Kontraksi pertama datang pukul tiga pagi, di tengah hujan bulan itu — dan Danu, yang sudah melatih skenario ini dua puluh kali dalam kepalanya, lupa semuanya dalam tiga detik.
'Tasnya! Tas yang sudah kita siapkan—' 'Sudah di tanganmu, Danu.' 'Mobil—' 'Supir sudah siap sejak semalam, kamu sendiri yang menyuruhnya.' 'Kita harus—' Mitha, yang berdiri di tengah kamar sambil memegangi perutnya dengan tenang luar biasa, akhirnya memotong: 'Danudaru Abisatya. Kamu mengendalikan tiga puluh dua perusahaan. Aku yang melahirkan, tapi kamu yang panik. Tarik napas. Pegang tanganku. Kita berangkat.'
Perjalanan ke rumah sakit itu diwarnai satu panggilan telepon yang membuat seluruh rumah besar bangun: Gunawan yang berdiri di lorong kamarnya dengan jubah tidur dan mata yang langsung jernih, Dara yang berlari dengan sepatu berbeda sebelah, Bisma yang menyusul dengan mobil sendiri karena 'tidak mungkin aku ketinggalan sejarah', dan Pa Handi yang — menurut laporan Om Aji — langsung menyalakan semua lampu rumah 'supaya rumahnya ikut bangun menyambut'.
Di ruang bersalin, waktu berjalan dengan caranya yang kejam. Danu tidak pernah merasakan jam bergerak selambat itu — bahkan saat menunggu hasil RUPS, bahkan saat menunggu Darmadi tertangkap. Ia berdiri, duduk, berdiri lagi, sampai bidan seniornya berkata setengah geli: 'Pak CEO, Bapak boleh masuk menemani kalau mau, tapi kalau Bapak terus mondar-mandir, pasiennya yang jadi pusing.'
Maka Danu masuk — dan untuk delapan jam berikutnya, ia menjadi saksi dari sesuatu yang kemudian selalu dikatakannya sebagai 'hal paling berani yang pernah kulihat dalam hidupku, dan aku pernah berhadapan dengan singa di Afrika.' Mitha berjuang dengan genggaman tangannya, dengan keringat dan air mata dan satu-dua kalimat yang tidak akan pernah diulanginya di depan umum — dan Danu membalasnya dengan tangan yang diremas sampai mati rasa dan kalimat-kalimat yang tidak penting tapi terus diucapkannya karena itulah satu-satunya yang bisa diberikannya.
Pukul 11.47 pagi, tangis itu akhirnya terdengar.
Laki-laki. Tiga koma dua kilogram. Sehat, sempurna, dengan suara tangis yang menurut Dara dari balik pintu 'kedengaran seperti akan jadi CEO sebelum umur lima tahun'.
Dan saat bayi itu diletakkan di dada Mitha, Danu menangis — tanpa peduli siapa yang melihat, tanpa peduli ada perawat yang tersenyum, menangis seperti tidak pernah menangis seumur hidupnya. Karena di lengannya itu ada tiga generasi sekaligus: anak dari Paramitha Arjanti, cucu dari Larasati dan Raka, dan masa depan dari semua yang mereka perjuangkan.
'Bapaknya menangis,' bisik Mitha lemah, tersenyum, memandang suaminya. 'Lihat, Nak. Papamu menangis. Jangan bilang siapa-siapa.'
'Kamu yang baru saja melahirkan dan masih sempat meledek.'
'Itu gunanya jadi ibu. Kita boleh melakukan dua hal sekaligus.'
Di ruang tunggu, berita itu disambut seperti kemenangan perang — Dara memeluk Bisma, Om Aji menepuk punggung siapa pun yang terdekat, dan Gunawan Abisatya berdiri di tengah ruangan dengan air mata mengalir di wajahnya, menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar Pa Handi: 'Sudah, ya. Bapak sudah sampai. Bapak sudah sampai tepat waktu.'
