Arka genap satu tahun di musim hujan — dan pesta pertamanya menjadi ajang berkumpulnya seluruh semesta kecil mereka, di taman rumah besar yang disulap menjadi dunia kecil penuh balon.
Tahun pertama itu sendiri adalah perjalanan yang diabadikan keluarga dengan ketekunan seorang sejarawan. Kata pertamanya — yang diperebutkan seluruh rumah selama berminggu-minggu — ternyata bukan 'Papa' atau 'Mama', melainkan 'Kek!', seruan penuh kemenangan yang diucapkannya sambil menunjuk Gunawan, dan yang langsung dideklarasikan Gunawan sebagai 'kata pertama paling cerdas dalam sejarah keluarga ini'. Langkah pertamanya terjadi di beranda, tiga langkah penuh tekad dari pelukan Mitha ke pelukan Danu, disaksikan seluruh rumah yang kebetulan sedang berkumpul — dan direkam Bisma, yang videonya kemudian diputar di setiap acara keluarga sampai Arka sendiri kelak akan bosan melihatnya. Dan kebiasaan pertamanya yang mengkhawatirkan sekaligus menghiburkan: ketertarikan luar biasa pada buku — bukan mainan, bukan balon, tapi buku, apa pun bentuknya, yang akan dipegangnya dengan serius dan 'dibacanya' dengan gumaman-gumaman penting, sampai Hendra Kusuma berkomentar lewat telepon: 'Darah tidak pernah bohong. Itu cucu Larasati dan Raka. Sampaikan padanya: redaksi menyambutnya.'
Tamunya datang dari semua babak cerita: Anya dan Rangga (yang resmi pacaran dan masih dalam fase malu-malu yang dieksploitasi habis-habisan oleh Dara), Bisma dan Dara dengan satu kabar yang disimpan rapat untuk momen yang tepat, Bram yang datang dengan hadiah sepeda mini yang jelas-jelas terlalu besar untuk anak satu tahun ('Investasi jangka panjang,' katanya serius), Saraswati yang datang dengan buku-buku bayi hasil kurasi profesionalnya, Ratna yang terbang khusus dari Melbourne, Hendra Kusuma yang tidak bisa terbang tapi mengirim satu kotak buku cerita dengan surat: *'Untuk pembaca termuda keluarga ini. Mulai dini, Arka. Nek Larasati mulai membaca umur empat tahun.'* Bahkan Bu Ratih datang — penyidik tegas itu berdiri canggung di tengah balon-balon dengan satu kotak hadiah, dan berkata pada Mitha: 'Saya tidak pernah datang ke pesta anak. Tapi untuk keluarga yang membuat saya percaya lagi pada keadilan, saya buat pengecualian.'
Dan puncak pesta itu bukan kue, bukan kado — tapi satu pengumuman kecil yang disampaikan Dara di tengah taman, dengan Bisma berdiri di sampingnya dengan wajah yang berusaha keras terlihat tenang dan gagal total:
'Semuanya. Kami tidak mengundang kalian ke sini hanya untuk Arka.' Dara mengambil napas — dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, terlihat gugup di depan keluarganya sendiri. 'Tahun depan, pesta seperti ini akan ada tamu tambahan satu lagi. Aku hamil. Tujuh minggu.'
Taman itu meledak.
Gunawan berdiri dari kursinya dengan kecepatan yang tidak menunjukkan umurnya, memeluk Dara sampai putri itu protes tercekik, lalu memeluk Bisma sambil menepuk punggungnya keras-keras: 'Dua botol sudah habis, dan ternyata Bapak harus beli lagi untuk cucu kedua! Ini masalah logistik yang Bapak terima dengan senang hati!' Anya menjerit dan langsung menghitung siapa yang akan lahir duluan antara anak Rangga— lalu berhenti, memerah, dan disambut tawa satu taman. Dan Arka, pusat perhatian hari itu, menanggapi semua keributan itu dengan tertawa lepas tanpa mengerti apa-apa — yang justru membuat semua orang makin tertawa.
'Kamu akan jadi kakak,' kata Mitha pada putranya, mencium puncak kepalanya. 'Sepupu, tepatnya. Tapi di rumah ini tidak ada bedanya.'
Sore itu, saat tamu-tamu mulai pulang dan taman kembali tenang, keluarga inti duduk berkumpul di beranda dengan sisa-sisa kue dan teh hangat — Gunawan di kursi goyangnya dengan Arka tertidur di pangkuannya (cucu itu menolak tidur di mana pun kecuali di pangkuan kakeknya, kebiasaan yang dimulai entah kapan dan tidak bisa diubah siapa pun), Danu dan Mitha berdampingan, Bisma dan Dara di seberang dengan tangan yang tidak lepas seharian, dan Bram serta Saraswati di kursi-kursi pojok yang sudah menjadi kursi mereka.
'Kalian sadar tidak,' kata Dara, memandang semua orang itu satu per satu, 'kalau tiga tahun lalu ada yang bilang ke kita bahwa di beranda ini akan duduk keluarga Abisatya, keluarga Wirawan, satu psikolog dari Melbourne, satu bekas musuh besar, dan dua bayi dalam perjalanan — kita akan menganggapnya gila?'
'Cerita yang bagus memang tidak pernah bisa diprediksi,' kata Bram. 'Itu pelajaran yang kudapat dari menulis buku dengan keluarga ini.'
'Itu pelajaran yang kudapat dari hidup di keluarga ini,' jawab Dara.
Dan sore itu berlalu dengan tenang, dengan langit yang berubah jingga perlahan di atas beranda — langit jingga yang selamanya menjadi warna keluarga ini, warna yang dipilih semesta untuk dua orang yang bertemu di rooftop bertahun-tahun lalu, dan untuk semua orang yang berkumpul di beranda ini karena dua orang itu berani memulai.
Di pangkuan Gunawan, Arka bergerak dalam tidurnya, menggenggam jari kakeknya dengan tangan kecilnya — dan lelaki tua itu menatap cucunya, lalu menatap semua orang di beranda itu, dan berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri:
'Lengkap.'
'Tidak kurang satu pun,' jawab Gunawan, dan tidak ada yang membantahnya.