terjadi, dia semakin yakin bahwa dirinya telah terlibat dalam sesuatu yang besar—sesuatu yang jauh melampaui pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi.