Enam minggu setelah Arka lahir, Mitha kembali ke lantai 19 — dengan jadwal yang sudah diperjuangkannya mati-matian melawan seluruh keluarga (setengah hari selama tiga bulan pertama, titik, tanpa negosiasi, dan Danu hanya menang di satu pasal: supir dan pengamanan penuh).
Kepulangannya disambut dengan spanduk kecil buatan Rangga dan tim: 'SELAMAT DATANG KEMBALI, BU. RUANGAN INI TIDAK PERNAH SAMA TANPA IBU.' Dan satu kejutan yang lebih besar: di mejanya, tersusun rapi, rilis kedua Unit Konten Komunitas yang diselesaikan tim selama ia cuti — lengkap, tuntas, dengan angka pembaca yang melampaui rilis pertama.
'Kami tidak mau Ibu pulang ke meja yang berantakan,' kata Rangga. 'Jadi kami pastikan mejanya bersih, kerjanya jalan, dan Ibu tinggal tersenyum.'
'Kalian menyelesaikan rilis kedua tanpa saya?' Mitha menatap mereka satu per satu.
'Ibu mengajari kami bahwa ide berdiri sendiri tanpa jabatan,' jawab Rangga, tersenyum. 'Ternyata unit juga bisa berdiri sementara tanpa pemimpinnya — asalkan pemimpinnya sudah menanam dengan benar. Ibu menanam dengan benar.'
Mitha tidak bisa menjawab apa-apa selain memeluk mereka satu per satu — untuk kedua kalinya menangis di depan timnya, dan kali ini ia memutuskan itu juga tidak apa-apa.
Tapi kepulangannya membawa satu misi baru yang sudah dipikirkannya sejak malam vonis dijatuhkan — misi yang disampaikannya ke Danu malam itu juga, di kamar, dengan Arka tidur di boks di samping mereka:
'Aku mau cerita ini ditulis ulang. Bukan oleh media luar, bukan oleh produser yang membingkai sesuka hati — oleh kita. Oleh Unit Konten Komunitas. Buku yang utuh: serial mama, ayahku, Kencana Grafika, tiga puluh satu tahun, sampai vonis kemarin. Semuanya, dari semua sisi — termasuk sisi keluarga Wirawan, kalau Bram dan Saraswati bersedia bercerita.'
'Itu proyek besar,' kata Danu.
'Itu proyek yang seharusnya. Selama ini cerita tentang orang-orang kita ditulis orang lain dengan sudutnya masing-masing — artikel Bram dulu, gosip murahan, berita-berita persidangan yang terpotong-potong. Tidak ada satu pun yang utuh.' Mitha menatap Danu. 'Mama pernah menulis: orang tidak kekurangan cerita, mereka kekurangan tempat yang membacanya dengan benar. Unit ini lahir dari kalimat itu. Dan cerita ini — cerita mama sendiri — pantas dibaca dengan benar. Oleh negeri yang sama yang tiga puluh satu tahun salah membacanya.'
Proyek itu dimulai dua minggu kemudian, dengan judul kerja yang dipilih Mitha sendiri: **'Tiga Puluh Satu Tahun'**. Hendra Kusuma setuju menjadi penasihat — lelaki delapan puluh satu tahun itu menyambut tawarannya dengan kalimat khas: 'Saya sudah menunggu tiga puluh satu tahun untuk orang yang mau menulis ini dengan benar. Kalian menawarkan pada orang yang tepat, pada usia yang untungnya masih cukup kuat untuk merevisi.' Dan yang paling mengejutkan semua orang: Bram dan Saraswati tidak hanya setuju — Bram menyerahkan seluruh arsip pribadinya, termasuk foto-foto keluarga Wirawan yang tidak pernah dilihat siapa pun.
'Tiga puluh satu tahun aku menyimpan semua ini untuk dendam,' katanya. 'Biarkan sisanya kugunakan untuk cerita yang benar. Ayahku bukan malaikat — tulis itu. Dia bersalah, dia tahu dia bersalah, dan di akhir dia memilih bicara. Itu cerita yang lebih baik dari cerita pahlawan. Cerita pahlawan tidak mengajari apa-apa pada siapa pun.'
