Berita bahwa Bram meminta bertemu sampai ke rumah keluarga Abisatya seperti gelembung udara yang naik dari dasar danau — pelan, tidak diyakini, tapi nyata.
'Jebakan,' kata Bisma langsung, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya. 'Aku tidak percaya pertobatan yang datangnya tepat setelah semua senjatanya gagal. Itu bukan pertobatan, itu strategi babak berikutnya.'
'Bisa jadi,' kata Danu. 'Tapi Saraswati mempertaruhkan namanya untuk pertemuan ini. Dia yang mengusulkan tempatnya: netral, siang, dengan saksi dari dua belah pihak. Orang yang menyiapkan jebakan tidak mengajak adiknya sendiri sebagai saksi.'
'Orang yang menyiapkan jebakan justru butuh saksi supaya terlihat sah.'
'Bisma benar,' kata Gunawan dari kursinya — dan semua menoleh, karena lelaki tua itu sedari tadi diam. 'Bisa jadi ini jebakan. Tapi dengarkan Bapak baik-baik, karena Bapak orang yang paling berhak bicara di topik ini: tiga puluh satu tahun lalu Bapak menolak menjangkau anak tujuh belas tahun karena Bapak takut salah langkah. Ketakutan itu harganya tiga puluh satu tahun perang dingin dan satu keluarga yang nyaris hancur dua kali.' Ia menatap anak-anaknya satu per satu. 'Kalau sekarang anak itu — yang sudah jadi lelaki empat puluh delapan tahun — mengulurkan tangan, dan kita menolaknya karena takut salah langkah... maka kita tidak belajar apa-apa. Jebakan bisa dijaga. Pengamanan bisa disiapkan. Tapi kesempatan memutus dendam tidak datang dua kali, dan Bapak tidak mau kalian mewarisi penyesalan Bapak.'
Ruangan itu hening. Lalu Mitha — yang sejak awal duduk diam dengan surat Larasati di pangkuannya — berkata pelan: 'Mama menulis: jangan balas kebencian dengan kebencian. Dan Hendra bilang: dendam berakhir karena seseorang memilih berhenti. Kalau Bram benar-benar datang membawa surat ayahnya... maka hari itu ada dua surat dari dua orang mati di satu meja. Ayahku dan ayahnya. Dua lelaki yang sama-sama tidak sempat selesai bercerita.' Ia mengangkat wajah. 'Aku mau ada di meja itu. Bukan sebagai target. Sebagai anak Raka Wijaya — yang berhak mendengar bagian cerita ayahku yang tersisa, dari satu-satunya keluarga yang mungkin menyimpannya.'
Maka keputusan itu dibuat: pertemuan akan berlangsung — dengan pengamanan penuh, di tempat netral, dan dengan satu orang lagi yang bersikeras ikut tanpa bisa dibantah siapa pun: Gunawan sendiri. 'Anak itu berteriak di lobi kantor Bapak tiga puluh satu tahun lalu,' katanya, mengakhiri semua keberatan. 'Bapak berhutang satu percakapan padanya. Dan Bapak sudah terlalu tua untuk menunda pelunasan utang.'
***
Sementara persiapan pertemuan berjalan dalam senyap, hidup di permukaan terus bergerak ke arah yang berlawanan: pernikahan.
Persiapannya sendiri menjadi urusan dua rumah — dan dua perempuan yang paling bersemangat di dalamnya justru bukan pengantinnya. Anya dan Dara membentuk semacam panitia tidak resmi beranggotakan dua orang yang efisiensinya meragukan tapi semangatnya tidak tertandingi: kain kebaya dipilih lewat perdebatan tiga hari (Anya mengusulkan modern, Dara membela klasik, Mitha memilih yang ketiga hanya untuk mengakhiri perang), menu diuji coba sampai Pa Handi si kepala rumah tangga mengibarkan bendera putih, dan daftar tamu dipangkas dengan kejam sampai tersisa empat puluh nama. 'Empat puluh orang yang benar-benar sayang,' kata Mitha pada Danu. 'Aku tidak mau ada satu pun kursi di hari itu yang diisi orang yang datang karena basa-basi.'
