Kisah cinta itu dimulai dari makan siang yang salah pesan — dan menjadi bahan tertawaan dua lantai kantor selama berbulan-bulan.
Anya sedang mengantar dokumen ke lantai 19 saat jam makan siang, menemukan Rangga makan sendirian di mejanya dengan dua kotak makan yang jelas salah antar, dan mengomentari tanpa diminta: 'Kamu pesan dua porsi? Ambisius.' Dan Rangga, yang baru sadar memesan ganda karena terlalu fokus kerja, menjawab dengan kaku khasnya: 'Ini... bukan dua porsi. Ini satu pesanan yang dobel. Mau sebagian? Daripada dibuang.'
Maka mereka makan siang berdua — dan entah bagaimana, makan siang itu berlanjut ke makan siang berikutnya, dan berikutnya, sampai seluruh lantai 19 dan lantai 11 sama-sama menyadarinya sebelum dua orang itu sendiri menyadarinya.
'Any,' kata Mitha suatu hari, dengan senyum yang langsung membuat Anya curiga, 'kamu tahu kamu ke lantai 19 empat kali minggu ini? Biasanya dokumen antar-divisi cukup seminggu sekali.'
'Dokumennya banyak.'
'Dokumennya bernama Rangga?'
Anya menatap sahabatnya dengan tatapan paling menghakimi yang dimilikinya — dan kemudian, untuk pertama kalinya dalam persahabatan mereka, gagal mempertahankan wajah datarnya. 'Dia... berbeda, Mit. Dia mendengarkan. Bukan mendengarkan untuk menjawab — dia mendengarkan seperti kamu mendengarkan. Dan dia lucu dengan cara yang tidak dia sadari, yang menurutku adalah jenis lucu terbaik di dunia.' Ia berhenti, lalu menatap Mitha dengan panik kecil yang tidak biasa. 'Tapi dia pemalu sekali. Kalau aku bergerak, dia akan lari ke gudang dan tidak keluar seminggu.'
'Maka biarkan dia yang bergerak. Orang seperti Rangga bergerak dengan kecepatannya sendiri — tapi kalau sudah bergerak, dia tidak akan berhenti.' Mitha tersenyum. 'Aku mengenal tipe ini. Aku menikahi satu.'
Rangga bergerak tiga minggu kemudian — dengan cara Rangga yang paling Rangga: bukan bunga, bukan puisi, melainkan satu map berisi analisis. Di halaman pertamanya tertulis: 'ANALISIS KECOCOKAN JADWAL MAKAN SIANG (temuan: 94% cocok)'. Di halaman terakhirnya: 'Kesimpulan: sebaiknya dipermanenkan. Dilanjutkan ke makan malam, kalau kamu mau.'
Anya membacanya tiga kali di pantry lantai 11, tertawa sampai menangis, dan menjawabnya lewat pesan singkat: 'Analisismu lemah di metodologi tapi kuat di kesimpulan. Jumat. Kamu yang jemput. Dan Rangga — ini jawaban ya, kalau-kalau kamu butuh ditulis eksplisit.'
Berita itu sampai ke rumah besar di malam yang sama dan disambut seperti gol kemenangan — Dara langsung mengklaim kursi barisan depan untuk pernikahannya kelak ('Aku sudah belajar dari pengalaman: klaim dulu sebelum terlambat'), dan Mitha menatapnya dari kejauhan dengan kepuasan khusus seorang pembuat korek api yang melihat apinya menyala sendiri.
Di makan malam keluarga berikutnya, Anya menjadi bulan-bulanan satu meja dengan sportivitas yang patut diacungi jempol. 'Jadi,' kata Dara, mengiris steaknya dengan presisi seorang jaksa, 'kamu jatuh cinta lewat analisis jadwal makan siang. Dari semua cara jatuh cinta yang ada di dunia.' 'Setidaknya cara kami berdasarkan data,' jawab Anya, membalas tanpa mengangkat wajah dari piringnya. 'Kamu jatuh cinta lewat mesin kopi rusak. Silakan nilai sendiri siapa yang lebih absurd.' Satu meja meledak tertawa, dan Bisma mengangkat tangannya pasrah: 'Untuk catatan resmi keluarga ini: mesin kopi itu saya perbaiki dengan penuh cinta.' 'Mesin kopi itu kamu perbaiki supaya bisa mengobrol dengan pemiliknya,' balas Dara. 'Kita semua tahu, Bis. Berhenti merevisi sejarah.' Bahkan Gunawan ikut berkomentar dari ujung meja: 'Bapak hanya mau bilang satu hal: keluarga ini sekarang punya dua kisah cinta yang bermula dari benda mati — satu dari gelang, satu dari mesin kopi. Kalau ada yang berikutnya, Bapak usul mulai dari kursi goyang supaya sekalian berguna di masa tua.'
Lantai 19 sendiri terus bertumbuh — rilis ketiga dan keempat sukses, dua cerita dari unit itu diangkat ke layar lebar, dan di ulang tahun keduanya, Danu mengumumkan satu hal di rapat direksi yang membuat satu kantor membicarakannya berminggu-minggu: Unit Konten Komunitas resmi naik status menjadi divisi penuh, dengan Mitha ditawari kursi Direktur Konten.
Perjalanan Rangga sendiri ke kursi kepala unit adalah cerita yang dibicarakan orang hampir sebanyak buku 'Tiga Puluh Satu Tahun'. Anak gudang berusia dua puluh empat tahun yang dulu duduk paling pojok di rapat perdana itu menyelesaikan dua rilis besar sebagai koordinator, menolak dua tawaran dari perusahaan lain ('Bu Mitha tidak pergi saat unit ini dibangun, saya juga tidak pergi saat unit ini berdiri'), dan menghabiskan satu tahun belajar manajemen lewat kursus malam yang dibayarnya sendiri dari gajinya — sampai Mitha mengetahuinya dan mengganti biayanya diam-diam lewat beasiswa internal perusahaan yang baru dibentuknya. Saat namanya diumumkan sebagai kepala unit, satu lantai 19 berdiri bertepuk tangan, dan Rangga hanya bisa berkata: 'Dua tahun lalu saya menghitung kardus di gudang. Kalau ada yang bilang ini kebetulan, tolong bangunkan saya — karena saya tidak mau melewatkan satu detik pun dari mimpi ini.'
Mitha menerimanya — dengan satu syarat yang membuat rapat direksi itu terdiam sebelum akhirnya tertawa: 'Saya terima, dengan syarat Rangga naik menggantikan posisi saya sebagai kepala unit, dan dengan satu pasal tertulis: ruang kompetisi ide terbuka seperti yang melahirkan unit ini wajib diadakan setiap tahun, selamanya, tanpa bisa dihapus direksi mana pun. Unit ini lahir dari orang-orang yang tidak pernah ditanya. Selama saya di kursi ini, tidak akan ada lagi orang di perusahaan ini yang tidak ditanya.'
'Itu bukan syarat,' kata Pak Wardhana, direksi tertua. 'Itu wasiat. Setuju — dan saya mengusulkan pasal itu ditulis bukan di dokumen internal, tapi di dinding lantai 19, supaya dibaca setiap orang setiap hari.'
Maka kalimat itu dipasang di dinding ruang kerja unit itu, dari bahan kuningan sederhana, dan menjadi hal pertama yang dilihat setiap orang yang masuk:
*'Orang tidak kekurangan cerita. Mereka kekurangan tempat yang membacanya dengan benar.'*
Dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: *'Finalis 117. Unit Konten Komunitas. Didirikan dari satu ide yang ditulis tiga malam di meja apartemen.'*