Dan Gunawan, saat diminta izinnya untuk membuka arsip perusahaan, menjawab dengan satu syarat yang sudah bisa ditebak semua orang: 'Boleh. Semua boleh dibuka. Tapi Bapak mau menulis satu bab sendiri — bab tentang Larasati di redaksi. Bapak satu-satunya yang masih hidup yang menyaksikan beliau bekerja, dan Bapak tidak akan menyerahkan bab itu ke penulis mana pun.'
'Deal, Yah,' kata Danu. 'Tapi dengan editor.'
'Editor boleh. Sensor tidak.'
'Itu definisi editor yang salah, Yah.'
'Itu definisi editor versi Bapak. Kalian punya pemimpin redaksi sendiri, silakan disesuaikan.'
Dan proyek itu berjalan — dengan tim kecil dari lantai 19, dua penulis muda terbaik unit itu, dan satu keluarga besar yang membuka semua pintu arsipnya.
Pekerjaan terberatnya ternyata bukan menulisnya — tapi mengumpulkan suara-suara yang tersisa. Tim kecil itu terbang ke Jawa Tengah untuk merekam Sigit Prawirosentono, yang bercerita tiga hari berturut-turut dengan jeda untuk mengurus tanamannya. Mereka menemui Rustam Effendi di rumah amannya, dan bendahara tua itu menyambut mereka dengan teh dan satu kalimat pembuka yang langsung masuk ke buku sebagai epigraf bab: 'Kalian mau menulis tentang orang jahat yang tobat? Tidak ada itu di sini. Yang ada di sini cuma orang pengecut yang akhirnya berhenti lari. Tulis yang benar — jangan dibagus-baguskan.' Ratna bercerita lewat sambungan video dari Melbourne, tentang malam ia membangunkan dua anaknya dan menyuruh mereka berkemas tanpa suara — bagian yang direkamnya hanya sekali, karena ia menolak mengulanginya: 'Sekali sudah cukup untuk satu ibu. Sekali sudah cukup.' Dan Om Aji memberikan satu bab penuh dari sudut yang tidak pernah dipikirkan siapa pun: sudut orang yang menjaga — tentang Kamis-Kamis malam mengawal Larasati, tentang menjadi telinga Gunawan selama empat puluh tahun, tentang bagaimana rasanya menyimpan rahasia-rahasia keluarga orang lain seumur hidup. 'Kalian menulis tentang pahlawan-pahlawan besar,' katanya sambil tertawa. 'Saya cuma orang yang memastikan mereka sampai ke halaman berikutnya dengan selamat. Tapi boleh juga kalau itu ditulis.'
Di malam-malam kerja itu, Mitha sering menemukan dirinya membaca ulang surat mamanya di sela-sela menulis, dengan Arka tidur di gendongan samping mejanya — dan ia mulai menulis bab pertamanya dengan kalimat yang tidak diubahnya sampai terbit:
*'Ini bukan cerita tentang dendam. Ini cerita tentang dua orang yang menulis kebenaran, dan tentang semua orang yang menolak membiarkan kebenaran itu mati bersama mereka. Ibuku menulis separuhnya dengan pena. Kami menyelesaikan separuhnya dengan hidup kami.'*
Danu membacanya pertama kali di salah satu malam kerja itu, berdiri di belakang kursi Mitha dengan Arka tertidur di gendongannya. Ia tidak berkomentar lama — hanya menunduk, mencium puncak kepala istrinya, dan berkata: 'Kalau kalimat pertama saja sudah begini, aku tidak yakin sanggup membaca bab terakhirnya tanpa menangis di depan timku sendiri.' 'Maka menangislah,' jawab Mitha tanpa menoleh dari layarnya. 'CEO yang menangis karena buku istrinya itu bukan kelemahan. Itu review terbaik yang bisa kuminta.'