'Empat puluh satu,' jawab Danu. 'Ada satu kursi tambahan di barisan keluargamu.'
'Untuk siapa?'
'Pak Hendra. Kalau dia kuat terbang dari Bandung.' Danu tersenyum kecil. 'Dia satu-satunya orang yang mengenal kedua orang tuamu, Mitha. Kursi keluarga mempelai perempuan tidak boleh kosong.'
Mitha tidak menjawab — ia hanya memeluk Danu lama sekali, di tengah ruangan, dengan daftar tamu masih terbuka di meja. Beberapa kalimat tidak perlu dijawab dengan kalimat.
Tanggalnya diputuskan bukan oleh konsultan, bukan oleh perhitungan baik-buruk hari, tapi oleh Gunawan di satu makan malam keluarga: 'Dokter Bapak bilang kondisi Bapak stabil dan bisa terus membaik kalau Bapak disiplin. Tapi Bapak tidak mau hidup kalian dijadwalkan oleh hasil lab Bapak. Menikahlah bulan depan. Kecil, hangat, hanya orang-orang yang benar-benar sayang. Pernikahan besar bisa menyusul kalau kalian mau — tapi akadnya jangan ditunda oleh badai, oleh kanker, atau oleh apa pun.'
Dan di tengah persiapan yang sibuk itu, satu perkembangan kecil akhirnya pecah juga — di dapur rumah keluarga Abisatya, di depan mesin kopi yang sama.
Dara menemukan Bisma di sana lewat tengah malam, menatap laptop dengan tumpukan dokumen jaringan Bram, dan untuk pertama kalinya tidak berkomentar sinis. Ia hanya mengambil dua cangkir, mengisinya, dan meletakkan satu di samping siku lelaki itu.
'Kamu akan sakit kalau terus begini,' katanya.
'Kamu mengkhawatirkanku?' Bisma tersenyum tanpa menoleh. 'Itu kemajuan. Bulan lalu kamu menyuruhku pulang ke rumahku sendiri.'
'Aku mengkhawatirkan siapa yang akan menjaga keluargaku kalau kamu tumbang karena kurang tidur. Itu beda.' Dara duduk di sebelahnya — lebih dekat dari biasanya, dan keduanya sama-sama pura-pura tidak menyadarinya. 'Bis. Sungguhan sebentar. Kenapa kamu melakukan semua ini? Benar-benar kujawab. Kamu punya perusahaan sendiri, hidup sendiri, dan tidak ada satu pun kewajiban terhadap keluargaku. Tapi dua bulan terakhir kamu praktis tinggal di sini, tidur empat jam, menelusuri jejak orang berbahaya — untuk apa?'
Bisma menutup laptopnya pelan. Untuk sekali, tidak ada jawaban ringan di mulutnya.
'Karena dua puluh tahun aku berteman dengan kakakmu, dan baru sekarang aku mengerti apa yang dia jaga sebenarnya,' katanya akhirnya. 'Dan karena...' ia berhenti, menatap cangkirnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup Bismadikara Hanenda, kata-katanya tidak keluar dengan mulus. 'Ada satu orang di rumah ini yang membuatku ingin jadi orang yang lebih berguna dari yang selama ini kutulis di kolom gosip. Tidak perlu kusebut namanya. Dia sudah tahu, dan dia pura-pura tidak tahu, dan aku menghargainya karena aku belum pantas untuk lebih dari itu.'
Dara diam lama. Lalu berdiri, mengambil cangkirnya, dan berkata dari ambang pintu tanpa berbalik: 'Kalau orang itu memang pura-pura tidak tahu... mungkin dia cuma menunggu orangnya berani menyebut namanya sendiri. Selamat malam, Bis.'
Dan Bisma duduk sendirian di dapur itu sampai kopinya dingin, dengan senyum bodoh yang tidak bisa dihapusnya dari wajahnya seumur malam itu.