Pernikahan Bisma dan Dara digelar tiga bulan setelah Arka lahir — dan seperti sudah diduga semua orang, pernikahan itu menjadi cerminan sempurna kedua mempelainya: elegan di luar, kacau di dalam, dan penuh tawa di semua sisinya.
Persiapannya sendiri sudah menjadi tontonan keluarga selama berminggu-minggu. Bisma menginginkan pernikahan besar ('Aku hanya menikah sekali, dan dunia harus tahu'), Dara menginginkan pernikahan kecil ('Kalau kamu mau dunia tahu, kamu menikah dengan dunia saja'), dan komprominya dicapai setelah dua minggu negosiasi yang menurut Danu 'lebih alot dari akuisisi mana pun yang pernah kutangani': sedang. Seratus lima puluh tamu, di taman rumah besar, dengan dekor yang dipilih Dara dan musik yang dipilih Bisma — dan satu MC yang dipilih keduanya setelah veto bersama atas semua pilihan keluarga.
Hari-H itu turun dengan cuaca yang sempurna, dan rumah besar itu berubah menjadi lautan bunga dan tawa.
Mitha datang dengan Arka tiga bulan di gendongan — bayi yang menjadi pusat perhatian yang mencuri panggung dari pengantin, sesuatu yang diterima Dara dengan lapang dada: 'Dia keponakan pertamaku. Dia boleh mencuri panggungku hari ini. Mulai besok, tidak lagi.' Anya menangis sejak prosesi dimulai dan tidak berhenti sampai akhir, sambil terus berkata 'aku tidak menangis, ini alergi' kepada siapa pun yang lewat. Dan Rangga serta tim lantai 19 datang dengan formasi rapi seperti pasukan kecil, karena — menurut Rangga — 'hari ini Ibu Mitha resmi jadi kakak ipar pengantin perempuan, jadi ini acara keluarga besar kami juga, secara teknis.'
Akadnya sendiri berjalan khidmat — Bisma menjawab ijab dengan satu tarikan napas dan suara yang hanya bergetar sekali, persis seperti kakak iparnya setahun sebelumnya.
Sebelum itu, ada prosesi yang membuat separuh tamu sudah basah matanya sejak awal: Dara berjalan menuju pelaminan di lengan ayahnya. Gunawan Abisatya berjalan pelan dengan tongkatnya, menolak dibantu siapa pun, menempuh jarak yang tidak pendek itu dengan langkah yang tegak — dan di sepertiga jalan, tanpa direncanakan, ia berhenti sebentar, menatap putri satu-satunya itu, dan berkata cukup keras untuk didengar barisan depan: 'Ibumu akan sangat marah kalau tahu dia melewatkan ini. Jadi kita berjalan pelan-pelan saja — supaya dia sempat menonton dari tempatnya.' Tidak ada satu pun di barisan depan yang sanggup menahan air mata setelah kalimat itu.
Danu berdiri di samping Bisma sebagai pendamping — dan menurut laporan saksi mata, CEO Abisatya Besari itu lebih gugup dari pengantinnya, memeriksa saku jas Bisma tiga kali untuk memastikan cincinnya ada, sampai Bisma berbisik: 'Bro, kalau kamu periksa sekali lagi, aku yang akan menyerah.' 'Diam. Aku bertanggung jawab atas cincin itu. Ini penugasan paling penting yang pernah kau berikan padaku.' 'Kamu CEO holding tiga puluh dua perusahaan.' 'Dan hari ini aku pemegang cincin. Prioritas berubah.'
Dan saat keduanya resmi menjadi suami istri, Gunawan Abisatya berdiri dari kursinya, mengangkat tangannya, dan berkata ke arah Pa Handi dengan suara yang menggelegar:
'Bawa botolnya!'
Botol kedua itu — yang disimpannya dua puluh tahun untuk hari ini — dibuka di hadapan seratus lima puluh tamu, dan dituangkan ke gelas-gelas kecil dengan tangan Gunawan sendiri. Lelaki tua itu mengangkat gelasnya, menatap dua anaknya yang kini sudah sama-sama berpasangan, dan menyampaikan pidato yang kemudian dibicarakan para tamu sampai berbulan-bulan:
'Empat puluh tahun Bapak membangun perusahaan. Orang bilang itu kerajaan. Tapi malam ini Bapak berdiri di sini sebagai orang yang paling kaya di ruangan ini karena alasan yang berbeda: kedua anak Bapak sudah menemukan rumahnya. Danu dengan Mitha. Dara dengan Bisma. Dan satu cucu yang tidur di gendongan mamanya di sana, tidak peduli dengan semua keributan ini.' Tawa tamu pecah. 'Kepada Bisma: selamat datang resmi di keluarga ini. Kamu sudah kami uji delapan bulan — kamu lulus, dengan catatan kecil soal kebiasaan menaruh kaki di meja yang masih perlu diperbaiki.' Tawa kedua, lebih keras. 'Dan kepada semua yang hadir: keluarga ini pernah hampir hancur oleh cerita tiga puluh satu tahun. Malam ini kita merayakan bukan karena badai sudah lewat — tapi karena keluarga ini belajar berdansa di tengahnya. Angkat gelas kalian. Untuk Bisma dan Dara. Untuk rumah yang tidak pernah runtuh.'
Resepsi itu berjalan sampai malam — dan ada satu momen yang tidak direncanakan siapa pun yang menjadi puncaknya. Di tengah pesta, Dara menarik Bisma ke sudut taman, dan menyerahkan satu bungkusan kecil: sulaman yang dikerjakannya berbulan-bulan, yang selama ini dilarangnya keras untuk diintip.
Bingkai kecil itu berisi dua huruf yang disulam dengan benang kuning lembut, rapi dan penuh kesabaran: **B ♥ D**.
'Aku mulai menyulamnya sebelum kamu melamar,' kata Dara, menatap kakinya sendiri — hal yang tidak pernah dilakukannya. 'Dua huruf pertama yang kupikirkan adalah inisial kita, dan aku menghabiskan tiga bulan menyulamnya sambil menunggu kamu berani. Kalau kamu tidak kunjung berani, rencananya akan kuganti jadi inisial lain. "Benci Dara", mungkin.'
'Dua huruf ini,' kata Bisma, memegang bingkai itu seperti memegang sesuatu yang bisa pecah, 'adalah barang paling berharga yang pernah kuterima. Dan aku pernah menerima saham perusahaan dari ayahku.'
'Itu karena saham tidak disulam dengan tangan dan tiga bulan menunggu.'
'Kamu menungguku tiga bulan?' Bisma menatapnya, dan playboy legendaris itu tersenyum seperti anak kecil. 'Daradiani Abisatya menungguku tiga bulan, dengan sulaman.'
'Jangan biasakan. Dan jangan ceritakan ke siapa pun. Aku punya reputasi yang harus dijaga.'
Tapi malam itu juga, Bisma menceritakannya kepada setiap orang yang lewat — dengan bingkai sulaman itu di tangannya, dengan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan, sampai Dara menyerah dan membiarkannya, karena ternyata ada hal-hal yang lebih penting dari reputasi: melihat suaminya bahagia seperti orang bodoh.
Dan di sudut taman, Danu dan Mitha menyaksikan semuanya dengan Arka tertidur di gendongan — dan Mitha bersandar ke bahu suaminya, berbisik: 'Tahun depan, di taman ini lagi?'
'Untuk apa?'
'Apa pun. Keluarga ini sudah terlalu lama tidak berkumpul untuk alasan yang bukan badai. Kita harus membiasakannya.'