Ruang tunggu itu sendiri kemudian menjadi babak tersendiri. Anya tiba empat puluh menit setelah berita keluar — dengan rambut yang jelas tidak sempat disisir, mengendarai mobilnya sendiri melanggar tiga aturan lalu lintas yang akan disesalinya nanti — dan menangis di depan pintu ruang rawat sebelum sempat melihat bayinya. 'Aku bibinya,' deklarasinya kepada perawat jaga dengan otoritas penuh. 'Bibi resmi. Ada surat penunjukannya... secara lisan. Dari ibunya. Pokoknya aku bibinya.' Bram dan Saraswati datang sorenya dengan satu keranjang hadiah dan satu kebingungan bersama: dua orang yang sama-sama tidak punya pengalaman dengan bayi, berdiri canggung di depan boks bayi sampai Saraswati — dengan kredensial psikolog anaknya — akhirnya berani menggendong Arka dengan benar, dan Bram memotretnya sambil berkomentar: 'Kamu kelihatan natural. Aku kelihatan seperti orang yang diserahi bom.' 'Karena kamu memegangnya seperti bom, Kak. Rileks. Dia bayi, bukan berkas kasus.' Rangga mengirim karangan bunga sebesar pintu atas nama lantai 19, dengan kartu bertuliskan: 'Selamat datang di tim, Junior. Posisi magang sudah kami siapkan.' Dan Hendra Kusuma menelepon dari Bandung dengan suara yang bergetar: 'Laki-laki? Wijaya tengahnya? Ah. Ah, bagus. Bagus sekali. Raka pasti sedang menyombongkannya ke seluruh penghuni surga sekarang.'
Dan satu jam kemudian, ketika bayi kecil itu akhirnya diperbolehkan diperlihatkan, Gunawan menggendongnya dengan dua tangan yang gemetar — cucu yang dijanjikannya di kamar rumah sakit bertahun-tahun lalu, yang menjadi alasannya melawan kanker, yang menjadi kata 'Kakek' pertama dalam hidupnya.
'Halo, Abisatya junior,' bisiknya. 'Kakek sudah lama menunggumu.'
Namanya diumumkan sore itu juga, di depan keluarga yang berkumpul: **Arka Wijaya Abisatya.** Arka — cahaya matahari, untuk langit jingga kesukaan ayahnya. Wijaya — untuk kakeknya yang tidak pernah sempat menggendongnya, auditor muda yang mati untuk kebenaran. Dan Abisatya — untuk nama yang akan diwariskannya dengan semua artinya: bukan kekayaan, tapi keberanian berdiri tegak.
'Arka Wijaya Abisatya,' ulang Gunawan, menggoyang gendongannya pelan. 'Nama yang besar untuk orang yang masih sangat kecil. Tapi tidak apa — dia punya seluruh keluarga ini untuk tumbuh ke arahnya.'
Dan malam itu, di kamar rawat yang remang, Mitha menyusui putranya untuk pertama kalinya dengan Danu tiduran di sampingnya, dan kota di luar jendela berkilau seperti biasa — tapi tidak pernah lagi terasa sama. Karena di kota itu sekarang ada Arka. Dan segalanya, sungguh-sungguh segalanya, terasa selesai sekaligus baru dimulai.
Tiga hari kemudian mereka pulang ke rumah besar — dan rumah itu menyambutnya seperti menyambut kepala negara: semua lampu menyala, Pa Handi berdiri di pintu dengan senyum yang tidak hilang-hilang, dan satu spanduk kecil di ruang keluarga bertuliskan 'SELAMAT DATANG DI DUNIA, ARKA' yang jelas-jelas hasil kerja Dara karena hurufnya dicat tiga warna. Kamar bayi sudah disiapkan sejak sebulan lalu — tapi Arka, seperti semua bayi dalam sejarah, menolak konsep kamar sendiri dan menghabiskan malam-malam pertamanya di kamar orang tuanya, dengan Danu yang terbangun setiap dua jam dan setiap kali berdiri di samping boks memastikan putranya bernapas, sampai Mitha berkata: 'Dia bernapas, Danu. Dia selalu bernapas. Kamu yang harus tidur.' 'Tadi dia berhenti sedetik.' 'Itu namanya bayi tidur. Tarik napas, CEO. Ini proyek jangka panjang — kamu tidak bisa begadang delapan belas tahun.'