Pernikahan itu berlangsung di pendopo taman rumah keluarga Abisatya, di pagi yang cerah bersih — kecil, hangat, dan dihadiri tepat empat puluh orang: keluarga, sahabat, dan orang-orang yang berdiri di sepanjang jalan cerita mereka.
Anya menangis sejak tamu pertama datang dan tidak berhenti sampai acara selesai. Rangga dan tim lantai 19 datang dengan satu bingkai besar berisi dua belas sampul cerita rilis pertama — hadiah yang membuat Mitha memeluk mereka satu per satu. Om Aji berdiri di samping Gunawan sepanjang acara dengan wajah lelaki yang akhirnya melihat misi tiga puluh tahunnya selesai. Dan Hendra Kusuma terbang jauh dari Bandung, duduk di barisan keluarga — karena malam sebelumnya Mitha meneleponnya dan berkata: 'Bapak satu-satunya orang yang mengenal kedua orang tuaku. Kursi keluarga mempelai perempuan tidak boleh kosong selama Bapak masih bisa terbang.'
Tapi momen yang membuat seluruh pendopo menahan napas terjadi sebelum akad dimulai.
Mitha tidak punya ayah yang mengantarnya ke pelaminan. Itu satu-satunya kursi kosong dalam hidupnya yang tidak bisa diisi siapa pun — sampai pagi itu, ketika Gunawan Abisatya berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, dan berjalan ke ruang ganti pengantin perempuan. Ia mengetuk, masuk, dan menatap Mitha yang berdiri dalam kebaya putih sederhana dengan gelang Larasati melingkar di pergelangan tangannya.
'Bapak tidak akan pernah bisa menggantikan Raka Wijaya,' kata Gunawan pelan. 'Tidak ada yang bisa. Tapi tiga puluh satu tahun lalu Bapak membiarkan mamamu berjalan sendirian menghadapi badai, dan Bapak sudah membayar kesalahan itu setiap hari seumur hidup Bapak. Hari ini, kalau kamu mengizinkan, Bapak ingin melunasi sebagian kecilnya: biarkan Bapak yang mengantarmu. Bukan sebagai pengganti ayahmu — sebagai orang yang akhirnya diizinkan berjalan di samping anak perempuan Larasati, membawanya ke lelaki yang akan menjaganya.'
Maka begitulah: ketika pintu pendopo terbuka, Paramitha Arjanti berjalan menuju pelaminan di lengan Gunawan Abisatya — anak dari jurnalis dan auditor yang mati untuk kebenaran, diantar oleh lelaki yang dulu menerbitkan kebenaran itu — sementara di ujung jalan, Danudaru Abisatya berdiri dengan mata yang tidak bisa lagi disembunyikannya basah, dan di barisan belakang, Anya sudah menyerah total pada tangisnya.
Akad itu berjalan khidmat dan lancar. Satu tarikan napas, satu kalimat ijab yang diucapkan Danu dengan suara yang hanya sekali bergetar, dan saksi-saksi yang menjawab 'sah' dengan suara yang pecah oleh haru. Dan saat cincin kedua melingkar di jari mereka, Gunawan membisikkan sesuatu ke telinga Mitha yang tidak didengar siapa pun kecuali mereka berdua — dan yang membuat Mitha tersenyum lebar di tengah air matanya:
'Abisatya junior. Ingat janji Bapak. Bapak sedang melawan kanker untuk itu, jadi jangan membuat Bapak menunggu terlalu lama.'
Resepsi kecil itu berjalan sampai sore — penuh tawa, tanpa satu pun bayangan. Tidak ada paket misterius. Tidak ada pesan dari nomor tak dikenal. Tidak ada badai. Untuk satu hari penuh, semesta seperti sepakat memberi jeda: dua keluarga yang baru disatukan, dua sahabat yang menemukan jalannya (Danu-Mitha), dua hati yang baru mulai berani (Bisma-Dara), dan satu lelaki tua yang duduk di kursinya memandangi semuanya dengan senyum yang tidak pergi seharian.
Menjelang senja, saat para tamu sudah pulang dan keluarga inti duduk berkumpul di beranda, Dara mengangkat gelasnya dan berkata: 'Untuk kakakku dan istri barunya — yang membuktikan bahwa ciuman nekat di lorong gelap kadang-kadang memang jalan menuju pelaminan.'
'Jangan tiru di rumah,' kata Danu, dan satu beranda tertawa.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Mitha tidur di rumah besar itu sebagai bagian darinya — dengan gelang mamanya di pergelangan tangan, cincin ibu mertuanya di jarinya, dan foto kedua orang tuanya berdiri di nakas di samping tempat tidur. Semua yang hilang sudah pulang. Semua yang dicari sudah ditemukan. Dan di tengah kebahagiaan yang utuh itu, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa tiga ribu kilometer jauhnya, di sebuah apartemen menghadap laut, Bram Salim sedang mengemas satu koper kecil — dengan dua surat di dalamnya: satu dari ayahnya, satu salinan surat Larasati.
Di layar ponselnya, satu tiket penerbangan ke Jakarta sudah terbit. Dan satu pesan terkirim ke nomor adiknya:
'Aku datang minggu depan. Bukan dengan nomor berganti, bukan dengan paket, bukan dengan artikel. Dengan namaku sendiri, lewat pintu depan — seperti yang kalian lakukan. Jaga janjimu: pertemukan aku dengan mereka. Ada satu nama di surat Ayah yang harus kucari — dan kurasa, hanya mereka yang bisa membantuku menemukannya. Dendam tiga puluh satu tahun ini mungkin selama ini diarahkan ke alamat yang salah. Dan kalau benar... maka aku berhutang permintaan maaf yang lebih besar dari yang bisa dibayar sisa umurku.'
Babak ketiga akan segera dimulai — dan untuk pertama kalinya, dua keluarga yang tiga puluh satu tahun berperang akan duduk di satu meja, dengan dua surat dari dua orang mati di tengahnya, mencari satu nama yang sama.