Hasil kontrol Gunawan di bulan itu adalah kabar terbaik yang bisa diberikan dunia kedokteran: sel-selnya tidak hanya berhenti — mereka mundur. Dokternya menyebut kata 'remisi' dengan hati-hati, seperti orang yang tidak mau menggoda takdir, tapi Gunawan menyebutnya dengan caranya sendiri di meja makan malam itu: 'Bapak resmi mengalahkan tenggat yang dibuat kanker itu. Sekarang Bapak bebas menetapkan tenggat sendiri — dan tenggat Bapak adalah: sampai Arka besar dan bisa Bapak ajari catur dengan benar. Sekitar lima belas tahun lagi. Non-negosiable.'
Tapi kabar itu juga membawa satu keputusan yang sudah dipikirkannya lama — keputusan yang disampaikannya di makan malam keluarga yang sama, dengan nada yang membuat semua orang meletakkan alat makannya:
'Bapak pensiun. Resmi, total, tanpa jabatan penasihat, tanpa kursi kehormatan. Perusahaan sudah sepenuhnya di tangan Danu — dan setelah dua tahun melihatnya bekerja, Bapak bisa mati kapan saja dengan tenang. Sisa umur Bapak milik tiga hal: kesehatan Bapak, kalian, dan satu cucu yang mulai belajar berjalan dan butuh kakek yang tidak sibuk.'
Dua tahun itu memang sudah memberikan jawabannya sendiri. Di bawah Danu, Grup Abisatya Besari melewati badai Darmadi tanpa kehilangan satu pun karyawannya — kontrak-kontrak kawasan timur yang dilepas dulu justru kembali dengan sendirinya, karena pasar membaca apa yang terjadi: perusahaan yang tidak membalas kecurangan dengan kecurangan adalah perusahaan yang layak dipercaya dalam jangka panjang. Dua anak usaha baru lahir dari kompetisi ide tahunan yang diprogramkan Danu, salah satunya digagas karyawan berusia dua puluh dua tahun dari divisi yang tidak pernah dilirik siapa pun. Dan yang paling sering dikutip orang dari dua tahun kepemimpinannya bukan angka-angkanya — melainkan satu kebijakan kecil: setiap karyawan, dari level mana pun, boleh mengirim ide langsung ke meja CEO lewat satu saluran yang dibacanya sendiri tiap Jumat. 'Perusahaan ini penuh orang pintar yang tidak pernah ditanya,' katanya di pidato tahunannya, mengutip dirinya sendiri dari bertahun-tahun lalu. 'Pekerjaan saya cuma satu: terus bertanya.'
Gunawan menyaksikan semua itu dari berandanya dengan kebanggaan yang tidak pernah diumumkannya — sampai malam ini, saat ia memutuskan bahwa menyaksikan dari beranda memang seharusnya menjadi pekerjaan penuh waktunya yang terakhir.
'Yah—' Danu mulai.
'Tidak ada perdebatan. Bapak sudah membangun kerajaan Bapak; sekarang Bapak mau menikmati hasilnya dari beranda, dengan teh, sambil menonton cucu Bapak merusak taman.' Gunawan tersenyum. 'Dan Bapak tidak pensiun sendirian. Bapak membawa Aji — empat puluh tahun orang itu berdiri di samping Bapak tanpa pernah meminta apa-apa. Sudah waktunya dia berdiri di samping Bapak untuk alasan yang lebih baik: memancing, main catur, dan saling mengalahkan dengan curang.'
Maka satu acara kecil digelar di taman rumah besar — acara yang tidak diumumkan ke mana pun, hanya untuk keluarga dan orang-orang terdekat: perayaan pensiun dua lelaki tua, Gunawan Abisatya dan Aji Soesetyo. Dan di acara itu, Danu berdiri menyampaikan sesuatu yang tidak ada di naskah mana pun:
'Orang mengenal Grup Abisatya Besari dari dua nama: ayahku, dan — belakangan — aku. Tapi semua orang di ruangan ini tahu kebenarannya: kerajaan ini berdiri di atas pundak orang-orang yang tidak pernah ada fotonya. Om Aji, yang empat puluh tahun menjadi telinga, mata, dan hati nurani keluarga ini. Pa Handi, yang tiga puluh tahun menjaga rumah ini sampai rumah ini terasa seperti rumah. Kalian tidak pernah ada di laporan tahunan — tapi kalian ada di setiap halaman cerita kami.' Ia mengangkat gelasnya. 'Dan atas nama generasi yang meneruskan, kami berjanji satu hal: cerita ini tidak akan pernah lupa siapa yang menulisnya.'
