Jumat itu turun hujan tipis sejak pagi — dan Bu Ratih kemudian akan bercerita bahwa ia selalu percaya operasi besar punya cuacanya sendiri.
Panggungnya sederhana di atas kertas: satu kantor cabang penyidik di pinggir kota, satu kotak timah tua yang diangkut dari gudang barang bukti dengan pengawalan terlihat-tidak-terlalu-ketat (kesalahan yang disengaja, karena pengawalan yang sempurna tidak pernah meyakinkan penonton yang tepat), dan puluhan mata yang tidak terlihat di setiap sudut radius dua kilometer.
Danu memimpin dari ruang komando di rumah besar — keputusan yang diambil dengan berat, karena bagian dari dirinya ingin berada di lapangan, dan bagian yang lain tahu bahwa posisinya justru di titik yang tidak bisa diserang. Bram duduk di sebelahnya, dua tangannya menggenggam gelas kopi yang tidak pernah diminumnya. Di layar besar: peta pergerakan, laporan tim pemantau, dan satu garis komunikasi langsung dengan Ratih di lapangan.
'Target bergerak,' suara Ratih masuk pukul 13.12. 'Kendaraan Tejo meninggalkan area kantornya. Satu orang. Sesuai pola.'
13.34: kendaraan itu berhenti dua blok dari kantor cabang. Tejo turun, berjalan kaki memutar — lelaki enam puluh dua tahun yang bergerak dengan disiplin orang yang dilatih untuk tidak pernah berjalan lurus ke tujuan. Tim pemantau bergantian mengikutinya tanpa satu pun terekspos.
13.47: Tejo memasuki area parkir belakang kantor cabang. Di tangannya ada satu tas kecil — dan dari lensa pengintai, isinya terbaca jelas: peralatan pembuka gembok dan satu botol kecil cairan yang belakangan diketahui adalah cairan penghapus sidik jari.
'Dia bukan datang untuk mencuri,' kata Bram pelan. 'Dia datang untuk menghancurkan — dan memastikan tidak ada jejak.'
13.52: Tejo masuk ke dalam gedung lewat pintu barang yang sengaja tidak dijaga ketat — kelemahan kedua yang disengaja. Empat menit kemudian ia berdiri di depan lemari barang bukti, membukanya dengan keahlian yang tidak tergesa-gesa, dan mengeluarkan kotak timah tua itu dari dalamnya.
Dan saat ia membuka kotak itu — dan menemukan di dalamnya bukan slip pembayaran, melainkan satu lembar kertas kosong dan satu kartu bertuliskan satu kalimat yang ditulis tangan Bu Ratih sendiri: *'Sudah tiga puluh satu tahun, Pak Tejo. Cukup.'* — pintu ruangan itu terbuka, dan ruangan itu penuh.
'Tejo Santosa,' kata Ratih, dengan surat perintah di tangan dan suara yang tidak perlu dikeraskan. 'Anda ditangkap atas dugaan percobaan perusakan barang bukti. Dan sebelum Anda memutuskan untuk tutup mulut — ada beberapa hal tentang majikan Anda yang sebaiknya Anda dengar dulu di kantor kami.'
Lelaki tua itu tidak melawan. Ia hanya berdiri dengan kotak timah terbuka di tangannya, menatap kartu kecil di dalamnya, dan — menurut laporan petugas yang paling dekat — tangannya tidak gemetar sama sekali. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang berubah: bukan takut, bukan marah. Sesuatu yang lebih mirip lega. Seperti orang yang sudah lama berdiri di ujung tali dan akhirnya ada yang memotongnya.
Di rumah besar, kabar penangkapan itu sampai lewat satu kalimat pendek dari Ratih di layar besar: 'Target diamankan. Bersih. Tanpa perlawanan.'
Tidak ada sorakan di ruang komando itu. Yang terjadi justru keheningan panjang yang aneh — dan kemudian Dara memeluk Mitha dari belakang, dan Bisma menyalakan ketel untuk teh karena tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan tangannya, dan Gunawan Abisatya berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela, dan berkata pelan kepada kota di luar sana, kepada dua orang yang sudah tiga puluh satu tahun menunggu dari tempat yang lebih tinggi:
'Dengar itu, Larasati. Dengar itu, Raka. Satu mata rantainya sudah tersambung. Tinggal sedikit lagi.'
Bram duduk di sudut ruangan dengan wajah di kedua tangannya — bukan menangis, tapi menahan sesuatu yang lebih besar dari tangis: tiga puluh satu tahun menunggu hari ini, dan hari ini ternyata tidak terasa seperti kemenangan. Ia terasa seperti apa sebenarnya: satu pintu lagi yang terbuka, di koridor panjang yang ujungnya sudah mulai terlihat.
***
Berita penangkapan itu sampai ke lantai tertinggi gedung Sutanto dalam waktu sembilan menit — dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun, orang-orang terdekat Darmadi Sutanto menyaksikan sesuatu yang tidak pernah mereka lihat: gelas di tangan lelaki itu pecah di lantai, bukan karena dilempar, tapi karena jatuh dari genggaman yang tiba-tiba kosong.
Dia tidak panik — orang seperti Darmadi tidak pernah panik, kata mereka yang mengenalnya. Tapi malam itu, satu perintah keluar dari ruangannya yang membuat asisten pribadinya berdiri membeku: 'Siapkan jalur keluar untuk Pak Tejo. Apapun yang diperlukan. Dan pastikan dia mengerti satu hal: mulutnya tertutup adalah satu-satunya kontrak yang tersisa.'
Tapi perintah itu — yang disampaikan lewat dua perantara, dengan kehati-hatian yang sudah jadi napasnya — justru menjadi kesalahan pertamanya.
Karena jalur yang dipakainya untuk menyampaikan pesan ke dalam tahanan adalah jalur yang sudah dibaca tim Ratih sejak seminggu sebelumnya: satu pengacara bayaran yang 'menawarkan jasa' ke keluarga Tejo, membawa pesan terselubung dalam nasihat hukum. Dan pesan itu, yang seharusnya menenangkan Tejo, justru dibaca sebaliknya oleh lelaki tua yang sudah tiga puluh satu tahun mengenal majikannya:
*Mulutmu tertutup adalah satu-satunya kontrak yang tersisa.*
Artinya jelas bagi orang yang memahami bahasa Darmadi: kontrak lama — perlindungan, uang, kesetiaan — sudah berakhir. Dan alat yang kontraknya sudah berakhir, di dunia Darmadi Sutanto, hanya punya satu fungsi tersisa: dibuang sebelum berkarat.
Di selnya malam itu, Tejo Santosa membaca ulang 'nasihat hukum' itu dua kali. Lalu memanggil petugas jaga, dan berkata satu kalimat yang membuat Bu Ratih terbangun jam dua pagi dan tiba di kantornya dua puluh menit kemudian dengan jaket yang dipakai terbalik:
'Bilang ke penyidik Ratih: saya mau bicara. Semuanya. Tapi saya mau perlindungan untuk cucu saya dulu — karena kalau saya buka mulut, orang pertama yang akan disentuh Darmadi bukan saya. Saya sudah tiga puluh satu tahun mengenal cara dia berpikir. Kalian harus lebih cepat dari dia.'