Ratna Salim — dulu Ratna Wirawan — tiba di Jakarta dua minggu setelah vonis, diantar Saraswati dari Melbourne, dengan satu koper kecil dan satu surat yang sudah ditulis-tulis ulangnya sebelas kali.
Gunawan menyambutnya di beranda belakang rumah besar itu — beranda yang sama tempat ia meminta maaf pada Mitha, tempat Saraswati diseduhkan teh, tempat semua perdamaian dalam cerita ini tampaknya memang ditakdirkan terjadi. Dua orang tua itu — tujuh puluhan, sama-sama ditinggal pasangannya oleh tragedi yang sama, sama-sama membesarkan anak-anak di bayang-bayang satu nama — berdiri berhadapan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh satu tahun.
'Ibu Ratna,' kata Gunawan, dan membungkuk dalam — untuk kedua kalinya dalam hidupnya, dan kedua-duanya untuk keluarga ini. 'Bapak sudah menunggu tiga puluh satu tahun untuk mengatakan ini langsung: tawaran Bapak dulu bukan sedekah, dan penolakan Ibu bukan penghinaan. Dua orang tua yang sama-sama melindungi anaknya dengan cara masing-masing. Bapak menghormati pilihan Ibu kemarin, hari ini, dan selamanya.'
Ratna menatap lelaki tua di hadapannya — lelaki yang selama tiga puluh satu tahun menjadi nama yang tidak pernah diucapkan di rumahnya, bukan karena benci, tapi karena terlalu banyak yang menempel pada nama itu — dan air matanya akhirnya jatuh juga. 'Bapak tahu apa yang paling saya sesali, Pak Gunawan? Bukan kerasanya hidup kami. Anak-anak saya tumbuh mengira bahwa menerima uluran tangan itu sama dengan mengkhianati ayahnya. Saya mengajari mereka harga diri — tapi saya lupa mengajari bahwa menerima kebaikan juga butuh keberanian. Saya baru mengerti itu dari anak saya sendiri, dari Saraswati, yang berani pulang ke kota yang kami tinggalkan.' Ia mengusap matanya. 'Kita berdua membesarkan anak-anak dengan sisa-sisa cerita yang sama, Pak. Dan lihat mereka sekarang — mereka menyelesaikan apa yang kita tidak bisa.'
Mereka duduk di beranda itu sampai sore berubah jingga — dua orang tua membicarakan cucu-cucu, penyakit-penyakit umur, dan hal-hal kecil yang tidak penting, persis seperti yang diramalkan Saraswati berbulan-bulan lalu. Dan saat Bram datang menjelang senja — berdiri kaku di ambang pintu, karena bertemu ibunya di rumah keluarga Abisatya adalah pemandangan yang tidak pernah masuk skenario hidupnya — Ratna hanya berkata:
'Duduk, Nak. Ibu dan Pak Gunawan sedang membicarakan nama untuk calon bayi mereka. Dan kamu, yang sudah jadi pamannya semua cerita ini, sebaiknya ikut memberi suara.'
'Aku bukan paman siapa-siapa, Bu.'
'Kamu paman dari semua orang yang berdiri di cerita ini,' jawab Ratna tegas. 'Termasuk calon bayi itu. Sekarang duduk — Ibu tidak membesarkanmu untuk berdiri di ambang pintu seperti tamu.'
Dan Bram duduk. Dan untuk pertama kalinya sejak berusia tujuh belas tahun, ia makan malam di satu meja dengan ibunya, adiknya, dan keluarga yang dulu dibencinya — dan rasanya tidak seperti pengkhianatan terhadap ayahnya. Rasanya seperti pulang.
***
Malam itu juga, setelah para tamu pulang dan rumah besar kembali tenang, Bismadikara Hanenda meminta waktu khusus menghadap Gunawan Abisatya — di ruang kerja lelaki tua itu, dengan setelan resmi, dan dengan wajah orang yang akan menghadapi sidang yang lebih menegangkan dari sidang Darmadi.
'Pak Gunawan. Bapak mengenal saya dua puluh tahun sebagai sahabat Danu yang tidak pernah serius. Saya tidak akan membantah penilaian itu — saya memang menghabiskan dua puluh tahun untuk membuktikannya.' Bisma menarik napas. 'Tapi delapan bulan terakhir saya menghabiskan waktu menjaga keluarga Bapak seperti keluarga saya sendiri, dan saya baru mengerti kenapa: karena ada satu orang di keluarga ini yang membuat saya ingin menjadi orang yang lebih baik dari yang pernah saya tulis di kolom gosip mana pun. Saya datang malam ini untuk meminta izin Bapak — bukan restu dulu, izin dulu — untuk melamar putri Bapak, Daradiani Abisatya, dengan cara yang benar.'
Gunawan menatapnya lama — lama sekali, dengan tatapan menilai yang biasa dipakainya membaca calon mitra bisnis miliaran. Lalu ia berdiri, berjalan ke lemari kecilnya, dan mengeluarkan satu botol — botol kedua, dari rak yang sama dengan botol yang dibukanya di malam lamaran Danu.
'Kamu tahu kenapa Bapak menyimpan dua botol?' katanya. 'Satu untuk Danu, satu untuk Dara. Bapak sudah menunggu dua puluh tahun untuk membuka yang kedua — dan Bapak sudah memutuskan sejak malam kamu memperbaiki mesin kopi di dapur rumah ini bahwa kamulah orangnya.' Ia menatap Bisma, dan senyumnya mengembang. 'Tapi Bapak tidak memberikan izinku malam ini, Bismadikara. Izin itu bukan milik Bapak untuk diberikan — itu milik Dara. Yang Bapak berikan malam ini adalah ini: jaminan bahwa kalau Dara mengatakan ya, ayahnya akan berdiri di barisan paling depan dengan botol ini, menangis seperti orang bodoh.'
'Bahasa Bapak untuk "ya" itu sangat panjang, Pak.'
'Bahasa Bapak untuk "jangan sakiti anak Bapak atau Bapak akan menghabisi sisa umur Bapak memikirkan cara membalasnya" itu lebih panjang lagi,' jawab Gunawan ringan. 'Tapi kita tidak perlu membahasnya, bukan? Karena kamu sudah menghabiskan delapan bulan membuktikan bahwa kamu tidak akan pernah melakukannya. Sekarang pergilah — anak itu ada di beranda, dan dia sudah menunggumu dua bulan lebih lama dari kesabarannya yang terkenal pendek itu.'
Dan malam itu, di beranda belakang rumah besar keluarga Abisatya, di depan mesin kopi yang sudah pensiun dan digantikan yang baru, Bismadikara Hanenda berlutut di hadapan Daradiani Abisatya — dan perempuan itu menjawabnya dengan kata yang hanya satu, yang membuat satu rumah besar terbangun oleh teriakan gembira Dara sendiri:
'Ya.'