Om Aji — yang empat puluh tahun tidak pernah terlihat emosional di depan siapa pun — malam itu berdiri mematung dengan gelas di tangannya, dan hanya bisa menjawab dengan suara serak: 'Tugas saya selesai, Pak. Dan dari semua hadiah yang pernah saya terima, kalimat tadi yang paling tidak bisa saya beli dengan apa pun.'
Pa Handi menolak pensiun total ('Rumah ini belum selesai saya jaga, Mas Danu. Nanti kalau Arka sudah besar, baru saya pertimbangkan') — dan menerima saja tawaran menjadi 'Kepala Rumah Tangga Emeritus', gelar yang tidak jelas artinya tapi membuatnya bangga luar biasa dan diceritakannya ke seluruh kenalannya selama berminggu-minggu.
Dan malam itu, saat acara selesai dan tamu-tamu pulang, Gunawan dan Om Aji duduk berdua di beranda seperti dua jenderal tua setelah perang panjang — dengan dua cangkir teh, dua kursi goyang yang baru dibelikan Dara, dan pemandangan taman yang sama yang sudah mereka pandangi puluhan tahun.
Hari-hari pensiun Gunawan segera menemukan ritmenya sendiri — dan ritme itu, menurut pengamatan seluruh keluarga, adalah jadwal tersibuk yang pernah dijalani seorang pensiunan. Pukul enam: jalan pagi mengelilingi taman, ditemani kucing tua yang mengikutinya tanpa diundang. Pukul tujuh: sarapan sambil membaca koran dengan kaca mata dan komentar-komentar keras yang ditujukan pada berita-berita politik. Pukul sembilan sampai sebelas: 'jam kerja', yaitu membaca naskah-naskah rilis Unit Konten Komunitas yang dikirim khusus Rangga atas permintaan Mitha ('Supaya beliau tetap merasa dibutuhkan, dan supaya kami mendapat pembaca paling galak di Indonesia — dua burung satu batu'). Siang: jam cucu, sesi yang tidak boleh diganggu siapa pun, ketika Gunawan Abisatya — mogul media empat puluh tahun — merangkak di lantai mengejar Arka dengan suara-suara yang tidak akan pernah diakui keberadaannya. Dan sore: catur dengan Om Aji, dengan skor yang menurut klaim masing-masing selalu berbeda dua puluh poin ke arah yang berlawanan.
'Kakek pensiunan paling sibuk yang pernah kulihat,' komentar Dara di satu sore.
'Pensiun bukan berhenti bekerja,' jawab Gunawan tanpa mengangkat wajah dari papan caturnya. 'Pensiun adalah akhirnya bekerja hanya untuk hal-hal yang penting. Sekarang giliranmu—' ia menggerakkan mentrinya, '—dan kamu akan kalah dalam empat langkah.'
'Dia tidak akan kalah dalam empat langkah,' bantah Om Aji. 'Saya yang mengajarinya.'
'Justru itu masalahnya.'
'Kita berhasil, Ji,' kata Gunawan pelan.
'Kita berhasil, Pak.'
'Empat puluh tahun. Dua anak yang tumbuh benar. Satu cucu. Perusahaan di tangan yang benar. Dan semua hantu masa lalu sudah tidur di tempatnya masing-masing.'
'Catur besok pagi?'
'Catur besok pagi. Dan kali ini jangan mengalah — Bapak tahu kamu selalu mengalah, dan itu menghina kemampuan Bapak.'
'Baik, Pak. Besok saya hajar habis-habisan.'
'Itu baru omongan.'
Dan dua lelaki tua itu tertawa di beranda, di bawah langit yang pelan-pelan gelap, dengan seluruh perang sudah berada di belakang mereka dan seluruh kedamaian terbentang di depan.