Anak kedua dalam generasi itu lahir di musim kemarau, tepat seminggu lebih lambat dari perkiraan dokter — dan menurut Bisma, keterlambatan itu sudah membuktikan satu hal: 'Dia anak Dara. Sudah lahir saja sudah membuat semua orang menunggu.'
Kali ini Danu yang berdiri di ruang tunggu bersama Gunawan — dua lelaki yang sudah sama-sama purna dari tugas menunggu di luar ruang bersalin, menyaksikan Bisma menjalani debutnya dalam peran itu dengan performa yang akan dibicarakan keluarga selama bertahun-tahun: berdiri, duduk, berdiri, memeriksa ponsel, berdiri lagi, sampai Om Aji menarik lengannya ke kursi dan berkata tegas: 'Duduk. Kamu mengganggu konsentrasi seluruh rumah sakit.'
'Aku tidak bisa diam, Om. Di dalam sana ada dua orang yang paling penting dalam hidupku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa—'
'Selamat datang di dunia ayah,' kata Danu, tersenyum. 'Rasanya persis seperti itu, dan tidak akan pernah berubah.'
Perempuan. Dua koma sembilan kilogram, sehat sempurna, dengan rambut yang menurut semua orang 'banyak sekali untuk bayi baru lahir' dan tangis yang menurut Gunawan 'kalah keras dari tangis Arka dulu, tapi lebih berwibawa'. Dan saat Bisma keluar dari ruang bersalin membawa putrinya, lelaki yang dua puluh tahun menghindari semua bentuk komitmen itu berdiri di tengah koridor rumah sakit dengan bayi di lengannya dan air mata di wajahnya, dan tidak peduli satu pun siapa yang melihatnya.
Nama bayi itu sendiri adalah hasil perundingan panjang yang berlangsung sejak bulan kelima kehamilan — perundingan yang menurut catatan resmi keluarga melibatkan empat puluh tiga kandidat nama, dua kali walkout oleh Dara ('kalau kamu mengusulkan nama mantan satu kali lagi, Bismadikara—'), dan satu veto mutlak dari Gunawan atas semua nama yang 'kedengaran seperti merek parfum'. Titik temunya datang di malam yang tidak direncanakan, saat Dara membaca ulang buku 'Tiga Puluh Satu Tahun' dan berhenti di satu halaman — halaman foto Larasati dan Saraswati yang disusun berdampingan oleh tim penyusun buku. 'Bis,' katanya pelan malam itu, 'bagaimana kalau dua nama ini? Dua perempuan dari dua sisi cerita yang sama. Satu menulis kebenaran, satu memperjuangkan perdamaian. Anak kita akan membawa keduanya.' Bisma membacanya, dan tidak menawar apa pun untuk pertama kalinya dalam sejarah perundingan mereka. 'Itu namanya,' katanya. 'Tidak perlu empat puluh dua kandidat lagi.'
'Namanya,' katanya serak, pada keluarga yang menunggu, 'Laraswati Hanenda.'
Dan seluruh ruang tunggu itu hening sebentar — karena semua orang mendengar apa yang baru saja diucapkannya. Laraswati: dari **Lara**sati, nama yang dijaga Mitha seumur hidupnya, dan Sara**swati**, nama dari sisi keluarga yang dulu dianggap musuh. Dua nama dari dua perempuan yang tidak pernah bertemu, dari dua keluarga yang tiga puluh satu tahun berperang — disatukan dalam satu nama untuk satu bayi yang lahir di masa damai.
'Kami memilihnya berdua,' kata Dara dari tempat tidurnya ketika mereka diizinkan masuk, dengan suara lelah dan mata basah. 'Supaya dia tumbuh membawa dua nama yang pernah dipisahkan oleh sejarah — dan tidak pernah tahu bahwa dua nama itu dulu tidak mungkin berdiri berdampingan. Baginya, mereka selalu satu nama. Namanya.'
Mitha memeluk Dara tanpa kata-kata — karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk momen itu. Anaknya membawa nama Wijaya. Anak Dara membawa nama Larasati dan Saraswati. Dua bayi, satu generasi, dan semua nama dari semua orang yang pernah berjuang dalam cerita ini — hidup lagi, berjalan lagi, di dua manusia kecil yang tidak akan pernah harus memikul cerita yang melahirkan nama-nama mereka.
Gunawan menggendong cucu keduanya dengan keahlian yang sudah diasah setahun bersama Arka, dan memperkenalkannya kepada dunia dengan caranya yang khas: 'Laraswati Hanenda, ini Kakek. Kakek sudah dua kali menang melawan kanker dan dua kali melawan tenggat waktu — jadi jangan khawatir soal apa pun dalam hidupmu. Kamu cucu dari orang-orang yang tidak pernah kalah.'
Di sudut ruangan, Arka — satu setengah tahun, berdiri dengan memegang kaki meja — menatap bayi itu dengan serius, lalu menunjuk dan berkata dengan jelas: 'Adek.'
Dan satu ruangan meleleh untuk kesekian kalinya hari itu.
'Adek,' ulang Gunawan, tertawa. 'Kamu dengar itu? Dia sudah menyetujui. Resmi. Sepupu pertamamu, Laraswati — dan menurut tradisi keluarga ini, dia yang akan menjadi pemimpin kalian berdua. Bersiaplah.'
Malam itu, di perjalanan pulang, Mitha bersandar di kursi mobil dengan kelelahan bahagia yang biasa menyertai hari-hari besar, dan berkata ke Danu: 'Dua bayi. Laraswati dan Arka. Kalau dipikir-pikir, semua yang terjadi dalam tiga tahun terakhir — semua badai, semua perang, semua malam yang tidak bisa tidur — berakhir di dua nama kecil itu.'
'Semua perang memang seharusnya berakhir seperti itu,' jawab Danu, menggenggam tangannya di atas konsol. 'Bukan dengan pemenang. Dengan anak-anak yang tidak perlu tahu perangnya pernah ada.'
Di rumah Bisma dan Dara, malam pertama berjalan seperti malam pertama semua orang tua baru dalam sejarah: kacau, ajaib, dan tanpa tidur. Bisma berdiri di samping boks bayi sampai pukul tiga pagi, memotret putrinya dari empat puluh sudut yang berbeda, dan mengirimkan semuanya ke grup keluarga sampai Dara menyita ponselnya. 'Dia tidur. Dia akan tetap tidur tanpa difoto.' 'Tapi tadi dia tersenyum.' 'Itu bukan senyum, itu refleks.' 'Bagiku itu senyum, dan sebagai ayah aku berhak meyakini itu seumur hidupku.' Dara menatap suaminya — playboy yang dulu kabar-kabarnya tidak pernah bertahan dua bulan dengan perempuan mana pun, sekarang berdebat tentang senyum bayi jam tiga pagi — dan memutuskan bahwa hidup memang tidak pernah berhenti lucu. 'Baik. Tapi senyumnya diabadikan besok. Sekarang tidur, Papa. Besok kamu jaga pagi.' 'Aku jaga pagi, siang, dan malam.' 'Kita lihat saja sampai minggu depan.' Dan benar saja: minggu depannya Bisma tetap jaga pagi, siang, dan malam — dengan mata panda dan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan, dan tidak ada satu pun di keluarga itu yang berani lagi menyebut masa lalunya di kolom gosip.