Umpan itu berenang selama sebelas hari — sebelas hari paling menegangkan sejak operasi dimulai.
'Telinga' itu menangkap cerita Kotak Kedua di hari ketiga, persis seperti skenario: satu percakapan 'tertutup' antara pengacara Rustam dan penyidik junior di kafe dekat kantor cabang, dilakukan di meja yang terlalu dekat dengan meja pegawai birokrasi itu. Cerita itu sederhana dan mematikan: Rustam mengaku menyimpan satu kotak terpisah berisi bukti pembayaran langsung ke 'konsultan keamanan', lengkap dengan tanda terima bertandatangan. Kotak itu sedang dalam perjalanan dari kota persembunyian lama Rustam, dan akan diserahkan ke penyidik hari Jumat, di kantor cabang, pukul dua siang.
Lalu dimulailah masa menunggu — dan masa menunggu itu adalah neraka kecil bagi semua orang.
Sebelas hari itu dijalani rumah besar dengan cara masing-masing. Gunawan mengisi paginya dengan bermain catur melawan siapa pun yang bisa dipaksa duduk — Om Aji kalah sembilan kali, Pa Handi kalah lima kali, dan Dara yang menolak bermain sejak awal karena 'keluarga ini sudah cukup menderita'. Dara sendiri menyalurkan tegangnya ke sulaman huruf-huruf kecil yang mulai berbentuk — dua huruf pertama sudah selesai, dan Bisma dilarang melihatnya 'sampai waktunya tiba, dan waktunya tidak akan tiba kalau kamu terus mengintip'. Bram bekerja seperti orang kesurupan, membedah ulang dokumen-dokumen yayasan cangkang sampai dini hari, seolah dengan membaca cukup keras ia bisa mempercepat waktu. Dan Mitha — yang dilarang semua orang ikut memantau layar operasi demi ketenangannya — mengisi hari-harinya dengan menyelesaikan kurasi rilis kedua Unit Konten Komunitas dari meja kerja di rumah, sambil sesekali berbicara pada perutnya: 'Kita tidak ikut tegang-tegangan ya, Nak. Kita di tim pendukung saja. Tim yang menyiapkan teh.'
Hanya Danu yang bergerak di dua dunia: pagi di kantornya sebagai CEO yang harus terlihat biasa, malam di ruang komando sebagai orang yang menghitung jam. Di hari kelima, Om Aji menemukannya masih berdiri di depan peta pukul tiga pagi dan menariknya paksa ke kursi. 'Ayahmu punya aturan untuk hari-hari seperti ini, dan aturannya wajib: yang memimpin harus tidur. Perang tidak dimenangkan oleh orang yang paling lama terjaga, tapi oleh orang yang paling jernih saat saatnya tiba.'
'Tujuh hari tidak ada gerakan,' lapor Bisma di hari ketujuh, dan untuk pertama kalinya ada keraguan di suaranya. 'Tidak ada kontak mencurigakan ke Tejo. Tidak ada pergerakan di yayasan cangkangnya. Darmadi diam total.'
'Atau dia menciumnya,' kata Bram.
'Tidak.' Gunawan, yang duduk di sudut ruangan dengan tehnya, berbicara tanpa mengangkat wajah. 'Dia sedang memeriksanya. Kalian mengharapkan ikan besar menyambar umpan di jam pertama — ikan sebesar itu tidak sampai sebesar ini dengan menyambar sembarangan. Dia sedang menguji ceritanya: apakah Rustam benar-benar pernah ke kota itu? Apakah pola penyimpanannya cocok dengan kebiasaan bendahara paranoid? Apakah tanda terima seperti itu mungkin ada? Kalian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebelum dia bertanya — bukan setelah.'
Maka di hari-hari berikutnya, tim menabur jawaban-jawaban itu dengan sabar: satu saksi kecil yang 'melihat' Rustam sering ke kota itu dulu, satu kebiasaan lama Rustam menyimpan dokumen penting dalam kotak timah (detail asli dari kesaksiannya, disisipkan ke cerita palsu), satu kebocoran kecil tambahan bahwa penyidik 'belum membuka kotaknya karena prosedur pemeriksaan forensik dokumen tua'. Setiap jawaban disebar lewat jalur yang berbeda, seperti remah roti yang tidak saling berhubungan.
Dan di hari kesembilan, remah-remah itu mulai dimakan.
'Aktivitas di yayasan cangkang,' lapor Bisma, dan seluruh ruangan menegang. 'Satu transfer keluar, kecil, ke rekening pribadi Tejo — pertama kalinya dalam dua tahun ada transfer di luar jadwal bulanan. Dia memanggil alatnya.'
'Belum tentu,' kata Ratih. 'Bisa jadi itu cuma ujian — Darmadi menguji apakah kita memantau rekening itu. Lanjutkan menunggu. Jangan satu pun dari kita yang bergerak.'
Hari kesepuluh: satu pertemuan tercatat — Tejo meninggalkan kantornya di luar jam kerja, mengendarai mobil tanpa sopir untuk pertama kalinya dalam setahun, ke satu alamat di pinggir kota yang tercatat sebagai properti yayasan. Empat puluh menit. Lalu pulang. Tidak ada satu pun tim pemantau yang bergerak mendekat — semua hanya menonton dari radius aman, karena satu gerakan salah di malam itu berarti sebelas hari kerja sia-sia.
'Dia menerima instruksi langsung,' kata Ratih, dan suaranya berubah — nada seorang pemburu yang akhirnya mendengar ranting patah di hutan. 'Orang seperti Darmadi tidak bertemu alatnya di tempat resmi kalau urusannya rutin. Ini perintah khusus. Bersiap — besok Jumat.'
Dan malam itu, di rumah besar, tidak ada yang benar-benar tidur.
Mitha berbaring dengan tangan di perutnya, merasakan tendangan-tendangan kecil yang mulai rutin datang — sensasi yang masih membuatnya tersenyum setiap kali, bahkan di malam setegang ini. Danu berbaring di sebelahnya, mata terbuka menatap langit-langit.
'Kalau besok berhasil, ini selesai,' kata Mitha pelan.
'Kalau besok berhasil, satu babak selesai,' jawab Danu. 'Darmadi belum akan jatuh besok — orang seperti dia tidak jatuh oleh satu tangkapan. Tapi rantainya akan tersambung untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun. Dan rantai yang sudah tersambung tidak bisa lagi diputihkan.'
'Dia aktif malam ini,' kata Mitha, menuntun tangan Danu ke perutnya, tepat saat tendangan kecil berikutnya datang. Dan wajah suaminya — CEO yang besok akan memimpin satu sisi operasi besar — meleleh dalam sekejap, seperti selalu.
'Besok malam,' kata Danu, menempelkan dahinya ke perut itu, 'Ayah akan bercerita tentang hari ketika kebenaran akhirnya berhenti bersembunyi. Tidur yang nyenyak, Abisatya junior. Ayah dan semua orang akan menjaga panggungnya.'
Dan jauh di sisi lain kota, di lantai tertinggi gedungnya, Darmadi Sutanto juga belum tidur — berdiri di jendelanya dengan segelas minuman yang tidak pernah disentuhnya, menatap kota yang akan menjadi saksi apakah empat puluh tahun kehati-hatiannya masih cukup tajam untuk satu Jumat yang akan datang.
Ia tidak tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, panggung yang sedang ditatapnya itu bukan miliknya.